
Chia keluar dari ruang dosen, hari sudah menunjukkan pukul 5 sore. Gedung telah sepi, hanya ada beberapa orang yang masih digedung namun mereka masing-masing beranjak pulang.
Langkah Chia terhenti saat Ia melihat seseorang yang duduk dihalaman depan gedung.
"Kay kok belum pulang, kenapa dia sendiri?" Batin Chia.
Chia pun berjalan perlahan memastikan disekitar Kay ada siapa saja. Namun, ia tidak melihat siapapun disana. Hari juga sudah mulai gelap, kenapa Kay masih dikampus.
"Apa Aku samperin aja yah? Eh, enggak deh ntar dia kira Aku caper lagi. Duh, tapi... gimana nih." Gejolak Batin Chia.
Chia terus mondar mandir ingin keluar gedung namun dia harus berakting seperti apa saat berhadapan dengan Kay nanti.
"Basa basi aja kali yah, loh Kay kamu kok masih dikampus? Udah gelap loh? Ngomongnya gitu aja kali yah? Eh, tapi enggak deh gengsi juga." Batin Chia.
Chia berhenti dan melirik lagi keluar gedung, Kay masih ditempatnya.
"Chia? Kamu kenapa masih disini?" Tanya Dosen.
"Eh, Pak. Iya nih lagi nunggu Naina jemput." Sahut Chia.
Chia berbohong, padahal Naina sudah pulang lebih dulu karena Chia akan pulang telat menyelesaikan jurnal bersama dosen.
"Oh, ya udah. Kampus sudah sepi juga. Besok jangan lupa yah untuk revisi jurnalnya." Ucap Dosen.
"Baik, Pak."Sahut Chia.
Pak Dosen pun keluar bersama dengan Chia sembari membahas jurnal yang sedang merak rintis.
"Okey, kalau gitu bapak pulang dulu yah." Ucap Dosen.
Chia tidak sadar bahwa dia sudah diluar gedung tepat di depan Kay, Chia terlalu asyik bercerita dengan dosen.
"Loh, Kay masih disini?" Tanya dosen.
"Iya, Pak." Jawab Kay.
"Nunggu siapa?"
"Nunggu Ayah, Pak."
"Oh, okey. Bapak pulang duluan yah. Chia bapak pulang duluan yah."
"Iya, Pak." Sahut Chia dan Kay kompak.
Pak dosen pun pergi, kini tinggal Chia dan Kay sendiri didepan gedung fakultas.
Chia bingung apa yang harus dia lakukan, suasana menjadi canggung. Chia pun membuka tasnya dan mengambil ponselnya. Dia sibuk mengutak atik ponselnya itu, nyatanya dia hanya men-scroll menu-menu diberanda HPnya.
"Kamu kenapa belum pulang?" Tanya Kay.
"Oh, itu ehm... Lagi nunggu Naina. Duh, Naina kemana yah." Ucap Chia grogi.
"Kamu juga belum dijemput yah? Ini sudah mau gelap loh. Trus udah sepi juga." Tutur Chia.
"Iya, Ayahku masih ada pertemuan."
"Ohm..."
Chia kembali men-scroll menu diberanda ponselnya agar terlihat sibuk.
"Duh gimana nih, Aku pulang duluan aja kali yah? Tapi, nanti Kay sendirian. Wait, kenapa Aku harus kasihan sama dia. Pulang aja kali yah." Batin Chia.
Chia melirik Kay yang juga sedang sibuk dengan ponselnya.
"Teman-teman kamu kemana?" Tanya Chia.
"Mereka sudah pulang." Jawab Kay.
"Oh." Sahut Chia.
"Aku pulang aja kali yah, ntar kalau dia udah dijemput Aku yang sendiri, Aku kan bohong bilang Naina akan jemput. Pulang aja kali yah, toh dia juga cowok nggak bakal kenapa-kenapa." Batin Chia lagi.
"Ayah kamu masih lama yah?" Tanya Chia.
"Hmm, nggak tahu juga chat Aku belum di read." Jawab Kay.
"Oh My God, kenapa Aku malah nanya kayak gitu? Duh, kelihatan banget nggak sih Aku lagi nemenanin dia nunggu jemputan trus tanya kapan dia dijemput." Batin Chia.
"Oh gitu, Aku pulang duluan yah." Tutur Chia.
"Naina sudah jemput?" Tanya Kay.
"Ehm, sepertinya dia ketiduran di kosnya Ria. Emang dia kalau sudah ketemu kasur langsung tidur pulas." Tukas Chia.
"Mampus, gawat ketahuan bohong kan." Batin Chia.
"Iya, itu Ria biasa nggak bawa kunci kosnya. Jadi, kami bisa ke kosnya sesuka hati, lagian emang kami suka main dikosnya Ria tanpa Ria hehehehe." Tutur Chia.
"Oh, gitu." Ucap Kay.
"Ya udah Aku duluan yah." Tukas Chia bergegas pergi.
Dia sangat malu, Kay percaya dengan ucapannya atau tidak dia tetap malu berbohong tanpa direncanakan.
Chia memilih jalan pinta untuk keluar dari kampus. Dipertengahan jalan, Chia merasa gerimis dan sebentar lagi akan hujan. Pantas saja langit cepat gelap, biasa jam 5 masih ada cahaya yang menerangi bumi.
Chia menghentikan langkahnya, dia menoleh ke arah belakang dan memikirkan bagaimana dengan Kay.
"Kenapa hujan? Kay udah dijemput belum yah. Gimana kalau belum. Eh, tapi kenapa Aku harus memikirkan dia. Lagian dia dijemput pakai mobil. Tapi, kalau dia masih belum dijemput gimana? Untuk apa Aku memikirkan dia, lagian dia juga tidak butuh perhatian dariku, dia kan sudah ada Nadin. Ayolah, Chia bunuh perasaanmu yang tidak akan pernah terbalaskan itu." Batin Chia.
Chia pun melanjutkan perjalanannya, dengan perasaan bimbang. Lagi-lagi dia menghentikan langkahnya yang sudah berada diluar kampus.
"Anggap saja karena Aku berperikemanusiaan." Tutur Chia dalam batin.
Chia memutar badannya kembali berlari masuk ke kampus, dengan sangat cepat dia menuju gedung fakultas, beradu kecepatan dengan gerimis yang sebentar lagi menjadi hujan yang lebat.
Dari kejauhan Chia melihat Kay masih duduk didepan gedung.
"Syukurlah dia masih ada." Batin Chia.
Dengan nafas tersengal-sengal, Chia mulai berjalan perlahan ke arah gedung.
Kay yang melihat Chia kembali agak sedikit bingung namun dia tersenyum.
"Kamu kenapa kembali." Tanya Kay.
"Diam." Tukas Chia mencoba mengatur napasnya.
Dia pun duduk disamping Kay, dengan wajah yang berkeringat. Padahal cuaca lagi mendung tapi dia berkeringat karena habis lari.
Kay memberikan Chia air minum miliknya, Chia pun mengambil dan mulai meneguk air itu.
"Kenapa kamu senyum-senyum seperti itu?" Tanya Chia yang menoleh melihat Kay.
Kay menatap Chia dengan semburat senyum diwajahnya.
"HP aku mati, sangat sepi jika menunggu sendirian tanpa HP. Tapi, kamu kembali jadi Aku tidak merasa sepi lagi." Tutur Kay.
"Ehm, Aku kembali karena Aku takut Naina kesini dan tidak melihatku berjalan." Ucap Chia.
"Benarkah?"
"Iya. Kenapa kamu masih disini?"
"Karena belum dijemput."
Chia dan Kay pun menunggu, setelah hampir setengah jam. Chia melihat mobil yang pagi tadi mengantar Kay sudah tiba.
"Kay, ayahmu sudah datang." Tutur Chia girang.
"Iya." Jawab Kay.
"Sini Aku bantu kamu kemobil." Tukas Chia.
Chia pun memapah Kay hingga masuk kedalam mobil. Ayah Kay meminta maaf karena ada pertemuan makanya dia menjemput Kay lama. Ayah Kay menawarkan Chia untuk diantar pulang namun Chia merasa keberatan karena itu dia menolak untuk diantar.
"Udah naik aja nanti bapak antar sampai ke rumahmu." Tutur Prof.
"Nggak usah repot-repot, Pak. Lagian juga saya sedang menunggu jemputan." Ucap Chia tersenyum.
Kay memberikan isyarat kepada Chia untuk mendekatkan telinganya kepada Kay. Kay pun berbisik mengatakan sesuatu kepada Chia. Membuat wajah Chia menjadi merah karena malu.
"Aku tahu Naina sudah pulang dari siang tadi. Si Ria juga bilang kalau Naina tidak ada dikosnya, bahkan kuncinya sedang dibawa olehnya." Bisik Kay.
Mata Chia melotot, dia sangat terkejut karena kebohongannya begitu cepat terungkap.
"Kamu..." Ucap Chia terkejut.
"Kamu naik aja, Ayahku akan mengantarmu." Ucap Kay.
Kali ini Chia tidak bisa menolak tawaran Kay, dengan wajah memerah dia pun meminta izin untuk masuk kedalam mobil.
Sepanjang perjalanan, Chia terus menunduk karena merasa sangat malu. Namun, dia masih menjawab pertanyaan Ayah Kay. Hingga tiba didepan gerbang rumahnya. Chia mengucapkan terimakasih lalu bergegas masuk ke rumahnya. Dia bahkan tidak menoleh kepada Kay.