I Think I Love U

I Think I Love U
Episode 76



Beberapa minggu berlalu, ujian tengah semester telah berlalu. Bahkan, hasil ujian mereka juga telah keluar. Chia masih belum kembali dan dia juga melewati ujian tengah semester kali ini.


"Nilaimu bagaimana?" Tanya Anton.


"Miris, sangat buruk." Jawab Aris.


"Sama Aku juga." Sahut Sari.


"Aku semakin merindukan Chia, jika ada dia nilaiku akan baik-baik saja." Oceh Aris.


"Iya, Aku ngga paham jika dosen yang menjelaskan tetapi kalau Chia, sangat sederhana dan mudah dipahami." Tutur Via.


"Walaupun, dia terus mengomel panjang kali lebar." Lanjut Aris.


"Gimana kabar Chia sekarang yah?"Tutur Cherly.


"Dia ngulang semester ini nggak yah? Dia sudah melewati banyak materi dan juga absennya." Ujar Sari.


"Eh tapi tumben yah dosen nggak pernah keluh tentang ketidakhadiran dia, kalau mahasiswa yang lain tuh malah disuruh untuk diperingatkan sama teman dekatnya." Tukas Anton.


"Iya yah." Sahut Via.


"Trus, aku masih kepikiran. Kan Chia berobat ke negara S, tapi setelah itu ke negara J kira-kira ngapain yah?"Tanya Anton lagi.


"Mungkin di negara S, pengobatannya kurang jadi pindah deh ke negara J." Ucap Naina.


"Hmmm, iya juga." Jawab Anton.


"Eh, udah jam segini nih. Jamnya dosen killer loh, ayok ke kelas." Tutur Sari.


Mereka pun cepat-cepat berlari ke ruang kelas mereka.


...----------------...


Dosen masuk ke kelas, wajahnya penuh guratan. Artinya moodnya sedang tidak baik. Suasana menjadi hening, karena mereka sudah membaca karakter dosen mereka jika dalam keadaan tidak mood sebaiknya mereka tidak banyak tingkah, karena mereka akan dimarah habis-habisan.


"Ini nilai ujian kalian jelek semua, hanya beberapa saja yang bagus. Apakah penjelasan saya kurang dipahami?" Oceh Pak dosen memecah keheningan.


Tidak ada yang bersuara untuk merespon dosen mereka yang sedang marah-marah karena beliau akan sangat marah lagi.


"Masa soal semudah itu kalian tidak bisa." Lanjut beliau.


"Tok tok tok..." Suara ketukan.


"Kenapa?"


"Permisi, Pak. Dipanggil sama kajur. Kata beliau ada tamu penting mencari bapak."


"Oh, oke. Saya akan kesana. Kalian belajar sendiri dulu, Saya keluar sebentar saja." Tukas Pak dosen.


...----------------...


Satu jam kemudian, dosen kembali. Kali ini raut wajahnya berubah, yang tadinya penuh guratan di dahinya sekarang terlihat senyum-senyum sumringah dengan wajah lebih berseri. Mereka saling pandang melihat perubahan drastis itu.


"Apakah kalian sudah dengar, salah satu mahasiswa dari fakultas kita juara satu dalam kompetisi AI. Sangat luar biasa karena kompetisi ini ajang internasional. Bapak harap kalian bisa seperti dia." Jelas Dosen.


"Siapa dia, Pak?" Tanya Sandi.


"Duh, bapak lupa namanya siapa tadi. Kalian harus belajar dari dia. Dekan memberikan hak istimewa kepadanya dengan memberikan nilai A disemua mata kuliah selama 2 semester dan juga tidak perlu mengajukan proposal untuk laporan skripsinya. Sebenarnya, dia bisa langsung skripsi karena kejeniusannya patut diapresiasi namun dia menolak. Yah, bapak harap kalian juga bisa seperti dia yah. Hebat sekali itu, juara 1 tingkat internasional itu tidak mudah apalagi bersaing dibidang teknologi." Tutur pak dosen.


Setelah memuji dan terus membanggakan mahasiswa itu, pak dosen pun melanjutkan menjelaskan materi kuliah hingga jamnya usai.


Selama beberapa hari, berita mahasiswa yang mendapatkan penghargaan dan juga medali serta trophy emas pun sangat menggemparkan universitas. Pasalnya, jangankan lomba internasional, lomba nasional pun kampus mereka belum pernah menggandeng penghargaan apapun. Karena itu, bagi kampus mahasiswa itu adalah pembuka jalan untuk menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk mengikuti jejaknya.


"Kalian harus seperti dia, bla BLA BLA. Jangankan seperti dia quis saja kami nyontek." Oceh Aris.


Seketika tawa mereka pecah karena ocehan Aris yang mengikuti gaya bicara setiap dosen yang membicarakan mahasiswa berprestasi itu.


"Itu orang setiap hari makannya buku kali yah." Lanjut Ria.


"Tapi penasaran dia dari jurusan apa yah?" Tanya Cherly.


"Informatika, kan AI." Sahut Ria.


"Nggak juga, deh. Elektro juga bisa merancang menggunakan AI." Tutur Anton.


"Siapapun dia, angkat Aku jadi saudaranya. Tapi, enggak deh ntar setiap hari kita dibanding-bandingkan lagi." Tutur Naina.


"Hahahahhaha...." Tawa mereka.


...----------------...


Diparkiran Kay bertempramen dengan Nadin, dia memberikan paperbag kepada Kay.


"Apa ini?" Tanya Kay.


"Itu mantel yang kamu pinjamkan, Aku lupa untuk mengembalikan." Ucap Nadin.


"Oh, okey." Ucap Kay mengambil paperbag itu.


Setelah, Nadin pergi Kay membuka dan mengambil isi yang ada di paperbag itu.


"Ini bukan punyaku. Oh ini punya Sion. Nah, itu dia. Sion." Panggil Kay.


Sion menghentikan langkahnya dan berjalan ke arah Kay.


"Mantel? Itu bukan punyaku." Sahut Sion.


"Tapi, kamu yang ngasih ini ke Aku waktu itu." Tutur Kay.


"Iya, itu bukan punyaku. Itu punya Chia, waktu itu dia melihatmu menunggu hujan reda kelamaan, jadi dia menyuruhku memberikan itu padamu." Tukas Sion.


"Chia?"


"Iya, kamu kembalikan saja ke dia. Aku pergi dulu yah." Tutur Sion.


Sion pun pergi, sementara Kay masih berdiri diparkiran.


"Aku ngasih ini ke siapa yah? Atau Aku simpan saja? Atau bawa aja dirumahnya? Eh jangan deh, nitip di teman-temannya aja kali yah." Batin Kay.


Tidak beberapa lama, Naina berjalan ke arah parkiran sendirian. Kay masih diparkiran melihat Naina, dia ingin memberikan mantel itu kepada Naina. Namun, sejak dirumah Chia. Naina tidak bertegur sapa dengan Kay.


"Ngasih Naina nggak yah? Tapi, sepertinya dia nggak mau bicara dengan Aku." Batin Kay.


Naina sudah menyalakan mesin motornya, setelah berpikir panjang. Kay pun cepat menghentikan Naina agar dia tidak pergi.


"Na..." Panggil Kay.


Naina pun berbalik dan menoleh ke arah Kay. Naina hanya diam saja. Kay menghampiri Naina dan memberikan paperbag kepada Naina.


"Aku mau nitip ini bisa tidak?" Tanya Kay.


"Apa itu?" Tanya Naina ketus.


"Ini mantel punya Chia." Ucap Kay.


Naina menatap tajam ke arah Kay, lalu dia memalingkan wajahnya.


"Kembalikan langsung kepada orangnya." Suruh Naina.


"Oh, okey." Jawab Kay.


Namun, Naina kembali menoleh ke arah Kay. Dan menarik paperbag yang dipegang oleh Kay.


"Sini biar Aku yang simpan. Tidak ada hal lain lagi kan? Apapun yang dia titip kembalikan, siapa tahu setelah dia kembali dia sudah sadar." Tutur Naina.


"Nggak ada." Ucap Kay.


"Oke." Jawab Naina.


Naina pun bergegas pergi hingga ia tidak terlihat lagi dipandangan Kay.


...****************...


Diruang kelas yang sangat ricuh, mahasiswa sedang menunggu kehadiran dosen yang belum juga masuk untuk mengajar. Mereka pun masing-masing sibuk dengan dirinya sendiri.


"Eh, guys sepertinya ada mahasiswa baru deh." Ucap salah satu mahasiswa yang berlarian ke ruangan.


"Ha, mahasiswa baru? Mana mungkin ini sudah mau ujian semester akhir." Jawab Andi.


"Yang benar nih?" Tanya Bian.


"Iya, Aku tadi mau ke ruang dosen trus Aku lihat sekilas. Para dosen pun semua sedang berbicara dengannya."


"Cewek atau cowok?" Tanya Sandi.


"Cewek."


"Woah.... Eh Pak Arga datang." Ucap Bian.


Semua pun kembali ke tempat mereka masing-masing.


"Pagi semua." Ucap Pak Arga.


"Pagi."


Selang setelah Pak Arga tiba, disusul dengan mahasiswa yang tadi jadi bahan pembicaraan mahasiswa dikelas itu.


"Tok tok tok..." Suara ketukan pintu.


"Iya masuk saja." Ucap Pak Arga.


Pintu terbuka, ternyata mahasiswa baru itu adalah Chia yang baru saja kembali dari luar negeri. Semua terkejut melihat kedatangan Chia.


Chia pun izin untuk ke tempat duduknya, bahkan saat dia lewat parfumnya mengitari sekitar. Dalam waktu sebulan Chia merubah penampilannya, tubuhnya yang semakin berisi, kulitnya semakin putih bahkan dua kali lebih putih dari sebelumnya. Warna rambutnya berubah menjadi coklat dan dengan style rambut terbarunya dengan kepangan kulit.


Chia duduk dikursi paling depan seperti biasa, dia duduk disebelah Sandi. Chia duduk dan kemudian menoleh ke arah Sandi, dia tersenyum ramah kepada Sandi.


"Kalian beri selamat kepada Chia, dia berhasil menjuarai kompetisi AI tingkat internasional. Dan dialah yang jadi bahan pembicaraan akhir-akhir ini." Ucap Pak Arga.


Semua menoleh kearah Chia, mahasiswa yang terus dibanding-bandingkan dengan mereka ternyata Chia. Bahkan, tidak banyak yang menyumpahinya karena terus disandingkan dengannya.


Tatapan mereka membuat Chia menjadi merinding seolah-olah dia sudah membuat mereka sangat kesal.


"Hai...." Sapa Chia dengan gugup.


Kenapa mereka menatapku seperti itu, apa penampilanku aneh?" Batin Chia.


Namun, mereka masih menatapnya tajam, Chia pun memalingkan pandangannya lurus ke depan. Hingga ia bisa melihat Pak Arga yang sedang menata barang-barangnya yang dikeluarkan dari ranselnya.