I Think I Love U

I Think I Love U
Episode 41



POV: Archi


Aku sedang berbicara dengan Chia, namun hal tak terduga terjadi. Dea datang menghampiri kami. Dia mulai mengajakku ngobrol, Aku pun meladeninya sebentar saja.


Aku menoleh mencari sosok yang sejak awal bersamaku tadi. Namun, tidak kutemukan didalam pondok ini.


"Kemana pergi anak itu?" Batinku


"Kamu lagi nyari apa?" Tanya Dea


"Kamu lihat gadis yang tadi disini nggak?" Tanyaku balik.


"Oh, dia. Tadi keluar deh sepertinya." Jawab Dea


Sementara Aku mencari Chia, banyak orang yang berlarian. Sepertinya mereka ingin melihat sesuatu diujung sana.


"Disanakan ada Faris dan lainnya." Ujar Dea


Aku melihat kearah orang-orang yang sedang berkumpul.


"Eh, itukan Kevin, itu cewek yang kamu carikan. Kayaknya mereka lagi foto berdua deh. Mungkin orang-orang pada lihatin mereka berdua." Tutur Dea


Tanpa Dea ucapkan pun Aku bisa lihat. Si rubah kecil itu sedang asik bermesraan dengan laki-laki lain. Dia terus saja tersenyum, membuatku kesal saja.


"Wah, Ar. Lihat si Kevin. Bukannya Kevin pemalu kok dia bisa gendong cewek ditempat umum. Malah difotoin gitu. Eh, tapi mereka sweet dan serasi deh." Cicit Dea


Aku mengepal kedua tanganku. Entah kenapa Aku tidak suka si rubah licik itu bersama pria lain. Dia bisa bebas tersenyum seperti itu, bahkan disentuh dengan lelaki lain dia tidak marah.


Coba kalau Aku yang mendekatinya, dia akan seperti kucing yang takut jika dimandikan.


Apa bagusnya si Kevin, Aku jauh lebih diatas si Kevin.


"Dea, Aku pergi dulu yah." Ucapku sembari berlari keluar


"Kamu mau kemana?" Teriak Dea.


Aku berjalan melewati kerumunan orang. Berusaha untuk mencapai tempat Chia berada. Aku tiba ditempat, namun sosok yang kucari tidak kutemukan. Sementara orang-orang sudah ada bubar. Sepertinya, Aku terlambat. Hanya ada Kevin, Adit, Nana dan Zaid.


"Kevin, dimana Chia?"


"Pergi sama Faris."


"Pergi kemana?"


"Entah."


"Dasar rubah kecil. Awas saja kalau Aku menemukanmu." Batinku


Aku pun bergegas pergi mencarinya. Jika aku menemukannya Aku akan mengikat kedua kakinya agar dia tidak bisa berjalan lagi.


POV: Author


Dilain tempat, Chia dan Faris sedang berkeliling disekitar pedagang yang menjajakan dagangan mereka.


"Chia, sini. Kamu sudah makan ini belum?" Ucap Faris.


"Apa itu? Sepertinya belum." Jawab Chia.


"Mau coba?" Tanya Faris.


"Boleh, berapa harganya?" Tutur Chia.


"5rb dua dek." Jawab penjual.


"Oh, boleh. Aku minta 2 yah, Bu." Sahut Chia.


"Udah, Aku saja yang bayar." Ujar Faris.


"Nggak usah ini Aku ada uang." Ucap Chia


Setelah membeli makanan yang ditunjukkan Faris, mereka pun pergi ke tempat berikutnya. Mereka membeli beberapa makanan dan minuman.


"Ayok, kita makan disana." Titah Faris.


Mereka pun berjalan ke tempat yang ditunjuk oleh Faris. Chia meletakkan jajanan itu diatas meja.


"Kita makan yang ini dulu. Ini untuk Faris dan ini untukku." Ujar Chia


Mereka pun menikmati makanan mereka sembari bercerita panjang lebar. Kebetulan Faris adalah sisi TV negara yang sangat informatif. Sehingga, Chia terus mendengar ocehan Faris yang sedang menceritakan banyak hal. Sesekali Chia mengomentari cerita Faris.


Setelah, selesai menyantap jajanan. Mereka pun lanjut ke stan jualan selanjutnya. Mereka ketempat benda-benda yang bisa dijadikan ole-ole untuk dibawa pulang oleh Chia.


"Bagus deh ini. Kira-kira Aku pilih yang mana?" Tanya Chia.


"Mmmm, kalau untuk cewek sih yang ini." Jawab Faris.


"Kenapa yang itu."


"Karena cewek suka yang lucu-lucu kan. Jadi, ini sangat aku rekomendasikan." Tutur Faris.


"Weh, nggak sia-sia kau mendapatkan gelar CCTV negara. Bahkan, apa yang disukai cewek pun kami tahu." Ujar Chia.


"Oh, iya dong." Jawab Faris.


"Kalau begitu Aku beli yang kamu bilang deh." Ucap Chia.


Setelah membeli barang-barang yang mereka butuhkan Chia dan Faris pun melangkah kembali ke pondok tempat teman-teman mereka berada. Namun, Faris berhenti didepan mesin ATM.


"Eh, Chi. Kamu tunggu sebentar disini yah. Aku mau tarik tunai dulu." Ucap Faris.


"Okey." Jawab Chia.


Faris pun bergegas masuk ke tempat ATM, sementara Chia berdiri diluar menunggu Faris.


Chia yang sedang menunggu diluar, tidak mengetahui bahwa dia sedang diamati oleh beberapa orang. Kemudian, orang-orang itu menghampiri Chia.


"Sendiri saja? Lagi tunggu orang yah?" Tanya orang yang menghampiri Chia.


Chia tidak menanggapi orang tersebut dan menoleh kearah lain.


"Cih, sombong benar." Ujar salah satu pria yang lain.


Chia masih tetap diam dan tidak menggubris orang-orang itu.


Faris yang baru saja selesai melakukan tarik tunai pun, bergegas lari kearah Chia setelah melihat Chia di dekati beberapa pria.


"Chia..." Teriak Faris sembari berlari ke arah Chia


"Faris, sudah selesai?" Ucap Chia.


"Iya, udah ayok kita jalan." Sahut Faris yang menarik tangan Chia.


Saat baru saja berbalik untuk melangkah pergi. Faris dan Chia dihadang oleh pria-pria itu.


"Minta uang." Ucap pria tersebut.


"Enggak ada uang." Ucap Faris.


"Kamu baru saja keluar dari ATM, masa tidak ada uang."


"Iya, benar tidak ada." Ucap Faris gugup.


Salah satu dari pria itu, mengeluarkan senjata tajam dan menodongkan kearah Faris.


"Kasih uangmu atau Aku mengambil paksa." Titah pria itu.


Faris pun mengeluarkan dompetnya, dan memberikan kepada pemuda tersebut. Baru saja ingin dibuka dompet yang diambil oleh pria itu. Chia menarik kembali, dompet milik Faris itu. Semua yang melihat tingkah Chia pun terkejut tak terkecuali Faris.


"Kau punya dua kaki dan dua tangan masih utuh, kenapa tidak kerja dengan benar malah merampas uang orang lain." Ucap Chia sinis.


"Chia..." Ucap Faris melotot ke arah Chia.


"Kenapa? Memang benarkan. Mereka diberikan tubuh yang sempurna oleh Tuhan. Malah kerjanya mencuri." Ucap Chia.


Faris sangat terkejut dan panik. Bukan apa tetapi Chia berani sekali berkata kepada manusia-manusia yang sudah sering melakukan kejahatan. Bahkan, diantara mereka membawa senjata tajam. Dunia ini sangat kejam, bagaimana jika mereka langsung mengeroyok mereka berdua.


"Chia, kasih saja. Trus kita pergi." Pinta Faris.


"Ha? Gila yah, kau kerja capek-capek trus mereka dengan seenaknya mengambil barang milikmu." Ucap Chia.


Salah satu pria yang membawa senjata tajam itu kemudian menodongkan pisaunya kepada Chia. Faris menjadi semakin panik, sementara Chia masih dengan sikap tenangnya.


"Nih, cewek mau mati rupanya. Ah, tapi karena kamu cantik sebelum mati, kamu bermain dengan kam...." Belum selesai berbicara pria tersebut tiba-tiba jatuh tersungkur.


Sebelumnya, Chia menangkis tangan pria yang menodongkan pisau kearahnya. Setelah, pisau itu jatuh, Chia menendang jauh pisau yang terjatuh itu. Pisaunya pun terhempas jauh. Lalu, Chia menjatuhkan pria tersebut. Dia menginjak telapak tangan pria itu sampai pria itu menjerit kesakitan.


Faris dan beberapa pria lainnya masih loading memproses kejadian yang mereka lihat, kejadian begitu cepat sehingga otak mereka agak ngelag.


Setelah, menginjak telapak tangan pria tersebut. Chia, menjambak rambut pria itu. Hingga membuat wajah pria itu terangkat dan berpapasan dengan wajah Chia. Chia dengan kekuatan penuh, menampar wajah pria itu hingga 10 kali tamparan. Hingga terlihat jelas bekas tamparan Chia.


Faris yang tersadar pun menarik tangan Chia, kemudian berlari secepat mungkin. Mereka berdua pun dikejar oleh beberapa orang dari teman pria yang dihajar oleh Chia.


Faris dan Chia terus berlari, dan kemudian bersembunyi disalah satu pos yang sudah tidak terpakai.


Setelah sampai Faris dan Chia terengah-engah karena berlari dengan kekuatan penuh.


"Kenapa kita harus lari. Dia harus kupukul karena berbicara tidak sopan." Sahut Chia.


"Chia bagaimana jika mereka tidak segan-segan menusuk kita berdua sampai mati." Ucap Faris.


"Sebelum mereka melakukan itu, Aku yang akan lakukan itu duluan. Ku patahkan jari-jari mereka." Tutur Chia.


"Kamu ngomongnya enak yah. Jika, kau yang memukul mereka sampai cacat, kamu sendiri yang akan menanggung hukumannya."


"Jadi, kita harus diam aja gitu? Biarkan mereka mengambil uang kita, biarkan mereka melecehkan kita. Harus mengalah gitu?"


"Yah, mau bagaimana lagi. Lebih baik nyawa kita selamat daripada harus mati."


"Bagaimana jika mereka sudah mengambil uang kita, terus mereka tetap mengincar kita agar kita tidak melaporkan kepada pihak berwajib?"


"Yah, pasrah saja. Mau bagaimana lagi, hukum di negara ini juga kadang nggak adil, Chi. Tapi kita juga harus waspada."


Chia yang awalnya berjongkok tiba-tiba berdiri. Ia menelungkup kedua telapak tangannya. Wajahnya sangat merah, dia menatap tajam kearah Faris. Faris bahkan yang melihat ekspresi Chia, menjadi merinding dan sedikit takut.


"Chia, kamu kena..." Belum selesai berbicara Chia langsung menonjok wajah Faris.


Faris menjerit kesakitan saat ditonjok oleh Chia. Chia pun menjambak rambut Faris, sehingga membuat Faris meringis kesakitan. Dan teriak menjerit.


"Chia, kamu gila yah. Lepaskan!" Faris membalas menjambak rambut Chia.


"Kalau iya, kenapa. Dasar laki-laki lemah. Makanya, kalau ada waktu sebaiknya kau berlatih bela diri, bukan duduk bergosip dengan emak-emak." Tutur Chia.


Mereka pun saling menjambak sampai tidak menyadari bahwa beberapa pria yang mengejar mereka sudah ada didepan mereka.


Faris dan Chia yang melihat mereka pun bergegas melepaskan aktivitas saling menjambak.


Chia yang berada dalam puncak emosipun berlari kearah pria-pria tersebut. Mereka berjumlah lima orang. Chia menghajar mereka walaupun mereka membawa senjata tajam Chia berhasil menghindar hingga tidak terluka.


Chia memang menguasai beberapa ilmu beladiri, sejak kecil dia sudah menekuni beladiri seperti jujitsu, silat, karate, taekwondo, dan tinju.


Walaupun, tidak sampe mengikuti turnamen nasional ataupun internasional namun dia sudah berada disabuk hitam untuk karate, sabuk merah untuk taekwondo, sabuk hijau untuk jujitsu, sabuk biru untuk silat.


Faris yang panik pun menelepon Archi, dan memberitahukan keadaan mereka.


Ternyata, sebelum datang menemui Faris dan Chia, pria-pria itu sudah memanggil teman-teman mereka. Sehingga, pasukan pria-pria itu datang sepertinya lebih dari 15 orang.


Faris yang melihat kedatangan teman-teman pria yang dihajar Chia pun kalang kabut. Bagaimana, tidak mereka cuman berdua sementara mereka sangat banyak.


Faris menarik Chia, yang masih menonjok wajah pria-pria itu hingga bonyok.


"Chi, Chia... Sudah jangan dipukul lagi." Faris menarik Chia.


"Lepaskan, Faris." Teriak Chia.


"Cukup, Chia. Kita berdua akan mati disini kalau kamu masih seperti ini." Teriak Faris kepada Chia.


"Biarkan saja kita mati, tapi sebelum itu aku duluan yang akan menghajar mereka sampai mati." Sahut Chia.


"Chia...." Bentak Faris.


"Mereka telah melecehkanku dengan ucapan mereka, Faris. Kau diam karena kau bukan seorang wanita." Chia kembali membentak Faris.


Pasukan yang dihubungi oleh pria-pria yang dipukul oleh Chia itu pun masuk. Mereka membawa balok-balok kayu, dan beberapa lagi membawa parang dan berbagai senjata tajam.


"Sekarang lihat, karena ulahmu. Masalah ini semakin besar. Bahkan, jika menunggu Adit dan Archi datang pun tidak akan sempat." Ucap Faris.


Pasukan pria-pria itu masuk, dan melihat beberapa teman-temannya terkapar ditanah.


"Kau yang memukul teman-temanku?" Tanya salah satu pria dari pasukan itu kepada Faris."


Faris yang terkejut pun menoleh kearah Chia. Namun, Chia dengan ekspresi datar pun semakin membuat jantung Faris berdegup kencang.


"Bu..Bu..kan Aku." Ucap Faris.


"Lalu siapa kalau bukan kamu?"


"Dia." Ucap Faris menunjuk kearah Chia.


Chia menatap tajam Faris, Faris benar-benar seorang banci yang sangat penakut.


"Bukan, bukan Aku kak. Aku cewek nggak mungkin kuat ngehajar mereka sampai gitu. Nih, lihat Aku aja nggak ada yang luka. Kan nggak mungkin aku keroyok nggak terluka." Tutur Chia yang kembali menuduh Faris.


Faris melotot kearah Chia, dia benar-benar sangat panik saat ini.


"Bohong, dia yang melakukannya. Bahkan, aku juga ditonjok olehnya." Timpal Faris.


Tiba-tiba saja ada batu yang melayang tepat mengenai kening Faris. Batu tidak terlalu besar namun bisa membuat kening Faris mengeluarkan darah.


"Jangan kira kamu jago yah. Berani memukul teman-temanku." Ucap salah seorang pria.


"Faris..." Teriak Chia yang kemudian mendekati Faris.


Chia melihat banyak darah dikening Faris. Chia sangat takut dengan darah. Tubuh Chia bergetar dan gemetar tangannya.


"Siapa yang melempar batu ini." Teriak Chia wajah merah padam, matanya pun ikut memerah. Dia terlihat sangat emosi. Chia menggertakan gigi-giginya.


Faris yang melihat Chia marah pun menariknya agar tidak melakukan sesuatu yang berlebihan lagi.


"Chi, Chi udah. Aku nggak papa." Ucap Faris.


"Banci to**l siapa yang berani main belakang seperti ini. Dasar penakut." Teriak Chia.


"Aku yang melemparnya, kenapa." Sahut salah satu pria.


Chia berjalan kearah pria itu. Berdiri tepat dihadapannya.


"Minta maaf sama kakak laki-lakiku, dan berikan uang kompensasi untuk lukanya. Atau Aku akan..."


"Akan apa? Ha? Akan apa?" Ucap pria itu mendorong Chia.


Chia pun melayangkan tinjunya tepat disudut bibir pria itu. Belum selesai pria itu berbalik, Chia menambahkan pukulan tepat dibelakang telinga pria itu hingga dia oleng dan terjatuh.


Chia naik diatas tubuh pria itu dan menghantam wajah pria itu berulang-ulang kali.


"Dasar pria brengsek, bajingan. Apakah kalian tidak didik dengan benar. Hanya tahu membuat onar, kalian pikir kalian hebat ha? Dasar beban negara." Ucap Chia sembari melayangkan pukulan diwajah pria itu berulang-ulang.


"Chia....." Teriak suara dari kejauhan.


"Chia..." Suara Archi


Akhirnya, Archi, Adit dan Zaid pun datang. Archi menarik Chia yang sedang memukuli salah satu seorang pria.


"Apa yang terjadi?" Tanya Zaid.


"Mereka yang terlebih dulu mengganggu kami, mereka mencegat kami dan mengambil uang milikku. Chia, marah dan memukul salah satu diantara mereka. Mereka tidak terima dan mengejar kami." Jelas Faris.


"Siapa yang mau cari masalah?" Tanya Archi.


"Jangan sok jagoan yah." Teriak salah satu pria.


"Kenapa kalau sok jagoan ada masalah? Kalau berani maju." Timpal Adit.


Salah satu diantara pria itu mengenal Adit. Sehingga, menyuruh teman-teman yang lainnya untuk bubar. Mereka membawa teman-teman mereka yang terluka.


Perlu diketahui bahwa Adit adalah anak salah satu pejabat, yakni anak seorang gubernur. Selain itu, kakak pertamanya seorang TNI berpangkat Jenderal, Kakak keduanya seorang polisi juga berpangkat Irjen Pol. Tidak hanya itu, kerabatnya juga sangat berpengaruh di politik, selain itu ada juga pemilik rumah sakit terbesar dikota M ini dan pengusaha yang banyak memiliki andil di kota M.


Adit sendiri merupakan anak bungsu yang sangat dimanjakan. Bahkan, dia sering melakukan keonaran seperti balap liar dan melakukan demonstrasi. Karena itu, tidak sedikit orang mengenal Adit.


"Ngomong-ngomong, Faris kau yang memukul beberapa orang itu?" Tanya Zaid.


"Mana ada, bukan Aku. Tuh, singa betina." Ucap Faris menoleh ke arah Chia.


"Si Chia yang melakukan itu?"


"Yah, siapa lagi?"


"Kamu nggak papakan? Ada yang luka?" Tanya Archi kepada Chia.


"Dia tidak terluka, Aku yang terluka. Lihat nih, berdarah." Jerit Faris.


"Chia hebat juga bisa menghajar orang-orang itu tanpa terluka sedikitpun. Gila sih, dua jempol deh buat kamu, Chi." Ucap Adit.


"Terus kenapa wajah kamu bonyok, Far?" Tanya Zaid.


"Ditonjok sama si Chia, tuh." Ucap Faris.


"Kenapa kamu mukul Faris?" Tanya Archi.


"Orang-orang itu melecehkan Aku kak, mereka kira aku pe****r yang harus menemani nafsu mereka. Karena tidak terima, aku menghajar orang yang ngomong kek gitu sama Aku. Tapi, dihadang sama Faris. Karena Aku terlanjur emosi ku tonjok saja si Faris. Kak, si Faris tuh cocoknya pake daster aja lemah banget jadi cowok." Oceh Chia.


Adit dan Zaid menertawakan ucapan Chia yang mengatakan Faris harus mengenakan daster.


"Ya udah, ayok kita kembali. Nana dan Kevin ada dipondok sedang menunggu." Ucap Archi.


"Tapi, kening Faris di bersihkan dulu. Harus diobati dulu." Ucap Chia.


"Iya, iya nanti Zaid beli beberapa alat dan bahan untuk kita obati luka Faris yah." Sahut Archi.


Mereka pun bergegas kembali ke pondok untuk segera membersihkan luka Faris.