I Think I Love U

I Think I Love U
Episode 19



Setelah memikirkan matang-matang untuk bertanya langsung kepada keluarga Ian, Akupun memberanikan diri untuk pergi kerumah Ian dan bertanya kepada keluarga Ian tentang Ian.


"Yeyen, kamu antar Sayur ini ke rumah mama Rudy yah. Ibu masaknya kebanyakan soalnya. Kemarin, mereka ngasih kita ikan juga."


"Okay, Bu."


Aku yang berlarian keluar kamar untuk pergi ke rumah Ian pun tidak sengaj berpapasan dengan Yeyen, Adik perempuanku.


"Mau kemana, Yen. Itu apa?" Tanyaku pada Yeyen seketika menghentikan lariku


"Sayur buat tetangga sebelah tuh." Jawabnya


"Ibunya Rudy? Tanyaku lagi


Ibuny Rudy adalah orang tua perempuannya Ian alias Ibunya Ian. Kebetulan dengan cara ini Aku bisa lebih pede bertanya tentang Ian. Aku pun berniat mengajukan diri untuk membawa sayur tersebut.


"Sini Yen biar Aku saja yang nganternya." Ucapku


"Hmmm, iya yang mau ketemu mertua." Sahut Yeyen


" Ni ambil. Baguslah Aku mau nonton BTS dulu." Lanjut Ian sembari memberikan Aku mangkuk berisi sayur.


"Makasih Adikku sayang." Ucapku


Yeyen hanya memberikan jari dengan posisi jari telunjuk dan ibu jari saling bersatu membentuk bulat, artinya adalah tanda 'ok'. Setelah, penyerahan sayur dari Yeyen kepadaku. Aku pun bergegas keluar menghampiri rumah Ian.


"Assalamualaikum, Tante."


"Wa'alaikumus salaam. Iya, masuk."


Aku pun melepaskan alas kakiku kemudian masuk kedalam rumah Ian.


"Tante, ini sayur Ibu kasih. Soalnya, Ibu buatnya kebanyakan." Tuturku


"Oh, iya iya. Kamu ke dapur saja salin ke mangkuk punya Tante yah."


Aku pun menuju dapur dan menyalin sayur yang kubawa tadi ke mangkuk lain. Jangan salfok sama Aku yang bebas keluar masuk dan tahu semua posisi rumah Ian. Karena Aku sering kesini. Sebelum Aku mengenal Ian Aku sudah sering bermain dirumah ini. Adik tiri perempuan Ian adalah temanku. Walaupun bisa Aku beda 9 tahun dengan adiknya itu tetapi, adiknya adalah temanku yang sejak kecil selalu nempel denganku. Dia juga salah satu bocah yang sering dititip jika orang tuanya pergi waktu kecil.


"Tante, gimana kabar Ian." Tanyaku tanpa basa basi


"Baik-baik saja. Kenapa tanya sama Tante. Kamu kan bisa telponan dan chat sama dia."


"Chatku nggak dibales Tante. Terus Aku juga takut dia sibuk. Oh iya Tante aku mau tanya kira-kira ini keluarga Tante bukan sih?" Tanyaku sembari menunjukkan foto hasil screenshot story Ian. Sebelumnya, Aku memintanya dari Naina. Untuk Aku pastikan apakah dia keluarga atau bukan.


"Mana? Mmm, bukan. Tante nggak kenal. Bukan keluarga Tante sih itu. Kenapa?"


"Oh, bukan apa-apa Tante." Jawabku


Jantungku berdegup kencang, kekhwatiranku semakin bertambah. Jika Tante tidak mengenal perempuan itu, tidak ada yang bis mengelak lagi bukan.


"Oh okey deh, Tan. Mianya ada?"


"Mia dikamar tuh kamu masuk saja."


"Okey, Aku ke kamar Mia dulu yah Tan." Ucapku sembari meninggalkan Tante kemudian berjalan ke arah kamar Mia.


"Assalamualaikum, Mia. Ini aku Chia boleh masuk nggak?


"Iya masuk saja."


Aku pun membuka pintu dan masuk ke kamar Mia. Tanpa berlama-lama Aku pun menuju Mia yang sedang rebahan diatas kasur.


"Mia, Mia... Kamu kenal orang ini nggak?"


"Mana, itukan cewek yang ada di story kak Ian. Kenapa, cie kamu cemburu yah?"


"Iya, Aku cemburu. Kamu juga lihat storynya?"


"Iya Aku lihat. Trus Aku juga balas tuh storynya Aku tanya itu siapa, awas nanti kak Chia marah. Eh kak Ian hanya balas emot ketawa doang." Tutur Mia


Telingaku seperti tersambar petir, Aku tidak mau mengakui ini tapi Aku benar-benar hilang rasa kepercayaanku. Aku tiba-tiba menjadi kesal.


"Mia bantu Aku dong." Pintaku dengan gaya manjaku


"Bantu apa?"


"Bisa tidak kamu VC sama Ian. Tapi, jangan bilang kalau Aku ada ke dia." Pintaku


Mia pun melakukan apa yang Aku perintahkan. Tidak menunggu lama, Ian pun mengangkat video call dari Mia.


"Iya, hi Mi kenapa?"


"Enggak, Aku cuman rindu sama kak Ian. Kak Ian dimana?"


"Cie adik Aku punya rasa rindu juga. Kakak lagi jalan-jalan nih."


"Iya dong. Eh, jalan sama siapa tuh."


"Sama pacar kakak dong."


Duarrrr jantungku kali ini benar-benar terasa seperti ingin meledak, Aku sudah tidak bisa berekspresi lagi. Mia yang mendengar kakaknya itu langsung menoleh ke arahku. Mia bisa melihat betapa berubahnya mimik wajahku.


"Kakak serius nih, jalan sama siapa? Ih kakak Aku lapor sama Kak Chia ni."


"Iya, benar sana tuh pacar kakak. Lagi mesan bakso, hehehe" Ucap Ian yang kemudian mengarahkan kameranya ke arah wanita yang saat ini Aku sedang menginvestasinya.


"Kakak...." Teriak Mia yang sadar kalau Aku sudah sangat kesal


"Kakak sudah punya tunangan loh, Kak. Jangan gitu."


"Iya tunangan kakak yang kayak robot itu. Yang bahkan tidak punya perasaan ke kakak. Kan masih tunangan bisa putus juga."


"Kakak...." Teriak Mia dengan nada tidak percaya akan perbuatan kakaknya


Aku pun mengambil ponsel Mia. Dengan sedikit tersenyum kecut, Aku pun berbicara kepada Ian.


Aku tidak tahu apa yang terjadi saat Ian mengetahui kalau Aku mendengar ucapannya itu. Aku sangat dan benar-benar sangat kesal. Aku pun mengembalikan ponsel Mia. Dan kemudian pergi meninggalkan Mia.


Aku pun kembali kerumah dan masuk ke kamarku. Entah mengapa dadaku terasa sesak, wajahku sangat merasa dan penuh guratan emosi. Mataku terasa panas, pelupuk mataku sudah memproduksi air mata yang siap tumpah. Aku sudah tidak kuat menahan air mata. Aku pun berlari kekamar mandi dan lalu mengunci pintu kamar mandi. Aku menyalakan kran air barulah Aku menangis sejadi-jadinya. Aku memasang dadaku rasanya sangat sempit. Aku tidak tahan lagi menahan suaraku yang sangat ingin mengumpat ini. Apakah ini yang namanya sakit hati. Benar-benar ini sangat sakit. Apakah ini yang disebut patah hati. Rasanya seperti terbakar. Aku pun memukul-mukul dadaku. Ingin rasanya mengeluarkan sakitnya. Aku benci perasaan seperti ini. Pikiran ku sangat kacau.


Tanpa pikir panjang Aku berlari keluar rumah. Aku mengambil kunci motor. Motor milik kakak perempuanku.


Orang rumah yang melihatku menangis pun bertanya-tanya. Pasalnya, Aku orang yang hampir dan bahkan jarang menangis. Jadi, ini merupakan pemandangan yang aneh.


"Loh, Chi. Kamu kenapa nangis?" Tanya Ibu


Aku tidak menjawab pertanyaan Ibu. Lalu, keluar menyalakan mesin motor. Aku tidak tahu tujuan ku kemana. Tetapi, otakku menggerakkan seluruh anggota tubuhku sehingga Aku hanya bisa ikut perintah otakku.


Semua keluargaku yang tidak tahu apa yang terjadi berlari ikut keluar. Ibu yang terus teriak memanggilku membuat tetangga keluar dan mengira kami sedang berantem.


Aku tidak memperdulikan mereka. Sepanjang jalan, Aku meneteskan air mata. Tepat saat itu, hujan turun membasahi tubuhku. Sepertinya, langit juga bersedih melihat Aku bersedih. Aku sama sekali tidak menepi dan membiarkan tubuhku ini dihujani. Aku tidak tahu kemana Aku pergi. Tetapi, Aku sudah tiba saja didepan rumah Naina.


Ibunya Naina yang melihatku pun langsung memanggilku masuk.


"Loh, Cha. Kamu kenapa basah-basah gini."


"Bu, Naina ada."


"Ada masuk saja, ganti pakaian kami tuh."


"Aku pun masuk dengan pakaian yang basah kuyup."


Aku dan Naina sudah seperti saudara begitu pun dengan Ibu kami. Bagi kami orang tua sahabat adalah orang tua kami juga. Apalagi kami sudah sangat lama berteman. Bukan hanya Naina, Uta dan Ria juga begitu. Jadi, bukan hal lumrah jika kamu masuk kerumah sahabat seperti masuk ke rumah sendiri.


"Chia, kamu kok basah gini. Kamarku jadi basah tahu."


Aku hanya menatap Naina yang mengomeli. Tangisku pecah membuat Naina menjadi panik.


"Chia kamu kenapa nangis. Astaga, siapa lagi yang buat kamu nangis. Ganti baju dulu sana. Astaghfirullah anak ini." Omel Naina


Aku pun mengganti pakaianku. Setelah itu, Naina membawakan minuman hangat untuk menghangatkan kutubuhku.


"Kamu kenapa? Jangan bilang karena Ian lagi."


Mendengar nama pria itu membuat dadaku terasa sesak. Aku pun kembali menangis tanpa menahan suaraku yang pecah itu. Aku tidak bisa menangis dirumah karena Aku malu jika keluarga ku melihat Aku menangis.


"Itukan karena Ian lagi. Sudah kuduga. Kenapa dia benar selingkuh?"


Aku tidak menjawab pertanyaan Naian, tetapi dia sudah mendapatkan jawabannya.


"Na.... Ak... u... Aku....da...dada...ku...sakit huhuhu." Ucapku yang terbata-bata karena sesegukkan sambil menangis


"Se...see....sesak sekali Na...." Lanjutku


"Di...a bi...Lang... Aku robot yang tidak punya perasaan.... Dan mau membatalkan tu...nangann.. kami huhuhu..."


"A...aku... Sudah berusaha untuk beru...berubah kan....."


Naina yang mencoba memahami penjelasanku yang dibarengi tangis yang tersedu-sedu itu hanya terdiam dan mengamatiku.


"Kapan dia bilang gitu?"


"Ta...dii... Pas adiknya VC sama... Sama... Dia."


"Laki-laki brengsek sih itu. Aku kira dia baik ternyata brengsek." Ucap Naina yang juga emosi


Walaupun Naina merupakan tempat curhat yang baik, tapi terkadang tingkat kesabarannya juga setipis kertas.


"Siapa yang brengsek?"


"Ini mah, tunangannya si Chia. Masa dia yang selingkuh trus ngata-ngatain si Chia robot sih. Walaupun iya tapi kan nggak boleh."


Aku tiba-tiba tertawa karena keluhnya Naina yang terakhir sedang mengejekku.


"Laki-laki yang kek gitu dibuang saja."


"Mana coba mama lihat ceweknya."


Naina pun mengeluarkan foto cewek selingkuhannya.


"Astaghfirullah, kok kek truk tronton sih... Tunangan kamu suka yang bantet-bantet kek gini?"


Aku dan Naina saling menatap saat mendengar ocehan Tante. Kami pun tanpa aba-aba langsung tertawa. Bahkan, Aku tertawa sambil sesegukkan.


"Jangan gitu, mah. Siapa tahu dia hatinya baik." Ucap Naina tapi dengan tertawa


Keputusanku untuk datang kesini memang tepat. Pasalnya, kami bahkan disaat serius pun masih bisa becanda dan tertawa.


"Sudah tidak usah menangis pria seperti ini. Kamu makan dulu."


"Iya, Bu. Ibu masak apa saja?" Jawabku


"Masak ayam kecap tuh. Makan gih." Titah Tante yang kemudian meninggalkan kami


"Kadang-kadang emang ni anak. Patah hati pun masih mikir makan." Sahut Naina


"Meneteskan air mata juga membutuhkan tenaga. Aku nginap disini yah malam ini."


"Okey, nanti Aku bilang keluargamu."


"Okey, aku makan dulu." Ucapku yang kemudian beranjak ke dapur.


Setelah makan Aku pun kembali ke kamar dan melanjutkan cerita. Kadang terisak tangis kadang juga tertawa dibalik nasihat yang terselip candaan dari Naina.


Tenagaku yang terkuras habis karena menangis pun. Akhirnya, membuatku terlelap. Aku pun tertidur hingga bangun dipagi hari.


Paginya Aku melihat Naina yang tidur terlentang dilantai. Aku yang kecapean habis nangis membuatku tidur tanpa sadar diri hingga menguasai kasur yang kecil itu. Yah, kasur Naina ini hanya satu badan. Setelah sarapan, Aku pun pulang kerumah tidak lupa Aku pamit kepada orang tua Naina dan mengucapkan terimakasih.