I Think I Love U

I Think I Love U
Episode 87



Dua hari Chia menemani Adit berkeliling kota, Adit sangat puas menikmati waktu bersama Chia. Tiba saatnya pertandingan final basket, Adit pun menyempatkan diri untuk hadir dalam pertandingan itu. Tidak hanya itu bahkan sporter tim Chia yang biasa hanya beberapa orang, kini hampir seluruh ruang dipenuhi oleh sporter Chia baik dari kalangan dosen, dan mahasiswa jurusan.


"Perasaanku saja atau hari ini rame yah?" Ucap Fika.


"Iya, biasanya sporter lawan yang banyak, tapi sekarang kayaknya sporter kita kuasai gedung deh." Ucap Anna.


"Kak Yuri yah yang nyuruh mereka datang?" Tanya Fika.


"Enggak kok. Tapi, bagus sih Aku jadi bersemangat nih buat tampil." Jawab Yuri.


"Duh, Aku malah gugup parah." Ujar Anna.


Tiba-tiba Adit dan beberapa temannya masuk menyita perhatian banyak orang. Tidak hanya Adit yang mencolok bahkan teman-temannya pun sangat mencolok mereka seperti pasukan mafia yang serba berpakaian hitam.


"Mereka siapa?" Tanya Yuri.


"Aku juga nggak tahu." Jawab Fika.


Adit dan teman-temannya berjalan kearah kursi penonton. Mereka berdiri paling depan. Salah satu teman Adit membentangkan spanduk yang membuat semua orang tercengang.


Spanduk bertuliskan "Semangat cantikku, Chia. Kamu selalu jadi pemenang." ditambah foto Chia disamping tulisan tersebut.


Chia yang melihat hal itu pun menepuk jidatnya, dia bahkan sampai tidak bisa berkata-kata. Bukannya senang, Chia merasa malu diapun menutup kedua wajahnya.


"Hahahaha, Chia sportermu keren juga." Cicit Yuri.


"Duh, kak maaf mereka memang agak lain otaknya." Tutur Chia dengan wajah yang sudah merah menahan malu.


"Aih, justru bagus ada yang mendukungmu. Jadi, kamu harus main dengan semangat." Ucap Yuri.


"Gak janji yah kak." Ucap Chia.


Chia kembali menoleh kearah barisan penonton, tidak hanya spanduk yang membuat Chia malu. Bahkan kaos yang mereka kenakanpun terpampang jelas wajah Chia.


"Ya Allah malunya." Tukas Chia mengusap wajahnya berkali-kali.


Adit yang melihat Chia menoleh kearahnya pun melambaikan tangannya kepada Chia.


"Semangat Sayanggg..." Teriak Adit.


Teman-temannya Chia pun seketika menoleh melihat Adit, tidak hanya itu bahkan para dosen pun menoleh melihatnya.


"Bukannya itu cowok yang tajir itu yah?" Tanya Andin.


"Iya, soswiet yah." Sahut Fira.


"Apanya yang soswiet? Chia aja kelihatannya malu tuh." Tutur Alif.


"Ih, soswiet tahu. Tuh sampai bajunya aja kayak gitu. Dia benar-benar ngeratuin Chia nggak sih." Tutur Fira.


"Oh, iya dong. Tidak hanya meratukan tetapi juga menghargai dan juga peka dengan Chia. Nggak kayak ehem." Sahut Naina yang mendengar obrolan Nadin, Fira dan Alif.


"Iya, serasi banget tahu. Kak Adit tuh kek pangeran deh." Tutur Cherly.


"Kayak di komik-komik gitu. Ternyata apa yang Aku baca bisa kulihat secara langsung yah." Ucap Naina namun matanya terus melirik kearah Kay.


"Chia pun dilihat dari sisi manapun perfect banget kalau sama Kak Adit beh jadi double perfect nggak tuh. Duh, irinya."Sambung Cherly.


Entah mengapa mereka terus mengangung-angungkan Chia membuat seseorang menjadi kebakaran jenggot.


"Bacot deh, udah diam tuh udah mau mulai." Ucap Anton.


Mereka pun terdiam, dan mulai fokus kembali menatap kearah lapangan. Pertandingan akan segera dimulai.


"Guys, formasi yang dipakai seperti yang pertama kali kita main yah." Tutur Yuri.


"Oke, kak." Jawab mereka kompak.


"Jangan lupa Chia, kalau dalam keadaan genting langsung diterobos saja yah. Tapi, jangan keseringan nanti kamu yang dihadang terus. Oke."


"Oke, kak."


"Sebelum kita mulai, mari kita berdoa dulu." Tutur Yuri.


Mereka pun masing-masing berdoa berdasarkan kepercayaan mereka. Setelah itu, mereka pun masuk dan membentuk formasi masing-masing tim.


Teriakan penonton masing-masing sporter tim memberikan suasana semakin ramai.


Pertandingan pun dimulai, masing-masing tim mulai bergerak sesuai dengan arah bola berpindah tangan.


......................


Kedua tim sudah bermain hingga 2 babak namun hasilnya masih sama yakni skor 0:0. Pertarungan yang sangat sengit, mereka masing-masing mempertahankan ring basket mereka dan kesulitan untuk memasukan bola karena masing-masing dari mereka memiliki blok terhadap lawan begitu kuat.


Permainan terus berlanjut ke babak ketiga. Semakin sengit, semakin menegangkan.


Yuri yang terus menyerang dengan lincahnya bahkan dapat diblok dengan tim lawan. Hingga pada lompatan berikutnya, Yuri terjatuh membuat kakinya cedera karena salah dalam menopang tubuhnya yang terjatuh.


Fika dan Anna reflek berlari kearah Yuri yang terjatuh, sementara Chia dan Niken masih bengong saking terkejutnya. Namun, mereka pun cepat tersadar dan juga berlari kearah Yuri.


Mereka memapah Yuri keluar dari lapangan. Pertandingan dihentikan untuk sementara waktu. Beberapa panitia, berlari kearah Yuri dan memberikan pertolongan pertama kepada Yuri yang cedera.


"Gimana nih? Kita nggak punya pemain cadangan?" Tukas Anna.


"Dua babak lagi yah?" Tanya Niken.


"Iya. Main berempat bisa nggak?"Tanya Anna.


"Coba tanya sama panitianya."


Fika pun bergegas bertanya kepada panitia pelaksana lomba terkait kekurangan pemain. Setelah bertanya, Fika pun kembali dan memberikan informasi yang dia dapatkan dari panitia.


"Gimana?" Tanya Niken.


"Nggak masalah kata mereka. Cuman nanti 5 lawan 4." Ucap Fika.


"Coba tanya Kak Yuri dulu." Ucap Chia.


"Kakiku cedera, nggak bisa berlari deh kayaknya. Kalian bisa main berempatkan? Nggak papa nggak menang anggap saja kita hanya untuk bersenang-senang." Tutur Yuri.


"Pake formasi apa nih?" Tanya Niken.


"Nggak main aja. Formasinya disesuaikan saja." Ucap Anna.


"Oke." Jawab mereka kompak.


Pertandingan pun kembali dimulai, tim Chia tanpa Yuri menjadi empat orang saja.


Pada babak ketiga, tim lawan berhasil mendapatkan skor 2:0.


"Yah, jatah-jatah kalah deh." Ucap Sandi.


"Yang power cedera jadi udah nggak ada kesempatan menang deh." Tutur Anton.


"Masih ada babak selanjutnya, siapa tahu masih bisa serang balik." Ucap Cherly.


"Nggak mungkin, lihat tuh mereka berempat sudah ngos-ngosan dan kecapean. Mereka tanpa Kak Yuri kayaknya nggak bisa menang." Ucap Anton.


"Kalau menang gimana?" Tanya Naina.


"Yah kalau menang baguslah. Tapi, mungkin itu mujizat." Tutur Anton.


"Apaan sih bacot deh." Ucap Naina.


Sementara, dilapangan masuk babak keempat namun jeda untuk istirahat sebelum memasuki babak keempat.


Chia mengambil waktu istirahat untuk ke toilet, dia sudah menahannya dari babak ketiga tadi. Chia berlari ke arah toilet. Selesai dari toilet Chia bergegas kembali kelapangan. Namun, saat hendak kembali dia berpapasan dengan Kay yang juga baru saja keluar dari toilet.


Sudah beberapa hari Chia menghindar dari Kay, dia masih malu atas kejadian saat dia berbohong bahwa Naina akan menjemputnya nyatanya Kay sudah tahu bahwa Naina sudah pulang lebih dulu.


Melihat Kay, Chia cepat-cepat mengambil langkah panjang agar cepat menghindar dari Kay. Namun, Kay duluan menghadang jalan Chia.


"Apa yang kamu lakukan? Minggir Aku sudah harus kembali kelapangan tahu." Tukas Chia.


"Masih ada satu menit lagi, kenapa kamu menghindar dariku?" Tanya Kay.


"Suka-suka Aku dong. Lagian dulu kan kamu sendiri yang minta agar Aku menjauh." Ketus Chia.


"Tapikan Aku sudah menarik ucapan itu." Ucap Kay.


"Mau kamu udah tarik kek, Aku nggak perduli. Minggir." Ucap Chia kemudian melewati Kay.


"Tunggu." Teriak Kay.


Namun, Chia terus berjalan dan tidak menghiraukan Kay.


"Semangat yah, kalau kamu bisa menang Aku bakal traktir kamu." Teriak Kay.


Chia sontak menghentikan langkah kakinya. Diapun.berbalik menoleh kepada Kay.


"Kalau Aku kalah?" Tanya Chia.


"Kalau kalah yah, Aku juga bakal traktir kamu."


"Benarkah?"


"Iya."


"Baiklah, jangan bohong yah." Ucap Chia tersenyum.


"Iya." Sahut Kay.


Chia pun berpaling dan bergegas pergi namun dengan wajah tersenyum sumringah. Untuk pertama kalinya Kay menawarkan diri untuk mentraktir Chia. Ini adalah kesempatan yang tidak bisa dilewatkan oleh Chia. Sudah sejak lama dia mendambakan hal itu.


Chia kembali kelapangan dengan wajah bahagianya. Pertandingan pun kembali dimulai. Ini adalah babak terakhir penentuan juara.


Baru saja dimulai, tim Chia kecolongan skor lagi 3:0. Bahkan, Chia dan kawan-kawannya bengong terpaku melihat hasil skor.


"Chia, Sayang jangan serang balik. Awas saja kalau kamu kalah Aku bakal nikahin kamu." Teriak Adit.


Naina dan lainnya yang mendengar pun saling pandang.


"Bukannya kalau menang baru diajak nikah? Kok malah kalah baru diajak nikah?" Tanya Ria.


"Yah, kalau gitu mending Chia langsung menyerah aja." Ucap Yeni.


"Trus, kalau Chia menang bagaimana?" Tanya Ria.


"Udah nggak ada harapan untuk menang " Tukas Andi.


Mereka saling cerca karena melihat hasil skor yang didapatkan.


Saat ini Chia yang memegang bola, dengan satu tarikan nafas dan begitu santainya dia pun melempar bola ke ring lawan dari posisinya yang berada dibawa ring milik timnya.


Gerakan yang begitu santai, bahkan membuat orang terkejut karena bola masuk dengan anggun kedalam ring tim lawan. Niken, Anna dan Fika juga sedang ngelag karena skor mereka menjadi sama yakni 3:3 karena tembakan yang dilakukan oleh Chia. Mereka pun tersadar dan berlari kearah Chia dan memeluknya.


Sporter pun ikut teriak karena terkejut dan bersorak senang. Nama Chia terus bergema dikala itu.


Pertandingan masih berlanjut hingga waktu pun berakhir. Nilai skor masih seri, untuk itu diberikan tambahan waktu untuk mencetak skor lagi.


Kali ini Chia terlihat sangat serius, dengan gesit dia mulai menguasai bola. Kemudian, dilemparkannya ke arah Niken. Niken dengan cepat menangkap bola itu dan memberikan ke Fika. Fika juga langsung meneruskan ke Anna. Anna dengan cepat melompat untuk memasukan bola ke ring namun ditangkis oleh lawan. Fika dengan cepat menangkap bola itu dan memberikan kepada Chia yang sudah loncat lalu dia menangkap kembali bola dan kali ini dimasukkan ke ring dengan mulus. Bersamaan dengan bunyi pluit tim Chia berhasil mencetak skor 4:3. Dengan berakhirnya waktu tim Chia dinyatakan menang. Sontak teriakan kebahagiaan dari sporter dan juga tim Chia bergema dilapangan.


Bahan Niken meneteskan air mata karena tidak percaya mereka menang.


"Tuhkan Aku bilang apa. Kita pasti menang, Chia mah suka nyetak skor diakhir-akhir waktu." Tutur Naina.


"Chia keren banget mainnya tadi." Ucap Alif.


"Iyalah, tuh tuh lihat. Chia bukan beban dan tidak berguna." Ucap Naina kepada Anton.


"Iya iya iya." Sahut Anton.


Mereka pun berlari turun kelapangan untuk berjumpa dengan Chia.