I Think I Love U

I Think I Love U
Episode 46



Aku membuka mataku perlahan, Aku mengamati langit-langit, dan ku rasa Aku tidak dirumah. Setelah mataku terbuka sepenuhnya, Aku melihat kearah kanan dan kiri, Aku berada diruangan serba putih. Aku melihat Yeyen sedang memainkan ponselnya disofa dalam ruangan tempat ku berada.


Yeyen yang melihatku bergegas kearahku. Tidak hanya itu dia juga memanggil suster untuk melihat kondisiku.


Setelah itu, Yeyen memberitahu padaku bahwa Aku sudah tidak sadarkan diri selama 3 hari. Aku mengalami trauma sehingga membuatku kehilangan kendali dan lupa cara bernafas, yah kira-kira seperti itu cerita Yeyen. Entah, dia sedang bercanda atau sedang menghiburku. Bagaimana bisa Aku bisa lupa cara bernafas. Tetapi, saat Aku dibawa kerumah sakit. Aku sempat merasakan sesak di dada, nafasku terasa berat. Sehingga, pihak rumah sakit memasang oksigen untukku. Selama Aku menutup mata selama beberapa hari, Aku terus meneteskan air mata namun diluar kesadaranku.


Aku melewati final pertandingan bela diri, karena Aku tidak sadarkan diri. Tidak ada toleransi kepadaku sehingga Aku dinyatakan gugur sebelum bertanding. Aku sangat sedih karena mengecewakan banyak pihak, air mataku meneteskan lagi. Yeyen terus menghiburku bahkan terus mengatakan lelucon agar Aku melupakan kesedihanku. Tetapi, Air mataku terus saja menetes.


Saat Aku tersadar ada sesuatu yang kulupakan. Sesuatu yang membuatku hingga seperti ini.


"Amel..." Ucapku.


"Amel, Amel, Amel, Yeyen dimana Amel?" Jeritku.


Yeyen yang tadi terus menceritakan lelucon tiba-tiba saja terdiam. Dia tidak menjawab pertanyaanku.


"Yeyen, Amel bagaimana?" Tanyaku dengan nada lemah.


"Aku istirahat dulu. Kasihan Ibu sama Ayah terus mencemaskan dirimu." Sahut Yeyen.


"Yen, Amel. Aku melihat Amel bersimbah darah." Tuturku yang lagi-lagi meneteskan air mata.


Yeyen melihatku dengan perasaan iba, lalu dia pun menceritakan apa yang Aku sedang khawatirkan.


Amel sudah dikebumikan sehari setelah mayatnya ditemukan. Setelah diselidiki murni dia melakukan bunuh diri. Kak Vino yang sangat sedih pun tidak melanjutkan pertandingannya sehingga dia didiskualifikasi. Dia dan keluarganya terus mendesak kepolisian untuk mengusut tuntas kasus ini. Tidak mungkin Amel melakukan perbuatan yang dapat menghilangkan nyawanya seperti ini.


Aku mendengarnya pun menangis, tubuhku gemetar dadaku lagi-lagi terasa sesak. Aku pun histeris dan terus menjerit. Aku menjambak rambutku. Yeyen yang berusaha menenangkan diriku pun ikut menangis dan terus memanggil-manggil suster. Aku masih saja menangis dan memberontak. Aku sangat takut, sangat takut bahkan bayang-bayang Amel terus menghantui pikiranku. Terpaksa untuk menenangkan Aku, dokter melakukan tindakan untuk membuatku tertidur untuk sementara waktu.


Bahkan saat tidak sadarkan diri, Aku masih bisa melihat wajah Amel yang tersenyum saat terakhir bertemu dengannya. Setiap ucapannya terus berputar dipikiranku.


Saat terbangun lagi, Aku melihat Lion yang sedang duduk disampaingku. Dia tersenyum saat melihatku membuka mata. Dia mulai mengoceh panjang lebar karena menungguku bangun. Banyak sekali tingkahnya, bahkan dia menjengukku tanpa membawa apa-apa. Malah, makanan yang disediakan untukku pun dia embat tanpa ragu dan malu.


Selain itu, dia juga memamerkan medalinya, dia mendapatkan juara 1 dalam pertandingan bela diri kategori taekwondo tingkat junior. Dia lagi lagi mengoceh kepadaku karena Aku tidak melihatnya saat penyerahan piala dan piagam. Dia juga marah karena tidak bisa berdiri bersama denganku untuk memamerkan kemenangan bersama. Aku hanya melihatnya terus mengoceh.


"Apakah kau datang?" Tanyaku tiba-tiba.


"Datang kemana?" Tanya Lion kembali.


"Apakah kau mengantarnya ditempat peristirahatan terakhirnya?" Tanyaku.


Lion mengerti apa yang Aku maksud, awalnya dia terdiam sejenak lalu tersenyum.


"Yah, bahkan Aku menghamburkan bunga-bunga yang indah dirumah barunya. Sebelum wajahnya ditutup bahkan Aku melihat wajahnya sungguh tenang dan ada senyum dipipinya." Tutur Lion.


"Kau bohong." Ketusku.


"Aku tidak bohong."


"Ya, Kau bohong. Jika dia tersenyum maka dia tidak akan memilih untuk mengakhiri hidupnya secepat itu dan setragis itu." Tuturku.


Lion terkejut mendengar penuturanku. Dia bahkan terdiam, dia sedang memikirkan kata-kata yang mungkin membuatku tidak histeris lagi.


"Itu sudah menjadi keputusannya. Kita tidak bisa berbuat apa-apa, kita hanya bisa mendoakan agar dia dapat tenang didunia barunya." Ucap Lion.


"Apakah orang yang memilih untuk mengakhiri hidupnya akan bahagia? Jika kau mengatakan itu tidak ada hubungannya dengan kita, tidak. Kau salah, Aku mengetahui penyebabnya. Karena itu Aku sangat ketakutan saat ini." Ucapku dengan mata yang sudah mulai berair.


Lion terkejut dengan apa yang Aku ucapkan, namun tingkahnya masih tenang.


"Jangan menyalahkan dirimu sendiri, jika memang Kau tahu penyebabnya namun tidak bisa melakukan apa-apa maka diamlah saja ditempatmu. Kita masih seorang remaja yang bahkan jika menceritakan suatu kebenaran orang-orang dewasa akan menyangkalnya bahkan bisa saja kita yang akan diancam." Ucap Lion.


Aku terkejut menatap Lion sangat dalam. Apakah dia menganggap ini suatu yang wajar.


"Apakah Kau membenci Amel? Apakah Amel pernah menyinggungmu?"


"Tidak."


"Lalu, kenapa kau menganggap kematiannya hal yang biasa."


"Aku tidak pernah mengatakan hal itu, tapi Aku hanya mengingatkanmu. Kita bahkan masih seumur jagung, melawan orang dewasa itu hal yang sulit."


Aku tidak mengatakan apa penyebab Amel bisa merenggut nyawanya sendiri. Tetapi, Lion bisa mengucapkan kalimat yang langsung menebak siapa yang sudah membuat Amel seperti itu.


"Apa kau juga tahu penyebabnya?" Tanyaku kepada Lion untuk memastikan apa yang Aku pikirkan.


Lion hanya terdiam, walaupun demikian Aku tahu dia sedang mengiyakan pertanyaanku. Aku pun menarik tangannya.


"Lion, jika denganmu. Mereka akan bisa lebih percaya kepada kita. Karena kita adalah saksi yang nyata." Ucapku menggenggam tangan Lion.


Lion menarik tangannya, dia berdiri menjauh dariku.


"Maaf, Chi. Aku tidak bisa membantu. Oh, iya Aku pulang dulu yah. Jika ingin hidupmu tenang, tidak usah mencari masalah dengan orang yang bahkan tidak bisa diganggu." Ucap Lion bergegas pergi.


Aku hanya bisa menatapnya hingga tidak nampak punggungnya lagi dalam penglihatanku. Ucapan terakhir Lion, mengingatkan Aku untuk tidak ikut campur masalah orang lain. Aku hanya termenung dan terdiam dengan tatapan kosong.


*****


Sudah dua Minggu, Aku masih dirumah sakit. Karena, setiap hari Aku masih menjerit seperti orang yang kerasukan. Hal ini, karena Aku terus melihat bayang-bayang Amel yang terus menghantuiku. Namun, hari ini Aku sudah mulai membaik dan jika diizinkan oleh dokter maka Aku sudah bisa pulang ke rumah.


Hari ini, Aku sendirian di dalam kamar ruang rumah sakit. Aku duduk dengan menatap TV yang menyiarkan siaran serial kartun. Aku sangat bosan diruangan ini. Setiap menit Aku mengela nafas.


"Hai, Chi." Ucapnya.


Aku hanya menatapnya, tubuhku mengejang tanganku berkeringat. Aku tidak tahu kenapa Aku bisa setakut ini.


Dialah Kak Vino, hari ini dia datang menjengukku. Apakah dia akan menyalahkan Aku karena tidak menghadiri pemakaman adiknya. Atau dia akan bertanya apakah adiknya memiliki masalah. Bagaimana jika dia tahu kalau Amel terakhir bertemu denganku telah menitihkan air mata.


"Chia." Panggilnya.


"Iya, Kak." Aku yang tersadar dalam overthingking.


"Kamu baik-baik sajakan?"


"I...iya, Kak." Jawabku.


"Alhamdulillah, kalau gitu." Ucapnya.


Aku tidak berani menoleh melihat wajahnya, Aku tertunduk dengan hati yang pedih.


"Aku minta maaf yah." Ucapnya lagi.


"Kenapa kakak minta maaf kepadaku?"


"Karena kamu melihat Amel mengakhiri kehidupannya dengan tragis, kamu menjadi trauma dan berakhir seperti ini."


"Tidak, Kak. Ini bukan salah Kakak." Ucapku menggelengkan kepala, Aku langsung menoleh menatap wajah tampan yang sendu itu. Dia terlihat sangat lelah, dan begitu sedih.


"Kakak tidak tahu kenapa Amel bisa melakukan ini semua." Tutur Kak Vino.


Keluarga Amel sudah berhasil membuat kepolisian mengusut kasus kematian Amel, namun belum juga nampak hilalnya. Aku mendengar dari Yeyen kalau kasus ini murni kasus bunuh diri. Karena itu, kasus ini akan ditutup.


Mungkin inilah yang dimaksudkan oleh Lion. Bahwa, yang dihadapi keluarga Amel bukan orang sembarangan. Karena itu, bukti bisa saja dihilangkan dengan mudah.


"Kak Vino, maafkan Aku." Ujarku.


"Kenapa kamu meminta maaf?"


"Kak, maafkan Aku. Aku... Aku melihatnya Kak." Ucapku dengan suara parau.


"Melihat apa?" Tanya Kak Vino penasaran.


"Aku melihat, Aku melihat Amel dilecehkan, Aku melihat dia diperkosa, Kak." Ucapku.


"Apa maksudmu? Dilecehkan sama siapa?"


"Dia adalah salah satu juri pertandingan bela diri tingkat SMA. Dia yang melecehkan Amel, Kak."


"Apa kau berkata benar? Lalu, siapa juri itu?"


"Pak Didit, Kak. Bukan hanya itu, saat Aku melihat kejadian itu. Koridor lantai tempat Amel nginap kosong seperti sudah direncanakan. Tidak ada orang disetiap kamar. Kakak bisa memastikan CCTV dihari Amel dilecehkan, Kak."


"Tapi, polisi sudah memeriksa CCTV selama Amel nginap tetapi tidak ada hal yang mencurigakan."


"Benarkah?" Ucapku terkejut.


"Iya."


Aku terdiam sejenak, tidak mungkin. Aku sendiri yang melihat dengan mata kepalaku.


"Kak, jika tidak percaya Kakak bisa menanyakan kepada resepsionis yang berjaga dihari itu." Ujarku.


Kak Vino pun mengangguk. Kemudian, dia pamit pergi untuk mencari bukti dari hasil kesaksianku.


Setelah itu, beberapa hari setelah ditelusuri resepsionis yang Aku katakan sudah tidak bekerja disitu lagi. Karena itu, Kak Vino dengan bantuan polisi mencari tempat tinggal resepsionis itu. Tidak hanya itu, CCTV pada tanggal yang kejadian saat Amel dilecehkan telah direkayasa. Karena itu, dengan pengacara yang disewa oleh keluarga Kak Vino kasus kembali diselidiki. Kak Vino tidak memberitahu kepada orang-orang jika Aku yang menceritakan hal ini karena ingin melindungiku.


Hal yang tak terduga terjadi, resepsionis yang akan menjadi saksi pada persidangan ditemukan tewas saat pulang dari tempat kerja barunya. Hal ini, membuat jalan buntu untuk memecahkan kasus Amel. Sementara itu, pada hari Amel dilecehkan CCTV sudah dimatikan sebelumnya untuk dilantai yang kudatangi itu. Hal ini, membuat kasus kembali menjadi rumit.


Kak Vino sangat putus asa, harapan terakhirnya adalah Aku. Dia pun menghubungiku, dia tidak bisa langsung menemuiku karena dia takut akan terjadi sesuatu padaku.


Terdengar suaranya yang semakin lemah karena menahan air matanya. Dia tidak tahu harus bagaimana untuk mengusut tuntas kasus adiknya itu.


Aku pun dengan berani menceritakan semua yang Amel katakan kepadaku. Terkait, mengapa dia bisa dilecehkan hingga berujung pada mengakhiri hidupnya. Aku pun bersedia menjadi saksi jika itu dibutuhkan dengan begini hidupuku tidak akan ada penyesalan kepada Amel.


Setelah mengakhiri percakapan dengan Kak Vino, Aku pun merasa lega. Ada sebagian didalam tubuhku yang merasa telah bebas.


*****


Hari ini adalah hari terakhir Aku dirumah sakit, besok Aku sudah bisa keluar. Saat ini Aku sendirian lagi, yah memang keluargaku sering meninggalkanku dikamar rumah sakit ini sendiri. Bukan karena tidak peduli, namun mereka secara bergantian menjagaku. Hari ini adik laki-lakiku yang menjagaku. Dia sedang keluar karena ingin membeli makanan. Jadinya Aku ditinggal sendiri.


Kali ini kejadian yang sama, pintu kamar terbuka. Aku pikir Adikku. Tetapi, ternyata bukan. Juga bukan keluargaku dan juga bukan Kak Vino. Tetapi, kali ini adalah sesuatu yang dapat mengancamku.


Pelatihku datang padahal beberapa minggu saat Aku terbaring dirumah sakit dia sama sekali tidak menjengukku. Tiba-tiba saja hari ini, dia datang menjengukku. Karena kasus Amel namanya beberapa kali menjadi orang yang akan diperiksa juga. Setelah, Aku memberitahu kepada Kak Vino kalau pelatih juga mungkin menjadi salah satu penyebab Amel mengakhiri hidupnya. Mungkin karena itu, Kak Vino juga menyelidikinya.


Pelatih berjalan masuk, dia tersenyum seperti orang yang tak berdosa. Aku menjadi takut, tidak ada orang diruang ini selain Aku dan pelatih.


Pelatih menyapaku seperti biasa, menanyakan kabar kepadaku. Saat dia sedang berbasa-basi, Aku menghubungi Kak Vino diam-diam. Entah, kenapa Kak Vino yang Aku hubungi saat itu. Padahal, Aku bisa menghubungi adikku agar dia cepat kembali.


Aku membiarkan teleponku menyala dalam keadaan terhubung dengan Kak Vino. Kak Vino mendengar percakapan Aku dan pelatih secara langsung.