
Aku sudah mencari disetiap sudut kamar, tapi tidak kutemukan jam tangan apapun.
"Kak Chia, ngapain?"
"Eh, Nana. Ini lagi..."
Aku menoleh menatap Nana, agak sedikit loading karena otakku sedang memproses sesuatu.
"Nana?"
"Iya?"
"Nana kok sudah pulang."
"Yah, karena sudah waktunya pulang."
"Emangnya, ini jam berapa jam 4 sore kak."
"Haaaaaaa? Ya Allah...."
Aku panik berlari ke kamar mandi. Aku mencari barang hingga lupa untuk solat asar. Setelah berwudhu aku pun bergegas ke kamar dan solat. Selepas solat aku buru-buru ke dapur.
"Kak Chia kenapa sih? Kayak orang dikejar-kejar gitu."
"Kakak tadi nyari barang sampai lupa waktu. Kakak belum masak untuk makan malam nanti."
"Nggak papa kok, Kak. Malam kita makan mie aja. Udah lama Aku nggak makan mie."
"Emang boleh?"
"Iya, boleh."
Aku pun menarik napas lega, Aku tidak mau orang berpikir Aku anak yang malas saat menumpang dirumah orang.
"Ngomong-ngomong, Kak Chia lagi nyari apa?"
"Lagi nyari jam tangan. Oh, iya. Nana ada lihat jam tangan punya Kak Archi nggak?"
"Jam tangan yang mana?"
"Itu dia, Kakak juga tidak tahu jam tangan yang mana?"
"Kenapa Kak Chia yang nyariin?"
"Tahu tuh Kak Archi, datang-datang nuduh Aku ambil jam tangan miliknya. Udah gitu HP Aku dibawa sama Dia. Kalau, Kakak nggak menemukan jam tangannya. Nggak dibalikkan tuh HP kakak."
"Kok bisa gitu sih Kak Archi."
"Kan tuh orang rada-rada deh. Kayak laporan cuaca yang suka berubah."
"Kak Chia, ada buat salah kali atau ngomong yang buat Kak Archi marah."
"Kakak nggak ngomong apa-apa kok. Kakak cuman bilang kalau Kakak nggak jadi dua minggu baliknya, tapi seminggu lagi. Gitu doang."
"Ha? Seminggu lagi Kak Chia balik? Kok jadi tambah cepat sih Kak."
"Iya, soalnya dosen Kakak yang nyuruh. Nggak bisa diwakilkan pas registrasi ulang, trus Kakak juga harus konsultasi sama dosen wali kakak untuk kontra mata kuliah selanjutnya."
"Yah, Nana benar-benar kesepian kan jadinya. Hari apa kakak berangkat tanggal berapa?
"Kakak belum boking tiketnya, soalnya HP kakak dipegang Kak Archi."
"Yah, Nana jadi sedih."
"Maaf."
"Ya udah deh Nana bantuin Kakak nyari jam itu yah."
"Makasih, Na."
Aku dan Nana pun melanjutkan mencari jam tanga milik Kak Archi. Disetiap sudut rumah Kami mencari tidak ada tempat yang Kami lewatkan. Bahkan, Aku kembali membongkar barang-barangku untuk memastikan benar bukan Aku yang mengambil jam tangan tersebut. Namun, semua nihil. Kami tidak menemukan jam tanga itu.
"Na, kami dapat nggak?"
"Enggak, Kak Chi."
"Yah.... Gimana dong. Kakak benar-benar nggak ambil jam tanga itu."
"Kalau gitu telpon aja Om Archinya. Siapa tahu dia sudah menemukan jam tangannya."
"Nah, itu dia. HP Kakak diambil sama dia."
"Nih, pake HP Nana saja." Memberikan HP
"Okey, makasih, Na."
Aku pun bergegas mencari kontak milik Kak Archi. Langsung ku pencet memanggil.
Tut Tut Tut (tersambung)
"Kenapa?" Suara Kak Archi disebrang sana.
"Kakak ini Ak....." Belum selesai berbicara telponku diputus
"Loh, kok mati."
"Mati, tapi HP Nana batreinya masih 50% kok."
"Bukan, tapi telponnya."
"Iyakah? Tapi, Nana masih ada paket combo telpon kok."
"Sepertinya, Kak Archi yang matikan."
"Nggak tahu ni, Om kamu. Menyebalkan sekali. Hufff. Mau cari dimana lagi. Kakak benar-benar nggak tahu model jamnya kayak gimana."
"Hmmmm, sepertinya mau cari beberapa kali pun nggak bakal ketemu deh Kak." Bisik Nana
"Kamu ngomong apa?"
"Nggak ngomong apa-apa kok, Kak."
"Oh, okey."
"Benar-benar nggak bakal ketemu, soalnya Kak Archi pasti sengaja simpan deh." Batin Nana
"Masa Kak Chia, nggak nyadar juga. Kalau Kak Archi tuh suka sama Kak Chia. Kayaknya Kak Archi nggak mau Kak Chia pergi deh." Batin Nana lagi.
"Na, Kakak masih mau cari lagi. Kalau kamu sudah capek nggak papa nanti kakak cari sendiri aja."
"Kakak, nggak usah cari lagi. Udah biarin aja."
"Tapi...."
"Udah, nggak usah. Kak Archi nggak bakal marah kok. Ya udah Nana mau keluar dulu yah... Byee..." Ucap Nana sembari berlari keluar rumah.
Aku mendengar ucapan Nana, karena memang Aku sudah sangat lelah mencari barang hilang itu.
Aku kembali kekamar, kurebahkan tubuhku diatas kasur. Dan tanpa sadar Aku tertidur lelap. Efek kecapean hingga membuatku benar-benar masuk kedalam mimpi, dan tertidur sangat pulas.
Aku tiba-tiba terbangun. Membuka mata dan masih dalam pengumpulan nyawa. Aku pun terbangun dengan kesadaran penuh. Dan kemudian bangun dari tempat tidurku. Aku berlari keluar kamar. Aku melihat Nana yang ada bercengkrama didepan TV.
"Na, ini jam berapa?"
"Jam 8 Kak."
"Ha........." Teriakku kaget
Perasaan Aku baru saja menutup mata untuk sejenak. Kenapa sudah jam segini. Berjam-jam Aku tertidur tetapi Aku tidak tahu kalau sudah terbuai dalam mimpi.
"Nana, kenapa nggak bangunin Kakak?"
"Soalnya, Kakak tidurnya pulas sekali. Pasti kakak kecapean jadi nggak Aku bangunin."
"Trus, Kak Archi dimana?"
Baru saja Aku bertanya keberadaan Kak Archi. Tiba-tiba saja dia muncul dari balik pintu. Dia baru saja kembali dari masjid.
Baru juga Aku melangkah mendekati Dia. Dia pun menghindar dariku. Dia tidak memberikan kesempatan kepadaku untuk berbicara dengannya.
"Na, Kakak mau tidur dirumah teman. Kamu jaga rumah yah. Jangan keluar malam-malam." Ucap Kak Archi kepada Nana
"Iya, kak." Jawab Nana
Kak Archi sengaja mengabaikanku, dan seperti tidak melihat keberadaanku. Dia pun bergegas pergi.
Sementara itu, Nana melihatku dengan perasaan iba dan kasihan. Namun, dia tidak berkata apa-apa sama sekali.
Aku kembali kekamar. Menarik napas yang panjang dan menenangkan pikiranku.
******
Setelah itu, empat hari sudah aku tidak melihat keberadaan Kak Archi. Aku bahkan tidak bisa menghubunginya. Setiap, Aku menelpon menggunakan HP Nana, dia langsung menonaktifkan HPnya.
"Duh, gimana nih. Arggggg, Aku stress...." Teriakku
"Kak Chia...." Panggil Nana
"Iya?"
"Kak hari ini Kakak masak untuk kakak saja yah. Soalnya, Aku pulang sekolah lanjut latihan. Trus, lanjut kerja kelompok. Jadi, kalau selesainya malam. Mungkin Aku nginap dirumah teman dulu. Besoknya baru pulang. Nggak papa kan, Kak?" Ucap Nana
"Nginap? Tapi, kalau tugasnya selesai cepat kamu nggak nginap kan?"
"Iya, Kak. Jadi, nanti Aku usahin biar tugasnya cepat selesai."
"Iya, jangan sampai nginap yah."
"Okey, kalau gitu Aku pergi dulu yah Kak. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumus salaam."
Jangan sampai Nana nginap dirumah temannya. Semoga saja tugasnya cepat selesai. Aku tidak ingin tidak sendirian dirumah orang. Aku takut sesuatu yang tidak diinginkan terjadi, dan Aku yang disalahkan.
Aku pun tinggal sendiri, menghabiskan waktu dengan menonton siaran TV. Walaupun, tidak ada yang menarik. Bahkan, mataku hanya menatap layar TV. Tetapi, pikiranku kemana-mana. Aku sangat membutuhkan HPku.
*****
Aku dirumah hingga pukul 8 malam. Nana tak kunjung pulang, artinya dia akan nginap dirumah temannya. Jadi, Aku akan tinggal dirumah sendirian.
Entah, kenapa rasanya sangat sepi. Jika, Aku memiliki HP mungkin Aku tidak akan merasa kesepian seperti ini.
Aku menatap langit-langit kamar. Mataku terasa panas, dan berkaca-kaca. Tiba-tiba saja Aku merindukan rumahku. Termasuk kamarku. Jam segini jika dikamarku sendiri Aku pasti sedang bergulat dengan buku-buku dan juga laptopku. Melakukan aktivitas coding yang aku geluti.
Saat, meratapi nasib. Terdengar suara pintu terbuka. Aku pikir itu adalah Nana, jadi Aku buru-buru keluar untuk memastikan.
Kenyataan bukan, itu adalah Kak Archi. Kami saling bertatapan seperkian detik. Dia pun langsung berjalan melewati Aku. Dan menuju ke dapur.
Aku pun menyusulnya, karena Aku ingin mengambil kembali HPku.
"Kak Archi, bisa pinjam HPku dulu nggak?"
Kak Archi tidak merespon diriku. Dia hanya fokus meneguk air yang digenggamnya.