
Aku masih menangis bahkan saat dirumah juga. Aku benar-benar merasa takut, layaknya seorang anak kecil.
Saat dalam keadaan menangis ponselku tiba-tiba berdering. Aku melihat nama yang ada disana ternyata Lion yang menghubungiku. Aku mengangkat ponsel yang bunyi itu.
"I..ya.." Ucapku dengan sesegukkan.
"Chia, kok suaramu kayak orang nangis gitu? Kamu kenapa?" Tanya Lion.
"A..ku.. tidak... apa."
"Oh, gitu. Chi kamu nggak ke hotel? Aku dihotel nih, rencananya mau makan malam bareng kamu dan Amel. Aku sudah menghubungi Amel tapi dia tidak menjawab telpon dariku, tidak membalas pesan dariku. Sangat bosan jika Aku sendiri." Oceh Lion.
"A..pa k...au su..dah ke ka..mar..nya?" Tanyaku.
"Hmmm, sudah tapi tidak ada jawaban saat Aku mengetuk pintu kamarnya berulang kali. Aku sampai dimarah oleh kamar disebelahnya." Cicit Lion.
"Li...on, dika..mar be..ra..pa Am..el tem..pati?"
"Oh, dikamar 113 lantai 3 kan. Kau bertanya kepada pelatih."
"Ap..a di..de..pan pin..tu ad..a no..mor kamarnya?"
"Hah? Iya adalah masa hotel mahal kayak gini nomor kamarnya pada copot. Ada-ada saja kamu."
Aku berpikir sejenak, saat Aku datang kemarin tidak ada nomor pada pintu, lalu kamarnya Aku yakin kamar-kamar dilantai itu kosong. Tunggu Aku tidak memperhatikan apakah ada CCTV di koridor.
"Lion, Aku akan kesa...na." Ucapku.
Aku bergegas mengambil jaketku. Aku keluar rumah tanpa berpamitan. Aku memanggil ojek yang masih ada dipangkalan ojek dekat rumahku.
Dalam perjalanan hujan tiba-tiba saja turun dengan derasnya, kang ojek pun menepi untuk mengenakan mantelnya.
"Mbak, ini mau lanjut perjalanannya atau tunggu sampe hujannya reda dulu?" Tanya Kan Ojek.
"Lanjut aja, hotelnya sudah dekat juga." Jawabku.
Setelah memakai mantel, kang ojek pun mulai menyelakan kembali mesin motornya. Aku masuk bersembunyi di dalam mantel. Kang ojek pun bergegas mengendarai motornya.
Kami pun tiba di hotel. Aku turun dan segera memberikan uang kepada kang ojek. Setelah itu, Aku bergegas masuk, pakaianku setengah basah.
"Loh, Chi. Kamu sudah disini toh? Pakaianmu basah tuh." Sapa Lion.
"Aku juga tahu kalau pakaianku basah, tiba-tiba saja hujan turun. Mana Aku nggak bawa pakaian ganti lagi." Ocehku.
"Pinjam punya Amel saja!" Tutur Lion.
Setelah menyebutkan nama Amel, Aku pun tersadar alasan ku datang ke hotel ini untuk memastikan sesuatu.
Aku pun bergegas masuk kedalam lift dan menuju lantai 3. Setelah keluar dari lift, Aku memperhatikan keadaan sekitar. Aku menengok kiri dan kanan.
"Kamu lagi nyari apa? Kamar Amel yang sana." Ucap Lion sembari menunjuk salah satu kamar.
"Lion, dilantai ini ada beberapa CCTV?"
Lion pun ikut menoleh mencari keberadaan CCTV.
"CCTV? Sepertinya ada 1,2,3,4. Hanya ada 4 CCTV. Kenapa?"
Aku menggeleng dan kemudian tersenyum, bukankah itu bisa menjadi bukti untuk membantu Amel. Bukti dan saksi mata sudah ada, dengan begini Amel dapat menegakkan keadilan.
Aku berjalan menuju kamar yang ditempati Amel. Aku mengetuk pintu, dan mencoba untuk membukanya. Namun, tidak ada respon yang kami dapati. Aku dan Lion memanggil nama Amel, selain itu juga terus mengetuk pintu kamar. Tapi, nihil tidak ada jawaban dari kamar tersebut.
"Apa Amel pergi?" Tanyaku.
"Sepertinya." Sahut Lion.
Aku pun mengambil ponselku dan kuhubungi salah satu kontak yang kukenali.
"Iya, halo." Ucap orang yang kuhubungi.
"Kak Vino, dimana?" Tanyaku.
Aku langsung memutuskan sambungan telponku, Amel tidak dirumah. Apakah dia pergi ketempat lain.
"Lion, kamu tunggu disini!" Ucapku bergegas lari.
"Chi, loh kamu mau kemana?" Teriak Lion.
Aku masuk kedalam lift. Menekan tombol untuk turun ke lantai 1. Aku langsung menuju ke resepsionis.
"Permisi, Mbak." Ucapku.
"Mbak, apakah orang dilantai 3 kamar nomor 113 ada nitip kunci?"
"113? Tidak dek. Ada apa?"
"Kamarnya terkunci, mbak. Kami sudah mencoba mengetuk dan memanggil tapi tidak ada respon dari dalam."
"Mungkin, temannya tidur dek. Atau lagi mandi."
"Tapi..."
"Chia?"
Aku menoleh kearah suara yang memanggilku.
"Kamu jadi nginap disini yah?" Ucap orang itu.
"Pelatih? Eh iya, Pak. Apa bapak lihat Amel?"
"Amel? Bukannya dia sedang dikamar ya."
"Aku sudah kesana, tapi tidak ada respon. Padahal Aku ingin mengganti pakaianku yang basah."
"Coba ditelpon saja!"
"Sudah, tapi tidak dijawab. Aku juga sudah menyuruh Lion berjaga didepan kamarnya. Dan terus memanggilnya."
"Benarkah?"
"Iya, Pak. Bisa minta tolong untuk berbicara kepada karyawan hotel untuk memberikan kunci cadangan?"
"Sabar yah bapak coba menanyakan dulu."
Setelah beberapa menit pelatih berbicara kepada pihak hotel. Mereka pun mengizinkan untuk menggunakan emergency key. Aku, pelatih dan pegawai hotel kembali ke lantai 3 menuju kamar yang ditempati Amel. Kami menghampiri Lion yang sedang menunggu didepan pintu dan sedang berbincang dengan seorang wanita paruh baya.
"Lion, gimana?" Tanyaku.
"Masih sama, Chi." Ucap Lion.
Pegawai hotel itu pun menggunakan kunci emergensi untuk membuka pintu. Setelah, membuka pintu Aku yang lebih dulu masuk. Karena ini kamar yang ditempati anak gadis jadi, Aku yang lebih dulu mengecek.
Aku melihat kearah tempat tidur, tidak kutemukan sosok yang kucari. Aku mengelilingi kamar tetapi tidak ada orang yang kucari. Setelahnya, Aku mengecek dikamar mandi.
"Aaaaaaasaaaaaaa...." Teriakku.
Suara jeritanku mengundang orang-orang yang sedang menunggu diluar kamar.
"Chi, kamu kenapa?" Ucap Lion yang menghampiriku.
Aku terduduk dilantai, tubuhku gemetar. Mataku melihat kearah toilet. Tidak hanya Aku wanita paruh baya yang bersama Lion pun ikut menjerit saat ikut masuk.
Amel duduk diatas closet, banyak darah disekitarnya. Dari lengan kirinya darah kental menetes, sementara tangannya menggenggam cutter. Tidak hanya itu, lengannya penuh dengan guratan, lehernya tidak luput dari guratan.
Aku menutup mulutku, melihat banyak darah yang menetes membuatku mual. Mataku memanas dan kemudian meneteskan air. Aku memegang dadaku yang tiba-tiba saja sesak dan meneriakkan nama Amel. Aku menjerit dan menangis histeris, saat ini Aku adalah seorang anak kecil yang benar-benar ketakutan dan syok. Mentalku benar-benar terguncang melihat sosok yang kukenal dekat, bersimbah darah.
"Aaa..a......" Suara tangisku pecah.
Lion mendekapku dia pun ikut menangis bersama denganku. Pelatih menghampiri kami dan mencoba untuk menenangkan kami berdua terutama Aku.
Aku menangis menatap Amel, matanya terbuka namun masih tersisa bekas air mata yang menetes di pipinya. Dia hanya mengenakan tank top dan juga celana pendek. Kulit putihnya menjadi merah karena darah yang membalutnya. Dadaku terasa sesak, pandanganku mulai kabur. Dan tanpa kusadari Aku telah kehilangan kesadaran.