
Aku beristirahat dipondok sambil menikmati pemandangan bawah laut yang menakjubkan, tidak lupa juga dengan cemilan yang siap sedia disampingku.
Terkadang aku melemparkan beberapa makanan ke laut, ada segerombolan ikan yang langsung berebutan makanan yang kubuang tadi.
Setelah lama bercengkrama dengan ikan-ikan, akupun berdiri. Ketepuk pantatku untuk membersihkan kotoran yang menempel akibat duduk tadi.
Aku duduk dikursi yang ada di pondok, sembari menyedot susu ultra yang kubeli tadi.
Kak Archi datang menghampiriku. Duduk tepat dihadapanku. Aku hanya melihatnya, kemudian kembali fokus pada snack-snackku.
Aku hanya sendiri di pondok, Nana sedang keluar untuk mengambil beberapa gambar dirinya.
Aku dan Kak Archi tidak bersuara sama sekali. Aku pun malas melihat Kak Archi. Sekilas melirik saja sudah bisa ditebak dia akan mencari masalah lagi denganku. Jadi, sebaiknya Aku tidak menoleh kearahnya.
"Apa yang kalian ceritakan?" Tanya Kak Archi
"Cerita apa? Kalian siapa?" Jawabku tanpa menoleh.
"Siapa lagi? Tentu saja kamu dan Kevin. Kenapa kamu tertawa saat mengobrol dengannya."
"Oh, itu. Kami cerita tentang sesuatu yang kami suka."
"Katakan apa yang kalian suka."
"Kenapa Aku harus memberitahu Kakak?"
"Cih." Ucap Kak Archi dengan kesal.
Kak Archi berjalan ke arahku. Menundukkan wajahnya hingga berhadapan dengan wajahku.
"Katakan apa yang kalian bicarakan?"
"Iya, Aku bilang. Tapi, jauh-jauh dikit dong wajahnya. Terlalu dekat tahu wajah kakak."
Kak Archi menggenggam daguku. Mengangkat wajahku hingga jarak wajahnya dan wajahku hanya beberapa senti.
"Kau suka yang ngobrol sama orang lain gitu. Ketawa ketiwi sesuka hati. Tapi, kenapa sama Aku, kamu sangat datar dan judes?"
Aku menangkis tangan Kak Archi, dan mendorongnya menjauh dariku. Setelah itu, Aku cepat-cepat menghindar.
"Kalau gitu Kakak cerita sesuatu yang lucu biar Aku ketawa. Masa nggak ada yang lucu Aku ketawa gitu aja. Kan nanti dipikir Aku gila lagi."
"Kau gitu cerita apa yang lucu, agar kamu bisa tersenyum saat mendengarnya."
"Itu...." Belum selesai mengatakan sesuatu tiba-tiba ada seorang gadis yang masuk ke pondok kami.
"Archi." Ucap gadis itu.
"Iya." Jawab Kak Archi.
"Tadi Aku lihat Faris dan lainnya juga ada keponakan kamu. Kata Adit kamu ada disini jadi Aku samperin deh kesini." Ucapku gadis itu.
Kak Archi dan gadis itu pun mulai mengobrol. Bahkan, sampai asik sekali Aku seperti obat nyamuk diantara mereka.
Aku pun keluar dari pondok itu, dan bergabung dengan Nana, dan lainnya.
"Kak Archi, mana Kak?" Tanya Nana
"Itu lagi bicara sama orang."
"Siapa?" Tanya Nana
"Nggak tahu, cewek katanya sempat ketemu kamu juga."
"Itu, Dea. Mantannya Archi." Ucap Adit
"Oh, itu mantannya Kak Archi. Kok akrab?"
"Kenapa? Kakak cemburu yah?"
"Cemburu? Enggak, kan Aku nanya."
"Iya, sebenarnya Archi dan Dea sudah mau nikah. Cuman nggak direstui." Sambung Faris.
"Kenapa nggak direstui? Kak Dea sepertinya baik." Tuturku.
"Nenek yang nggak mau Kak Archi sama Kak Dea." Ucap Nana
"Kenapa?"
"Entah, Nenek nggak suka sama Kak Dea kata mama. Tapi, kalau Kak Chia pasti nenek setuju." Ucap Nana menggodaku.
Padahal banyak spot foto yang bagus. Namun, Faris dan para pria lainnya terus meminta berfoto denganku. Aku seperti seorang aktris yang dimintai banyak foto.
Aku pun berfoto satu-persatu dengan Faris, Zaid, dan Adit, mereka terus memaksa ku untuk foto bersama dengan mereka. Tidak hanya itu beberapa pria dan wanita yang dan tidak kukenal juga ingin berfoto denganku.
"Can I take a picture with you?" Ucap seorang Pria tidak dikenal kepadaku.
"Sorry, I can't do that." Jawabku
"Oh, okey. Maaf mengganggu." Ucapnya
"No, problem." Jawabku
Aku menolak tawaran foto tersebut. Bukan karena Aku sombong tetapi Aku tidak bisa foto dengan orang yang tidak Aku kenal.
Aku berjalan kearah Kevin yang hanya berdiri dipojok jembatan.
"Kakak sangat terkenal." Ucap Kevin
"Tidak juga. Kenapa tidak mengabadikan momenmu disini." Tanyaku.
"Aku malas bergaya. Sangat menguras tenaga."
Ada beberapa wanita yang mengarah ke kami dan mengajak foto bersama Kevin.
"Are you a model?" Tanya wanita itu.
"Dia ngomong apa Kak?" Tanya Kevin kepadaku.
"Kamu nggak bisa bahasa Inggris?"
"Enggak."
Aku menatap wajah Kevin yang kebingungan, Aku pun tertawa kecil.
"Dia bertanya apa kamu model."
"Tolong bilangin kalau Aku bukan model."
"Sorry, he can't speak English. He said that he was a model."
"Really? He is very handsome and looks like a model. Can I take a picture with him?"
"Vin, dia bilang kamu sangat tampan. Mau nggak foto sama dia."
"Oh, gimana yah Kak, kek deh bisa kak."
"He said ok."
Wanita itu memintaku untuk mengambil gambar dirinya dengan Kevin. Biasanya orang-orang yang akan meminta foto kepada turis. Namun, baru kali ini Aku melihat turis meminta foto kepada penduduk biasa.
Tetapi, mau dilihat dari sisi manapun Kevin memang benar-benar menawan. Dia sangat manis saat tersenyum.
Setelah mengambil beberapa foto, akhirnya wanita itu pamit pergi dan mengucapkan terimakasih.
"Aku juga bisa foto denganmu nggak?" Ucapku
Kevin menatapku, dia terlihat sangat terkejut dan tidak percaya akan ucapanku. Pasalnya, Faris, Zaid dan Adit yang berulang kali memaksaku untuk foto bersama dengan mereka beberapa kali namun aku menolak. Walaupun, berhasil mendapatkan fotoku bersama dengan mereka setelah memaksaku begitu lama. Sementara, Aku sendiri yang meminta foto dengan Kevin.
Kami pun foto berdua, foto selfie dan juga foto full badan. Aku sangat menyukai wajah Kevin. Namun, bukan suka untuk menjadi pasangan. Tetapi, suka yang mana seperti hamster kecil yang imut dan lucu. Aku sangat suka sesuatu yang lucu dan menggemaskan. Dalam bentuk apapun termasuk manusia.
Setelah, mengambil banyak foto. Kami lanjutkan dengan bercerita tentang anime kesukaan kami. Hingga kami larut dalam tawa dan senyuman.
"Excuse me, apakah kalian model?" Ucap salah satu pria yang mengampi kami berdua.
"Bukan." Jawab kami kompak.
"Wah, sayang sekali. Kalian memiliki visual yang tampan dan cantik. Bahkan, orang-orang disekitar memandang kalian berdua."
"Benarkah?" Ucap Kevin
"Iya, aku seorang selebgram fotografer. Kebetulan, Aku melihat kalian berdua. Bisakah, Aku foto kalian berdua?"
Aku dan Kevin saling memandang, mengisyaratkan satu sama lain. Kami pun setuju untuk difoto.
"Oke, satu dua tiga senyum. Terus, ganti gaya!"
Kami pun mengikuti arahan dari fotografer tersebut. The last pemotretan, pria itu menyuruh Kevin merangkul. Awalnya, dia menolak. Namun, tiba-tiba saja dia kembali menyetujui permintaan fotografer tersebut.
Kevin tanpa memberi aba-aba menggendongku ala bridal style. Aku melingkarkan tanganku dileher Kevin. Dan mata kami saling bertemu. Fotografer itu terus memuji kami berdua. Tidak hanya itu, kami berdua jadi tontonan pengunjung. Setelah, pemotretan itu. Sang fotografer meminta izin untuk menga-upload gambar yang dia baru ambil. Dan kemudian baru dia pergi.