
Sebulan sudah dari pengakuan yang dilakukan oleh Chia. Begitupun respon yang diberikan oleh Kay kepada Chia. Kay terus menjaga jarak dan terus menghindar dari Chia. Chia yang melihat tingkah Kay sangat kesal, namun rasa sukanya semakin meningkat. Jangan tanya mengapa? Karena Chia sendiri bingung akan perasaannya.
Chia dan Naina sedang duduk didepan lab komputer. Kay yang tiba-tiba saja muncul membuatnya sendiri terkejut dan memutar arah. Sedangkan, Chia hanya melapangkan dadanya diperlukan asing oleh Kay.
"Huffft..." Hela napas Chia.
"Sebulan ini Aku lihat, sepertinya Kay menghindar darimu deh." Ujar Naina.
Chia yang mendongak dagunya, menoleh ke arah Naina.
"Hfttttt....." Chia menarik napas lagi.
"Wah, wah, wah... Jangan katakan apa yang Aku pikirkan." Ucap Naina.
"Apa yang kamu pikirkan?" Tanya Chia.
"Sesuatu terjadi diantara kalian." Jawab Naina.
"Hanya itu yang bisa Kau katakan?" Keluh Chia.
"Yah, Aku hanya menebak terjadi sesuatu diantara kalian, tetapi sesuatu itu tidak bisa ku pastikan." Ujar Naina.
"Jangan bilang ini about 'cintyaaaa' yah." Lanjut Naina.
"Hfftttttt....." Hela napas Chia.
Hembusan napas berat Chia seolah mengiyakan apa yang dipikirkan oleh Naina, seketika Naina dengan mulut yang terbuka dan mata yang melotot pun heboh.
"Oh My God. Yang benar saja, ceritanya seperti bagaimana?" Jerit Naina.
"Astaghfirullah, nggak usah histeris gitu napa?" Sahut Chia.
"Ih, yang benar Chi. Ceritanya seperti apa?" Tanya Naina.
"Yah, seperti itu, Aku mengutarakan perasaanku kepadanya. Dia menolak dengan cepat. Tapi, seharusnya Aku yang menghindar kenapa jadi dia." Oceh Chia.
"Wow, speechless. Kamu nembak dia, Chi? Kamu? Nembak dia? Ya ampun, yang benar saja." Sahut Naina.
"Yah, mau bagaimana." Ucap Chia.
"Aku emang udah curiga dari tingkahmu, tapi jika kamu yang mengutarakan perasaan, Aku benar-benar nggak habis thinking loh." Cicit Naina.
"Hfffftttt....."
"Nah loh, kemarin ada yang bilang siapa yang suka sama dia. Etdah padahal suka juga. Gini nih suka tapi gengsi." Cerca Naina.
"Udah, ah. Kepalaku puyeng. Lagian, Aku sudah bertingkah biasa, dia aja yang sok banget deh, ih menyebalkan." Oceh Chia.
"Kok bisa kamu suka sama Kay?" Tanya Naina.
"Sushttt, suaramu Na. Kecil dikit, ntar didengar orang tahu." Sahut Chia.
"Sorrryeee... Jadi, kenapa kamu bisa suka sama dia?" Ucap Naina berbisik.
"Nggak gitu juga kelas (menyundul kepala Naina), kamu tanya Aku trus Aku nanya siapa? Aku juga nggak tahu kenapa Aku bisa suka sama dia." Sahut Chia.
"Wah, cinta yang sangat tulus." Ucap Naina.
" Benarkah?" Tanya Chia.
"Iya, sebab Kau tidak tahu kenapa bisa suka sama dia. Btw, wajahnya biasa aja, dia juga nggak lebih cerdas darimu, yah walaupun dia anak orang kaya. Wait, jangan bilang kamu suka karena dia kaya." Ucap Naina, menatap Chia mencari jawaban.
"Enggaklah, kalau Aku suka orang yang kaya sudah ku pacari Kak Adit teman kakak sepupuku." Sahut Chia.
"Benarkah? Apakah dia tampan?" Tanya Naina.
"Sangat tampan." Jawab Chia.
"Jangan bohong, coba lihat!" Pinta Naina.
Chia mengambil ponselnya dan men-scroll galeri, Dia mencari foto-foto saat di kota M.
"Wah, apakah mereka idol K-Pop? Gila cakep banget.... Ini siapa aja?" Sahut Naina histeris.
"Yang ini Zaid(tunjuk gambar di hp), dia hafiz loh trus juga imam di desa, kalau yang disampingnya ini Faris, dia sepupu Aku. Jangan tertipu dengan tampangnya, dia ini seperti wanita yang suka bergosip, yang ini Kevin dia imutkan? Ini yang namanya Kak Adit, dia sangat bergelimang harta trus yang ini Kak Archi sepupu Aku." Jelas Chia.
"Wah, mereka sangat perfect, Aku bahkan tidak bisa disandingkan dengan mereka." Celetuk Naina.
"Ih, jangan pesimis gitu, gimana mau Aku jodohkan?" Tapi jangan lihat saja dari tampang mereka. Contohnya nih Kak Adit itu play boy, Faris tukang gosip, Kak Archi posesif dan suka marah-marah nggak jelas, yah menurutku yang paling normal cuman Kevin dan Zaid. Tapi, Kevin seumuran adikmu." Oceh Chia panjang lebar.
"Nggak deh, Aku masih betah ngejomblo dan nge-fansgirl oppa-oppa Korea, hehehe...." Sahut Naina.
Hari ini kuliah dicancel karena dosen pengampu mata kuliah tidak dapat hadir, karena itu dosen bersangkutan hanya memberikan tugas kelompok.
"Chi, kamu sudah nyata nama-nama anggota kelompok?" Tanya Sandi.
"Iya, nih." Sahut Chia sembari menyodorkan secarik kertas berisi nama-nama anggota kelompok.
"Okey, nanti Aku buat group diskusinya yah." Ujar Sandi.
"Eh, iya kamu ada aplikasi untuk uji cobanya nggak? Aku belum punya soalnya." Tutur Chia.
"Ada, flashnya ada di Kay. Nanti kamu minta di dia."
"Kamu aja yang mintakan." Pinta Chia.
"Kenapa? Itu dia, Kay sut sut Kay..." Teriak Sandi.
Chia pun terkejut, namun dia memberikan ekspresi datar seolah-olah tidak ada yang terjadi.
Kay menghampiri Sandi dan Chia, namun Kay hanya menatap ke arah Sandi dan mengabaikan Chia.
Sandi menjelaskan kepada Kay, terkait permintaan Chia. Namun, Kay menjawab bahwa flashnya ketinggalan dirumah jika mau maka tunggulah besok.
Chia sangat kesal karena Kay seolah tidak melihatnya sama sekali dan hanya berbicara kepada Sandi.
"Nggak jadi deh, San. Ntar Aku download sendiri. Terimakasih." Ujar Chia sembari melangkah pergi.
Chia sangat kesal, dan rasanya ingin menonjok wajah Kay yang terus mengabaikan dia. Namun, sangat disayangkan karena Chia tidak mungkin melakukan itu, walaupun dia sangat kesal kepada Kay, namun perasaannya melarangnya untuk membenci Kay. Sandi hanya melihat kepergian Chia dengan tatapan kebingungan.
Malamnya Chia sedang diskusi digroup chatnya. Sandi memberitahukan bahwa, Chia tidak perlu mendownload aplikasi karena Kay akan memberikan. Chia bersikukuh menolak, namun Sandi sudah terlanjur memaksa Kay. Kay tiba-tiba saja mengirimkan pesan chat kepada Chia.
"Besok Aku kasih flashnya." Pesan dari Kay.
"Tidak perlu, terimakasih." Balas Chia.
"Sandi sudah memintaku, jadi Aku harus menyerahkan kepadamu." Balas Kay.
"Memangnya kamu berani bertemu denganku?" Balas Chia.
"Kenapa tidak berani?" Balas Kay.
"Yah, karena kamu sering menghindar kalau bertemu denganku." Balas Chia.
"Enggak, perasaan mu saja." Balas Kay.
"Oh, ya udah. Maybe perasaanku saja seperti ucapmu. Sampai berjumpa di kampus. Bye. Tidak perlu balas." Balas Chia ketus.
Walaupun, terlihat ketus saat membalas chat dari Kay. Tetapi, sebenarnya Chia sedang tersenyum lebar karena Kay duluan menyapanya. Dia seperti orang kesetanan yang menghentak-hentakan kakinya di kasur.
Inilah yang namanya cinta itu buta, padahal Kay hanya mengirim pesan saja sudah membuatnya melupakan kejadian saat Kay mengabaikan dia.
Esoknya, Kay benar-benar menghampiri Chia. Diluar Chia terlihat biasa saja, namun dihatinya diterus berteriak senang. Bahkan, saat Naina menoleh ke arahnya. Mereka pun saling berbicara dengan isyarat, Naina sangat tahu bahwa Chia sedang dalam fase puber. Dia hanya bisa menepuk jidatnya, melihat tingkah temannya.
"Ini mau sekalian Aku install?" Tanya Kay.
"Kalau kamu mau yah silakan." Ujar Chia.
Chia memalingkan wajahnya, karena saking girangnya. Wajah memerah dan dia mencoba untuk menahan senyumnya.
"Tapi, ini tidak akan selesai hari ini. Jika bisa Aku membawa laptopmu saja bagaimana?" Tanya Kay.
"Iya, boleh." Dengan spontan Chia menjawab.
"Upssss...." Ucap Chia menutup mulutnya.
Lagi-lagi dia bertingkah aneh yang dapat membuat Kay menghindar lagi. Chia mengatur ekspresinya dengan cepat.
"Kalau tidak berat saat kau bawa, silahkan." Ujar Chia.
"Nggak papa, Aku bisa. Ya udah Aku balik duluan yah." Ucap Kay.
Kay pun pergi, Chia terus menatap ke arah Kay hingga punggung lelaki itu tidak tampak lagi. Chia menutup mulutnya karena dia hampir menampakkan senyum kebahagiaan yang dapat membuat orang-orang melihatnya. Walaupun, dia tahu Kay tidak menyukainya sama sekali. Namun, dia akan bertekad untuk mengejar Kay.
****************