I Think I Love U

I Think I Love U
Episode 13



Hubunganku dan Ian juga sangat baik. Aku mulai memberikan perhatian kecil terhadapnya. Aku mulai terbuka kepada Ian. Aku menceritakan kepadanya tentang diriku, menjelaskan sikapku apa yang aku suka dan tidak kusuka. Begitupun dengannya, Aku bertanya apa yang ia suka dan tidak suka.


Walaupun, Aku masih kekeh tidak ingin bergandengan tangan, video call ataupun telponan. Hal ini, sangat merepotkan bagiku. Namun, Ian tidak merasa terganggu sedikitpun dengan jarak yang Aku beri.


Apa yang Ian lakukan apabila berkaitan dengan diriku maka dia akan meminta izin padaku terlebih dulu. Seperti memasang wallpaper foto kami berdua di HPnya, mengganti profil sosmed miliknya. Aku mengizinkan, kecuali memanggilku 'sayang' menurutku itu sangat tidak cocok untukku dan alay.


Beberapa hari yang lalu, Ian mengajakku berkencan. Sebenarnya, dia selalu mengajakku jalan. Namun, Aku selalu menolak dengan alasan ingin fokus belajar. Akan tetapi, hari ini Aku mengiyakan ajakannya.


Aku sudah meminta izin kepada orang tuaku, tidak hanya kedua orang tuaku. Aku juga meminta izin kepada kakak-kakak dan adik-adikku, bahkan seisi rumah pun Aku beri tahu. Hal ini karena, momen pertamaku hanya keluar berdua dengan pria. Aku yang sangat waspada pastinya harus memberikan jejak jikalau terjadi sesuatu kepadaku.


Tindakanku ini membuat keluargaku tertawa hingga terbahak-bahak. Dan juga merasa gemas akan sikapku. Pasalnya, Aku yang tidak pernah dekat dengan pria akhirnya memiliki pengalaman pertama bagaimana jalan hanya berdua dengan seorang pria.


Ian pun mengerti akan sikapku itu. Saat dia menjemput ku, dia pun meminta izin kepada keluargaku lagi. Agar Aku tidak khawatir jalan dengan dia dan merasa aman jika bersama dengannya. Karena sudah dipercayakan untuk menjagaku saat kami jalan berdua.


Setelah pamit, Aku dan Ian pun bergegas pergi. Ian mengendarai mobilnya meninggalkan kediamanku.


Sebelumnya saat menentukan untuk kencan hari ini, Aku dan Ian sudah membahas akan pergi ketempat apa saja, makan apa saja dan hal lainnya. Yah, hal ini karena Aku tipe orang yang nggak suka bertele-tele. Harus jelas tujuannya kemana saja, mau ngapain aja. Itu harus sudah direncanakan sebelum jalan.


Mungkin Aku agak berbeda dengan para cewek pada umumnya yang apabila ditanya mau kemana, makan apa jawabannya hanya 'terserah'.


Hari ini, Aku dan Ian akan pergi ke mall untuk nonton, makan dan berbelanja. Karena mall di kota kami sudah menyediakan tempat-tempat yang bisa dipake untuk berkencan. Jadi, tidak perlu repot-repot untuk mengelilingi kota.


Tujuan pertama adalah nonton. Kami pun berjalan ke lantai 3 menuju bioskop. Setelah membeli tiket dan popcorn kami pun menunggu sedikit hingga dipersilahkan untuk masuk ke ruangan yang sesuai dengan tiket kami.


Film yang kami pilih adalah film horor. Bukan kami sih sebenarnya Ian yang ingin menonton film tersebut. Setelah, mendapatkan seat kursi kami. Kami pun duduk dan bersiap nonton karena film sudah diputar.


Sepanjang film diputar, Aku tidak menonton sama sekali. Bukan karena takut, tapi karena Aku ketiduran. Sudah ku katakan bahwa Aku berbeda dengan manusia pada umumnya. Aku bisa tidur nyenyak walaupun dalam keributan.


Aku tidak sengaja terbangun saat dipertengahan film. Karena kursi tempatku duduk ditendang dari belakang. Mungkin orang yang tendang tidak sengaja karena kaget dan kakinya menendang kursi ku.


Saat terbangun, tubuhku sudah ditutupi jaket sudah dipastikan bahwa itu milik Ian. Kepalaku juga bersandar di bahunya.


"Maaf aku ketiduran."tutur ku yang cepat-cepat mengangkat kepalaku dari pundak Ian


"Iya, nggak papa. Kalau masih ngantuk kamu tidur lagi aja. Nanti kalau filmnya sudah selesai, Aku bangunin kamu."ujar Ian


Aku menatap Ian dengan wajah mengantuk. Dia pun mengelus kepalaku dengan lembut. Dan menyuruhku bersandar dipundaknya agar bisa tidur kembali. Aku pun hanya mengikuti arahannya. Dan kembali menikmati tidurku.


Setelah dua jam berlalu, Ian pun membangunkan Aku karena film telah usai. Karena melihat ku yang masih setengah sadar karena belum sepenuhnya bangun. Ian pun mengajakku ke fun station aren bermain.


Awalnya, Aku hanya mengikuti langkah Ian. Lama kelamaan kantukku hilang dan Aku pun ikut menikmati permainan yang ada.


"Iya, boleh ini card-nya."jawab Ian


Aku pun mencoba untuk mengambil boneka yang ada di dalam, namun tidak bisa kudapatkan. Aku pun yang kesal memukul kaca tempat boneka itu berada. Kemudian, menoleh kearah Ian dengan wajah memelas dan terlihat sangat membutuhkan bantuan. Ian pun hanya tertawa karena melihat tingkahku.


Ian pun dengan persiapan menarik salah satu boneka yang ada didalam mesin. Aku pun ikut gugup namun masih terus ngerocos memerintah Ian untuk mengambil boneka yang Aku sukai. Tidak sampe beberapa menit, Ian pun mendapatkan boneka yang Aku inginkan. Saking girangnya, Aku pun meloncat-loncat seperti anak kecil. Ian pun memberikan boneka itu kepadaku. Aku langsung memeluk boneka itu dengan senyuman yang sangat puas. Namun, senyumku tiba-tiba menghilang karena melihat tingkahku yang kebablasan menjadi gadis yang manja dan tidak berdaya. Aku pun melirik Ian, wajahku memerah kuping telingaku panas. Aku sangat malu.


"Kamu kenapa."tanya Ian


"Tidak apa-apa."jawabku sembari menutup wajahku dengan boneka


"Sekarang kita makan dulu yuk."ajak Ian


Aku hanya mengangguk dan berjalan duluan dari Ian. Sebisa mungkin Aku menjaga jarak dari Ian. Aku tidak tahu mengapa hatiku sepeti ada yang mengganjal.


Kami pun memilih KFC untuk mengisi perut kami yang sudah keroncongan. Ian yang mengantri untuk membeli makanan. Aku sudah menawarkan diri untuk membantunya namun dia menolak dan menyuruhku untuk menunggu ditempat kami.


"Maaf lama yah."


"Nggak papa."


Kami pun menyantap makanan kami. Saat menikmati makanan masing-masing Ian terus memberikanku ayam miliknya padaku.


"Kenapa?"tanyaku


"Apanya?"Ian balik bertanya


"Kenapa ayam mu kau kasih terus untuk ku?"


"Aku senang melihatmu yang makan sangat lahap."


Lagi-lagi jantungku berdegup sangat kencang. Mungkin karena terlalu banyak mengonsumsi ayam yang banyak minyaknya. Aku pun menunduk dan hanya berfokus pada makananku.


Entah mengapa setelah kami keluar dari KFC dan menuju pusat perbelanjaan. Aku benar-benar menjaga jarak dari Ian, aku berjalan duluan dan meninggalkan dia. Ian hanya mengikuti seperti anak ayam yang mengekori induknya. Aku masih mendiami Ian, Aku juga kenapa perubahan sikap ku bisa secepat ini.


Ian tidak mengatakan apa-apa dia hanya terus mengikuti ku. Aku tiba-tiba merasa risih dan kemudian mengambil kesempatan untuk bersembunyi ketika Ian mengobrol dengan orang yang dia temui di pusat perbelanjaan itu.


Mungkin, saat Ian melihat ku hilang dari pandangan matanya dia akan sangat panik. Dan berkeliling mencari ku. Ditempat yang sangat luas itu. Hp ku juga terus berdering dan sudah pasti itu dari Ian.