I Think I Love U

I Think I Love U
Episode 26



Kami tiba dirumah Kakek, rumah Kakek tidak terlalu jauh dari rumah Om Lan yang saat ini Aku tempati. Aku, Faris, Nana, dan BomBom memilih untuk berjalan kaki ke rumah Kakek. Karena tidak mungkin kami menggunakan motor yang sudah reog dan memuat kami berempat, yang ada motornya hancur lebur dipertengahan jalan.


Setibanya Kami disana Kami disambut beberapa orang yang sedang duduk-duduk didepan rumah Kakek. Rumah Kakek memang adalah rumah yang paling rame didesa ini. Pasalnya, warga sering berkumpul dan bergosip ria didepan halaman rumah Kakek. Disinilah Faris si Akang Gosip menemukan banyak informasi aktual alias tempat Dia bergosip dengan Emak-emak desa.


"Assalamu'alaikum." Ucap Kami kompak


"Wa'alaikumus salaam." Jawab orang-orang yang mendengar salam Kami.


Semua orang menoleh kearah Kami. Tentu saja semua mata tertuju kepadaku. Mereka baru melihat Aku.


"Siapa ini." Tanya salah satu pria paruh baya kepada Faris sembari menunjuk kearahku.


"Ini Chia, anaknya Tante Aisyah." Jawab Faris


"Aisyah? Kamu anaknya Aisyah?" Tanya wanita paruh bayar


"Iya, saya anaknya." Jawabku sembari melemparkan senyuman


"Ya Allah, iya Tante sudah dengan mamamu telpon beberapa hari yang lalu. Katanya anaknya ada kekota ini. Tapi, Tante belum ketemu sama kamu." Ujar Tante


"Iya, Tante. Aku beberapa hari tinggal dikota. Dan Aku nginap dirumah keluarga Ibu satu persatu." Sahutku


Semua orang yang ada disitu pun mendekatiku, ada yang memelukku, mencubit pipiku, mengunyel-unyel pipiku itu loh menower-nower pipiku padahal pipiku nggak cubby-cubby amat seperti BomBom. Aku seperti boneka yang diperebutkan, ditarik kesana-kemari. Aku hanya pasrah dan terus melebarkan senyuman.


Setelah mereka puas melihat Aku dan telah puas mencubit pipiku. Akhirnya mereka melepaskan Aku juga. Bombom dan Nana hanya menertawakanku yang melihat Aku sangat berantakan. Aku pun membalikkan badan, kulihat ada seorang pria lansia yang duduk dan hanya tersenyum sejak tadi melihat Aku seperti dikeroyok warga. Aku berjalan ke arah pria lansia itu. Aku tahu bahwa dialah Kakek yang Faris maksud adalah Kakekku. Aku menyalaminya, beliau pun mengelus kepalaku. Kami pun berbincang-bincang sejenak. Beliau bertanya-tanya tentang Ibu dan Ayahku serta saudara-saudaraku yang lain.


Cuman Aku dan Kak Naya yang belum pernah berjumpa dengan kerabat Ibu karena itulah mereka sangat terheran-heran melihat Aku. Mereka sudah pernah bertemu Kak Ita, Yeyen, dan Adit. Sementara, Aku dan Kak Naya belum pernah sama sekali bertemu mereka. Kak Ita waktu kecil pernah tinggal dikota M, sementara Yeyen dan Adit juga pernah tinggal dikota M untuk beberapa waktu. Kemudian, lebaran kemarin Yeyen dan Ibu merayakannya dikota M ini. Nah, karena itu Aku dan Kak Naya yang belum pernah kekota M. Aku tidak suka melakukan perjalanan jauh, selain itu Aku lebih suka dirumah sendiri daripada harus berpergian. Kalau Kak Naya sendiri karena Kak Naya sedang melanjutkan studinya di kota G, baru dua tahun terakhir ini dia kembali karena sudah menyelesaikan kuliahnya. Jika tidak ada insiden patah hati mungkin Aku juga tidak akan bisa bercakap-cakap dengan keluarga yang sangat baik seperti mereka.


"Muka Chia yang beda sendiri yah." Ucap salah satu wanita paruh baya


"Beda bagaimana Tante." Tanyaku


"Iya, beda. Chia cantik sekali nggak mirip mukanya sama saudara yang lain."


"Oh, iya? Sama kok Tan. Apalagi dengan Kak Naya malah dikira kembar." Jawabku


"Naya yang mana? Sudah pernah kesini?"


"Belum pernah Tante." Jawabku lagi


"Chia sekolah kelas berapa?" Tanya Kakek


"Chia sudah lulus sekolah, sekarang Chia kuliah, Kek." Jawabku lagi


"Kuliah jurusan apa?"


"Jurusan Teknik Informatika."


"Wah, hebat dong itu. Kalau begitu bisa perbaiki TV nggak, dari kemarin nggak ada signalnya." Ucapa salah satu pria yang bisa dibilang seumuran Kakek.


"Oh, iya blender Tante juga rusak. Bisa kamu perbaiki? Tunggu yah, Tante bawa ke sini." Ucapnya sembari bergegas kerumahnya.


"Kalau perbaiki kartu kami bisa? Katanya sekarang harus pake kartu 4G yah?"


Rasanya seperti sedang di wawancarai, tepatnya seperti diinterview lamar kerja. Bahkan, dikiranya Aku adalah tukang service_-.


Aku menoleh kearah Nana, dengan isyarat wajah meminta pertolongan. Untung saja Nana, paham akan mimik wajahku.


"Kakek, kata Chia. Kak Chia mau main kekebun Kakek. Boleh nggak?" Ucap Nana yang berhasil memahami 'sos' dariku.


"Oh, boleh. Tapi, Kakek tidak bisa antar yah. Kalian pergi saja. Nanti Faris temani mereka yah." Ucap Kakek yang mengiyakan permintaan Nana.


"Okey, serahkan kepada Faris." Sahut Faris.


"Faris, jaga adik-adikmu. Jangan sampe malam yah mainya. Kalau sudah Asar langsung pulang." Pesan Kakek


"Baik, Kek." Ucap Faris


"Oh, iya bawa juga Zaid. Zaid..." Teriak Kakek ada salah satu pemuda.


"Iya, Kek?" Tanya Pemuda itu yang disebut Zaid


"Kami sama Faris temani anak-anak ini ke kebun. Kalau mereka mau petik buah, kamu tolong petikkan sekalian panen buah yang sudah masak trus bawa kesini yah." Titah Kakek


"Oke." Jawab Zaid


Akhirnya kami pun berpamitan, Zaid memimpin jalan untuk membawa kami ke kebun Kakek.


POV: Halaman Rumah Kakek


"Loh, anaknya Aisyah tadi kemana?"


"Sudah pergi ke kebun tuh."


"Walah, Aku sudah bawa blender yang rusak."


"Nanti saja tunggu mereka balik."


"Yaudah, Aku titip disini dulu yah blenderku."


Wanita paruh baya itu meletakkan blender miliknya di meja rumah Kakek.


POV: Kembali ke Chia


Kami tiba di kebun, mataku dimanjakan dengan banyaknya pohon yang melahirkan banyak buah. Baru diawal pintu masuk saja kami sudah disuguhi pohon rambutan yang berjejer. Tidak hanya itu, ada pohon pepaya dan juga mangga serta jambu air.


Mataku berbinar, tempat ini surga bagiku. Bagaimana tidak Aku adalah penggemar buah. Buah apa saja Aku makan, asalkan tidak haram dan beracun.


"Boleh masuk?" Ucapku menoleh kearah Zaid


"Iya, masuk saja." Jawab Zaid tersenyum


Aku pun berjalan masuk, haih kalau ada musik India mungkin Aku sudah cosplay menjadi wanita India yang berlari-lari mengelilingi pohon-pohon buah ini.


"Kak Chia, didalam masih ada buah lain loh." Teriak BomBom


"Iya, Kak. Kita kesana yuk Kak. Ada pohon jeruk manis dan jeruk Bali." Ujar Nana


Aku pun mengikuti arahan Nana, aku terkesima melihat pohon-pohon ini. Wah, rasanya tidak ingin meninggalkan tempat ini sebelum Aku cicipi semua buahnya.


Aku benar-benar dibuat melongo dengan pohon-pohon ini. Ini bagaikan surga agak lebay sih tapi yah memang ini surga buah, andaikan Naina dan lainnya melihat ini pasti mereka akan cosplay seperti monyet kelaparan. Paling afdol saat kami membungkus buah-buahan ini. Pasalnya, kami dikota jika masuk musim buah. Maka kami akan pergi ke kebun buah untuk memakan buah yang sedang musim. Sayangnya tidak gratis, masuk kekebun kami harus merogoh uang 5000/orang, tetapi kami bisa makan sepuasnya buah yang ada di sana. Apabila ingin membawa pulang kami harus membayar lagi, bisa dibilang belilah. Kebun buah yang sering kami kunjungi adalah kebun buah rambutan dan durian. Durian adalah buah favorit sejuta umat termasuk Aku dan para bestie-ku.


"Chia, Chia, hello...." Teriak Zaid


"Eh, iya kenapa?" Tanyaku tersadar


"Aku panggil dari tadi loh. Kok ngelamun."


"Aku kira ini mimpi, ternyata benar aku berada di surga buah." Ucapku dengan nada penuh kebahagiaan


"Ya Allah, Aku kira kenapa. Ayok kita kesana, ada buah naga juga."


"Boleh Aku pingsan dulu nggak? Apakah Tuhan sedang mengujiku. Ya Allah apakah Kakekku adalah utusan Tuhan yang disuruh bangun kebun dengan berjuta-juta buah-buahan ini? Ahhh, lemas Aku." Cicitku yang membuat Zaid menggelengkan kepala.


Mungkin Zaid baru bertemu wanita aneh sepertiku. Tapi, Aku benar-benar tidak bohong. Aku adalah pecinta buah. Aku harus mencoba semua buah ini, fix fix fix.