I Think I Love U

I Think I Love U
Episode 37



POV: Archi


Aku bergegas pulang kerumah saat Nana menghubungiku kalau dia akan nginap dirumah temannya karena tugas kelompok mereka belum selesai. Jika, Aku tidak pulang maka Chia akan sendirian malam ini. Sudah beberapa hari, Aku tidak pulang dan tinggal dirumah. Karena, hatiku sangat kacau setiap melihat Chia. Apalagi, saat tahu dia akan kembali ke kota asalnya.


Rencanaku adalah terus menghindar darinya agar dia lebih lama tinggal bersama kami. Namun, saat melihatnya menangis dan mengeluh hatiku pun tidak sanggup. Sehingga, Aku sendiri yang menawarkan diri untuk membelikan tiket untuknya. Padahal, hatiku masih tidak bisa merelakannya.


Aku ingin menemaninya kembali kekota A. Namun, Aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku.


****


Aku dan Chia berada di ruang tamu. Kami sedang nonton TV. Chia fokus menonton siaran kesukaannya, yaitu film kartun. Dia sangat senang jika film kartun yang muncul disiaran tv. Dia akan nonton dengan mulutnya yang mangap, saking asiknya menikmati siaran kartun itu. Wajahnya sangat menggemaskan, dia seperti anak kecil jika menonton film kartun.


Saat, Chia sedang fokus nonton. Aku sedang meng-scroll beranda HP, Aku mencari tiket pesawat untuk Chia.


"Hmm, booking tiketnya dihari apa yah? Pesawatnya cuman ada di hari Senin, Jumat, dan Minggu untuk Minggu depan. Hari Senin kah? Eh tunggu ini hari apa? Hari Jumat, kalau Aku booking hari Senin, tiga hari lagi dong. Jangan deh, Aku masih mau dia lama disini." Ocehku dalam batin


Aku melirik Chia yang terus tertawa menatap kearah TV.


"Chi, Kakak pesan tiketmu di hari Minggu aja yah." Tanyaku


"Hm? Minggu besok ini?" Tanya Chia balik


"Enggak, Minggu depan." Jawabku


"Kalau Aku berangkatnya Minggu, hari Seninnya Aku langsung ke kampus dong. Kakak nggak kasihan kalau Aku kecapean." Ujar Chia


"Oh, iya. Benar juga. Nggak boleh buat sayang aku capek." Ucapku


"Kan, ihh siapa sayangnya Kak Archi." Sahut Chia sembari membuang wajahnya kembali ke TV


"Berarti hari Jumat yah." Batinku sembari melirik Chia.


"Ya udah kalau gitu Jumat yah." Tuturku


"Oke kak." Jawab Chia tanpa menoleh.


Setelah memesan tiket, Aku pun meletakkan ponselku. Menarik napas panjang, perasaan sangat campur aduk.


Aku lagi-lagi melirik ke arah Chia. Dari samping pipinya terlihat seperti bakpao, rasanya Aku ingin melahap pipinya. Semakin Aku perhatikan semakin Aku tidak bisa menahan diri.


Aku menarik tangan Chia, hingga tubuhnya berhambur pada pelukkanku.


"Kak Archi apa-apaan sih. Lepas ih." Teriak Chia


Aku memeluknya semakin erat, ku hirup aroma rambutnya yang saat wangi.


"Kak Archi, Aku nggak bisa napas tahu." Teriak Chia.


Ku pun melonggarkan pelukanku. Chia kemudian menoleh menatap wajahku.


"Kak Archi, kerasukan yah." Ucap Chia


"Iya." Jawabku


"Ih, kakak lepaskan. Aku masih nonton dih." Ujar Chia


"Nonton aja." Ucapku


"Gimana mau nonton kalau kakak meluk Aku kayak gini."


Aku pun melepaskan pelukanku. Aku membalikkan badannya, hingga menghadap layar TV. Setelah itu, Aku menarik tubuhnya hingga dia bersandar di dadaku.


"Gini aja, nggak usah banyak gerak. Kalau tidak kamu tahu sendiri akibatnya." Ancamku kepada Chia


"Kakak, sebaiknya Kakak cari pasangan deh. Biar nggak jomblo gini. Terus, Aku yang jadi sasaran." Ucap Chia


"Kalau gitu, kamu aja yang jadi pasangan kakak."


"Nggak mau ih." Ucap Chia tanpa basa-basi


"Tega benar, belum juga dipikirkan langsung ditolak mentah-mentah."


"Mau dipikirkan berapa kali pun Aku nggak mau." Ucap Chia yang mencoba untuk bangun dari sandarannya.


"Sudahku bilang jangan banyak gerak, nanti Kamu membangunkan sesuatu."


Dia melihat kearahku, wajahnya tepat dibawa wajahku. Sehingga, jika Aku menundukkan kepala sedikit saja. Kami bisa langsung berciuman.


"Jangan lihat seperti itu, kamu mau Aku lepas kendali trus nyium kamu."


"Dih, dasar gila." Ucap Chia yang langsung membalikkan wajahnya kembali ke layar TV.


Dia tidak bergerak sama sekali, bahkan dia terdiam seperti patung.


Aku memainkan rambutnya yang panjang, ku hirup rambutnya yang wangi.


Ku sentuh pipi chubbynya yang seperti bakpao. Sesekali Aku mencubit pipinya hingga merah, dia hanya meringis.


Melihat dia sangat tenang saat Aku menjahilinya membuatnya semakin menggemaskan.


POV: Chia


"Aw..." Aku menoleh menatap wajah Kak Archi saat dia mencubit pipiku.


Aku tidak bisa membantahnya, karena dia orang yang sangat sulit ditebak. Terlebih lagi dengan otak mesumnya, Aku takut dia semakin aneh-aneh dalam bertindak, jika Aku terus membantahnya.


Setelah puas mencubit pipiku, dia berpindah pada tanganku. Kak Archi memainkan jemari tanganku. Dan terus mengoceh tanganku seperti tangan bayi dan tengkorak karena kecil dan kurus.


"Besok hari Sabtu, sayang mau jalan-jalan nggak?" Tanya Kak Archi


"Ih, siapa yang Kakak maksud?" Tanyaku


"Kamulah, memangnya yang disini ada siapa lagi selain kita berdua." Sahut Kak Archi


"Oh, soalnya namaku Chia, bukan sayang."


"Iya, Chia sayang... Jadi, besok mau pergi?"


"Chia aja nggak ada sayangnya. Apa sih ubah-ubah nama orang deh."


"Nggak papakan Aku ubah, ntar juga kamu jadi sayangnya Aku." Jawab Kak Archi


"Ih, siapa yang mau jadi sayangnya Kakak."


"Iya iya, jadi giman besok mau pergi nggak."


"Mau."


"Okey, tapi kamu harus cium aku dulu."


"Eh, nggak jadi deh Kak. Aku dirumah saja, jaga kesehatan agar tiba di kota A dalam keadaan sehat." Sahutku


Kak Archi menarik hidungku, setelah itu mencubit pipiku. Aku hanya menjerit kesakitan. Namun, dia semakin menjadi-jadi hingga pipi dan hidungku memerah.


****


POV: Archi


Aku menatap wajah Chia yang tertidur pulas didadaku. Dia menonton hingga tertidur lelap. Bagaimana bisa anak gadis ini begitu ceroboh seperti ini. Jika Aku orang jahat mungkin, anak ini sudah menjadi santapan yang sangat memuaskan. Untung saja Aku yang bersama dia. Walaupun, saat ini Aku pun sedang menekan hawa nafsuku yang sejak tadi berkobar.


Wajahnya yang sendu, pipinya yang chubby, alis matanya yang tebal dan bulu matanya yang lentik. Dia sangat mempesona apalagi saat tidur seperti ini.


Dia sangat berbeda saat tidur. Kelihatan sangat tenang wajahnya. Berbeda dengan saat dia dalam keadaan bangun. Sangat sulit dihadapi. Dia sangat dingin dan datar, sulit sekali untuk mendapatkan hatinya. Bahkan, dia sama sekali tidak memiliki rasa kepekaan.


Aku membelai pipinya, yang merah merona. Tidak hanya itu Aku juga mengelus pipinya yang lembut itu. Dia tidak pernah mengenakan make-up, namun wajahnya cantik secara natural.


Bibirnya yang merah merekah, rasanya ingin kucumbu bibirnya langsung. Namun, tidak kulakukan. Jika dia tahu, mungkin dia akan meronta-ronta dan memakiku habis-habisan.


Aku pun bergegas menggendongnya ala bridal style. Setelah, puas membelai pipinya yang menggemaskan.


Aku tidak bisa menatapnya lama, apalagi saat dia dalam keadaan tertidur. Bisa-bisa setan menghasutku dengan nafsuku ini. Tidak, Chia anak yang baik tidak bisa disentuh tanpa persetujuan darinya.


Aku masuk kekamar sembari menggendong Chia. Ku rebahkan tubuhnya diatas kasur. Kemudian, aku menyelimutinya dengan selimut. Setelah memastikan posisi tidurnya baik, Aku pun mencium keningnya. Lalu, Aku memadamkan lampu, dan menutup pintu kamar.