I Think I Love U

I Think I Love U
Episode 29



Esoknya Aku dan Nana bersiap untuk kembali ke kota. Kali ini kami menumpang mobil milik kerabat Ibu lagi. Hanya saja kerabat satu ini adalah kerabat satu-satunya yang tidak Ibu sarankan untuk Aku kunjungi. Masih bersaudara kandung dengan Ibu, hanya saja Ibu dan istri Om tidak begitu akur. Kata Ibu, Tante sangatlah sombong dan dulu sering bergaduh dengan Ibu. Jadi, karena itulah Aku tidak mengunjungi rumah kerabat ini. Namun, Om Lam meminta untuk mengantarkan kami ke kota. Kami pun bergegas naik kedalam mobil. Sepanjang jalan kami tidak berbicara sepatah kata pun. Hingga akhirnya tiba di kota.


Kami pun disambut Tante Sinar dan Adam. Tante Sinar adalah mama dari Nana, sementara Adam adalah adik laki-laki Nana, Adam 2 tahun lebih tua dari BomBom. Berbeda dengan Bombom yang bersikap cute setiap saat, Adam justru orang yang sangat dingin dan memiliki gengsi yang tinggi.


Nana pun membantu memapah diriku untuk masuk kedalam. Sama seperti Tante Fio, Tante Sinar yang melihatku kesulitan berjalan pun langsung bertanya panjang lebar. Dan pastinya tidak lupa dengan omelannya. Mungkin semua Ibu begitu yah.


"Kok bisa sampai bengkak gini. Ntar kalau Archi lihat kamu diomelin loh, Chi." Ucap Tante Sinar


Kak Archi adalah orang yang menjemputku sekaligus orang yang menjadi waliku di kota M ini. Pasalnya, Ibu menitipkan Aku padanya. Kak Archi orang yang sangat bawel. Apapun yang Aku lakukan harus bertanya kepadanya.


"Itu salah BomBom, Ma. Bukan salah kak Chia." Ucap Nana


"Kamu jugakan salah." Sahut Tante


"Sudah-sudah kalian masuk kekamar. Chia istirahat dulu."


"Iya, Tante." Jawabku


Tante Sinar sebenarnya adalah Kakak sepupuku, namun karena usianya terpaut sangat jauh denganku makanya Aku memanggilnya Tante. Sementara, Kak Archi adalah adik Tante Sinar. Sama dengan Nana yang memanggil Kak Archi Om. Akhirnya, Aku pun juga memanggilnya Om, walaupun dia masih muda dan hanya berjarak lima tahun denganku.


Kami tiba sore hari di kota. Karena itu, langit begitu cepat berganti ke malam hari.


Kak Archi yang baru saja pulang kerja pun, sangat senang melihatku. Dia salah satu dari sekian banyak kerabat yang sering mencubit pipiku. Entah karena gemas atau apalah aku pun tidak tahu.


"Eh, Adik boneka ku sudah pulang." Ucap Kak Archi yang mau mencubit pipiku lagi.


"Eh, jangan sentuh. Aku masih ada wudhunya." Ucapku


Dia paling senang menggangguku kalau aku masih dalam keadaan suci atau berwudhu. Dia sering membuatku teriak karena tidak ingin wudhu ku batal saat disentuh olehnya.


"Eh, jangan digangguin itu. Kakinya lagi sakit." Ucap Tante Sinar yang mendengar Aku teriak karena diganggu Kak Archi.


"Kakinya kenapa?" Tanya Kak Archi yang tiba-tiba saja mimik wajah berubah serius.


Nana yang datang pun menceritakan semua kejadian yang menimpaku. Kak Archi tampak kesal.


"Kan Aku bilang apa, kamu tunggu Aku libur kerja. Aku yang antar kamu ke desa, nah sekarang sudah sakit gini bagaimana." Cerca Kak Archi kepadaku.


Aku hanya diam karen tidak ingin membantahnya. Karen sebenarnya, saat meminta izin ke desa Kak Archi melarangku karena dia tidak memiliki waktu senggang untuk mengantarku. Tetapi, Aku mengatakan bahwa Nana yang akan menemaniku. Awalnya, kak Archi menolak namun aku dan Nana keras kepala kemudian pergi saat Kak Archi lagi tidak dirumah.


"Ayok..." Tutur Kak Archi


"Ayok kemana?" Jawabku


"Kerumah sakit."


"Ih, nggak usah. Lebay deh, cuman sakit dikit doang."


"Aku bilang ayok maka ayok."


"Nggak mau, lagian ini sudah malam."


"Ayok berdiri." Titah Kak Archi yang menarik tanganku


"Aku nggak mau. Ihhhh... Lepas... Tante tolong " Teriakku


Tante, Adam dan Nana hanya melihat Aku dan Archi saling tarik-menarik. Mereka tidak berani membantah kak Archi. Walaupun kak Archi sedikit lebih menyebalkan tetapi dia adalah kaka yang baik. Mungkin, karena dia adalah anak bungsu makanya memperlakukanku seperti adiknya.


Kak Archi yang sudah lelah tarik menarik denganku. Habis kesabarannya, dia pun dengan paksa menggendongku. Dia meletakkanku diatas pundaknya. Seperti memikul beras atau kayu. Aku terus meronta-ronta dan meminta pertolongan kepada Tante.


"Tante, tolong Aku. Aku nggak mau kerumah sakit." Cicitku


"Diam." Ucap Kak Archi yang memukul bokongku


Aku pun dibawah masuk kedalam mobil. Kak Archi juga masuk kedalam mobil dan mulai menyalakan mesin mobil.


Sepanjang perjalanan Aku terus memohon kepada Kak Archi untuk tidak membawaku ke rumah sakit.


"Kak, nggak usah kerumah sakit yah. Kaki Aku nggak parah-parah amat." Ujarku


"Nggak boleh harus diperiksa. Ntar mama kamu bilang kami disini nggak jagain kamu lagi."


"Nggak bakal kok. Palingan Ibu yang marahin Aku. Pasti cuman bilang kan kan."


"Justru itu, kamu harus diobatin. Biar kamu nggak dimarah."


"Ihh, nggak usahlah kak. Kalau nanti disuntik gimana?"


"Ya elah, ada juga benda yang kau takuti."


"Iya, nggak usah yah kita kerumah sakit." Pintaku dengan suara yang sedikit manja.


"Ngga, harus diperiksa. Apalagi kata Nana kepalamu juga kebentur ditanah."


"Kalau Aku bilang, nggak usah yah nggak usah. Maksa bangat." Teriakku yang sudah mulai kesal.


Aku benar-benar kesal karena memang Aku sangat takut dengan jarum suntik. Aku bahkan jika sakit lebih memilih istirahat dirumah daripada harus ke dokter.


Kak Archi yang terkejut saat Aku membentaknya pun menepikan mobilnya. Dia juga sudah tersulut emosi.


"Iya." Jawabku dengan nada memelas


"Kalau gitu, kamu turun sekarang. Turun dari mobil ini. Kamu pulang saja sendiri." Ucap Kak Archi


Aku yang masih mencerna maksud Kak Archi pun masih loading.


"Kak Archi suruh Aku turun disini?"


"Iya."


"Disini? Kak jangan becanda, ini sudah malam loh kak. Tega benar suruh Aku turun disini."


Kak Archi tanpa aba-aba mendekatkan tubuhnya kearahku. Aku yang sontak kaget memundurkan tubuhku kebelakang. Kak Archi semakin dekat, tanganny pun digeraknya.


"Ceklek..." Suara pintu mobil yang terbuka


"Pintunya sudah Aku buka. Silahkan, turun." Ucap Kak Archi kembali pada posisi duduknya.


Aku pun hanya mendengar perintahnya turun dari mobil. Setelah menutup pintu mobil. Kak Archi pergi begitu saja. Dia benar-benar meninggalkanku.


Aku masih tidak percaya dan masih memandang mobil Kak Archi pergi, hingga benar-benar menghilang dari penglihatanku.


Temperamen Kak Archi benar-benar buruk. Sikapnya suka berubah-ubah. Kadang suka becanda, kadang marah dan kadang suka diam. Dia lebih butuh daripada wanita yang sedang PMS.


Aku pun berjalan melangkah dengan arah yang terbalik dengan arah mobil kak Archi. Aku benar-benar panik, karena Aku tidak mengamati jalan saat kami dari rumah tadi. Aku tidak menghafal dimana jalan pulang. Aku bahkan tidak membawa uang sepersen pun. Begitupun dengan ponsel, aku tinggalkan dirumah.


"Kak Archi, dasar gilaaaaa..." Teriakku yang kesal


"Gini-gini kan Aku juga cewek. Masak disuruh pulang jalan kaki, mana ini sudah malam lagi. Gimana kalau ada orang jahat." Ocehku lagi


"Walaupun Aku bisa bela diri, tapi dengan kondisi kakiku yang seperti ini mana bisa menghajar dan lari dari orang jahat." Lanjut ocehku lagi


"Kek di adegan film-film saja. Jangan bilang nanti hujan turun yah. Bisa tuh ditambah musik-musik galau. Lengkap sudah drama ini." Masih dengan ocehanku lagi


Aku pun mengehentikan langkahku. Kaki ku sudah pada batasnya. Aku sudah tidak sanggup menahan sakit. Aku kemudian berjongkok, membenamkan kedua kepalaku pada kedua kakiku. Aku pun menangis tersedu-sedu.


"Kak Archi, dasar brengsek. Aku kan cuman nggak mau ke rumah sakit. Marahnya gitu amat. Huhuhuhu...." Ocehanku dibarengi tangisan


Saat menangis tiba-tiba ada yang menyentuh pundakku. Aku yang reflek kaget pun menepis tanga tersebut.


"Jangan ganggu Aku, Aku sudah tidak perawan lagi, trus Aku juga banyak penyakit menularnya, masa hidupku tinggal 3 hari lagi. Aku juga ada kudis, kurap, panu dan lainnya." Aku yang panik mulai melemparkan pukulan acak sambil menutup mata karena panik ketakutan.


"Hey, ini Aku Archi."


Ternyata yang memegang pundakku adalah kak Archi.


"Kak Archi... Aku kira orang yang jahat. Yang mau melakukan hal macam-macam." Ucapku


"Iya, ini Aku. Noh, lihat baik-baik."


Aku memandangi wajah Kak Achi dengan lekat. Aku pun kembali terisak-isak.


"Kak Archi jahat.... Kalau tadi bukan Kak Archi yang datang Aku... Aku... Aku gimana nanti huhuhu. Dasar Kak Archi...." Cicitku sambil menangis


"Iya, maaf. Kakak pikir kamu langsung naik ojek."


"Tadinya mau gitu. Tapi, Aku nggak tahu alamat rumah."


"Hah, beberapa hari kamu tinggal dirumah. Kamu tidak tahu alamat nya."


"(Mengangguk)"


"Astaga, untung aku balik lagi kesini. Ya sudah ayok."


Aku tidak mengikuti langkah kak Archi karena kakiku yang sudah sangat sakit. Kak Archi pun kembali menoleh kepadaku. Ia yang langsung paham kalau Aku sudah kesakitan pun langsung kembali kepadaku. Tanpa aba-aba dia pun menggendongku. Dia menggendongku seperti menggendong pengantinnya. Untung saja saat itu malam dan tidak banyak orang yang lalu lalang. Jadi, Aku tidak terlalu malu.


Kak Archi meletakkanku disebelah kursi kemudi. Kemudian, dia juga masuk kedalam mobil lalu menjalankan mobil itu.


Sepanjang jalan Kak Archi terus terkekeh walaupun tidak terlalu besar suaranya. Padahal, kami tidak sedang berbicara, dan suasana hening sejak awal mobil ini jalan. Dia menggumamkan kata-kata yang tadi Aku sebutkan saat panik. Aku yang mendengar pun meremas celanaku karena saking malunya.


"Aku masih perawan." Ucapku memecah keheningan


"Tadi Aku panik jadi ngomongnya asal doang." Lanjutku


Kak Archi pun menoleh kearahku, walaupun Aku melihat kearah jendela.


"Aku nggak bilang apa-apa." Sahut Kak Archi


"Aku cuman mau meluruskan aja. Biar mikirnya nggak aneh-aneh." Ucapku


Setelah itu kami kembali terdiam. Hingga tiba dirumah. Kak Archi tidak lagi membawaku ke rumah sakit. Tetapi, dia mengantarkan Aku pulang.


Aku Archi kembali menggendongku. Aku tidak pusing lagi, tetangga yang melihat akan mengantakan apa. Bahkan, Kak Archi saja berekspresi biasa saja.


Kak Archi membawaku ke kamar merebahkan ku diatas kasur. Setelah itu, dia pun pergi.