
POV: Archi
Aku menarik tangan Chia setelah melihat wajah gadis itu tertunduk dan sangat pucat. Ia terus meremas kedua tangannya yang sudah berkeringat. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Dia sedang tidak nyaman akan sesuatu.
"Kak Archi, mau kemana?" Jerit Chia.
Aku terus menariknya hingga tiba diatas puncak dataran tinggi ditempat wisata itu. Disana adalah salah satu spot yang paling banyak pengunjungnya. Karena dari puncak itu semua area dapat dilihat sepenuhnya.
Aku menarik Chia, dan merapatkannya pada pembatas tebing puncak.
Aku memutarkan tubuhnya hingga dia membelakangi diriku. Dari belakang Aku menggerakkan kepalanya memusatkan pandangannya pada satu titik yaitu pulau yang berada dibawah puncak ini.
"Wah, indah sekali." Ucap Chia.
"Oh, iya dong." Sahutku.
Wajah Chia yang tadinya pucat kini perlahan berubah dan lebih cerah. Diapun memotret pemandangan yang dia lihat dan terus tersenyum kegirangan.
"Sudah tenang?" Tanyaku.
"Ehm, tenang kenapa?" Jawabnya.
Aku memutar kembali tubuhnya hingga kami saling berhadapan.
"Kenapa tadi wajahmu pucat? Apakah karena kamu takut dengan kejadian yang menimpamu tadi? Tenang saja semua sudah dibereskan kok." Tuturku.
"Kejadian apa? Oh, kejadian Aku mukul orang-orang itu? Enggaklah, Aku nggak gugup karena mereka." Jawab Chia.
"Terus karena apa?" Tanyaku lagi.
"Hmmm, Aku teringat sesuatu yang membuatku ketakutan. Tapi, sekarang Aku sudah baik-baik saja kok, Kak." Sahutnya.
"Benarkah?"
"Iya benar, oh iya nggak papa nih Aku tadi mukul mereka takutnya mereka ngadu lagi ke keluarga mereka trus malah datang cari masalah lagi sama kita."
"Santai saja, Adit sudah beresin mereka kok. Orang-orang dikota ini tidak berani menyinggung Adit dan keluarganya. Karena itu, kita aman karena Adit dibelakang kita."
"Oh, gitu. Hebat yah kalau punya kekuasaan. Kalau gitu ntar Aku nasihatin Kak Adit saja biar dia nggak semena-mena dengan kekuasaan."
"Boleh, tapi jangan sampai dia jatuh hati sama kamu yah."
"Ha? Perasaan yang Aku pukul orang-orang itu. Kenapa otak Kakak yang terganggu. Mana ada Kak Adit jatuh hati sama Aku. Kakak ada-ada saja."
"Aku kan cuman mengingatkan. Awas saja kalau dia sampai jatuh hati sama kamu."
"Ihhh, gila nih Kak Archi. Btw, Kakak tuh kalau ngomong sama orang emang suka dipepet-pepetin gini yah? Aku tuh sampe udah mentok nih kak dengan pagar, kalau pagarnya ini tiba-tiba patah trus Aku jatuh, kakak mau tanggung jawab?"
"Kamu mau kakak tanggung jawab seperti apa?" Ucapku semakin merapatkan tubuhku dengannya hingga jarak kami hanya satu centi.
"Yah, tanggungjawab kalau Aku jatuh trus kehilangan nyawa gimana?"
"Iya, kakak tanggungjawab. Ntar, kakak temani kamu juga dikubur deh."
"Is, kak Archi. Aku serius nih. Kak, bisa mundurin badan kakak sedikit nggak sih. Dilihatin orang-orang loh kak."
"Lah, bodoh amat. Gini aja biar kamu nggak ngilang-ngilang lagi kayak kutu lompat yang sekejap jalan sama laki-laki lain."
"Ha? Laki-laki siapa sih kak? Orang Aku sama keluarga Aku sendiri kok jalannya."
"Biar keluarga sendiri tetapi mereka tetap pria lain tahu. Mana pake foto cuman sama mereka, digendong pula trus pake senyum kek orang gila lagi."
"Ihhh, Kak Archi. Hahahaha, Kak Archi lucu deh. Kak Archi kalau mau foto sama Aku, bilang dong. Nggak usah bilang mereka orang lain juga."
"Emangnya kamu mau foto sama Aku?"
"Yah, mau lah. Sebenarnya Aku mau minta foto berdua dengan Kakak. Cuman Aku takut kakak nggak mau foto berdua dengan Aku."
"Siapa yang nggak mau foto dengan kamu."
Chia menatapku, kemudian dia sedikit tersenyum mengejekku dan kemudian tertawa seolah-olah ada yang lucu.
"Aku loh pikir Kak Archi tuh nggak suka sama Aku, jadi Aku nggak berani minta foto dengan Kakak. Padahal, Aku pengen foto berdua dengan Kakak supaya Aku bisa tunjukkin fotonya kek Ibu." Ujar Chia.
"Siapa yang nggak suka sama kamu sih Chia." Ucapku yang mulai gemas dengan wajahnya. Aku pun mencubit pipinya.
"Ihhhh, Kak Archi lepas. Sakit tahu." Ucap Chia menepis tanganku.
"Iyakan, Kak Archi tuh suka galak sama Aku, suka marah-marah sama Aku tahu. Menyebalkan deh pokoknya." Keluh Chia.
"Bukannya kamu yang nggak suka sama Aku." Ujarku.
"Enggak kok. Dari awal datang kesini Aku mau ajak kakak foto, cuman benar-benar nggak berani bilang ke kakak." Jawab Chia.
"Mau." Ucap Chia.
Aku pun mencari orang untuk membantu mengambil gambar Aku dan Chia. Pemandangan disini sangat tepat untuk mengabadikan kenangan.
Walaupun pemandangan sangat bagus, namun terik matahari tidak bisa kami hindari. Chia, yang sedari tadi mendapatkan terpaan sinar matahari pun terus menutup matanya yang silau.
Aku dengan cepat menutup kepalanya dengan tas yang ku bawah agar dia tidak kepanasan. Dia pun menoleh melihat kearahku.
Aku tidak tahu apa yang membuatnya hingga tersenyum melebar ke arahku. Senyuman yang dilemparkan ke arahku bisa membuat Aku mati dalam sekejap. Apakah ini yang disebut gangguan jantung akibat senyumnya yang begitu mempesona. Jantungku berdegup kencang saat dia mulai menatapku.
Setelah mengambil banyak gambar, Aku mengucapkan terimakasih kepada orang yang sudah mengambil gambar kami. Diluar ekspektasi, foto kami sudah seperti foto prewedding. Aku pun terus tersenyum melihat foto-foto itu.
"Kak Archi, Aku juga lihat dong." Pinta Chia.
"Enggak, nanti Kakak kirim baru kamu lihat." Ucapku.
"Idih, pelit banget jadi orang." Sahut Chia.
"Biarin, suka-suka Aku lah." Jawabku.
"Iya iya deh, Kak kesitu yuk! Aku lihat mereka jualan cemilan enak deh." Ucap Chia yang lalu berjalan ke salah satu penjual jajanan ditempat itu.
"Kamu mau?"
"Iya."
"Bu, kasih itu dua yah."
"Iya, mas. Ini." Ucap penjual itu.
"Makasih."
Aku pun memberikan jajanan itu kepada gadis yang suka makan ini. Kami berjalan kembali ke tempat awal kami datang.
"Kak Archi mau?"
"Boleh."
"Ini." Ucap Chia memberikan makanan itu kepadaku.
"Bisa romantis dikit nggak, aaaa...." Ucapku menggodanya.
"Kak Archi nggak punya tangan? Pegang sendiri ih, nggak malu dilihatin orang gitu."
"Enggak, persetan dengan mereka."
Aku pun menarik tangan Chia, agar dia menyuapiku makanan yang dipegang olehnya.
"Kak Archi, kayak bocah saja. Makanya, belepotan gitu. Tuh, disudut bibir kakak ada sausnya."
"Kalau gitu kamu bantu bersihkan dong."
"Ih, nggak mau. Bersihkan sendiri dih."
"Loh, Archi." Panggil seseorang dari arah belakang.
Ternyata, itu Dea. Aku bertemu lagi dia disaat Aku sedang berdua dengan Chia.
Dea pun mengajakku mengobrol, Aku tidak enak untuk menolaknya. Karena itu Aku meresponnya.
"Kak Archi ngobrol aja dulu, Aku mau kesana." Ujar Chia.
Chia yang berniat pergi membuatku sangat tidak senang, sehingg membuatku menarik tangannya sehingga dia berada dalam dekapanku.
"Kamu mau kemana lagi?" Tanyaku.
"Mau jajan." Ucapnya.
"Enggak, kamu nggak boleh kemana-mana. Ntar, kamu pukulin orang lagi. Tetap disini." Ucapku menggenggam tangannya agar dia tidak bisa pergi.
"Iya, iya Aku tidak pergi. Tapi, lepaskan tanganku. Kayak orang mau nyebrang saja." Ucap Chia.
"Enggak, gini aja." Jawabku.
"Ekhmmm..." Tutur Dea.
Chia langsung menarik tangannya. Dan mengambil sedikit jarak dariku.
"Kakak ngobrol saja. Aku nggak kemana-mana kok." Ucap Chia.
Aku pun melanjutkan percakapanku dengan Dea. Sementara, Chia berdiri disampingku melihat pemandangan didepannya.