
Tiba di hari keberangkatan Adit kembali ke kota M. Sementara, Chia yang masih terlelap dalam tidurnya karena semalam dia kesulitan tidur. Dia seperti manusia yang kerasukan ketika memikirkan kebaikan apa yang dia lakukan sehingga semalam dia bisa bersama dengan Kay, tanpa ada yang mengganggu.
Alarm Chia terus berbunyi, Chia baru saja tidur setelah solat Subuh tadi. Tidak hanya itu, ponsel Chia terus berdering. 10 panggilan telpon, dan 100 spam chat yang masuk. Tentu saja itu dari Adit yang menghubungi Chia.
"Chia aaaaa...." Teriak Ibu.
Chia tersentak bangun karena mendengar suara teriakan Ibunya dan pintu yang digedor-gedor dari luar.
"Sampai kapan kamu mau tidur terus? Anak gadis kok kayak setan gitu." Ucap Ibu.
"Apaan sih, Bu. Lagian ini juga hari libur. Masa yang lain bisa tidur sampai siang Aku kok nggak bisa." Timpal Chia.
"Siapa yang kamu maksud? Kami tidur nggak sampe bablas sampe jam 11 yah." Ucap Kakak Chia.
"Jam 11?" Chia tersentak kaget.
"Noh, buka matamu sudah mau jam setengah 12. Itu tidur atau belajar mati lama amat." Ujar Kakak.
"Aku baru tidur subuh tadi tahu. Astaghfirullah, jam setengah 12?" Sontak Chia tersadar.
Chia berlari kekamar, bergegas ke kamar mandi. Setelah itu, dia bersiap-siap dengan pakaian biasa namun tetap rapi.
Chia melihat ponselnya, melihat pesan, chat dan telpon yang masuk.
Chia pun menghubungi Adit kembali dan meminta maaf karena ketiduran. Untung saja pesawat Adit satu siang.
Tidak hanya pesan Adit, Chia juga menemukan chat dari Kay. Kay sudah berjanji bahwa dia akan menemani Chia ke bandara.
Setelah, membalas chat Kay. Kay pun bergegas menjemput Chia.
"Ibu kok nggak bangunin Aku dari pagi tadi. Untung saja nggak sampe sore Aku tidur. Hari ini Aku mau ngantar Kak Adit." Oceh Chia.
"Salah kamu, siapa suruh begadang." Tukas Ibu.
"Udah dulu, Bu. Aku pamit dulu mau ngatar Kak Adit sama mau kencan yah." Ucap Chia.
"Alah, pacar saja nggak punya sok-sokan mau kencan." Ucap Ibu.
"Biarin, ya udah Aku pamit yah. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumus salaam."
Chia pun keluar rumah, dan menunggu Kay didepan rumahnya.
Beberapa saat kemudian, Kay pun berhenti tepat didepan Chia. Chia dengan sigap duduk dikursi penumpang.
...----------------...
Mereka pun tiba dibandara, Adit yang melihat Chia pun bergegas menghampiri Chia.
"Kamu kok lama banget sih, Aku sudah telpon dan spam chat kamu tahu." Oceh Adit.
"Maaf, Kak. Aku ketiduran untung dibangunin Ibu." Sahut Chia.
"Kok bisa ketiduran sampai siang gitu? Memangnya kamu begadang yah? Ngapain?" Cicit Adit.
"Nggak bisa tidur kak, hehehe." Ucap Chia.
"Kalau kamu nggak datang, Aku nggak bakal berangkat sampai kamu datang." Ujar Adit.
"Idih lebay banget deh." Tukas Chia.
"Oh, iya kamu sama siapa kesini?" Tanya Adit.
"Sama Kay, Kak. Tuh, masih parkir motornya. Tadi Aku langsung loncat loh dari motor buat ketemu kakak." Oceh Chia.
"Yang benarrr?"
"Nggak sih, hiperbola aja biar kakak senang."
Adit mengacak-acak rambut Chia karena gemas.
"Oh, iya. Gimana teman Kakak semalam?" Tanya Chia.
"Amanlah, sudah diselesaikan jalur kekeluargaan." Jawab Adit.
"Jalur kekeluargaan pake uang yah?"
"Yah, bisa jadi."
Adit dan Chia pun lepas tertawa, sementara Kay baru saja datang setelah memarkirkan motornya.
"Oh iya, ini buat kamu." Ucap Adit menyerahkan paper bag kepada Chia.
"Ih, nggak usah repot-repot kak."
"Apanya yang repot, tenang aja Aku punya banyak duit jadi nggak repot kok."
"Tapi, Aku nggak bawa apa-apa untuk Kakak."
"Udah ambil aja." Ucap Adit sembari menaruh paksa paper bag ke tangan Chia.
"Ya udah makasih, oh wait kak." Ucap Chia.
Chia melepaskan jaket punya dia, dia pun memberikan jaket itu kepada Adit.
"Kak walaupun ini bekas tapi baru Aku pake sekali kok, dan ini juga cocok untuk cowok cewek gitu." Jelas Chia.
Adit mengambil jaket yang diberikan Chia, dia menanggalkan jaket miliknya dan memakai jaket pemberian Chia.
"Outfit kamu kece juga." Ucap Adit.
"Enggak juga, oh iya Kak udah ada pengumuman tuh." Ujar Chia.
"Iya nih, ya udah Kakak pergi dulu yah." Ucap Adit.
Adit merentangkan tangannya, memberikan isyarat kepada Chia untuk memeluknya.
"Bukan, peluk dong." Ucap Adit.
Adit pun berjalan mendekati Chia dan hendak memeluknya. Namun, pelukan itu tidak sampai ke Chia. Malah Kay yang memeluk Adit seperti seorang teman yang sudah lama berteman dan akan berpisah.
"Apaan nih." Ucap Adit.
"Hati-hati yah Kak dijalan." Tukas Kay yang memutar tubuh Adit untuk segera pergi.
"Chia, Chia nanti Kakak telpon yah." Teriak Adit.
"Iya, iya cepat tuh pesawat udah mau berangkat." Timpal Kay.
Chia hanya memandang Kay dan Adit yang bertingkah laku seperti anak kecil.
Adit pun memasuki antrian untuk segera masuk ke ruang tunggu pesawat.
Setelah, Adit masuk. Chia dan Kay masih menunggu hingga pesawat benar-benar terbang.
...----------------...
Setelah pesawat yang ditumpangi Adit lepas landai, Chia dan Kay pun keluar dari bandara.
"Oh, iya mau kemana sekarang?" Tanya Kay.
"Duh jawab apa yah? Terserah atau dari kamu aja? Tapi, kesannya kayak cewek-cewek pada umumnya. Aku sebut tempatnya aja kali yah? Tapi, Aku nggak tahu kemana. Hmmm... Jawab apa yah biar Aku nggak membuat dia ilfil." Batin Chia.
"Halo, Chia." Kay melambaikan tangan didepan wajah Chia.
"Oh, iya? Yah?"
"Kamu kok melamun, kita mau kemana nih?"
"Terserah." Jawab Chia spontan.
"Hah, dasar mulut bodoh. Kok terserah sih, duh Kay marah nggak yah." Batin Chia.
"Ke laut mau?" Tanya Kay lagi.
"Iya, ayok." Jawab Chia.
"Oke."
Setelah memutuskan ke pantai, Kay pun menyalakan mesin motornya dan mulai menyusuri jalan untuk tiba ke pantai tempat yang akan mereka tuju.
Beberapa menit kemudian, mereka tiba di pantai. Setelah memarkirkan motornya, Kay dan Chia pun langsung turun untuk mencari tempat mereka bersantai.
"Disini aja gimana?" Tanya Chia.
"Iya, disini aja." Jawab Kay.
"Kamu mau mandi yah?" Tanya Chia.
"Enggak."
"Trus, kenapa kamu bawa tas gitu. Mana kayak penuh banget deh."
"Oh, Aku bawa kamera."
"Uhm, kamera kamu mau foto apa?"
"Fotoin kamu."
"Apaan sih."
Chia dan Kay berjalan menyusuri pesisir pantai.
"Kay, ada Patrik loh." Teriak Chia.
Chia melambaikan tangan kepada Kay, agar Kay datang menghampirinya.
"Ada rumahnya nih." Ucap Kay.
"Iya, kamu dapat dimana?"
"Tuh, disana. Oh iya, kamu lihat yang ini coba."
"Apa?"
"Nih." Ucap Kay menunjukkan bintang ular kepada Chia.
"Ih, jangan diangkat. Lepas lepas..." Jerit Chia.
"Hahaha kamu takut yah?"
"Siapa yah bilang, tuh dilihat aja nggak usah dipegang-pegang kasihan tahu."
"Bilang aja takut."
"Nggak yah, kamera kamu basah."
"Nggak papa anti air kok."
"Oh, eh kita kesana beli makan yuk. Aku belum sarapan."
"Ini sudah mau sore, kamu bahkan belum sarapan dan makan siang." Tukas Kay.
"Oh, yeah. Kok cepat banget sorenya. Pantas perutku meraung mulu."
"Kasihan, ayok cari makan."
"Let's go...."
Kay dan Chia berjalan mendekati penjual yang menjajakan dagangan dipantai itu.