
Benar yah semalam Aku nggak bisa tidur. Demi apa coba, Aku yang kalau ketemu kasur langsung lelap saja nggak bisa tidur. Aku benar-benar overthingking dan masih penuh dengan tanda tanya. Inilah alasan kenapa Aku membuang rasa sosialku, karena jika Aku sudah peduli sama orang maka Aku akan sangat dibuat frustasi memikirkan orang tersebut. Aku sangat pusing, kerena tidur dan memikirkan Ian.
Sekarang saja baru Aku merasa sangat mengantuk. Akhirnya, Aku pun kembali merebahkan badanku dikasur. Tidak lama kemudian, Aku tertidur sangat lelap. Aku yang sulit tidur semalaman membuatku pagi ini sangat mengantuk. Aku tidak perduli lagi jika Ibu teriak-teriak jika tidak bangun dan membantunya mengerjakan pekerjaan rumah. Mataku sudah tidak bisa mentolerir untuk tetap terbuka.
"Ya Allah, Chia. Ini sudah jam berapa belum bangun juga." Teriak Ibu
"Chia..... Bangun atau Ibu siram pake air." Lanjut Ibu
"Chia, ngantuk Bu. Semalam ngerjakan tugas." Sahutku bohong
"Alasan saja." Ucap Ibu
"Bu, ngoding itu susah. Aku tuh begadang buat ngoding yang sangat-sangat susah. Kalau nggak percaya Ibu ngoding deh biar tahu." Jawabku yang membantah Ibu, padahal memang Aku sedang berbohong.
"Kan setiap hari Aku yang bantu Ibu. Sekali-kali nyuruh anak Ibu yang lain. Kan anak Ibu banyak." Lanjutku yang tiba-tiba kesal tapi masih tetap merem.
Ibu hanya mendengar ocehan ku, kemudian pergi begitu saja tanpa menutup pintu. Aku yang tidak mau diganggu pun menutup pintu.
Belom juga sejam merem, suara teriakkan maut monster yang paling kubenci. Yakni Kakak perempuan pertama ku. Dia adalah manusia yang paling menyeramkan dan paling ditakuti dirumah. Bukan hanya kami saudaranya saja yang takut tapi orang tua kami pun takut dengannya.
"Chiiiiiiaaaaaaaa....."
Aku yang mendengar teriak itupun sigap bangun walaupun tiba-tiba merasa puyeng. Aku pun keluar kamar dan mencari sumber suara. Mungkin Ibu masih bisa ku bantah tetapi untuk yang satu ini tidak bisa.
"Kenapa?"
"Kerajaanmu tidur terus. Itu Naina datang."
"Aku kan begadang ngerjain tugas makanya baru tidur."
"Alasan."
"Na, kamar saja yuk." Ucapku pada Naina.
Naina sudah sering melihat adegan seperti ini. Terkadang dia juga sengaja membuatku terus diomelin. Walaupun, dia juga sangat takut kepada kakakku. Tetapi, jika dia tahu kalau kakak perempuanku ada dirumah dia akan berpura-pura sopan dan tidak langsung ke kamarku. Cara ini agar aku diteriaki sama monster yaitu kakakku. Padahal, kalau tidak ada kakakku dia langsung nyosor ke kamar dan membuat kegaduhan dikamarku.
"Na, lain kali ku lemparkan Kau kekandang buaya yah." Ucapku kesal sembari menghamburkan diri ke kasur.
"Apaan ihh, Aku kan cuman tanya kamu ada nggak dirumah. Eh, kakakmu langsung teriak panggilin kamu." Jawab Naina dengan wajah yang membuatku kesal.
"Kau yah(melemparkan bantal), awas yah kalau kakak ku nggak ada trus kamu main nyosor aja." Ocehku.
"Ih, Ibu yang suruh langsung ke kamar kamu. Yah udah tanpa basa-basi Aku gas dong ke kamar kamu." Jawab Naina
Aku pun yang dibuat kesal oleh Naina seketika berdiri ingin menjambak rambutnya.
"Eits, Aku teriak ni. Aku panggil kak Ita yah. Kak Ita...." Teriak Naina
"Apaan sih main teriak-teriak aja." Ujarku yang kemudian menutup mulutnya
Naina memang sangat sering usil dan terus membuatku marah. Tapi, dia juga merupakan orang yang bisa membuatku tenang jika Aku sedang kesal dengan orang lain. Karena itu, orang-orang menyebutnya 'pawang singa' singanya adalah Aku. Cuman Naina yang bisa meredakan amarahku kepada orang lain. Sisi buruk dariku adalah tingkat kesabaran yang sangat tipis apalagi jika melihat orang lain berbuat sesuatu yang salah dan tidak sesuai dengan apa yang Aku pikirkan. Tetapi, jika orang lain baik maka Aku akan sangat lebih baik.
"Kamu mau ngapain kesini." Tanyaku yang kembali ke kasur.
"Mau lihat tugas coding. Punyaku error mulu, padahal sudah kuperiksa nggak ada kesalahan." Pintanya
"Hmmm, tuh laptopnya. Aku mau tidur jangan bangunkan Aku."
"Okey."
Naina pun melihat tugas codingan punyaku. Sementara, Aku melanjutkan aktivitas tidurku yang sejak tadi diganggu terus. Kali ini Aku benar-benar tertidur lelap.
Beberapa jam kemudian Aku terbangun, mataku memandang langit-langit kamar. Tetapi, telingaku mendengar kegaduhan suara tawa. Aku kemudian bangun dan posisiku saat ini duduk dengan kesadaran sepuluh persen. Tiga menit Aku mengumpulkan kembali nyawa kehidupanku.
Saat nyawa sudah kembali, Aku melihat kearah Naina. Entah sejak kapan Ria dan Uta datang. Saat membuka mata mereka bertiga sudah terpampang jelas dipandanganku.
"Kalian berdua kapan datang? Mau ngapain?" Tanyaku.
"Aku mau lihat tugas kamu." Jawab Ria
"Kamu kan tahu sendiri si Angga kek mana. Minta ajar bilangnya nanti-nanti terus." Ucap Ria
"Terus Uta kami ngapain, mau lihat tugasku lagi. Kita kan beda fakultas."
"Pengen healing jadi kesini." Jawab Uta polos
"Eh iya, habis ini kita jalan yuk."
"Iya Ayuk..." Jawab Ria dan Uta kompak
"Kalau gitu Aku mandi dulu." Ucapku yang kemudian beranjak dari kasurku dan menuju kamar mandi.
Setelah beberapa menit, Aku keluar dari kamar mandi. Aku mengenakan pakaian dan berias sesimpel mungkin.
Saat sudah beres Kami pun bersiap untuk pergi. Setelah pamit dengan orang tuaku, kami pun pergi. Aku keluar dengan alasan mengerjakan tugas. Hal ini, agar aku mendapatkan izin untuk keluar.
Kami berkeliling mencari tempat nongkrong. Kali ini kami singgah di angkringan yang belum lama buka. Kebetulan salah satu teman kami bekerja di angkringan itu.
Saat datang kami bertemu dengan Ari, Anton dan Cherly. Akhirnya kami pun bergabung dimeja mereka bertiga.
Kami pun saling menyapa kemudian membahas banyak persoalan. Mulai dari tugas dan bermacam-macam cerita lainnya.
"Oh iya, Chi. Kamu dan Ian baik-baik sajakan?" Tanya Ari
Pertanyaan Ari membuatku bingung tapi Aku hanya mengangguk untuk mengatakan iya kalau Aku dan Ian baik-baik saja.
"Ah, benar. Aku lihat Ian post foto cewek bahkan ada video-video cewek itu loh."
"Masa sih?" Tanyaku balik
"Aku nggak pernah lihat dia post story." Lanjutku
"Benaran? Aku juga lihat loh. Malah ada emot lovenya. Aku pikir itu saudaranya, trus kamu juga nggak cerita. Jadi, yaudah Aku nggak tanya sama kamu." Sambung Naina
"Wah, selingkuh agaknya." Sahut Anton
"Aku screenshot juga loh. Sabar yah Aku tunjukkin." Ucap Naina sembari mengeluarkan ponselnya
"Nih, ini saudaranya kan atau benar cewek lain?" Tanya Naina
"Aku juga nggak tahu. Dia pun belum balas chat dariku malah sudah empat hari. Dan semalam Aku nggak sengaja VC dia. Tapi, nggak lama langsung dia sudahi saja VCnya padahal belum ngomong apa-apa." Tuturku yang menceritakan kejadian yang ku alami beberapa hari ini.
"Fix." Teriak Anton dan Ari kompak
"Dia selingkuh." Ucap Anton
"Ih, jangan berburuk sangka dulu. Kalau nggak benar berarti kalian fitnah loh." Sahut Uta
"Kalau benar bagaimana?" Sambung Ari
"Ya kalau benar, yah mau bagaimana lagi..." Jawab Uta
Aku hanya terdiam dengan wajah datar tanpa ekspresi, pikiranku saat ini amburadul.
"Udah gini aja, kamu tanya dulu deh sama keluarganya benar apa nggak. Kan kamu dekat sama keluarganya." Ujar Naina
"Iya, gitu aja dulu." Sambung Ria
"Benar, jangan dulu percaya ucapan Anton dan Ari."
Aku hanya mengangguk saran-saran dari temanku. Benar mendingan pastikan langsung sama orang terdekat. Daripada hanya mengira-ngira hal yang belum pasti.
Kami pun melanjutkan pembahasan lain dan juga menikmati makanan yang sudah kami pesan. Namun, Aku hanya diam dan mendengar ocehan mereka. Kepalaku masih memproses dan memikirkan Ian.
Kali ini Aku memang harus memastikan kepada keluarga Ian untuk menghilangkan prasangka yang tidak menentu juga dugaan yang membuatku overthingking dan merasa takut serta kecewa.