Golden Bride

Golden Bride
Terbangun Dari Mimpi



Kedua adik Tiara yang pada saat itu sedang menemaninya, terkejut dengan teriakannya Mbanya. Dia mencoba membangunkan tapi masih tetap tidak mau bangun, malah semakin berteriak, seakan sedang ketakutan. Sehingga memutuskan salah satu dari mereka, pergi memanggil Kakak iparnya atau kedua orang tuanya.


"Lari!" teriak Tiara dalam mimpinya, seakan yang dialaminya itu nyata bukan mimpi. "Jangan ke sana, bahaya!" sambungnya ketakutan.


Tak berapa lama, Wyatt datang sendiri tanpa mertuanya, dengan wajah kuatir mereka mendekati Tiara. Wyatt duduk di samping istrinya mengelap peluh keringat yang berada di keningnya.


"Kok Mba manggil Kak Wyatt aja?" bisik Liuda heran.


"Habis ketemu yang cepat, dia yang dapat," bisiknya asal, dan menyengir melihat tatapan tajam Mbanya. "Hehe, kebetulan pas turun ketemu Kak Wyatt, jadi takut Mba Tiara kenapa-napa, jadi manggil Kak ipar dulu, gak kepikiran manggil yang lain."


"Oh," Fezia mengangguk kepala paham


"Tiara kenapa, Dek?" Tanyanya tanpa melihat adik iparnya sambil mengelus kepala istrinya.


"Gak tahu Kak, Mba gitu terus, kayaknya mimpi buruk deh," sahut Fezia cemas, melihat Mbanya gelisah dalam tidurnya.


 "Bego banget sih, dibilang jangan ke sana, malah ngenyel, nganter nyawa bodoh!" Tiara mengigau dengan geram masih dalam keadaan tidur.


Kedua adik Tiara, rasanya ingin tertawa mendengar ucapan Mbanya, tapi melihat raut wajah Kakak iparnya yang tegang dan serius, jadi mereka hanya geleng-geleng kepala dan menghembus napas lelah dan aneh, setahu mereka, Mbanya tidak pernah mengigau hal aneh seperti ini.


"Canim, bangun sayang," seru Wyatt lembut sambil menepuk-nepuk pipi istrinya. "Bangun, Canim. Jangan dituruti rasa penasaranmu itu. Itu hanya mimpi, kembalilah, yang terjadi pada mereka, gak terlalu penting bagi kita ketahui," sambungnya berbisik lembut dan tegas sambil mengelus rambut istrinya. Ia tahu apa yang dialami istrinya ini, karena dirinya juga sering mengalami apa yang dilihat Tiara dalam mimpinya tapi setelah mimpinya berlalu, ia bisa bangun dengan mudah.


Wyatt menatap kedua adik iparnya. "Kalian keluar dulu yah, tolong bilang sama Daddy, selesaikan lah dulu, nanti Kakak nyusul."


Kedua adik iparnya mengangguk dan menjawab. "Ok, Kak." Lalu mereka pergi meninggalkan Mbanya bersama suaminya.


Setelah kamar tertutup, Wyatt menatap tajam sekelilingnya, seakan tahu ada sesuatu yang tak kasat mata di sekelilingnya. "Saya gak mau tahu, maksud kamu membawa istri ke memori kehidupan lampaumu, kembalikan istri saya sekarang juga, sebelum kalung ini hancur berkeping-keping," ancamnya dingin sambil memegang kalung yang dipakai Tiara dengan erat seakan memang berniat dihancurkan. 


Wusshh


Wyatt merasakan angin yang menerpa pundaknya, tersenyum sinis. "Jangan main-main dengan saya!" Ancamnya dingin. "Siapapun kamu saya tidak peduli, yang kamu lakukan bisa membahayakan Tiara, jadi kembalikan istri saya," masih menatap ke sekelilingnya dengan tajam dan marah. "Kamu mau bermain-main," sambungnya sinis, lalu membuka kalung yang berada di leher Tiara. "Saya tidak butuh kalung ini, kalau keberadaannya malah mencelakai istri saya!" Menatap kalung itu marah.


"Lari bodoh, kenapa juga masih di sana, nyari mati lo yah," seru Tiara dalam ngigaunya dengan geram dan kesal.


Wyatt berdiri sambil membawa kalung itu, tapi pas mau melangkahkan kakinya. Ia tidak bisa melangkah alias tidak bisa bergerak. Menghembus napas geram, menatap ke depannya, seakan tahu kalau ada sesuatu di depannya. "Kamu mau kalung ini aman, bangunkan Tiara!" Ancamnya marah. "Saya tidak takut siapa kamu! Kalau mau berkomunikasi, temui saya, jangan ganggu Tiara, dia tidak ada hubungannya dengan semua ini. Yang mewarisi kalung ini kan saya, jadi sudah sewajarnya kamu menemui saya, bukan belahan jiwa saya!" Menatap Tiara yang masih mengigau dalam mimpinya.


"Ya allah, dibilangi lari, malah diam di sana, emang mau mati nih orang," ujarnya geram dan kasihan dalam ngigauan tidurnya.


Masih menatap tajam ke arah depannya, seakan memang ada seseorang dihadapannya itu. "Saya tidak tahu siapa kamu sebenarnya dan apa tujuanmu menunjukan apa yang kamu alami pada kami berdua, tapi saya tidak akan tinggal diam, kalau sampai istri saya celaka!"


Wushh


"Canim, bangun sayang," mengelus pipi istrinya lembut. "Mereka itu tidak nyata, Canim, kembalilah suamimu sedang menunggumu," sambungnya berbisik dengan sayang sambil menepuk-nepuk pipi istrinya.


Tapi Tiara masih terlena dan terbawa suasana mimpi yang dialaminya sehingga panggilan suaminya tak terdengar.


Wyatt menghembus napas kasar melihat ada air minum di atas nakas, di sebelahnya. Mengambilnya dan menuangkan airnya sedikit dan memercikkannya ke wajah Tiara, semoga dengan ini, istrinya bangun. Setelah beberapa kali dipercikan air itu perlahan bangun.


"Eugh," elunya tak nyaman sambil masih tak sadar mengusap wajahnya yang terasa basah. "Bocor yah, kok wajahku basah," matanya mengerjap-ngerjap tak nyaman, masih  belum sepenuhnya sadar.


"Iya, malah banjir, bangunlah nanti kamu tenggelam," seru suaminya geram dan jahil ditelinganya. "Banjir!" Sambungnya sedikit keras, yang langsung membuat Tiara membuka matanya dan terduduk histeris.


"Banjir! Cepat lari!" Serunya histeris dan terduduk, masih belum sadar dengan sekelilingnya. Ketika mau berdiri dari kasurnya, ada sebuah tangan yang menahannya.


"Mau ke mana, Canim?" Tanya Wyatt pura-pura bodoh dengan datar.


"Eehh," Tiara mengerjap matanya dengan bingung. "Itu…" 


"Itu apa, ngomong yang jelas," menatap datar istrinya yang masih bingung, dalam hati tertawa melihat ekspresi polos dan kebingungan istrinya ini, seperti orang linglung dan menggemaskan.


"Itu… Banjir, Kak," serunya terbata dan matanya langsung membesar seakan sadar akan sesuatu. " Ayo Kak kita pergi, sebelum kita tenggelam!" 


"Pergi ke mana?" Tanyanya geli. "Mana banjirnya," sambungnya datar.


"Banjir Kak!" serunya agak keras, menunjuk sekelilingnya tapi langsung berwajah seperti orang linglung, mengerjap-ngerjap matanya. Melirik suaminya dan ke sekelilingnya dengan bergantian.


"Mana?" Tanya Wyatt datar dan geli. "Maka nya bangun dulu yang benar, jangan keasikkan mimpi lupa dengan sekelilingmu," sambungnya menyindir istrinya.


"Itu.." Wajah Tiara memerah karena malu dan segan melihat wajah suaminya yang terlihat sedang menahan marah itu. "Maaf," sambungnya lirih.


"Memang apa salahmu, Canim?" Tanya suaminya menatap istrinya datar dan ingin tahu.


"Itu…" Ucapnya tergagap, menatap suaminya polos karena bingung mau menjawab apa.


"Itu apa, ngomong yang jelas Canim," pinta suaminya tegas dan lembut.


"Apa yang terjadi?" Tanyanya mengalihkan pertanyaan, sambil menatap suaminya dengan wajah membujuk, menggenggam dan meremas tangan suaminya lembut dan menunjukkan ekspresi puppy eyesnya.


Wyatt menghembus napas lembut."Jangan mengalihlan omongan, Canim," ucapnya datar.