Golden Bride

Golden Bride
Pillow Talk, For the First Time



Tiara terdiam seketika mendengarnya, lalu mengangguk yakin.


"Bisa kan menarik tuntutannya," ujarnya terbata masih berada dalam pelukkan Wyatt.


"Tergantung," sahutnya datar.


"Maksudnya?"


"Bisa ditarik tuntutannya, dengan membuat surat perjanjian dan pernyataan dengan matrai serta disaksikan kedua belah pihak pengacara, baik dari pihak kita maupun pihaknya. Bahwa setelah dibebaskan, jika dia masih tetap menganggu dan mencelakaimu ataupun Tasya maupun orang-orang terdekatnya. Maka Tasya berhak menggugatnya kembali tanpa ada keringan." Tuturnya tegas.


Tiara berpikir lagi, apa keputusannya ini benar. Ia takut juga sih kalau ternyata Bella nanti tetap berusaha menyakiti Tasya. Walaupun sering ribut Tapi melihatnya terpuruk di penjara dengan hati sakit, membuatnya kasihan.


"Kamu udah ngomong masalah ini pada Tasya?" melepaskan pelukkannya dan menatap manik istrinya.


"Iya," mengangguk kepala.


"Lalu?"


"Awalnya Tasya keberatan tapi setelahku jelaskan dan membuat hatinya tergerak, dia menyetujui usulku." Ujarnya tenang. "Mau yah menarik tuntutannya?" menatap suaminya penuh harap dan manja, tanpa sadar mengeluarkan sifat manjanya.


Wyatt menatap dalam manik Tiara dengan intens, yang menatapnya memohon penuh harap. Tersenyum senang istrinya sudah mulai bersikap manja padanya, walaupun ia tahu sikapnya itu hanya spontanitasnya saja. Menghela napas pelan, istrinya ini terlalu baik terhadap orang yang mencelakainya. 


"Baiklah, jika dia mau menanda tangani surat perjanjian dan pernyataan itu." Jawabnya mengalah, tersenyum senang melihat senyuman manis dari istrinya.


"Makasih," ucapnya tulus dan bahagia.


"Ngomong-ngomong, kenapa harus manggil Bunda, kenapa gak panggilan lain, seperti Mami, Mama ataupun panggilan lainnya." Sambungnya mengalihkan omongan, kalau tetap membahas Bella, ia takut, suaminya akan berubah pikiran, dan merubah keputusannya, walaupun ia yakin, suaminya itu bisa dipegang omongannya.


Wyatt tahu istrinya mengalihkan pembicaraan, hanya mengikuti keinginannya itu. Ia menarik lagi istrinya ke dalam pelukkannya, dan menyukai rasanya. Ada ketenangan, kebahagian dan ingin melindungi saat memeluknya, bercampur aduk rasa dihatinya untuk istri barunya itu, dan ternyata dirinya menikmati, malah mulai sangat menyukainya. 


"Karena suka aja ketika mendengar orang-orang memanggil Bunda." Jawabnya santai. "Mami orang Aceh, walaupun kami dibesarkan bukan di negara Indonesia, tapi Mami tak pernah lupa mengajarkan anak-anaknya untuk memahami budayanya, keanekaragamannya, ajarannya, adat istiadatnya, dan bahasanya," terang Wyatt mengingat masa kecilnya dulu. "Di rumah, kami wajib ngomong pakai bahasa Indonesia, kadang juga diajarkan bahasa Aceh tapi tak ada satupun yang bisa diantara anak-anaknya. Bahkan menantunya juga harus belajar bahasa Indonesia, jika ingin menjadi bagian dari keluarga."


Mengangguk kepala paham, walaupun ia belum sama sekali bertemu, hanya dari video call saja. "Kakak tinggal di Turki kan?" 


"Bisa dibilang begitu."


"Kenapa?"


"Kami tinggal dipulau sendiri, tapi masih dalam naungan Turki. Pulau itu bernama Ettar, 3 jam lagi dari Ibukota Turki menaiki kapal peri. Tempatnya sangat indah dan bebas polusi udara. Karena sedikit sekali warga setempat yang memiliki mobil, sebagai pengganti transportasi ada kereta kuda dan sepeda. Kita bisa nikmati berjalan-jalan dengan pemandangan rumah-rumah pedesaan yang kebanyaan terbuat dari kayu, mengunjungi restoran ikan lokal yang luar biasa nikmat, atau bersepeda dan berpiknik di bawah pohon pinus di sepanjang pantai. Mata pencarian penduduk kebanyakan sebagai nelayan, peternak dan petani anggur. Penduduknya juga tak banyak, karena itu pulau kecil." Jelasnya bangga terhadap pulaunya.


"Pulau itu pasti milik keluarga turun temurun kan?"


"Iya, kamu benar."


"Bukannya susah kalau harus ke Ibukota kalau ada hal mendesak, seperti jika kita sakit dan harus dioperasi."


"Haha," tertawa mendengar omongan istrinya. "Jangan dipikirkan, pulau kecil tapi masih terpencil. Tidak, pulau Ettar ini telah sangat berkembang mengikuti jaman tapi tak pernah mengubah struktur dan bangunan yang telah diwariskan dari leluhur sebelum kami. Rumah sakit peralatannya maju dan lengkap, dokternya juga sudah mempunyai banyak pengalaman. Sekolah juga sistem pendidikannya juga sudah maju, mengikuti kurikulum Turki. Terdapat  beberapa cafe modern  tapi tetap menawarkan makanan khas asli kami, sebagai menu utamanya. Ada juga landasan pesawat terbang dan helipad," terangnya dengan perasaan rindu kampung halaman. 


"Nanti kita tinggal di sana, Kak?" tanyanya ragu dan ingin tau.


"Tidak, saat berlibur aja."


"Kenapa?" 


"Jadi siapa yang tinggal di pulau?"


"Daddy sama Mami, Mami lebih suka tinggal di sana, karena cuacanya segar, serasa kembali ke kampung halamannya di Aceh."


"Kakak pernah berkunjung ke kampung halaman Mami di Aceh?"


"Dulu pernah, saat berumur 10 tahun, setelah itu tak pernah lagi. Karena pernikahan Mami sama Daddy dulu tak mendapat restu dari Bunya Mami, sehingga hubungan mereka renggang." Mengelus rambut Istrinya yang lembut dan menatapnya. "Nanti kamu berhijab yah, Kakak gak rela ada pria lain yang menikamati keindahan rambutmu ini dan juga tubuhmu." Pintanya tegas dan lembut.


Tiara menatap suaminya, terlihat keharusan dalam kata-katanya, yang wajib dilakukan olehnya. Dengan mengambil napas pelan, ia mengangguk kepala menyutujui keingan suaminya itu.


"Nanti Kakak akan hubungi Audrey, adikku, untuk memilih pakaian dan jilbab yang sesuai dengan stylemu." Ujarnya menyarankan.


"Gak usah Kak, aku bisa minta Tasya yang milih, takutnya pilihan Audrey lain dengan keinginanku." Jawabnya tegas.


"Baik, tapi Kakak ingin, besok pagi pakaian itu sudah ada di sini, bisa?" mengangguk setuju dan bertanya kesanggupan istrinya.


Tiara menelan saliva susah, dan berpikir tak mungkin, mana ada butik pakaian muslim buka subuh dan malam gini masih buka.


"Kamu tenang aja, Style nya Audrey modis, dia juga berjilbab, dan kuminta hubungi Tasya dulu, buat menanyakan gaya style pakaianmu," ucapnya datar. "Yang pasti pakaianmu tidak boleh ada celana jins, ataupun sejenis itu."


"Sekalian aja gamis semua," gerutunya geram.


"Itu ide bagus," sahutnya mengangguk setuju, yang mendapat pelototan geram dari istrinya, lalu tersenyum. "Gak harus gamis kok, asal jangan pakai celana model apapun saja, harus dilapisi luarannya dengan rok." Mencubit pelan pipi istrinya dengan gemas. "Celana itu sebagian besar membentuk tubuhmu, apalagi jins ataupun yang bentuk skinny. Sedangkan Kakak tak rela, ada pria yang menatapmu berpikiran liar melihat lalu membayangkannya diotak kotor mereka. Kamu miliku, jadi hanya diriku yang boleh membayangkan dan melihat serta menikmatinya." Tersenyum menggoda istrinya.


"Mesum dan Posesif banget sih, Kak." cetusnya ketus.


"Wajar kan suami mesum sama istrinya sendiri," cetusnya datar. "Hanya kamu yang bisa mengeluarkan sifat posesif Kakak, terima aja dan nikmati," ujarnya datar yang membuat wajah Tiara semakin menekuk. "Jadi hati-hati dalam memilih pakaian, jangan mengundang ketertarikan dari lawan jenis, kalau gak mau pria itu berakhir di rumah sakit," menatap istrinya serius dan sedikit mengancamnya, agar istrinya bijak dalam memilih pakaian. 


"Ck, pakai aja karung goni kalau gitu," cetusnya ketus tak terima.


"Boleh juga tuh," sahutnya asal dan cuek.


"Ikh, gak mau. Malu tau," rengeknya manja dan tak terima. Semakin geram dan cemberut melihat suaminya tertawa senang atas rengekkannya.


👋Hai Readers👋


🤗Makasih yah udah tetap setia membaca cerita


gw ini🙇 Maaf kalau tak bisa membalas


komen kalian🙏


🤗Monggo diaturi kasih komen, kritik dan


sarannya😉


👏Dont Forget To 👉 👍 👉 rare 👉 vote🙇


😉See you on next👉chapter🤗