Golden Bride

Golden Bride
Rencana Jahat Hevva



Suara orang bertengkar terdengar ditelinganya, ia membuka mata. Melihat ke sekitarnya, ruangan ini, sama seperti dilihatnya, ketika Ciara bertengkar dengan Hevva. Berjalan mendekati asal suara itu, ia terkejut ada Hevva di sana, bertengkar dengan Caira. Menilik dari perut Ciara yang kecil, sepertinya sudah melahirkan, saat ini pasti ia dibawa ke memori Ciara setelah dirinya melahirkan. Tiara berjalan mendekati mereka, memperhatikan obrolan mereka.


“Kenapa, kamu bisa ada di sini?” Tanya Caira heran. “Bukannya kamu dilarang masuk ke negara ini lagi,” menatap Hevva tajam, yang menyamar dengan menggunakan seragam pelayan. Mereka berdua berdiri dan saling menatap tajam.


“Asal gak ketauan oleh tua Bangka itu, gak masalah kalau aku kembali ke tempat dimanaku dilahirkan.” Sahutnya angkuh.


“Gak mungkin, mertuanya pasti akan tau, kalau kamu kembali,” ujarnya penasaran.


“Mungkin lah, jika kekasihku yang menolongku untuk kembali lagi,” sahutnya angkuh dan tersenyum licik.


“Apa maksudmu?”tanyanya heran. Kekasih, siapa? Siapa yang mempunyai kekuasaan yang bisa meloloskannya masuk ke Negara ini lagi, pikirnya penasaran. Lalu matanya mendelik tak percaya. Tak mungkin, tak mungkin, pikirnya kalut.


”Dilihat dari wajah bodohmu itu, kamu bisa menebak sendiri siapa yang menolongku.”


“Gak mungkin!” bentaknya tak percaya.


“Bohong,”


“Terserah,” mengangkat bahu. “Yang penting, sekarang aku sudah kembali, dan akan mengambil posisiku yang telah kamu ambil.” Sambungnya mengancam ddan mendekati Caira.


Caira diam dan tak bergerak, ketika Hevva mendekatinya. Ia ingin mengetahui apa yang akan dilakukannya. “Ck, ternyata kamu masih hidup dalam mimpi, kasihan gak pernah sadar akan posisimu sekarang.” Decaknya menghina. Melihat raut wajah Hevva yang marah, ia masih bersikap tenang. Menunggu apa yang akan dilakukannya, ia bukan wanita penakut lagi, yang akan diam jika ada orang yang menyakitinya, atau merebut kebahagiannya. Ada kebahagiaan ketiga anaknya, yang harus diperjuangkannya.


“Lama tak bertemu, mulutmu semakin tajam saja,” hinanya, berdiri sejengkal dari Caira. “Dengar Caira, sayang. Mimpi itu sebentar lagi akan menjadi kenyataan. Tak akan nada lagi Nyoya Caira Akay Cananllke hundaverdillker, di masion ini,” menyeringai licik. “Akan diganti oleh Hevva Dilce Yildizzel hundaverdillker.” Sambungnya angkuh dan percaya diri.


“Hahaha,” Caira terbahak mendengarnya.


“Bangunlah dari mimpimu itu, sekarang bukan waktunya untukmu tidur dan bermimpi, masing siang begini,”sambungnya menghina dan menyindirnya.


“Kamu!” bentaknya marah, lalu mencengkram rahang Caira.


Tiara mendekati mereka, mencoba menarik Hevva, lagi-lagi hanya menyentuh bayangan, membuatnya geram. Seakan dirinya lupa kalau sedang berada di memori Caira.


“Lepas!” Perintahnya marah lalu menghentak tangan Hevva dari rahangnya. Dan mendorongnya menjauh, menyebabkannya jatuh dan terduduk.


“Beraninya kamu!” serunya marah dan tak percaya kalau Caira akan melawannya. Ia berdiri dan mendekati Caira dengan mata penuh dendam.


“Untuk apa kutakut padamu,” ujarnya menantang, bersiap menghadapi serangan Hevva. “Kamu bukan siapa-siapa di sini, begitupun juga keluargamu. Kalau kumau, kubisa bertindak tegas yang harus kulakukan dari dulu, untuk menyingkirkan pengganggu rumah tanggaku.”


“Seakan berani saja,” tantangnya dan sekarang berdiri sejekal dengan Caira lagi.


“Kamu lupa siapa keluargaku,” sahutnya santai, tanpa bermaksud sombong. “Tanpa bantuan mertuaku saja, keluargaku dengan senang hati menuruti keinginanku, jika kukatakan pada mereka untuk menyingkirkanmu.” Sambungnya mengancam. Ini harus dilakukkannya, untuk menyadarkan Hevva untuk tak menganggu rumah tangganya lagi.


“Diam!” bentaknya marah, lalu mencengkram rahang Caira lagi.


“Ck,” decaknya marah lalu mennghentak Ciara ke belakang.


Caira terkejut, menoleh ke samping. Dan kepalanya terbentur dinding. “Kamu!” serunya tak percaya. Merasakan caira merah dari keningnya, menempelkan tangannya, lalu melihat tangannya berdarah. Menghela napas pendek, pasti darah ini dari keningnya.


“Gak perlu diingatkan siapa keluargamu,” serunya geram, mendekati Caira. “Kugak peduli, ada kekasihku yang berada di belakangku, yang akan selalu menolongku.” Menatap angkuh dan tersenyum miring. “Tidakkah kamu tau, siapa pria itu?”


Caira memucat mendengarnya, sulit untuk mempercayainya. “Ternyata kamu jadi simpanan bangsawan tua yah, kasihan,” sindirnya, menolak pikirannya yang mengatakan kalau yang dimaksud Hevva itu, suaminya.


“Caira, Caira.” Decaknya tersenyum. “Tolaklah terus apa yang gak bisa kamu dterima itu, karena kenyataan itulah terjadi.” Sambungnya tersenyum senang, melihat wajah Caira yang memucat, berusaha menolak kenyataan yang dikatakan Hevva.


“Bohong!”serunya dingin.


“Kamu pikir, siapa yang bisa membawaku masuk kemari dengan mudah, kalau bukan suamimu tercinta,” ujarnya dengan menekan setiap katanya dengan tegas.


“Gak mungkin!” bentaknya tajam.


“Terserah, itulah kenyataan yang harus kamu ketaui.” Berputar-putar, merentangkan tangannya. "Gak lama lagi, semua ini akan menjadi milikku. Statusmu, suamimu, maupun ketiga anakmu itu.” Menoleh menatap Caira tajam dan dingin. “Satu lagi, kalung yang kamu pakai itu,” sambungnya menunjukan kalung yang sangat diinginkannya itu. Karena kalung itu hanya ada satu didunia, sengaja dibuat si tua Bangka itu, untuk menantu kesayangannya, Caira. Ia begitu benci melihat kehidupan Caira yang mempunyai segala, baik pendidikan, status, keluarga yang berpengaruh. Maka nya ia begitu terobsesi memiliki semua yang dimiliki Caira.


“Bermimpi lah sesukamu, karena selamaku hidup, itu tak akan pernah terjadi,” uajrnya tegas dan dingin.


“Jangan kuatir, mimpi itu akan segera terjadi,” mendekati Caira dengan mengancam, “Memang penghalangnya, harus segera disingkirkan agar mimpiku menjadi kenyataan.”


Caira terteguk, tahu maksud omongan Hevva, ia melihat aura berbeda dari Hevva. Mendekatinya dengan mengancam dan hawa membunuh. “Coba saja, walaupun penghalang itu kamu singkirkan, mimpimu itu tak akan pernah terjadi,” serunya tegas dengan menekankan kata tak akan pernah terjadi. 


“Masih saja angkuh, diakhir hidupmu ini,” menatap Caira dingin dan mengancam.


“Hevva, Hevva.  Emang kamu Tuhan, bisa tau kapan akhir hidupku,” decaknya menghina.


“Tentu saja, karena aku yang akan menjadi malaikat mautmu,” menatap penuh dendam, lau menusuk Caira.


"Kamu gila, kalau memang kumeninggal, berarti emang sudah waktuku. Tapi jika belum, ribuan kalipun kamu mencoba membunuhku, kutetap akan hidup." Ujarnya tenang.


Tiara yang mengikuti obrolan mereka, menjadi waspada,  dengan tingkah laku, Hevva yang mencurigakan. Melihat Hevva yang mengeluarkan pisau dari saku dalam bajunya, mencoba menghentikannya, Tanpa disadarinya, berada di tengah-tengah keduanya. Terkejut saat bayangan pisau melewati perutnya, menaruh tangan diperutnya, takut jika terluka. Ia menoleh ke belakangnya, mendengar Caira berteriak kesakitan. 


“Akh!” teriak Caira kesakitan dan tercengang, dan mendorong Hevva dengan kuat, menyebabkan terjatuh. Ia melihat darah ditangannya, yang berasal dari perutnya. “Kamu gila!” ia berdoa kalau tusukan itu tak melukai janin yang ada diperutnya. Tak ada yang tahu kalau diirnya telah hamil 3 bulan, kecuali Saida, pelayan setianya. Ia harus melarikan diri dari situasi ini, demi bayi dalam kandungannya.


“Ada pesaan terakhir untuk suami dan anak-anakmu tercinta,” tersenyum miring mengancam, lalu mendekati Caira.


Caira dengan rasa sakit menghindari Hevva yang mendekatinya. “Pelayan! Pengawal!” teriaknya memanggil.