
“Biasa aja, Beb. Malu ikh lihatnya,” protes Sarah manja dan kesal.
“Emang ada yang mau dengan lo, Ra.” Cibir Bella menghina.
”Wuih, jangan salah lo Yem,” sela Keysa lebih dulu, sebelum Tiara ngomong. “Keysa gak perlu mempermak dirinya sendiri agar disukai oleh banyak pria, karena dengan sendirian mereka akan mendekat tanpa perlu dipancing. Gak kayak lo, harus diobral dulu baru laku.” Sambungnya tajam dan menghina. “Dan apa mata lo buta yah, disebelahnya itu tunangannya.”
“Lo!” tunjuknya marah mendengar hinaan Keysa.
“Udah bel, gak usah diladeni orang kayak gitu, dia iri dengan lo.” Saran Sarah ikut mengejek Keysa.
“Hei,” serunya geram dan bermaksud mendekati Sarah tapi tangannya sudah dipegang Tiara, mendapat tepukkan untuk memintanya bersabar. Mengambil napas panjang dan menghelanya. “Hello, gak salah tuh iri dengannya, emang teman lo itu siapa, Kendall Jenner atau Gigi Hadid. Coba lo tanya deh sama sebagian orang-orang di sini, gue rasa mereka banyak pada gak kenal sama teman lo itu." Menatap Sarah sinis. "Sorry sis, kalau harus buat lo kecewa, ama mereka yang udah terkenal aja gak ngiri apalagi ama Iyem, baru merangkak naik kayak gue. Gue lebih bahagia hidup gini daripada kayak teman lo itu, segala cara dilakukan biar terkenal.”
“Apa maksud lo itu?” Tanya Sarah tak terima Bella direndahkan.
“Jangan pura-pura gak tau deh, lo kan teman dekatnya. Pasti tau lah, tingkah rendahan teman lo ini.” jawabnya santai dan cuek. “Apa jangan-jangan lo sama aja dengan nya,” menatap Sarah curiga. "Lo dikasih apa ama cewek lo ini, kayaknya gue lihat bucin banget. Aduh mata lo buta yah, jangan-jangan karena dia udah lo cicip dan enak, buat lo ketagihan." menatap Alvin yang wajahnya memerah. "Dengar yah, gue nasehati. Kalau cari wanita buat senang-senang, boleh lah kayak mereka tapi kalau buat dijadikan istri, wanita yang akan menemani lo saat susah dan menerima apa adanya, gue lihat gak ada dalam diri cewek lo. Maka nya sebelum nyesal diakhirnya, lebih baik mikir-mikir dulu deh kalau mau menjadikan dia istri. Gue lihat cewek lo gak bisa hidup susah, ati-ati loh, akan ditinggalinya kalau gak bisa mencukupi kebutuhannya yang serba mahal." Sambungnya menasehati dengan datar, tanpa memperdulikan yang dibicarakan merasa tersinggung dan marah.
“Lo!” bentak Sarah marah.
“Udah Beb, malu dilihat orang. Nanti jadi bahan gosip lagi,” sela Alvin menenangkan dengan wajah memerah, menahan marah, karena wanita ini seenaknya menasehatinya.
“Tapi gue gak terima, Beb.” protesya manja. "Jangan dengeri omongannya yah, gue gak akan ninggali lo kok seperti apa yang dikatakan wanita culas ini," sambungnya menyakinkan Alvin, sambil menatap Keysa marah
“Udah yah, gak usah didengari omongan dia, dia iri aja sama kita. Anggap saja omongan dia hanya angin lewat, Beb.” Serunya lembut, membawa Sarah dalam pelukkannya.
"Ck," decaknya menghina.
“Lo benar udah tunangan, Ra. kok gue gak ddikasih tau,” ujarnya lebih ke pernyataan dan ingin tahu.
“En, itu,” menatap mata Alvin, sekilas melhat raut terluka dimatanya. Ia mencoba menyelam hatinya, mencari rasa berdebar-debar dihatinya ketika menatap mata Alvin, tapi tak ditemukannya. Bingung kenapa bisa begini cepat hatinya berubah, apa benar kalau dirinya tak menyukai Alvin.
“Nanti pas kami menikah, anda baru kami undang,” jawab Wyatt datar dan sopan.
“Apa?!” seru Bella, Sarah dan Alvin bersamaan dengan terkejut.
“Ck, lebay,” decak Keysa menyindir mereka.
“Anda ngomong sama saya,” seru Wyatt datar dan cuek, tak menggrubis omongan wanita didepannya.
“Tunangan lo belagu, Ra. lo nemu di mana, kayaknya menang tampang doank.” Cibirnya menghina, menatap dari atas ke bawah.
“Emang urusan dengan lo apa, Bel. Yang penting gue gak merebut milik wanita lain,” jawanya cuek dan menyindir. Kagak tahu aja, si Bella ini, Wyatt itu orangnya gimana. Ngomong sembarang lagi, bisa habis karirnya dalam sekejap.
“Apa maskud lo ngomong gitu,” desis Bella tersinggung.
“Ck, pikir aja sendiri,” decaknya cuek. “Lo jangan khawatir, Vin. Nanti lo gue undang kalau kami nikah.” Menatap Alvin datar, melihat tatapan sedih dan terluka dimatanya. Ia heran kenapa bisa Alvin menatapnya begitu, seakan tak rela melihatnya menikah dengan pria lain.
"Iyem, iyem. Kenapa lo iri Tiara biasa gaet pria setampan ini buat jadi calon suaminya. Bukan kayak lo, sebanyak apapun lo berhubungan dengan pria diluar sana, satupun belum ada yang lo gembir-gemborkan sebagai tunangan lo." Menatap Bella dengan menyeringai sinis. "Maka nya, cari pria tuh yang benar, jangan suka comot pasangan wanita lain, biar lo bisa kayak Tiara, mendapat pria yang tulus mencintainya. Kasihan sekali hidup lo, Yem. Kalau hidup lo seperti ini terus."
"Diam lo!" Bentak nya marah, sambil menunjuk-nujuk Keysa dengan wajah merah menahan marah.
"Weits, apa ini pakai nunjuk-nujuk segala," menepis telunjuk Bella datar. "Selow aja kali, kalau omongan gue salah, yah gak usah lo dengarin."
"Udah yah Key, Please." Lerai Tiara lembut, sambil menepuk tangan Keysa. Drrt…Drtt.. Bunyi getar dari ponselnya, mengalihkan pandangan dari Alvin, mengambil ponselnya dan mengangkatnya. “Ya, Sya…. Oke kami masuk sekarang.”.
“Udah mau dimulai, Ra,” seru Keysa bertanya, setelah menetralkan emosinya.
“Iya, calonnya udah datang.” Menatap Bella yang tersenyum licik. “Kenapa lo senang begitu, pasti ada yang lo rencanain.” Sambungnya yakin dan menatap curiga.
“Curigaan mulu lo orangnya,” menatap Tiara tersinggung lalu menatap Keysa dengan tatapan bermusuhan. Hatinya masih tak terima udah dihina oleh Keysa. Tapi daripada dipermalukan lagi, lebih baik ditahan dulu, cari waktu yang tepat buat membalas Keysa. Emang dia siapa, songong banget, lama tak bertemu malah buat Keysa semakin besar kepala. Akan gue buat karirnya hancur karena berani mempermalukan dirinya, janjinya dalam hati.
“Kita ini udah kenal lama, Bel. Dan tau lah semua sifat busuk lo, percuma aja lo nyembunyikannya dari gue.” Ujarnya datar. “Satu saran dari gue, jangan bahagia diatas penderitaan orang lain, karena kita gak akan tau, kalau derita orang lain, suatu saat nanti akan terjadi pada kita juga.” Sambungnya dingin.
“Lo ngancem gue,” seru Bella meninggi tak terima.
“Buang waktu aja ngomong ama lo,” sindirnya sinis. “Ayo kita nemui Tasya, daripada disini, bikin esmosi aja.” Ajaknya semangat, tanpa menggrubis Bella yang menahan amarah. Menatap Alvin yang wajahnya terlihat sedih dan terluka, melihat sikapnya yang cuek. Ia hanya tersenyum sopan padanya, sebelum mengalihkan wajahnya pada Keysa. Tanpa menhidaukan tatapan Wyatt yang marah padanya
“Ayo, gue juga serasa makin tua, lama-lama ngobrol dengan si Iyem ini.” Langsung cabut ketika melihat Bella dan Sarah yang seakan ingin menerkamnya.