
Tiba-tiba video itu dimatikan oleh Bram, ruangan yang tadi penuh bisakan dan umpatan, menjadi hening. Seakan menunggu drama apa yang akan terjadi nanti. Ia maju mendekati Roy yang memucat dan memerah wajahnya. Bisik-bisik suara mengejek, menghina terdengar dalam ruangan itu.
Bugh…Bugh. Bram maju mendekati Roy dan memukul wajahnya, seakan belum puas, Roy jatuh masih tetap ia memukulnya. Orang-orang panik, melihat Bram yang mengamuk, tapi tidak ada yang bisa mereka lakukan, selain sebagai penonton. Keluarga dari kedua belah pihak mencoba menghentikannya.
“Bram hentikan, jangan buat Om malu!” hardik Daddy Tasya.
“Bajingan ini harus dikasih pelajaran, gak ada otak. Harusnya Om bersyukur, belangnya ketauan sekarang, sebelum mereka menikah nanti.” Tolaknya geram, sambil beberapa orang memegangnya, takut ia memukul Roy lagi, yang sudah babak belur. “Lo kalau gak suka sama Tasya dari awal ngomong, cemen benar. Gak mikir apa, ibu lo wanita juga, gimana kalau yang lo lakukan terjadi ini padanya, sakit pastinya. Lepas!” meminta pada kedua sepupunya yang sedang memegangnya. "Lepas, gue gak akan memukulnya lagi,” janjinya pada keduanya.
Dengan berat hati mereka melepaskan pegangannya, tapi tetap waspada apa yang akan dilakukan oleh Bram.
“Sudah, Bram. Jangan emosi, kita selesaikan baik-baik,” saran Fendi, sepupunya.
“Gimana bisa gak bisa emosinya, rasanya ingin gue bunuh bajingan ini.” Menatap Roy yang babak belur dengan tajam. “Dari awal dia sudah gue peringatkan, jangan main-main dengan hubungan mereka tapi omongan gue hanya diagap remeh olehnya,” melangkah maju tapi kedua sepupunya menahannya. “Tenang aja, gak akan mengotori tangan gue lagi, gara-gara bajingan ini.” Sambungya dingin.
“Bang.” Panggil Tasya mendekatinya, sambil mengelus tangannya untuk memintanya sabar.
“Lo lihat adik gue ini, apa kurangnya.” Menunjuk pada Tasya. “Cantik, seksi, malah dia lebih dari selingkuhan lo ini. Pintar, bisa masak, dan bisa jaga harga diri.” Lalu ia menatap Bella yang wajahnya memucat dan malu. “Dan lo,” menunjuk Bella dingin. “Seingat gue, lo itu dulu teman SMA Tasya kan, cewek yang selalu mengambil cowok dan gebetannya. Sekarang lo mengambil tunangan Tasya juga.” Menatap Bella dengan tatapan menghina. “Roy, Roy. Wanita seperti ini yang lo pilih jadi selingkuhan lo. Elit dikit donk, cari lah yang melebihi Tasya, dia ini seujung kukupun, gak ada yang menyamai adik gue. Selain murahan apalagi yang bisa dibanggakannya. Otak gak ada, apalagi harga diri, yang bisa diandalkannya hanya tubuhnya saja yang bisa dicicipi oleh banyak pria. Lo kok mau bangetnya yah mendapat bekasan dari pada original. Kasihan hidup lo, membuang berlian, hanya untuk sebuah kerikil.”
“Jaga mulutmu, Nak.” Hardik Irwan, Daddy Bella marah, karena anak kesayanganya dihina.
“Kenapa Om harus marah, memang kenyataannya begitu. Lihat anak kesayangan Om ini, dia berani menjadi selingkuhan tunangan temannya. Gue rasa dijuga pasti berani menjual tubuhnya untuk mendapat job modelnya, biar bisa lebih terkenal.” Menatap Bella dingin dan menghinanya.
“Hentikan Bram.” Tegur Daddynya Tasya lagi.
“Diam lo,” desis Erick marah.
“Nah Om, lihat sendiri kan calon mantu kesayangan Om ini.” Menatap Daddy Tasya datar. “Dia laki-laki yang selalu Om bangga kan, sekarang malah melempar kotoran diwajah Om sendiri.”
“Anak tak tau diri, kenapa kamu harus mempermalukan Daddy seperti ini,” Bentak Daddy Tasya kepadanya.
“Maaf, Dad.” Ucap Tasya datar.
“Ck, sudah jelas Roy yang salah.” Protesnya geram. “Kenapa Om malah menyalahkan Tasya. Harusnya Om bersyukur, ditunjukan belang asli mereka, sebelum menikah. Kalau sudah menikah, gue yakin, harta Om akan diambil oleh calon menantu Om itu. Secara dia menuruti perjodohan ini kan demi harta keluarganya, lambat laun, gue yakin harta keluarga Om juga akan menjadi miliknya.” Sambungnya tajam, tanpa menggrubis tatapan marah dari Om nya.
“Bram, tahan emosi lo,” pinta Januar, sepupunya. Melihat wajah Om nya yang akan meledak, kalau Bram terus memancingnya, takutnya berimbas pada Tasya. “Lebih baik kita bubarkan saja acara ini, semakin lama dibiarkan , keluarga kita semakin malu.”
“Nanti dulu, gue belum puas dengan mereka berdua.” Tolaknya tegas.
“Udahlah, gak baik ngotori hati lo gara-gara mereka. Gue yakin, mereka pasti mendapat balasannya. Mereka pasti menjadi buah bibir para undangan ini, dan gak lama pasti udah viral dimedsos.” Ujar Fendi menasehatinya.
Mereka menatap para undangannya yang seakan menikmati drama yang mereka tampilkan sambil berbisik-bisik, dan pasti tanpa mereka ketahui, yang terjadi sekarang, ada sebagian undangan, yang mengabdikan diponsel mereka, dan mempostingnya di Medsos mereka.
“Biarlah hukuman sosial dari masyarakat yang akan membalasnya, Bram.” Saran Januar. “Sekarang tahan emosi lo.”
“Lo berdua, mulai sekarang jangan menunjukan wajah busuk kalian pada kami, jijik gue lihatnya.” Menunjukan Roy dan Bella. “Dan lo,” menatap Bella tajam. “Gue kasihan dengan hidup lo. Kenapa rasa iri terus menggerogoti hati lo, semua yang Tasya punya selalu lo ambil. Kurang bersyukur banget sih hidup lo, atas apa yang telah lo dapat.” Menatap Bella menghina. “Puas sekarang mendapat bekasan Tasya, apa lo yakin, keluarga Roy akan menerima kotoran yang dilemparkan anaknya pada mereka. Coba lo lihat kedua orang tuanya, apa mereka senang menerima lo sebagai menantunya.” Cibirnya sengit, sambil menatap keluarga Roy yang menatap marah pada Bella. “Kayaknya hanya mimpi lo aja, gue yakin. Mereka sekarang pasti ingin menghabisi anak mereka sendiri. Gue yakin juga, setelah ini, Roy akan meninggalkan lo. Karena apa, dia bukan siapa-siapa tanpa keluarganya.” Sambungnya tegas sambil menekan kata terakhir yang diucapkannya.