Golden Bride

Golden Bride
Uneg-Uneg Tiara



"Kamu!.., membentak saya," tuduhnya marah.


"Ibu, daritadi saya ngomongnya sopan dan baim-baik, gak ada bentak-bentakan. Malah saya loh yang sendari tadi dibentak." ujarnya sabar dengan menyindir secara halus.


"Saya heran, kenapa bisa Bram memasukkan orang tidak berguna didevisi saya, hanya bisa bergosip dan kerjaan tidak becus." sindirnya sinis yang masih bersikap tenang. "Saya kasihan sama orang tua kamu, sudah menguliahkanmu tinggi-tinggi, tapi saya tidak melihat hasilnya."


"Apa nominalnya saya ganti lagi dengan kesepakatan awal, Ibu." ujar Tiara tenang, mengalihkan omongan. Menahan emosinya dan tak memperdulikan sindiran Ibu Murni, ia merasa tersinggung sekali, omongannya barusan, tapi langsung sadar, kalau diladeni, urusannya malah tambah lebar, tak berkesudahan nantinya.


"Ck..," decaknya sinis. "Kamu konfirmasi lagi dengan ketua tim devisimu, kalau kerjaanmu masih tidak becus, saya bisa memberimu SP 1," Sambungnya dengan mengancam.


Mengambil napas pelan, sambil menenangkan hatinya. "Baik Bu, saya permisi," ujarnya undur diri. berjalan mendekati pintu, berhenti sebentar dan berbalik.


"Ada apa lagi?" Tanya Bu Murni tak suka.


"Boleh izin mengatakan pendapat, saya gak tahu, ada kesalahan apa sama Ibu, setiap kerjaan selalu salah terus. Dari awal masuk setahun yang lalu, Ibu selalu mencari-cari kesalahan saya." Tudingnya tenang tanpa terintimidasi dengan kemarah Ibu Murni yang terlihat dari raut wajahnya yang memerah.


"Kamu!!..."


"Seharusnya sebagai atasan, Ibu harus bersikap profesional. Kalau Ibu merasa saya punya salah, harusnya dibicarakan dengan sejujurnya letak kesalahan itu, bukan malah mencari-cari kesalahan dan menyebut orang tua saya segala. Saya diam selama ini, bukan karena takut dipecat, hanya saja tidak mau menambah kebencian dihati Ibu. Kalau mau, bisa saja melaporkan sikap Ibu yang tidak profesional pada Boss Bram, atas sikap otoriter pada saya maupun rekan-rekan lainnya, yang sudah memberi lembur diluar nalar dan selalu dijadikan tumbal kesalahan atas pekerjaan yang tidak kami lakukan."


"Kamu berani juga mengancam," desis nya sengit. "Haha.., baru anak kemarin sore berani mengancam saya." Tantangnya dingin.


"Maaf, saya tidak mengancam. Hanya menyeruakan uneg-uneg yang dihati, dan soal orang tua, mereka tentu saja tidak tahu permasalahan ini, jadi saya mohon, jangan bawa-bawa orang tua segala pada setiap omongan Ibu kepada saya." Ujarnya dengan tegas dan tenang. "Ibu tidak capek, setiap orang yang tak bersalah, selalu disalahkan. Hati Ibu gak capek, terus memumpuk rasa iri dan benci pada saya."


"Haha...Kamu pikir saya iri padamu, mimpi kamu." Elaknya dingin.


"Tapi kenyataan yang dlihat begitu, kalau diamati dengan seksama, Ibu terlihat tidak suka saya berada diantara Boss Bram dan Tasya. Kami sudah saling mengenal jauh sebelum Ibu bekerja di perusahan ini, jadi kenapa Ibu benci melihat kedekatan kami, seolah-olah saya bekerja ini hanya berleha-leha saja, terus makan gaji buta."


"Omongan kamu sudah melantur jauh," elaknya sambil bersidekap.


"Karena Ibu yang mulai, bisa kah kita bersikap profesional untuk selanjutnya, memisahkan urusan pribadi dan pekerjaan. Kasihan rekan-rekan kerja yang lain, harus terkena imbas kebencian Ibu pada saya," pintanya tulus. "Maafkan kejujuran saya barusan, kalau membuat Ibu tersinggung, permisi," sambungnya undur diri dan meninggalkan kantor atasannya. tanpa menggrubis umpatan-umpatan untuknya. Di depan pintu, ia menghelus dadanya, menetralkan emosinya sebelum kembali ke kubikelnya.


******


Deringan ponselnya, mengembalikan ingatannya ke dunia nyata. Mengambil napas panjang dan menghelanya sebelum menjawab panggilan telepon dari Tasya.


"Lo di mana?" Tanya Tasya


"Gue di tempat biasa,"


"Ngapain?"


"Gue dengar tadi, lo dipanggil ke kantornya oleh Nek lampir, sekarang apalagi kesalahan lo," ujar Tasya geram. "Dia ngomel-ngomel lagi sama lo," sambungnya tak terima.


"Biasa laporan gue ada yang salah," jawabnya santai.


"Sekarang lo salah apalagi, Ra," ujarnya geram dan penasaran.


"Nanti aja cerita ya, gue mau cabut dulu." Sela nya cepat.


"Oke deh, gue tunggu cerita lengkapnya," sahut Tasya mengalah. "Ati-ati dijalan, Ra."


"Iya." Mematikan ponselnya lalu berdiri. Membayar cakes dan strawberry ice float nya.


******


Ketika di parkiran, ia bertemu dengan Alvin dan kekasihnya. Menoleh kanan kiri, mencari tempat sembunyi. merasakan sesak dihatinya melihat Alvin yang merangkul kekasihnya mesra. Mendesah lelah dengan semua yang terjadi hari ini, menenangkan gejolak rasa cemburu dihatinya. terkekeh dalam hati, ia tak punya hak untuk cemburu akan kemesraan mereka, emang dirinya siapa. Lo cuma sekedar sahabat, jadi tak berhak untuk mempunyai perasaan itu.


"Kebetulan ketemu di sini, lo mau balik," ujar Alvin tiba-tiba sudah menegurnya, yang sendari sibuk menyiksa diri sendiri.


"Iya," tersenyum. "Lo mau masuk."


"Iya, mau makan dulu, sebelum mengantar babe kesayangan gue ini pulang." Jawabnya, sambil menatap kekasihnya mesra.


" Ya udah, gue balik dulu ya." Pamitnya sambil melirik jam nya.


"Ya, kok cepat banget sih, Ra. Kita kan jarang ngobrol, masuk dulu lah, ngobrol-ngobrol sebentar," saran Alvin mencegah kepergian Tiara.


"Maaf, Vin," sahutnya menyesal. "Udah mau magrib, gue capek. udah rindu tempat tidur," tolaknya halus dan terkekeh. Tak menggrubis tatapan sinis dari Sarah, kekasih Alvin. Melirik jam nya, seolah-olah sedang terburu-buru. "Lain kali aja, Vin. Gue duluan ya." sambungnya cepat, dan memberikan anggukan kepala pada Sarah, lalu berlalu meninggalkan mereka.


"Awas lo, Ra. Nanti gue WA lg, lo harus mau diajak hang out ama kita," teriaknya penuh janji.


Tiara hanya memberikan tanda ok melalui tangannya, dan berjalan menjauh dari mereka, dengan hati teriris penuh rasa cemburu. Lo harus melupakannya, persahabat kalian yang akan jadi korban kalau sampai mengungkapkan perasaannya pada Alvin, Ra. Jangan menjadi orang ketiga diantara mereka, memaksakan sesuatu yang bukan milik kita, akan terasa sia-sia pada akhirnya, nasehat hatinya menenangkan.


Ia harus bisa melupakan, sebelum perasaaan ini semakin dalam dan bisa membunuhnya. Akan terlihat menyedihkan kalau sampai mengemis cinta pada orang yang sudah mempunyai kekasih, yang menganggapnya hanya sahabat.


Menghembus napas keras, menyalakan diri sendiri, yang terlalu memupuk rasa ini, sehingga seperti mencekik lehernya. Duduk di atas motor honda maticnya, melihat Alvin dan Sandra, saling suap, dan bersenda gurau. Siapa lah dirinya, hanya seorang sahabat, yang berharap suatu hari ketika Alvin akan khilaf mencintainya. Suatu hari yang tak pernah terjadi, ia harus mengapus rasa ini, sebelum Alvin curiga dan mengetahuinya, akan terasa canggung interaksi diantara mereka nanti, kalau sampai Alvin mengetahui perasaannya dan menolaknya.


Dulu, sewaktu SMA. Sering sekali menasehati Tasya untuk move on, yang terus mengganggu mantannya yang sudah punya kekasih, dengan alasan masih sangat mencintainya dan harus memilikinya. Ia berusaha membuka mata Tasya, dan mulai memperkenalkan cowok-cowok lain padanya, sehingga bisa membuat Tasya melupakan mantannya. Sekarang, nasehat dan sarannya untuk cepat move on harus diterapkan sendiri, begitu menggelikan, terkekeh geli dan mulai menghidupkan motornya, meninggalkan area parkir rich cafe.