
"Akhhh!!!" suara teriakan wanita terdengar ketakutan dalam ruangan Tiara di rawat dan menayakan apa yang terjadi. Suara ribut yang bertanya dan ketakutan memenuhi ruangannya, lebih tepatnya di living room, tempat keluarganya berkumpul.
Melihat Istrinya berteriak, Wyatt langsung memeluk dan menenangkannya. "Tenang, gak apa-apa. Jangan takut, ada aku di sini." Mengambil ponselnya dan menghidupkan senter yang diletakkannya di atas meja, agar bisa menerangi kamarnya.
“Ada apa?” bertanya dengan suara bergetar sarat ketakutan, sendari memeluk suaminya erat.
“Ada yang sedang cari bermain-main rupanya,” bisik Wyatt dingin menatap ke gedung seberang tajam, melalui tirai tipis di dalam kamar istrinya. Memeluk dan mengusap punggungnya lembut untuk menenangkannya.
“Sebenarnya apa yang terjadi?” tanyanya ketakutan, tak mendengar bisikkan dingin suaminya. Melihat ruangan yang gelap, hanya disinari oleh lampu dari luar dan bulan yang bersinar terang, ke arah pecahan kaca dan letusan lampu kamarnya.
Bebarapa saat ruangan itu terasa hening, mereka berdua juga sibuk dengan pikiran masing-masing. Tiara merasa ada yang salah, seperti sebuah tembakkan yang memang di arahkan ke kamarnya. Hati dan pikirannya masih merasa ketakutan, memeluk erat Wyatt, walaupun tanpa mengucapkan apapun, hanya sebuah pelukan usapan lembut di punggungnya, membuat dirinya merasa terlindungi dan hatinya mulai agak tenang.
Tiba-tiba Leon masuk, mendekatinya, membawa lampu emergency, bersama beberapa body guardnya, yang langsung bertindak cepat mencari penyebab bunyi ledakan kecil itu berasal. “Wyatt.”
“Ada apa, kenapa lampunya mati semua?” menatap Leon tajam sembari memeluk istrinya. “Hati-hati,” menunjukan pecahan lampu dengan dagunya, ketika asisten dan beberapa body guard masuk menemuinya dan langsung berpencar menyelidiki dari mana tembakan itu berasal.
“Itu..” Jawabnya terputus, saat mendapat kode dari Wyatt untuk tak mengatakannya. “Sepertinya ada konsleting listrik, sehingga menyebabkan lampunya mati.”
“Gak mungkin,” protes Tiara tak percaya. “Gue dengar tadi juga ada suara kaca pecah, dan bolam lampu itu meledak seketika, seakan ada sesuatu yang dilempar dari luar ke dalam,” menatap Leon curiga. “Ini kan lantai 32, bagaimana orang melemparnya,” sambungnya heran dan penasaran.
“Kamu tenang yah, gak usah dipikirkan, kan belum sembuh. Biar semuanya akan kuatasi." Ucap Wyatt lembut, sambil mengusap punggungnya dan mencium kepalanya. Lalu beralihbke Leon. "Sudah di atasi di bagian system keamanannya?” Tanya Wyatt datar. “Suruh mereka berkeliling dan mencari ke depan.” Sambungnya dengan tajam, hanya mereka berdua yang tahu apa yang dibicarakan, sedangkan Tiara menatapnya penasaran.
“Iya, mereka sedang memperbaikinya, mungkin kurang lebih 5 menit lagi, listrik menyala,” jelas Leon.
“Nak, kamu baik-baik aja kan,” Tanya Bunda panik, langsung memeluknya. Setelah ia dan suaminya menenangkan anaknya, Liuda yang punya phobia gelap, dan yang paling histeris saat lampu tiba-tiba mati, mereka sibuk menenangkan Liuda.
“Alhamdulillah, gak apa-apa.” Jawabnya tenaang. “Liuda gimana, Bund?” tanyanya cemas. Karena ia tahu phobia adiknya itu.
“Alhamdulilah, udah mulai tenang. Ada Fezia yang menanganinya dan banyak orang yang menemaninya.” Menepuk-nepuk tangan anaknya. Lalu menatap menantunya. “Bunyi apa tadi sebenarnya,” menatap sekelilingnya, dan matanya ketarik ke arah bolam lampu di atasnya yang tak ada lagi serta terdapat pecahan kaca dan lampu.
"Bunyi bolam lampu meledak pecah," sela Tiara di saat Wyatt dan Leon mau menanggapinya.
"Kenapa bisa begitu?" menatap ingin tahu menantunya, dan menujukan pecahan kaca di depannya." Terus kaca itu kenapa bisa pecah?."
"Tadi ada konsleting listrik, yang membuat bolam lampu pecah, mungkin pas bolam lampu itu meledak, pecahannya mengenai kaca itu," terang Leon tenang.
Splash!.... Seketika lampu yang terdapat di ruangan lain terang, menandakan listrik sudah menyala. Hanya lampu yang berada di kamarnya tetap mati, karena bolam lampunya meledak. Tapi kamarnya masih terang, disinari pencahayaan dari luar.
Seruan lega dan ucapan bersyukur terdengar dalam ruangan Tiara.
Tiara merasa bulu kuduknya berdiri, seakan sedang diawasi. Matanya menatap liar ke sekelilingnya, mencari siapupun yang mengawasi. Tak tahu kenapa matanya seolah selalu ditarik menghadap jendela, seakan ada yang menatapnya, dan itu membuatnya merinding dan diawasi.
Hal ini diperhatikan oleh Wyatt, ia melihat ke arah jendela, memasati ada apa gerangan di sana. Menggenggam tangan istrinya dan mengusapnya lembut.
Karena lampu lainnya sudah hidup, keluarga dan ketiga sahabatnya, berhamburan masuk ke kamarnya.
"Nak," panggil Ayahnya
"Mba," panggil
"Ra," panggil ketiga sahabatnya.
Mereka langsung mengelilingi Tiara, dengan wajah cemas, sekalian ingin tahu bunyi apa yang mereka dengar tadi. Ada yang memeluk, menggengam tangannya dan meremasnya, sehingga genggangan tangan Wyatt dari Tiara terlepas.
Kesempatan ini digunakan Wyatt untuk menjauh dan berjalan ke balkon. Membuka pintu pelan, lalu menghadap ke arah seberang, sebuah gedung apartement. Mata awasnya melihat dua sosok berpakaian hitam yang tak begitu jelas wajahnya. Ia menatap dingin dengan pandangan ingin membunuh. Mengambil ponselnya dan menghubungi body guard yang menjaga di bawahnya.
"Mereka ada di gedung teratas apartement berseberengan dengan ruangan inap istri saya, tangkap mereka sekarang juga!" perintahnya dingin dan tajam. Tanpa menunggu jawaban, menutup ponselnya dan kembali ke dalam.
Wyatt menatap Leon, mengasih kode untuk mengikutinya. Di saat perhatian orang sibuk dengan istrinya, ia berjalan keluar, melihat body guardnya mendekati balkon tempatnya tadi berdiri untuk menyelidikinya.
Merka sudah berada di depan ruangan inap Tiara, dengan 2 orang body guard yang memang diminta mengikutinya.
"Bagaimana?" tanya datar.
"Kami sudah menemukan peluru yang digunakan," menunjukkan sebuah peluruh sako TRG M10 ditangannya. "Mereka berniat sekali untuk membunuh anda tapi aneh kenapa tembakannya meleset." Langsung terdiam melihat tatapan dingin bossnya. "Bukan gitu boss..." sambungnya cepat terputus tangan bossnya yang menyuruhnya diam.
Wyatt mengambil puluru itu dan berpikir kalau ucapan body guardnya itu benar. Pembunuh pembayaran profesional yang handal, tembakannya 100% pasti akan mengenai sasarannya. Firasatnya mengatakan jika peluru ini bukan ditujuhkan padanya melainkan istrinya, membolak balik peluruh itu.
"Keadaaan di rumah sakit ini apa sudah dikendalikan?" tanyanya datar.
"Sudah, tadi sempat terjadi heboh, panik dan ketakutan semua orang yang berada di rumah sakit ini. Tapi kami langsung cepat tanggap mengatasinya." Terang Leon menatap Wyatt yang sedang memegang peluruh itu dengan dikepal, seakan ingin membunuh orang yang ingin menembakinya. "Semua body guard sedang bergerak, menangkap mereka. Ini pasti tidak mudah karena banyak warga sipil di sekitar sini, bertindak gegabah akan mengudang perhatian pihak kepolisian."
"Ngomong-ngomong soal polisi, sudah kamu atasi," ujar Wyatt tegas, bukan bertanya.
Leon mengangguk kepala. "Iya, sudah. Kita meminta mere menutup mulut apanyabg terjadi, biar mereka yang mengatasi pertanyaan ingin tahu orang-orang. Kita akan memberikan kompensasi yang cukup besar atas kerusakan yang besar atas apa yang terjadi."
"Berikan saja berapa pun yang mereka minta, biar mereka menutup mulut." Ujarnya tegas.