
Tiara menatap marah pada Wyatt dengan mulut ember pria itu, menoleh pada Tasya. "Gak ada waktu buat kita ngoborl, lagian kita baru bisa ketemu pas pulang ini lah." Elaknya.
"Tapi tetap aja, lo bisa WA gue." Tandasnya cepat.
"Sorry, Sya. Gue tadi sibuk banget, sampai lupa dengan pristiwa naas siang tadi." Ujarnya lembut, sendari menggenggam tangan Tasya.
Tasya menghela napas. "Lo harus cerita lengkapnya nanti."
"Oke." Mengangguk setuju. "Kita mau ke mana, Sya." Sambungnya mengalihkan omongan.
"Gak jadi, kita pulang." Tolaknya cepat.
"Lo kok, gitu." Protesnya kesal.
"Lo baru hampir celaka, badan aja masih sedikit gemetar. Gue gak tega, ngajal lo nemani gue."
"Gue gak pa-pa kok, lagian bagus juga ngikuti lo, biar bisa lupa tentang kejadian tadi." Bantahnya tenang. "Emang lo mau gue nemani ke mana?"
"Rencananya tadi, mau SPA, ditempat langganan gue." Sahutnya ragu dan berpikir. "Oh yah, malah bagus juga lo ikut gue SPA, biar mengendurkan otot-otot lo yang tegang." Sambungnya bersemangat.
"Lebih baik Tiara langsung pulang," ujar Wyatt dengan nada memerintah.
Dibalas Tasya dengan tatapan menantang, seakan matanya mengatakan lo siapa, berani memerintah kami. "Ayolah, gue bayarin deh. Otot-otot lo kayaknya tegang semua, perlu dikendurkan," bujuknya sambil meremas pundak Tiara, seakan ingin membuktikan omongannya.
"Hmm…"
"Tiara akan langsung pulang," perintah Wyatt lagi, yang tak digrubis oleh kedua wanita itu.
"Di sana nanti ada body massage,kita juga bisa luluran, sauna, tinggal pilih aja mau yang mana." Bisiknya bersemangat, tak menggrubis omongan Wyatt. "Siapa tau, habis dari sana, lo bakal dapat gebetan."
Tiara hanya mendengus dan menggeleng kepala, ia merasa baik-baik saja. Mungkin efek trauma hampir celaka, membuatnya menjadi lemas.
"Tiara akan pulang bersamaku, dia gak akan ke mana-mana," perintahnya lagi dengan tajam.
Tasya melirik Wyatt sinis dan tak suka. "Lo siapanya Tiara, berani memerintah dan melarangnya segala." Menatapnya dengan cuek. "Kami mau girl time dulu, kalau lo mau pulang, silakan. Lo gak perlu khawatir, Tiara aman ama gue." Sambungnya tegas.
"Sudah..." ucapan Wyatt terputus.
"Gue ikut Tasya, Sorry." Selanya menyesal. Lagipula, ia heran ada hak apa dia melarang gue segala. Kakak bukan, kekasih juga bukan, suami apalagi, dasar aneh. Bertemu aja baru tiga kali, tapi dia seolah-olah punya hak terhadapnya. "Lo pulang aja sana, makasih udah dua kali menolong gue." Pintanya tulus.
Wyatt menatapnya datar, raut wajahnya dingin. Tak suka karena Tiara berani menolak perintahnya. "Kamu kan baru hampir saja celaka, harusnya pulang beristirahat. Atau mau kutemani kamu ke dokter dulu, buat mastikan kalau gak ada tulang yang retak atau luka lainnya." Ujarnya datar.
"Gak perlu, makasih atas tawarannya." Tolaknya tegas. "Gue hanya shok aja, bukan kecelakaan. Jadi gak perlu ke dokter segala."
"Tapi..."
"Udah deh, anda tenang aja. Kalau Tiara bilang baik-baik aja, berarti dia jujur. Dia yang paling tau dengan kondisi badannya, dan pasti akan ngomong kalau badannya ada yang sakit." Sela Tasya cepat, lalu menatap Tiara dengan mengancam.
Tiara hanya meringis mendengar omongan Tasya yang mengancamnya, susah baginya untuk berbohong, pasti ketahuan juga.
"Kalau gitu, biar kuantar." Ujar Wyatt datar.
"Ekh.." Gumam mereka berdua tercengang.
""Ayo," perintah Wyatt.
"Tunggu, tunggu dulu," protes Tasya geram. "Dengar yah tuan Wyatt terhormat, saya bawa mobil sendiri, jadi gak perlu anda antar. Kita ini gak dekat lo, sampai anda mau mengantar kami." Menatapnya dengan sinis. "Lagipula, anda kan seorang CEO, waktu anda lebih berharga daripada harus mengantar kami berdua."
"Ayo," perintah Wyatt lagi dengan tegas seperti memerintah pada bawahannya, menatap mereka cuek. "Gak terima protes."
"Hei, tuan bossy, kami bukan anak buah lo yang harus mengikuti semua perintah lo." Protesnya tajam.
"Anda gak perlu mengantar, kami bisa pergi sendiri, makasih atas tawarannya." Tolak Tiara tulus dan tenang.
"Kalau kutolak gimana?" tantangnya menyeringai.
"Saya.."
"Kami akan berteriak kalau anda akan melecehkan kami," sela Tasya mengancam dan tajam.
"Coba aja kalau berani," suruhnya menyindir dengan menyeringai.
"To.." teriakan Tasya terputus, karena Tiara membekap mulut Tasya. Agar tak berteriak, mau taruh dimana wajahnya kalau Tasya melakukan itu, mana lagi ini masih diparkiran perusahaan mereka.
"Sya, tenang lah." Bujuk Tiara. "Anda ini suka seenaknya aja, anda bisa bersikap semaunya pada orang lain, bukan pada kami." Bersidekap kesal menatap Wyatt. "Saya tau anda sudah baik sekali sudah menolong saya, tapi bukan bsrarti anda punya hak untuk mengatur dan memerintah seenaknya."
"Kalian ini keras kepala sekali," gerutunya datar. "Oke, kalian gak kuatar, tapi pulangnya Tiara bersamaku," sambungnya tegas.
"Gak.." Tolaknya
"Gak ada protes-protes lagi," Selanya tajam dan menatap mereka dingin. Lalu berjalan bersama Leon menjauhi mereka.
"Ck, bikin kesak aja. Sifat bossy nya gak tertolong lagi, bilang kita keras kepala, dia gak nyadar diri dengan sifatnya itu." Gerutunya menyindirnya sini. "Ayo, kita cabut, ngomong dengannya, bikin kita esmosi aja."
"Tapi gimana kalau benaran dia jemput gue nanti." Gumamnya waswas.
"Gak perlu khawatir gitu, dia kan gak tau kita mau ke mana, jadi tenang aja." Sarannya menenangkan. "Ayo, mau gue bantu jalan, Ra." sambungnya jahil.
"Gak perlu, gue gak cacat." protesny geram. Lalu berjalan mendahului Tasya yang terkikik geli.
"Gitu aja marah." Gumamnya geli.
Tiara tetap berjalan menuju mobil Tasya, tanpa mengindahkan omongan Tasya. Ia berpikir, Wyatt serius dengan omongannya, Tasya aja tak tahu apa yang bisa dilakukan oleh Wyatt. Pasti begitu mudah bagi dia untuk menemukan keberadaan mereka.
******
Wyatt POV
"Apa kita langsung pulang?" tanya Leon, ikut melihat Mobil Tasya, dari dalam mobilnya.
"Kita ikuti mereka," serunya datar.
"Bukannya tadi mereka mau ke SPA, disalon langganan mereka, dan itu butuh waktu paling sedikit sejam, kalau mereka gak mengambil treatment lainnya," ujar Leon.
"Suruh anak buahmu itu mereka, cari tau berapa lama mereka berada di sana." Perintahnya tajam.
"Terus, orang yang tadi gimana." Menoleh ke belakang ingin tahu reaksi Wyatt.
"Cari tau siapa orangnya, dan apa motifnya." Perintahnya dingin. "Apakah orang yang sama atau beda lagi." sambungnya dengan memancar aura membunuh.
"Apa yang akan kamu lakukan setelah mendapat orang itu?" tanyanya penasaran, yang sebenarnya tahu kalau Wyatt tak akan diam saja tanpa pembalasan bagi orang-orang yang berani mencelakai miliknya. Dan Tiara sudah diklaim sebagai miliknya tanpa persetujuan darinya.
"Cari tau dulu, kalau orang itu dari mereka, aku tak akan diam aja, kita harus mulai bertindak."
"Kalau bukan?"
"Beri pelajaran yang setimpal." Serunya dingin dan kejam. "Hubungilah orang-orangmu itu, kalau udah tau mereka selesai jam berapa, baru kita akan ke sana." Suruhnya tegas.
"Oke."