Golden Bride

Golden Bride
Apakah Ini Nyata?



Tiara berjalan di sebuah hutan yang terdapat berbagai macam bunga berwarna-warni dengan semerbak harum mewangi sepanjang ia berjalan, suara burung saling berkicau merdu. Lalu ada sebuah danau kecil tengahnya, seakan saling bersahutan. Di ujung jalan yang lain ada air terjun yang terlihat indah karena terlihat ada pelangi di atasnya.


Walaupun terlihat seperti berkabut di sekitarnya, sebenarnya itu sebuah cahaya yang berkilauan, yang memberi kesan magic. Ia mengangkatkan tangannya ke cahaya itu, merasakan sebuah kehangatan yang masuk ke relung hatinya, seperti kehangatan pelukan seorang ibu.


Ia merasa bingung berada di mana sekarang. Apakah benar ini hanya mimpi, tanyanya heran. Terus berjalan mendekati tepi danau, melihat seorang wanita cantik, menggunakan selendang menutupi rambutnya, di atas kepalanya terdapat sebuah tiara penuh berlian, yang suka digunakan oleh seorang putri kerajaan, dan menggunakan pakaian bangsawan jaman ke abad ke 18, yang sedang duduk dipinggir danau sambil kakinya bermain air, mulutnya bernyanyi riang, nyayian yang tidak dipahaminya. Ia berjalan mendekati wanita tersebut dan berdiri di sampingnya.


"Hmm.. Hallo." Sapanya ramah dan penuh keraguan.


Wanita itu menoleh, menatapnya heran dan tersenyum tulus, seakan menerima kehadirannya. "Hai." Menepuk tanah disampingnya, meminta duduk seperti dirinya. "Hahaa, jangan takut. Aku tidak ada bermaksud jahat." Sambungnya tulus.


Awalnya Tiara ragu untuk mengikuti permintaan wanita ini, tapi melihat senyum tulus dan lugu, seakan hatinya berkata ia adalah wanita yang baik. Lalu duduk di sampingnya, kakinya ikut bermain-main air. Ini sangat aneh baginya, kalau dilihat dari perawakan wanita ini, seperti keturunan orang Eropa dan Asia. Terlihat seperti wanita-wanita Turki yang pernah dilihatnya di drama-drama yang pernah tayang di salah satu stasiun televisi di Indonesia.


Lalu kenapa ia bisa mengeti apa yang wanita itu katakan, begitupun juga sebaliknya. Wanita ini benar-benar cantik, dari matanya yang menatapnya hangat, bisa dipastikan seorang yang lembut dan berhati baik, sosoknya terpancar aura seperti seorang bangsawan.


“Di alam ini, gak ada batas ataupun kesulitan bagi kita untuk bicara. Dari manapun Negara kita berasal, menggunakan bahasa apapun, dan kita bisa saling mengerti apa yang lawang bicara katakan.


Tiara mengangguk. "Wah.. Ikannya banyak sekali, ada yang besar pula." Pujinya kagum, melihat ikan di bawah kakinya yang bermacam warna dan jenis. "Apakah ada yang menggigit." Sambungnya ketakutan.


"Hahaha." Tawa wanita di sebelahnya, Tiara hanya menatapnya heran, kenapa wanita ini tertawa disaat ia merasa ketakutan. "Tenang saja, ikan-ikan ini tidak akan menggigitmu." Menepuk tangan Tiara lembut. "Perkenalkan namaku Shahinaz Afra Orhanzaloglu, panggil aku, Afra." Ucapnya bersahabat dan ramah


"Tiara." Ucapnya tulus. "Saya sekarang ada dimana?" Menatap ke sekelilingnya dengan bingung.


"Di duniaku." Jawab Afra tersenyum.


"Berarti saya udah mati." Ujarnya ketakutan, sedih dan bergetar.


"Hahaha, tidak. Tidak usah formal begitu, bersikap santai aja, Ra." Menggengam tangan Tiara yang dingin dan bergetar. "Jangan takut, kamu memang berada di duniaku tapi dalam mimpimu." Jelasnya menenangkan.


"Baiklah tapi maksudmu apa?" Tanyanya bingung.


"Aku tidak tahu, kenapa kamu bisa berada di duniaku dan kita bisa ngobrol begini. Yang jelas, pasti ada maksud dari semua kejadian ini."


"Apakah aku bisa kembali ke dunia nyata kan?" Tanya nya takut dan memohon.


"Tentu saja, ini hanya kembang tidur dalam mimpimu." Jelasnya lembut.


"Lalu kenapa aku bisa berada di sini." Melihat tempat yang benar-benar asing dan aneh dalam hidupnya. Kalau tempat ini berada di dunia nyata, ia pasti takkan bosan untuk berdiam diri di sini. Suasananya tenang dan menakjubkan, walaupun terkesan mistis tapi sedikitpun tak ada perasaan takut dihatinya.


"Aku juga tidak tahu, mungkin ada kejadian aneh baru-baru ini terjadi padamu yang memicu semua ini."  Ujarnya kebingungan.


"Kejadian aneh." Gumamnya berpikir. "Akhhh, kuingat tapi apa mungkin ya." Sambungnya tidak yakin.


"Ada apa?" Tanya Afra ingin tahu.


"Aku semalam baru menemukan sebuah kalung yang sangat aneh." Jelasnya sambil menatap Afra, lucu juga ia bilang semalam, bukannya sekarang dalam mimpinya juga masih malam.


"Kalung seperti apa?" Tanya Afra dengan wajah pucat.


"Aku baik-baik saja." Sahutnya lembut. "Kalung itu bentuknya gimana?" Sambungnya dengan bergetar ingin tahu, ia yakin kalung itu yang membawa Tiara ke dalam dunianya.


"Kalung berlian, yang berbentuk bulat dan berwarna biru, dikelilingi oleh sepasang phoenix berwarna emas. Anehnya bisa bersinar dan tidak bisa padam sinarnya, mata sepasang phoenix itu berwarna merah, bikin bergidik merinding ngelihatnya."  Ucapnya dengan perasaan aneh


"Bukan tidak padam tapi belum." Seru Afra dengan bahu lunglai dan menghembus napas keras. Ternyata dugaannya benar, kalung itu yang telah mempertemukan mereka.


"Kok kamu bisa tahu?" Tanyanya kebingungan.


"Apa kalungnya berbentuk seperti ini," serunya membuka tangannya, dan muncul lah kalung yang dimaksud.


"Kok bisa.." Ujarnya shock dan ketakutan.


"Tidak usah takut, karena kalung itu pernah menjadi milikku." memohon pada Tiara untuk tenang dan mempercayainya. "Kutidak tau maksud dari kalung ini mempertemukan kita, karena ini baru pertama kalinya terjadi. Cuma.." Sambungnya terputus karena ragu untuk menjawabnya.


"Cuma apa, Fra. Terus pemilik-pemilik sebelumnya tidak pernah bertemu denganmu, hanyaku seorang mengalami ini" tanya Tiara penasaran, seakan sulit percaya dengan apa yang terjadi dan menggoyang-goyang tangan Afra, memintanya untuk melanjutkan omongannya.


"Cuma menurutku, kalung ini seakan memintaku untuk menceritakan asal mula kalung tersebut. Dan memanggilmu untuk menolongku."


"Apa?" menatap heran. "Menolong?."


"Bukan, aku juga tidak yakin," menggeleng kepala. "Kalung ini sebenarnya pemberian dari pria yang kucintai. Kalung ini pemberian dari kakeknya, yang diberikan pada anak pertama dalam keluarga. Kakeknya tanpa sengaja menemukan kalung yang aneh dan belum pernah ada pada saat itu." Menatap ke depan dengan pandangan kosong dan menerawang.


"Lalu?" Menyenggol pundak Afra untuk menyadarkannya dan tidak tega melihat Afra yang sedih saat menjelaskanya. "Kalau nurutmu berat untuk dijelaskan, lebih baik gak usah." Pintanya lembut.


"Maaf, mungkin untuk sekarang aku belum bisa mengatakannya padamu." Kata nya menyesal dengan pandangan sedih. "Yang perlu kamu tahu, ada cerita tragis di dalamnya, yang menurut orang-orang hanya mitos dan dibuat-buat."


"Maksudmu, mitos kalung ini benar adanya."  Bergidik ngeri sambil menatap kalung itu ketakutan.


"Tidak juga." Jawabnya penuh teka-teki. "Ada saatnya kamu tahu tapi bukan sekarang."


Tiara mengambil napas dalam dan menghembusnya. "Sepertinya rumit sekali."


"Dalam takdirku memang menyakitkan, tapi tidak tau dengan takdirmu nanti." Ujarnya lirih, tidak sadar kalau yang diucapkannya didengar Tiara.


"Apa maksudmu, Fra?" Pekiknya shock dan bergetar.


"Bukan maksud untuk menakut-nakutimu, Ra. Setiap pemilik kalung ini mempunyai takdir yang berbeda. Ada yang bahagia tapi ada juga yang tragis, salah satunya aku." Menangis mengingat apa yang telah ia alami.


"Kalung itu akan menuntunmu menemukan cinta sejatimu."


"Aku gak percaya" serganya cepat.


"Wajar untuk sekarang kamu gak percaya, percayalah saat kamu bangun nanti, takdirmu akan menuntunmu menemukan cinta sejatimu."