
"Iya, punya Abang." Berdiri lalu menarik Tasya untuk duduk kembali di sampingnya.
"Punya siapa lagi, jangan bilang 10 persen Abang jual semua." Ujarnya menatap Abangnya marah.
"Ya, Abang jual semua." Menahan tangan Tasya yang mencoba melepaskannya. "Bang Fendi, Bang Januar, Chelse, Mba Nasya, dan Agung." Sambungnya dengan jujur.
"Apa keluarga besar tau, kalau kalian telah menjual saham milik kalian?" tanya penasaran.
"Kami gak akan menjualnya, apabila gak berdiskusi terlebih dulu dengan dewan direksi lainya, yang semuanya anggota keluarga kita."
"Terus mereka setuju-setuju aja gitu," ucapnya sarkas.
"Awalnya sih gak, tapi dengan memaparkan keuntungan yang didapat dari merger itu, dan kendali perusahaan masih ditangan keluarga kita, maka mereka menyetujuinya."
"Ck, selalu begitu." Decaknya sinis. "Kalau mendapat keuntungan besar, otomatis mereka setuju-setuju aja. Gak mikir, gimana Kakek membangun perusahaan ini dari nol, agar keturunannya bisa mempertahankan dan mengembangkannya lebih maju. Bukannya Kakek berwasiat agar perusahaan ini harus keluarga besar kita yang memiliki saham dan memimpinnya. Kenapa kalian malah menjualnya tanpa mengindahkan wasiat Kakek, Bang." Sambungnya marah dan sedih.
Hufft, Bram lama-lama lelah juga menghadapi Tasya yang tetap keras kepalanya dengan pendapatnya sendiri, ia harus lebih banyak bersabar, memberi penjelasan padanya. "Dek, memang wasiat Kakek seperti itu, tapi kita gak sepenuhnya salah. Bukannya, Kakek meminta kita mempertahankan saham tetap keluarga kita memiliki, itu udah benar walaupun ada sebagian saham yang telah dijual." Bram meringis melihat pelototan Tasya padanya. "Kakek juga meminta kita memajukan perusahan agar lebih berkembang, itu yang sedang kita lakukan. Tumpuk kepemimpinan dan saham terbesar masih tetap keluarga kita yang pegang, jadi lo gak perlu menghawatirkan soal perusahaan yah. Semuanya baik-baik aja, kami udah memikirkan semuanya dengan matang dampak baik maupun buruknya. Percayalah Abang lo ini, akan memastikan semua akan berjalan lancar sesuai keinginan Kakek kita." Menarik Tasya dalam pelukannya, lalu mengusap pundaknya untuk menenangkannya.
"Tapi, Bang," protesnya cepat.
"Hus**h gak usah dipikirkan lagi." Selanya.
Huft, Tasya mengangguk. "Terus uang yang kalian dapat, mau diapakan. Gak mungkin ditabung aja, gue tau kalian Bang. Pasti ada yang sedang kalian rencanakan sehingga berani menjualnya." Tasya melepaskan pelukkannya dan menatap tajam Abangnya curiga dan menyelidik.
Bram ditatap begitu oleh Tasya, ia meringis dan serba salah. "Itu.." Sahutnya gagu.
"Jujur aja, kalau kalian gak mau jujur, gue tetap akan mencari tau." Acamnya tegas.
"S***!" Umpatnya geram, langsung menyengir ditatap Tasya tak suka mendegarnya. "Sorry, dek. Hehe," menyengir malu. "Sebenarnya, kami sudah lama berencana ingin membuat resort, tapi belum punya budgetnya yang cukup, sehingga ketika mendapat tawaran dari CEO AK. Corp, kami langsung menerimannya."
"Kenapa bisa begitu."
"Dek, selain CEO nya membeli saham kita dengan harga tinggi, dia bersedia menjadi partner kami dalam membangun resort yang kami inginkan. Dia mempunya kekuasan dalam dunia bisnis, sehingga mempunyai banyak relasi yang mempermudah memujudkan impian kami ini." Seru Bram senang dan bersemangat.
"Emang kalian mau membangun resort dimana?" Tanyanya ingin tahu. "Lagian kenapa percaya-percaya aja sih, mungkin aja mereka menipu." Sambungnya sinis dan curiga.
"Belum tau, lagi observasi tempatnya yang strategis dan cocok," jawabnya. "Dek, kami bukan bodoh, yang asal terima aja tanpa menyelidikinya terlebih dahulu. Perusahan mereka, termasuk perusahaan jujur, bermain adil. Banyak perusahaan kecil, maupun bangkrut, kalau sudah mereka ambil alih, malah semakin berkembang. Lagipula, dia akan melakukan itu, karena ada yang sangat berharga ingin dimilikinya di sini." Jawabnya santai dan penuh teka teki.
"Apa itu, Bang," sahutnya penasaran.
"Gak tau," mengangkat bahu. "Walaupun tau, Abang gak akan kasih tau lo," sangkalnya jahil, sambil memecet hidup Tasya gemas.
"Ish," gerutu Tasya sambil memukul tangan Abangnya kesal.
"Udah deh, percaya lah semua gak seburuk pikiran lo, kami pasti akan melakukan terbaik untuk perusahaan kita." Menepuk-nepuk tangan Tasya lembut, dan menenangkannha. "Ngomnog-ngomong, tumben di sini, biasanya jam segini, udah bareng kembaran lo itu," sambungnya mengingatkan.
"Alamaak," serunya kaget, menepuk kepalanya karena lupa, lalu berdiri. "Gue lupa, udah janji mau makan di luar. Gawat bisa kena teror gue, seharian," sambungnya panik.
Tiara melihat itu dari celah pintu, tersenyum geli. Mengambil ponselnya lalu mengirim pesan WA pada Tasya.
📱Syasyamut
Gue lunch sendiri, nunggu lo
kelamaan😝😤
📱Raralek
📱Syasyamut
😒😷
📱Raralek
Sorry🙇🙇🙇
Sebagia gantinya, dinner gue traktir
sepuasnya deh.
📱Syasyamut
Deal👍👍👍😄😎
📱Raralek
🙄
📱Syasyamut
😜😎
Tiara terkekeh, melihat Tasya yang kesal membaca WA darinya, ia memutuskan meninggalkan kantor Bang Bram, takut ketahuan mengumping kan malu. Biarlah ia bersikap pura-pura tak tahu, sampai Tasya sendiri yang ngomong nanti.
******
Tiara berjalan dengan santai, menuju kantin kantor, sendari membalas pesan Alvin yang mengajaknya hong out bareng kekasihnya, mendengus kesal dengan sungkan ia membalasnya. Saat ia sedang membalas pesan, tiba-tiba ada yang menyengolnya, membuatnya terkejut, membuatnya hampir jatuh dari tangga dan ponselnya jatuh.
Ia sengaja tak menggunakan lift, karena jaraknya agak jauh, di depan pintu masuk. Sedangkan ia mengambil jalur tangga belakang, berada agak jauh dibelakang receptionist desk.
"Akw.." Teriaknya kaget, mencari pegangan, biar tak jatuh, jantungnya berdegub kecang ketakutan, otaknya kosong. Ia terkejut, ketika ada yang menariknya sebelum jatuh kedalam dekapan dan memeluknya. Bersyukur dirinya tak jatuh, ia melihat sebidang pundak yang lebar dan kokoh. Melirik sepasang tangan yang kuat, yang menolongnya dan memeluk pinggangnya erat.
Mengambil napas lalu menghelanya, lalu meredakan debaran jantungnya. Ia melepaskan diri, tapi tangan itu tak mau melepaskannya, membuatnya kesal.
"Kamu gak apa-apa?" tanya suara datar seorang pria yang telah menolongnya. "Dasar ceroboh," cibirnya sarkas.
"Ee..." protesnya kesal, mencoba melepaskan diri, tak enak kalau dilihat orang-orang. Ia bisa dijadikan gosip selama beberapa hari ke depan, yang akan membuat kepalanya pusing. "Bisa lepaskan gue." Pintanya geram.
"Kamu gak apa-apa?" tanya pria itu kembali, tanpa melepaskan pelukannya.
Kurang ajar, mengambil kesempatan dalam kesempitan, pikirnya geram. "Gue gak pa-pa, posel gue.." Menghela napas sabar, melihat ponselnya yang hancur, dibawahnya karena posisinya hampir jatuh, pas ketika ia mau menuruni tangga, mungkin ponselnya itu terlempar ke bawah. Beruntung ia tak jatuh menggeliding sampai ke bawah, tak bisa membayangkan kalau pria ini tak menolongnya.
"Ck, ponsel bisa diganti, tapi nyawamu cuma satu tak bisa tergantikan." Decak pria itu dingin.
Tiara yang mendengarnya, merinding dengan kesan dingin dalam suaranya, sepertinya suara itu tak asing dipendengarnya, ia bingung, sekarang yang berdebar-debar, hatinya atau hati pria ini. "Bisa lepaskan gue, rasanya gak nyaman kalau dilihat orang-orang." Pintanya tegas.
"Hmm," gumamnya malas tanpa mengindahkan Tiara.
"Ck," desisnya geram lalu dengan keras menginjak kaki pria itu dengan kuat dengan sepatu high heelnya. Tersenyum senang, pria itu melepakan pelukkannya sendari menggerutu marah.