Golden Bride

Golden Bride
Pengkhianat



"Ah, death angel rupanya."  gumam Wyatt. "Bukannya mereka udah tidak ada lagi beberapa tahun lalu."


"Karena pemimpin lama dan hampir 70 % anggotanya tewas, maka mereka diam-diam membangkitkan geng itu dan mengganti pemimpinnya, yang diambil ahli oleh satu orang kepercayaan bos yang lama."


"Siapa?"


"Untuk itu, belum tau." Menatap Wyatt menyesal. "Masih diselidiki."


"Kuharap kerjamu cepat, kutidak mau terjadi apa-apa lagi terhadap istriku. Jadi kita harus menemukan orang yang menyewa mereka." Wyatt menatap Stuart dingin.


"Oke," mengangguk santai, tak menggrubis tatapan tajam Wyatt. "Lalu gimana dengan pengkhianat itu?"


"Bawa kemari, biarku bunuh dengan tanganku sendiri!" ujarnya dingin mengerikan penuh dendam.


"Oke," lalu Sturart menelepon anak buahnya.


Tiara mendengar dan menunggu dengan deg-degan, cemas suaminya nanti memergokinya menguping. Ingin mendekati, pasti langsung mendapat tatapan tajam dan marah darinya. Ia terus mendengar pembicaraan mereka yang membicarakan tentang bisnis. 


Ceklek…Suara pintu dibuka, dengan derap langkah beberapa orang mendekati suaminya dan Stuart, terdengar rintihan sakit yang memohon pengampunan.


"Ampun, tuan," lirih seorang pria.


Tiara tak berani mengintip, hanya bisa mendengar, mendorong kursi rodanya, agar bisa jelas mendengar percakapan mereka.


"Ghani Yuliansyah," ucap Wyatt datar dan dingin. "Tikus kecil yang berani bermain-main dengan saya," berdecak sinis. "Ck, besar juga nyalimu." Duduk santai menatap Ghani, yang menunduk ketakutan.


"Maaf, tuan.." cicit Ghani pelan dengan ketakutan.


"Ghani, 28 tahun. 5 tahun lalu bergabung dengan Luxys securty. Istri yang sedang dirawat di rumah sakit, dan anak berumur sebulan, yang dititipkan bersama mertua." Ucap Wyatt datar. "Alasanmu berkhianat karena istrimu, untuk menyembuhkannya, jadi kalau istrimu tidak ada kamu tidak membuat masalah lagi," sambungnya santai sarat mengancam dengan menatap tajam.


Gedebug… Terdengar suara jatuh.


Tiara terkejut, lalu mendorong perlahan kursi rodanya sedikit maju, lehernya mendekati kusen pintu, berusaha melihat apa yang terjadi di luar, walaupun harus menahan pusing dan kram di lehernya, ia tetap mengintip karena penasaran, masih bergerak hati-hati agar tidak ketahuan, melihat seorang pria sedang berlutut memohon di depan suaminya


"Tolong ampuni saya," cicit Ghani memohon. "Jangan sakiti istri saya, saya mohon tuan."  Ghani berlutut di hadapan Wyatt, dengan menangkupkan kedua tangannya.


"Sudah mau mati, masih bisa tawar menawar," seru Wyatt datar sinis


"Ini semua salah saya, anda boleh membunuh saya tapi tolong jangan sakiti keluarga saya," Ghani memohon dan memegang kaki Wyatt, wajahnya sarat ketakutan.


"Nyawa dibayar dengan nyawa," ucap Wyatt dingin, mendorong tangan Ghani menyentuh kakinya tapi tetap tidak dilepaskannya. "Lepaskan tanganmu, kalau tidak mau saya patahkan," ancamnya kejam, yang membuat Ghani langsung melepaskannya. "Sebelum berbuat harusnya berpikir dulu ribuan kali kalau kamu berani bersekongkol membunuh istri saya."


"Saya salah, saya salah," ucap Ghani terisak. 


Bug..bug..bug..Tiara menahan napas melihat apa yang dilakukan Ghani, membentur keningnya ke meja depannya.


"Ini salah saya," masih membentur keningnya sambil memohon. "Bunuh saja saya, saya rela mati untuknya. Saya mohoh, tuan." isaknya sedih. "Tolong, tuan. Anak saya baru lahir, masih membutuhkan ibunya, tidak ada ayahnya, bukan masalah. Asal ibunya selamat, saya rela melakukan apa saja demi mereka." 


"Kalau begitu kenapa gak sekalian saja mereka mati, biar bisa berkumpul di sana," ucap Wyatt Dingin dengan meyeringai kejam.


"Tidak!" isaknya cepat dan sedikit meninggi, menatap Wyatt penuh harap dengan wajah berlinang air mata. "Anak saya berhak menikmati hidupnya yang masih panjang, silakan ambil nyawa saya, saya mohon." Masih bersimpuh dihadapan Wyatt.


"Bunuh dia dan keluarganya!" perintah Wyatt kejam dan dingin menatap Stuart.


"Tuan, saya mohon kasihanilah saya. Berilah saya satu kesempatan lagi, saya akan setia seumur hidup pada anda." cicitnya menangis putus asa. "Tolong, ampuni saya," sambungnya dengan suara bergetar sarat dengan putus asa dan ketakutan. "Bunuh saja saya, jangan anak dan istri saya."


"Tidak ada info yang bisa saya dapat dari kamu, sungguh tidak berguna," menatap sengit dan dingin Ghani. "Untuk apa dipertahankan anak buah seperti ini," sindirnya lalu menapa Brian dan Ferdinad. Yang berwajah datar menanggapi omongan Wyatt.


"Bunuh mereka!" menatap Ghani dingin dengan menyeringai kejam.


Tiara tercengang dan jantungnya berdebar kencang, tak pernah menduga kalau suaminya bisa bersikap kejam begitu. Hatinya merasa ketakutan, seakan tidak mengenal sosoknya yang seperti ini. Tidak terlalu melihat eksperi pria, lalu Ia menjulurkan lehernya lagi, ingin melihat lebih jauh pria itu yang mulai di seret oleh body guard suaminya. Tapi naas nya, tangannya yang memegang kusen kram dan mencoba menggunakan tangan satunya lagi, tapi karena kurang seimbang, membuatnya jatuh ke depan


Gedebug... Suaranya yang terjatuh membuat orang-orang yang sedang bersama dengan suaminya, menoleh padanya.


"Akh!.." Serunya meringis kesakitan dan malu, lalu melihat suaminya langsung berjalan mendekatinya dengan wajah dingin. Sekilas melihat raut putus asa, sedih, ketakutan, rasa bersalah, menyesal dalam mata pria itu. Menimbulkan rasa kasihan dan sedih dalam hatinya.


Wyatt mengangkat Tiara lalu meletakkannya kembali ke kursi rodanya."Bukannya ada ranjang luas di sana, kenapa milih tidur di lantai," sindir suaminya dingin,


"Hmm, itu.." jawabnya terbata.


"Inilah akibat seorang istri yang kepo dengan urusan suaminya," sindirnya sinis.


"Maaf," gumamnya menyesal, dalam hati merasa geli, suaminya ngomong kepo, gaul juga ternyata. "Apakah aku mengganggu pembicaraan kalian?" menatap suaminya takut-takut.


"Sudah tahu masih nanya," ujarnya datar, membuat Tiara bermuka masam.


Lalu Stuart mendekatinya. "Jangan begitu, Wyatt," menepuk pundaknya mengingatkannya akan sikapnya itu. "Kamu tidak apa-apa, Ra?" tanyanya khawatir.


Tiara mengangguk kepala. "Tunggu, Itu siapa?" tanyanya pura-pura tidak tahu, ketika beberapa body guard akan membawa Ghani.


Mereka yang akan membawa Ghani, berhenti. Menoleh pada bosnya, melihat tanda darinya untuk membawa Ghani pergi dari hadapannya.


Tiara gelisah melihat, Ghani akan tetap dibawa oleh para body guard itu. Sekarang bisa melihat dengan jelas kondisi pria itu, dengan tangan yang diborgol, wajah yang bekak, karena habis dipukuli, hidung yang patah dan berdarah, kaki sebelah yang sepertinya patah juga.


"Berhenti!!" serunya dingin, menatap para bidy guard itu tanpa takut.


"Ada apa, Ra?" tanya Stuart ingin tahu, dalam hati merasa tertarik, pasti akan ada drama yang menarik sebentar lagi.


"Dia mau dibawa ke mana?" menatap penasaran pada pria itu.


"Mau dibuang," jawab Wyatt datar dan cuek


"Ekh," serunya kaget. "Ck, itu manusia, bukan barang. Dipake buang-buang segala," decaknya gelwng-geleng kepala. "Orang sakit gitu, harusnya diobati, jangan dibiarkan luka-lukanya, nanti infeksi." Sambungnya menasehati, menatap marah pada mereka.


"Kalau mau dibuang itu, buat apa diobati." Ucap Wyatt datar.


"Maksudnya," menatap pura-pura bingung, dengan hati berberdebar cemas.


"Orang yang mau mati, buat apa diobati." Jawabnya dingin.


"Apa?!" serunya pura-pura tercengan dan syok.


👋Met Malam Readers👋


🤗Senang bisa update lagi, heheh. Maaf baru bisa up hari ini🙏Makasih banyak yang masih setia membaca cerita absurd gw ini,hhehe🙇


😊Kalau suka silakan 👉👍👉rare👉vote😉


👉Silakan tinggalkan jejaknya yah😉Kritik👉saran👉komennya😉


🤗See you on next👉chapter👌😊