Golden Bride

Golden Bride
Video Call Tasya



“Jadi lo udah ketemu dengan pemiliknya langsung, Ra?”Tanya Gilang penasaran.


“Iya.”


“Kapan, Ra.?” Tanya Tasya ingin tahu.


“Sewaktu kita sedang berada di Singapura, saat itu kalian kan masih mau berbelanja, sedangkan gue langsung pulang. Nah, tiba-tiba pria itu datang. Gue awalnya heran dan curiga, tapi setelah dijelaskan, maksud kedatangannya. Ya udah, gue kembalikan deh tuh kalung, daripada dipermasalahkan ke polisi.”


“Dia gak ngapain-ngapain lo kan,” tuding Tasya tajam.


“Gak kok,” jawabnya santai, tak perlu dijelaskan detail apa yang telah terjadi, ia tak mau menambah beban pikiran Tasya.


“Lo gak sedang nyembunyikan sesuatu kan?”tuduh Tasya curiga


“Gak Oneng,” jawab Tiara kesal. “Aduh.” Serunya kesakitan, karena jidatnya dijentik oleh Tasya.


“Mulut lo perlu gue sambal kayaknya, Ra.” Ancamnya sebal.


“Hehe, sorry,” menyengir lalu menoleh ke Gilang. “Lajutkan infonya, Lang.”


“Kata lo tadi, udah bertemu dengan Wyatt, berarti benar, kalung itu udah diturunkan ke anak pertama. Karena Wyatt, anak pertama dari 3 bersaudara. Adik ke 2, udah menikah dan punya anak. Sedangkan yang bungsu masih tunangan.” Jelasnya sambil menyuapkan makanannya.


“Gue baca tadi, nama Ibunya, pakai Cut depannya. Berarti termasuk keturunan asli Aceh dong. Kok bisa yah, nikah sama Ayahnya.” Tanya Tiara heran.


“Jelas bisa lah, kalau udah jodoh, mau dari Negara manapun, pasangan kita, gak bakal ketukar.” Cibir Tasya sebal. “Mengenai kalung itu, gimana?.”


“Gak ada informasi tentang itu.” Sahutnya menyesal.


“Begitu pun dengan keanehan kalung itu, gak ada juga.” Ujar Tasya heran.


“Iya, maaf.” Gilang menatap mereka dengan malu, karena gagal mendapat info lebih banyak tentang kalung itu.


“Gak pa-pa, Lang. lo udah dapat info ini aja, gue ucapkan makasih banyak loh.” Gumam Tiara tulus dan tersenyum. “Nanti tolong lo kirimkan yah info yang lain ke gue, biar gue baca nya di rumah aja.”


“Baiklah,” sahutnya ikut tersenyum. 


Mereka menghabiskan waktu hampir 2 jam di restauran itu, mengobrol apa saja, bercanda dan berdiskusi. Tanpa mereka sadari kalau sedang di amati oleh seseorang dari kejauhan. 


******


Tiara sudah bercerita pada ketiga sahabatnya perihal kedatangan Wyatt yang mengambil kalungnya. Awalnya mereka kesal dan menggerutu, karena dirinya mengrahasiakan pertemuan mereka berdua, tapi setelah ia meminta maaf dan menjelaskan serta membujuk, akhirnya mereka memaafkannya dan mengerti tentang tindakannya itu.


Ia duduk menyadarkan badannya ke kasur, lalu membuka email melalui laktopnya yang sudah dikirimnya oleh Gilang beberapa hari yang lalu, tapi karena kesibukannya akhir-akhir ini, membuatnya melupakan email tersebut . Membaca informasi itu dengan teliti, menghela napas lelah, karena informasi tentang kalung itu tak ada, kebanyakan informasi umum tentang keluarga besar Wyatt, dan ia lalu mengfokuskan informasi tentang Wyatt. Membuka slide demi slide info itu yang disertai juga dengan foto.


“Hmm, pantes dia bisa dengan mudah menemukan siapa yang mengambil kalungnya. Ternyata dari salah satu orang terkaya di dunia, dan terkenal dalam dunia bisnis.” Gumamnya pada diri sendiri.


Drtt…Drttt.. Ponselnya bordering, ia mengambil ponsel yang terletak di sampingnya, melihat panggilan video call dari Tasya.


“Halo.” Sapa Tiara, melihat dari ponselnnya, posisi Tasya berada dalam didepan sebuah club. “Ngapain lo ke sana.” Menatap Tasya dengan curiga.


“Gue lagi bersama Ryo.” 


“Ngapain, Woi. Entar dikasih minuman alkohol lagi. Lo kan kagak bisa minum, Sya.“ Ujar Tiara kesal. 


“Gue gak akan minum, lo tenang aja.” Jawabnya santai


“Mana bisa gue tenang, tahun kemarin aja lo juga ngomong gitu. Tau-taunya, mabuk juga kan.” Gerutunya kesal. “Gak usah cari mati deh, buruan pulang. Nanti Bang Bram tau, habis Ryo dihajar olehnya.”


“Tenang aja, Abang gue satu itu gak akan tau. Kecuali lo yang ngomong.” Ancamnya santai, menatap Tiara curiga.


“Gak usah natap gue gitu, lo tau sendiri mata-mata Abang Bram banyak, club di belakang lo itu, salah satu yang sering didatangi bersama teman-temannya.” 


“Masa gak ingat, sih,” gerutunya yang menatap Tasya dari seberang hanya menggelang kepala. “Bang Bram selalu telepon lo saat dia mabuk dan gue juga sering diajak untuk ikut ngenemani lo jemput dia di club itu.”


“Oh iya yah,” menepuk kepala sendiri, mengingat kelupaannya. “Gimana dong, masa gue pulang, nanti Roy marah lagi.”


“Tujuan lo ikut ke sana apa sebenarnya, Sya.” Menatap Tasya dengan curiga


‘Hmm,”


“Jujur aja deh sama gue. Percuma aja bohong, pasti lo sedang merencanakan sesuatu kan,” tuduhnya kesal


“Gak, Ra. Curigaan amat sih jadi orang.” Elaknya menyakinkan.


“Mau jujur atau gue telepon Bang Bram sekarang.” Ancamnya tajam. “Lo tau sendiri, Abang Bram akan marah tau hal ini.”


Tasya menimbang sesaat, percuma saja berdebat dengan Tiara dan membohonginya. Dengan sifatnya yang keras kepala, pasti susah untuk mengakali Tiara.  Ia menghela napas menyerah. “Iya, ya. Cerewet amat sih “ menatap Tiara dengan cemberut. “Tadi Roy hubungi gue, minta ditemani ke sini, dia mau ngenali teman kuliahnya dulu yang di Kanada.”


“Terus kenapa ngajak lo, bukan si pelakor itu.”


“Temannya tau kalau tunangannya itu gue, bukan si selingkuhannya itu.”


“Emang lo pernah ketemu apa?”


“Kalau ketemu secara langsung belum, tapi gue pernah dikenali melalui video call.”


“Oh, lalu rencana lo ngikuti dia itu apa.” menatap curiga. “Gak mungkin lo anteng-anteng aja ngikut tanpa rencana sama sekali.”


“Gak ada, Tiara sayang.” Elaknya 


“Aish, gak usah bohong deh lo.” Cibirnya bersikeras.


“Gak ada, sumpah deh.” Sahutnya tegas dan jujur. 


“Sya,” kata Tiara tak percaya dan menatap Tasya tajam. “Beneran loh, gue bisa hubungi Bang Bram sekarang.”


“Ish, dasar tukang ngadu.” Gerutu Tasya kesal dan geram. “Dibilangi kagak percama amat sih, Ra.” Menoleh ke kanan dan ke kiri seolah-olah mencari seseorang.


“Nyari siapa lo?”


“Si Roy, dia nyuruh gue nunggu di sini tapi belum datang-datang juga.” Elaknya, mengalihkan omongan dengan halus.


“Tasya gue tersayang, gue bisa aja video call Bang Bram, dan dia bisa langsung lihat di mana posisi lo berada sekarang. Sisanya tau sendiri kelanjutannya gimana, yang gue butuhkan jawaban bukan ingin tahu tentang si berengsek itu.”  Ujar Tiara kesal dan mengancam.


“Payah lo,” gerutunya kesal. “Oke gue jujur.” 


“Ngapain lagi lo noleh kanan kiri gitu,”


“Woi, dodol. Gue harus tau dulu posisi Roy di mana, kalau dia sampai dengar bisa berabe ceritanya,” gumamnya geram.


“Oh,”


“Ck,” decaknya sebal. “Gue gak punya rencana apa-apa, Ra. Sengaja ikut Roy juga, cuma mau tau, Si Belapista itu ada juga gak di dalam.”


“Kalau ada lo mau apa?”


“Gak ngapa-ngapa sih,” sahutnya tenang. “Gue ikut juga hanya jadi pengamat, kali-kali aja, mereka punya rencana bertemu di sini, terus Si Bellapista itu pura-pura mendatanginya seolah-olah kebetulan mereka bisa ketemu.”


“Kalau emang seperti yang lo pikirkan, rencana lo apa.”