
“Gimana keadaanmu, Nak?” Tanya Bunda Tiara lembut dan khawatir sendari memeluk Tasya sayang.
“Baik, Bund,” jawabnya lirih dan tegar sendari memeluk Bunda, ada perasaan hangat dihatinya, diperlakukan dengan sayang seperti anak sendiri. Ia sekarang berada dirumah Tiara, baru lima menit lalu ia sampai dan langsung dibawa ke dalam kamarnya. “Mana Tiara, Bund?”
“Tuh di depan, menemani Wyatt ngobrol sambil cemberut,” ujarnya melepaskan pelukkannya dan menggeleng kepala dengan sikap anaknya itu. “Heran Bunda, pria baik dan sayang sama dia gitu, kok masih digantung. Maunya apa sih, keras kepalanya kebangetan.” Sambung Bunda dengan menggertu geram.
“Nama keduanya kan emang keras kepala, hehehe.” Candanya, tadi mereka dijemput Wyatt yang tiba-tiba datang ke Apartnya, seakan dia tahu kalau mereka akan pulang ke rumah Tiara, emang pria itu tak bisa ditebak apa maunya, jadi seram juga kalau kegiatan Tiara selalu diawasi dari jauh. “Bunda gak usah khawatir, Aku yakin Tiara pasti tau yang terbaik, mungkin dia masih ragu. Perlu diyakinkan dulu, tinggal usaha Wyatt aja untuk menyakinkannya.” Sambungnya lembut dan menggenggam tangan Bunda dengan sayang.
Bunda menggangu kepala. “Kamu yang sabar yah, Nak. Gak usah sedih lagi, Allah ternyata lebih sayang padamu, sehingga ditunjukkan kebusukkan tunanganmu itu.” Meremas tangan Tasya, menyemangatinya. "Yakinlah wanita baik-baik akan mendapatkan jodoh baik-baik pula, begitupun sebaliknya wanita jahat akan mendapatkan jodoh pria jahat juga. Jodoh itu cerminan diri, kalau ingin mendapat jodoh baik, sebaiknya kita memperbaiki dan memantaskan diri terlebih dahulu. Karena Allah tau mana yang terbaik buat kita, jadi jangan su'udzon dengan takdir yang telah ditetapkan yah, Nak." Sambungnya menasehati sebagai seorang Ibu.
“Iya," mengangguk kepala. "Tapi aku telah mempermalukan keluarga besar, dengan membuka aib mereka didepan umum, Bund.” Sambungnya sedih. “Sampai banyak dibenci orang.”
“Bunda, gak menyalahkanmu melakukan itu. Pasti kamu punya alasan sendiri yang sudah dipikirkan dengan matang, baik dan buruknya dari dampak apa yang telah kamu lakukan itu.” Gumamnya menepuk-nepuk lembut tangan Tasya. “Gak usah pikirkan orang-orang yang membencimu, kamu gak sendiri, ada Bunda yang siap selalu mendukung langkah dan percaya padamu.” Sambungnya sayang dan memeluk Tasya. "Kalau keluarga besar Tasya gak menerima apa yang terjadi dan berbalik membenci. Kami akan selalu menerima kehadiranmu dengan tangan terbuka, karena Tasya udah Bunda dan Ayah sebagai anak sendiri."
“Makasih, Bunda.” Isaknya lirih dan membalas pelukkan Bundanya. "Doakan aku untuk selalu kuat menghadapi semua ini yah, Bund." Sambungnya lembut
“Amin, akan Bunda selalu doakan. Udah gak usah nangis lagi, nanti gak cantik lagi loh anak Bunda ini," candanya sambil menghapus air matanya dan mencubit gemas pipih Tasya, terkekeh melihatnya cemberut. "Istirahatlah dulu, Bunda mau menemani Wyatt dulu. Takutnya dia dicercah terus oleh Tiara.” Saran Bundanya lembut.
“Iya, Bund,” sahutnya tersenyum.
“Bunda tinggal dulu yah,” pamit Bundanya lalu meninggaalkan Tasya sendirian.
******
“Kenapa mulutmu jadi monyong gitu, Nak.” Sela Bundanya datang tiba-tiba diantara mereka. “Cantik kagak, kayak bebek iya.” Sambungnya jahil. "Ya gak Nak Wyatt."
"Ekh," sahutnya canggung. "Masih cantik kok Bunda," sahutnya datar dengan salah tingkah, digoda oleh calon mertuanya.
“Ikh, Bunda ini. Masa anaknya cantik gini dibilangi kayak bebek,” rajuknya manja.
“Ya mau gimana lagi, coba tuh lihat dikaca sendiri kayak bebek apa gak,” canda Bundanya geli, melihat anaknya semakin merajuk. “Lagian kamu ngapain ngomel-ngomelin calon menantu Bunda ini, untung dia sabar, hanya bisa diam kamu omelin.” Sambungnya datar menatap Tiara yang salah tingkah. “Ayo ngomong sama Bunda, ada apa?”
“Gak ada apa-apa, Bund.” Elaknya terbata menghindar tatapan menyelidik dari Bundanya.
“Wyatt, ada apa?” tanya menatap Wyatt ingin tahu. “Omong aja, gak usah pikirin anak ini, biar Bunda jewer dia kalau berani marah-marah.” Menatap anaknya mengancam, membuat Tiara membelalak tak terima.
“Tadi kami membahas lagi kepastian lamaranku diterima apa gak. Udah hampir 2 minggu tapi digantung, Bund.” Adunya santai tapi menyeringai licik, yang tak diperhatikan oleh Bunda Tiara, tapi Tiara melototnya geram.
“Kamu ini,” gerutu Bundanya geram sambil mencubit pinggang anaknya.
“Akw, sakit Bunda,” rengeknya tak terima. “Anak Bunda itu aku atau dia sih.”
“Masih protes lagi,” menatap Tiara lembut. “Apa lagi yang kamu ragukan, sudah shalat malam minta petunjuk.” Yang dijawab dengan anggukan kepala dengan ragu. “Sudah dapat jawabannya kan.” Sambungnya yakin, ketika melihat rona diwajah anaknya. “Apalagi yang kamu ragukan, gak baik loh, lamaran orang digantung, kalau Ayah tau pasti dimarahinya.” Menggenggam tangan anaknya lembut. “Kamu menerimanya kan?” menatap Tiara intens, mengajuk hati anaknya dari matanya.
“Iya.” Bisiknya pelan, hampir tak terdengar.
“Syukurlah,” sahut Wyatt lega sambil mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.
“Ck, bahagia banget.” Cibirnya kesal.
“Iya Bun.” Sahutnya pelan dengan grogi. “Ehem.” Berdehem merasa tenggorokannya gatal.
“Kapan kamu akan membawa orang tuamu melamar Tiara, Nak?” Tanya Bunda memastikan.
“Beberapa hari ini lah, Bund.”
“Gak bisa ditunda dulu yah, Bund,” ujarnya ragu-ragu.
“Emang kenapa?” Tanya Bundanya heran.
“Hm, itu,” sahutnya ragu.
“Ngomong aja, kalau masih ada yang memberatkanmu, Nak.” Ujar Bundanya lembut.
"Pertunangan Tasya aja baru gagal, dia lagi sedih-sedihnya dan butuh dukungan banget. Gak enak kalau dia sedang mendapat masalah seperti ini, dengan egoisnya aku bahagia mengadakan lamaran sedangkan dia sedang sedih dan terluka.” Jawabnya pelan dan gerah karena ditatap Wyatt intens.
“Bunda ngerti kegelisaanmu itu, tapi kamu gak langsung nikah, Nak. Orang tua Wyatt baru akan melamarmu aja, dan mengenalmu lebih jauh. Bunda yakin, Tasya malah akan ikut bahagia melihatmu bahagia,” nasehat Bundanya hangat.
"Cobalah ngobrol dari hati ke hati, Tasya itu sayang banget padamu, dia pasti akan marah kalau lamaranmu ditunda gara-gara memikirkan perasaannya."
“Tapi Bun,” protesnya lagi.
“Apalagi?” tanya Bundanya biingung.
“Besok Tasya mau ke Solo,” ujarnya ragu, menatap Bundanya yang heran.
“Terus masalahnya apa?” ujar Bundanya sabar.
“Tiara mau, saat lamaran ada Tasya yang menemani selama proses lamaran itu.”
“Jadi kamu mau menunggu sampai tasya pulang dulu dari Solo gitu?”
“Iya sih tapi…”
“Apalagi, sekarang jujur aja mau kamu apa, Nak?” menatap Tiara yang bimbang. “Berapa lama dia di sana?”
“Tasya ke Solo cuma seminggu” ujarnya pelan.
“Tapi udah itu kami akan menemani Tasya liburan ke Negara lain.”
“Kami?” Tanya Bundanya penasaran.
“Aku, Jasmin daan Monic, Bund.”
“Oke, mau ke mana?”