Golden Bride

Golden Bride
Pemberian Wyatt



Besok malamnya, Wyatt datang lagi, karena di suruh Ayahnya datang. Disaat Tiara berada di kamar, sedang video callan dengan Tasya.


“Syukurlah lo sampai dengan selamat, Sya.” Ujar Tiara lega. “Lo udah jalan ke mana aja, baru bisa ngabari malam hari.” Sambungnya menyelidik, karena Tasya sudah berangkat dari sore tapi baru mengabari sekarang.


“Hehe, gak ke mana sih, Ra. Cuma keliling di sekitar, cari makan dengan jalan kaki. Lo tau sendiri kan gue suka menikmati suasana malam yang terang bersama kesibukkan aktivitas orang-orang dijalan.” Cengiran melihat wajah Tiara yang masam.


"Iye, ye. Gue tau itu emang lo banget, sampai lupa sama sohib yang ditinggal sendiri disini," cibir Tiara pura-pura sedih.


"Ck, gak usah lebay deh, Ra." Cibir Tasya tekekeh geli.


Tok..Tok.. Pintu kamarnya diketuk dari luar. Tiara melirik pintunya, berusaha tak menggrubis ketukkan itu.


Tok..Tok…


“Mba,” panggil suara adiknya Fezia sedikit keras dari luar.



Ya, Ada apa?” Tanya Tiara tanpa membuka pintu, masih duduk bersandar pada kasurnya.


“Disuruh Ayah ke bawah.” Ujarnya Fezia.


“Kenapa?” tanyanya ingin tahu.


“Gak tau mba, Tanya aja langsung sama Ayah.” Gerutunya sebal. “Buruan, nanti Ayah marah lagi.”


“Ya udah, lo duluan aja, bentar lagi Mba keluar.” 


“Cepat, Gak pakai lama.” Teriaknya tegas dari luar, dan meninggalkan kamar Mba nya. “Satu lagi, Mba. Kata Bunda, keluar jangan pakai baju tidur.”


“Iya, bawel.” Gerutunya sebal menatap pintu, seakan sedang menatap adiknya. Sedetik kemudia baru menyadari maksud adiknya. “Siapa sih yang datang, sampai Bunda harus menyuruhnya berganti baju.“ Gerutunya sambil menatap dirinya sendiri yang mengggunakan baju daster tidurnya.


“Siapa, Ra?” Tanya Tasya ingin tahu.


“Fezia,” jawabnya.


“Kenapa emangnya?”


“Gak tahu.” Tiara berdiri menuju lemari pakaiannya. “Sya, udah dulu yah, nanti kita sambung lagi.”


“Oke,” sahutnya mengalah. “Gue tunggu cerita lo nanti.” 


“Beres, Bos.” Mengangguk kepala, dan mematikan ponselnya, lalu mengganti pakaiannya, sebelum menemui Ayahnya


******


“Nah ini anak gadis Ayah baru nongol,” seru Ayahnya saat Tiara mendekatinya.


Tiara terkejut melihat Wyatt sedang duduk berhadapan dengan kedua orang tuanya, seingatnya tak menyuruhnya datang.


“Kenapa, Yah?” tanyanya bingung, mengambil duduk di sebelah Bundanya. “Seingatku, gak meminta lo untuk datang malam ini.” Menatap Wyatt datar.


“Ayah yang memintanya datang,” jawab Ayahnya kalem. “Ayah mau membahas perihal waktu yang tepat kedua orang tua Wyatt akan melamarmu, Nak.”


“Apa!” serunya terkejut. “Kenapa gak ditelepon aja sih, Yah. Ribet amat disuruh datang ke sini segala,” sambungnya menggerutu.


“Gak sopan, hanya meneleponnya aja,” gerutu Bunda menatap Tiara tajam, memintanya untuk diam.


“Begini Nak Wyatt, Ayah dan Bunda sepakat, gimana acara lamarannya diadakan sabtu ini.” Ujar Ayahnya santai, menatap Wyatt dengan menyelidik, ingin mengetahui reaksinya.


“Apa?!” Seru Tiara tercengang. “Kenapa cepat sekali, Yah?” menatap Ayahnya tak terima.


“Yang baik itu harus disegerakan, biar tak menimbulkan fitnah,” nasehat Ayahnya. “Untuk apa juga menunggu lama-lama kalau Nak Wyatt sendiri udah mantap untuk melangkah ke jenjang pernikahan denganmu,” menatap anaknya dengan serius dan menyelidik. “Kamu belum siap juga, Nak?”


“Terus apalagi?”


“5 hari lagi itu terlalu cepat,” sahutnya pelan.


“Nah Nak Wyatt, 5 hari apakah terlalu cepat menurutmu?” Ujar Ayah Tiara tak menggrubis anaknya, malah menatap Wyatt ingin tahu.


“Gak, Yah.” Jawabnya tegas dan yakin.


“Bagus, kedua orang tuamu gimana?” Tanya Ayah Tiara.


“Kapan aja mereka bisa, udah kuhubungi kalau kemungkinan dalam minggu ini acara lamarannya diadakan.” Jawabnya yakin.


“Hebat kamu udah mengantisipasi keadaan terlebih dahulu,” puji Ayah Tiara.


“Firasat aja, Yah. Maka nya kuminta keluargaku akhir minggu ini mengosongkan jadwal mereka untuk melamar Tiara.” Menatap orang tua Tiara dengan hangat.


“Jadi semua keluargamu akan datang, Nak.” Ujar Ayah Tiara memastikan sekali lagi.


“Iya, Yah,”jawabnya tersenyum.


Ayah Tiara tersenyum hangat dan lega, lalu  menatap anaknya. “Nah Nak, apalagi yang kamu ragukan.” Menatap Tiaranya merengut masih tak terima keputusan keduaa orang tuanya. “Kita harus bersyukur, Nak. Ayah tau keluarga calon mertuamu itu pasti orang sibuk semua, susah bagi mereka untuk meluangkan banyak waktunya, kalau sampai mereka sudah meluangkan waktunya tiba-tiba untuk lamaran nanti. Ayah yakin mereka udah menerimamu sebagai bagian dari calon anggota keluarga mereka.” Sambungnya menasehati dengan lembut.


“Dengar kata Ayah, Nak.” Bundanya menatapnya lembut. “Kami yakin dengan dicepatkannya acara lamaran ini, semakin baik buat kalian. Dan semakin cepat ditentukannya hari pernikahan kalian nantinya.” Meremas tangan Tiara untuk menenangkannya.


Tiara menatap Ayah dan Bundanya, dalam mata mereka terlihat harapan dan kebahagian kalau ia menyetujui keinginan mereka. Ia menghela napas pasrah. “Baiklah.”


“Alhamdulillah,” seru Ayah, Bundanya dan Wyatt lega.


“Ayah, Bunda. Bolehkan Aku memberi sesuatu untuk Tiara?” Tanya Wyatt menatap calon mertuanya ragu.


“Silakan, asal jangan bom aja, haha,” candanya ketawa.


Wyatt hanya membalas dengan tersenyum hangat. “Kuambil barangnya di mobil dulu, Yah.”


“Silakan, Nak.” Lalu menatap calon menantunya yang berjalan keluar, mendekati mobilnya.


“Ayah minta tolong buang keraguan dihatimu, Nak. Karena rasa ragu itu berasal dari bisikan setan, yang sengaja menumbuhkan rasa itu untuk membuatmu mundur.” Sambungnya menasehati anaknya.


“Buanglah rasa ragumu itu, firasat Bunda mengatakan kalau Wyatt memang jodoh yang terbaik untukmu,” ujar Bundanya lembut dan meremas-remas tangan anaknya.


“Hmm,” gumamnya lalu mengaminkan dalam hati, semoga apa yang Bundanya katakan itu benar. 


“Udah, dapat, Nak.” Ujar Ayah Tiara ketika Wyatt sudah kembli duduk dihadapannya dengan membawa sebuah kotak merah yang ter terlihat mewah.


“Iya,” menatap Tiara. “Kuingin memberikan ini untukmu, Ra.” memberikan kotak merah itu pada Tiara yang tak menghindaukan pemberiannya.


“Ra,” seru Ayahnya mengingatkan. 


“Apa, Yah?”


“Nak Wyatt ingin memberikanmu sesuatu, coba diambil dulu lalu lihat isinya. Gak sopan dihindaukan begitu aja.” Ingat Ayahnya menyarankan.


“Ini,” serunya ragu, karena tahu apa isi dalam kotak itu. “Aku gak bisa menerimanya, Yah.” Tolaknya halus.


“Kenapa?” Tanya Bundanya bingung.


“Pasti isinya mahal banget,” tolaknya halus, dalam hati memaki Wyatt, ia tahu isinya kalung yang pernah ditemukan, dan seenaknya saja memberikan kalung berharganya itu untuknya, padahal ia belum menjadi istrinya. Menatap Wyatt curiga, pasti ada maksud tersembunyi dia memberikan warisan keluarganya itu sekarang.


“Coba dibuka dulu,” saran Bundanya penasaran.


Tiara menatap Ayah dan Bundanya meminta izin, setelah mereka mengangguk. Ia mengambil kontak itu, lalu membuat Ayah dan Bundanya terkesiap kaget melihat isinya. Ia menghela napas kesal, wajar saja kedua orang tuanya terkejut sampai tak bisa berkata-kata. Karena seumur hidup mereka, baru kali ini melihat kalung yang begitu indah dan tentu saja mahal, reaksi mereka sama seperti dirinya sewaktu menemukannya.