Golden Bride

Golden Bride
Curhatan Tiara



"Baru pulang, Ra." Tanya Ayah Tiara, Dimas. Saat melihat bahu lunglai anaknya lewat di depan, menatap jam menunjukan hampir jam 9. "Jangan terlalu banyak lembur, nanti kamu sakit." Berdiri mendekati anaknya dan membelai kepalanya.


"Biasa, Yah. Namanya juga kerja." Tersenyum menenangkan.


"Ayah gak suka lihat kamu lembur tanpa instirahat yang cukup, sehingga sampai ngedrop dan masuk rumah sakit gara-gara lembur terus dalam seminggu. Lebih baik resign dari sana dan cari pekerjaan yang sedikit nyantai dan punya banyak waktu luang." Menatap Tiara tajam.


Tiara diam, bingung mau menjawab ayahnya, beruntung Bundanya membantunya dan menengahi ayahnya.


"Udah Ayah, Tiara baru pulang udah dikasih siraman rohani." Canda Bundanya. Tersenyum melihat suaminya menatap protes kepadanya.


"Gak kasihan lihat anak capek gitu, besok kultumnya bisa dilanjuti, Yah."


"Kamu ini Bun, selalu membelanya. Maksud Ayah kan baik, merasa gak tega lihatnya yang selalu masuk rumah sakit dikarenakan kondisi fisiknya ngedrop." Bantahnya tegas, menatap Istrinya yang menepuk-nepuk tangan untuk menenangkannya.


"Iya Bunda tahu, Yah. Sekarang kita biarkan dulu anak gadis kita istirahat, besok bisa dibicarakan lagi. Gak kasihan lihat anaknya yang terlihat seperti gembel, penampilannya." Ujar Bundanya dengan bercanda.


"Bunda.." Protes Tiara manja.


"Husst.. Masuk kamarmu sana, mandi dan makan sesudahnya." Perintah Bundanya tegas, sambil menyuruh anaknya masuk ke kamarnya. "Ada..." Sambungnya terputus saat anaknya sudah berjalan memasuki kamarnya, ia hanya bisa menggeleng kepala.


Tiara berjalan memasuki kamarnya dengan kelelahan, menggerutu dalam hati, siang ini dia dikerjai oleh Nyonya besar, maunya apa sih. Sepertinya punya dendam kusumat padanya. Membuka kamar tanpa menyadari ada orang yang sedang duduk di atas kasurnya.


"Kenapa baru pulang, Ra?" Tiba-tiba sebuah suara menganggetkannya.


"Ya ampun, Sya. Lo ngagetin aja." Menaruh tas nya di lemari, mendekati kasur dan merebahkan dirinya di atasnya sambil memejamkan matanya.


"Sorry, gak bisa pulang bareng tadi. Kamu gak dikasih lembur oleh Bang Bram?" Sambungnya pelan, setahu nya sewaktu mereka izin tadi, pekerjaan Tasya sedikit menumpuk, dikirain dia juga ikut lembur seperti dirinya.


"Mana berani Abang kesayangan, nyuruh-nyuruh gue lembur." ujarnya sombong. "Lo udah makan?".


"Udah tadi cuma ngemil doank, tapi kayaknya lapar lagi."


"Ya udah sana, mandi dulu. Gue tunggui, kita makan bareng soalnya lapar juga, hehe." Mengelus perutnya sambil cengar cengir.


"Ya." Sahutnya sambil memaksa tubuhnya yang kelelahan bergerak ke kamar mandi.


"Ra, gue tunggu di meja makan aja yaa." Ujar Tasya di depan kamar mandi Tiara.


"Ya, Sya. Duluan lah, nanti gue nyusul ke sana" teriak Tiara dari dalam kamar mandi.


******


"Kemana lo jam segini baru pulang?" menatap Tiara penasaran, saat ini mereka sudah duduk nyantai di teras kamarnya, sambil menikmati malam yang dipenuhi bintang-bintang, sehingga terlihat terang. ""Bukannya saat gue telepon tadi, udah mau pulang. Itu saat magrib, Ra. Kemana aja lo sesudah nya." Menatap tajam.


"Memang sih tadinya mau pulang, tapi pas diparkiran gue ketemu Alvin dan Sarah." Memandang bintang dengan melamun.


"Oh, jadi galau sesudah ketemu mereka," ledeknya menyengir.


"Gak lah, enak aja." Tandasnya cepat dan malu.


"Gak usah malu, gitu. Gue pernah ngalamin diposisi lo. Awalnya berat sih, tapi seiring waktu mampu mengatasi nya," menggenggam tangan Tiara. "Tau gak, apa yang ngebuat gue cepat move on." Melihat Tiara menggeleng. "Salah satunya lo."


"Kok gue?" Menunjuk dirinya dengan heran. "Gue masih normal yah, Sya. Jadi gak bisa nerima lo." Candanya dengan raut wajah ngeri. "Aww..Sakit woi." Mengusap jidatnya yang dijitak oleh Tasya.


"Gue juga normal yee," gerutu Tasya sambil menatap Tiara geram.


"Saat itu, emang berat, Ra. Tapi sangat bersyukur ada lo disamping gue, ngebantu melewati masa-masa itu, sehingga gak terasa berat dalam menjalaninya." Tersenyum tulus penuh terima kasih. "Apalagi dengan tingkah konyol lo, yang setiap hari menyodorkan teman-teman cowok kita tanpa henti." Menerawan masa SMA nya dulu, sambil tersenyum geli.


"Iya, itu juga karena mereka suka sama lo. Jadi mumpung ada kesempatan, apa salahnya kan mereka coba," elaknya tanpa dosa. "Tapi berhasil juga kan."


"Iya, berhasil," sindirnya. "Tapi gue malu, seolah-olah kagak laku, harus diobral terus, sehingga orang-orang pada tertarik," sambungnya geram.


"Hehe, sorry," cengirnya menyesal. "Gue gak tahu lo akan merasa begitu, saat itu dipikiran, gimana caranya agar cepat move on dan gak menyakiti diri sendiri apalagi orang lain."


"Iya gue tahu." Tersenyum lebar. " Maka nya sekarang giliran gue, buat lo cepat move on,"


"Jangan aneh-aneh ya, Sya," ujarnya curiga.


"Gak akan, lo tenang aja."


"Pokoknya gue gak mau lo sampai mengenalkan cowok setiap hari seperti dulu." Ancamnya sengit sambil menatap Tasya yang tersenyum penuh misteri.


"Gak akan, paling-paling cuma membuat siapa aja fans grup nya Tiara di kantor kita," candanya dengan pura-pura serius. "Lo kan gak jelek-jelek amat kok." sambungnya serius, mengamati Tiara dengan lekat


"Sama aja itu, Sya." ujarnya panik. "Gak mau!" potesnya. "Ngapain lo lihat-lihat gitu, jijik tahu." semburnya geram.


"Hahaha."


"Ck, malah ketawa dia," decaknya kesal dan merengut.


"Habis lucu ngelihat reaksi lo, haha," tertawa bahagia. "Akw..," sambungnya kesakitan sambil mengusap-ngusap tangannya yang dicubit Tiara.


"Gila cubitan lo, dahsatnya."


"Lebay lo," merengut sebal, melihat Tasya yang masih mengusap-ngusap tanganya. "Sorry, Sya."


"Gak pa-pa, udah biasa juga,"


"Ish...," cibirnya sebal.


"By the way, lo belum jawab omongan gue tadi, kita udah ngomong melebar kemana-mana. Kemana dulu tadi, baru pulang jam segini?" ujarnya serius dan ingin tahu.


"Habis muay thai dulu, ngebuang energi negatif gue," jawabnya nyantai dan bersandar.


"Ish dah, kenapa gak ngajak-ngajak sih," ujar Tasya kesal. "Gue kan mau ikut lo ke sana, habis udah lama gak latihan. Pegel-pegel semua badan karena lama kagak latihan."


"Hehe, sorry." sahutnya polos. "Gue juga tanpa rencana ke sana kok, tiba-tiba pas dijalan, ide itu tercetus dipikiran. Maka nya, latihan dulu sejam, baru pulang."


"Lain kali ke sana, ngajak-ngajak, Ra. Gue kayaknya harus ngebuang energi negatif dalam diri gue juga." Pintanya tegas sambil manggut-manggut.


"Ok, boss," memberi tanda 'ok' dengan tangannya.


"Ish," terkekeh geli. "Jadi saudara gue tercinta, sekarang tenang aja. Selama ada gue, lo bisa cepat move on." Memeluk Tiara dengan sayang, dan mengusap punggungnya. "Percaya deh ama gue."


"Sirik donk, kalau percaya sama lo," candanya , yang langsung mendapat tatapan tajam dari Tasya. " Iya, iya. Hehe."


"Nah, gitu donk. Lagi situasi serius gini malah becanda," gerutunya sebal.


"Jangan terlalu serius, Sya. Nanti muncul kerutan diwajah cantik lo itu," gumamnya bergurau. Tertawa melihat Tasya yang segitu paniknya dengan kerutan diwajahnya.