
“Apa ini gak terlalu berlebihan Nak Wyatt,” ujar calon mertuanya datar mengambil kotak yang berisi kalung itu dari tangan anaknya. “Tiara kan belum menjadi istrimu, Ayah pikir dia belum berhak buat menerima kalung ini.” Sambungnya menolak halus.
“Maaf, Ayah, Bunda. Kalung ini memang diperuntukkan bagi wanita yang akan menjadi istriku nanti.” Paparnya menunjukan kalungnya
“Tapi Tiara baru menjadi calon istri, Nak. Jadi Ayah pikir, dia belum berhak menerimanya.” Tolaknya Ayah mertuanya lagi.
“Kalung ini, memang harus diberikan pada calon istriku sebelum menikah, Ayah, Bunda.” Terangnya menyakinkan calon mertuanya.
“Kenapa bisa begitu, Nak?” Tanya Bunda Tiara penasaran.
“Kalung ini warisan dari beberapa generasi sebelumku, kami yang menerima kalung itu harus memberikan pada pasangan yang kami pilih dan yakin tulus menerima kami apa adanya tanpa melihat harta yang dibawa. Dan harus diberikan sebelum menikah, Bunda.” Jelasnya tanpa menceritakan asal mula dan misteri dari kalung itu.
“Terus gimana kalau kalian salah pilih, bisa rugi kalau kalung ini hilang,” ujar Bunda Tiara masih merasa ada sesuatu yang salah dengan pemberian Wyatt.
“Bunda tenang aja, selama beberapa generasi sebelumku, gak pernah sekalipun mereka salah pilih dalam memilih pasangan. Akupun gak akan menjadi orang pertama yang mengalaminya, diriku udah yakin, kalau Tiara memang jodoh terbaik buatku. ” Terangnya tegas dan hangat. “Kalau pun di tengah kehidupan nanti, ada perpisahan. Kalung itu akan diminta kembali, karena kalung itu, harus diwarisakan pada keturunan sesudah kami nantinya.”
“Entah kenapa, hati Bunda mengatakan, ada sesuatu yang salah pada kalungmu itu, Nak.” Gumam Bunda Tiara menatap kalung itu dengan intens dan menyelidik. Hatinya resah dan firasatnya mengatakan ada sesuatu yang tak beres dengan kalung itu. Tapi tak diungkapnya, nanti salah ngomong pula, malah fitnah jadinya.
“Udah, Bun.” Sela Ayah Tiara menengahi. “Kita jangan su’udzon dulu, itu hanya sebuah kalung, benda mati.” Sambungnya suaminya lembut. “Kita berdoa aja, kalau apa yang Bunda takutkan gak akan terjadi.” Menarik tangan istrinya buat menenangkan.
“Iya, Yah.” Meremas tangan suaminya. “Menurutmu gimana, Nak. Mau menerimanya atau gak?” menatap anaknya ingin tahu.
Tiara menatap kalung yang di depannya lalu melirik Wyatt, dalam matanya seakan menyuruh dirinya untuk menerima kalung itu. Ia mengambil napas pelan lalu menghembusnya. “Baiklah.”
Wyatt tersenyum lalu menatap calon mertuanya. “Boleh kuizin memasangkan kalung ini pada leher Tiara, Ayah, Bunda.” Izinnya sopan dan tenang. Padahal adalam hatinya berdebar, takut ditolak oleh mereka.
Ayah dan Bunda saling menatap. “Ayah izini, Nak.” Seru Ayah Tiara.
“Makasih Ayah,” ucapnya lega. “Makasih Bunda.” Menatap kedua calon mertuanya hangat. Lalu bergerak mengambil kalung itu lalu memasangkan ke leher Tiara. Ia terkesima, kalung itu terlihat cantik dileher Tiara, dan membuat dirinya terlihat lebih cantik dimatanya.
Mereka saling menatap dalam diam tanpa mengalihkan tatapan, yang membuat kedua orang tua Tiara tersenyum melihat tingkah mereka. Seolah ada aliran listrik yang menarik mereka tanpa mau mengalihkan pandangan.
“Sabar Nak Wyatt, Ayah tau, kamu mau mencium anak Ayah, tapi nanti dulu yah, belum sah,” gumam calon mertuanya menatapnya jahil.
Wyatt salah tingkah dan malu, hanya menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. Tersenyum malu pada calon mertua mereka dan berdeham, seakan ingin menghilangkan sesuatu yang mengganjal ditenggorokkannya.
“Hahaha, jangan malu gitu donk, Nak. Ayah mengerti perasaanmu, kan Ayah juga pernah muda.” Calon mertuanya tertawa bahagia melihat Wyatt semakin malu, dan menatap istrinya dengan penuh cinta, seakan matanya mengatakan pria dihadapannya inilah yang akan menjaga dan melindungi anaknya dengan penuh cinta, yang akan menggantikan diri tugas mereka nantinya. Yang dijawab dengan anggukan kepala oleh istrinya.
“Hahaha,” Bunda Tiara juga tertawa melihat tingkah anaknya yang malu-malu dan salah tingkah, lalu dengan sayang ia memeluk anaknya dengan bahagia.
*****
Sudah lewat beberapa hari, besok acara lamarannya akan diadakan pada siang harinya. Memikirkan perihal lamaran, membuat hati berdebar-debar, ada ketakutan tersendiri dihatinya, yang belum bisa ketahui, rasa itu dikarena kan apa. Ia bingung atas apa yang dirasakannya itu, seperti ada feeling yang tak enak akan terjadi. Tapi ditepiskannya, dan berusaha berpikir positif kalau yang dirasakannya itu hanyalah sebuah kekhawatiran, yang biasa dilalui banyak orang pada saat lamaran.
Jam sudah menunjukan pukul 5 lewat, seharusnya ia sudah pulang kerja tapi Bundanya minta ia fitting baju dulu buat acara lusa nanti, yang membuatnya menggerutu tak suka. Inikan baru lamaran doang tapi ribetnya seperti orang nikahan saja, kan yang menghadiri hanya keluarga besarnya saja beserta para sahabatnya, itupun kalau mereka bisa hadir. Beruntung Bundanya tak memintanya menggunakan dress code, yang biasa para artis lakukan. Hanya menggunakan pakaian seragam kebaya berwarna gold untuk yang para wanita, sedangkan para pria, diminta menggunakan batik senada dengan kebayanya.
Menurutnya menyewa seragam itu pemborosan, padahal dirumahnya sudah ada kebaya yang berwarna gold, tapi dasar Bundanya mau berkesan, karena katanya lamaran sekali seumur hidup, harus meninggalkan kesan tersendiri baginya. Ia hanya bisa geleng-geleng kepala mengukuti perintah sang ratu, selama yang diminta Bundanya itu tak aneh-aneh dan membuat keluarganya bahagia, ia tak masalah. Dirinya juga berdebat dengan Wyatt mengenai biaya pakaian seragam mereka, dia ingin biayanya seragam mereka itu Wyatt yang bayar, sedangkan Tiara, maunya ia yang bayar, tapi Wyatt berhasil mengalah setelah Ayahnya menjelaskan. Sama Ayah saja baru mengalah, coba kalau sama dirinya, malah sebaliknya ia yang banyak harus mengalah.
Tiara tak menyadari kalau semenjak keluar dari butik, dirinya sudah diperhatikan dan diikuti. Ia memang pergi sendiri tanpa ditemani salah satu keluarga. Tapi pulangnya Wyatt akan menjemput setelah pekerjaannya selesai, maka nya dirinya disuruh menunggu terlebih dulu di Kedai Dolu cafe, yang terletak disamping Moz's butik.
"Tiara!" Panggil sesorang marah padanya, ketika akan masuk butik, ada memanggilnya dan seseorang menepuk pundaknya dan terkesiap kaget, sewaktu akan menoleh. Malah mendapat sebuah tamparan diwajahnya.
Plak...
Tiara menatap tajam orang yang datang-datang langsung menaparnya. Ia menahan tangan yang akan menamparnya lagi, membuat orang itu terkesiap sakit, karena tangannya dipelitir kebelakang dan didorong menjauh dari dirinya.
"Gila lo yah, datang-datang main tangan aja," ujarnya dingin. "Mau gua patahin tangan lo itu." Menatap tajam orang yang menamparnya, ternyata si Iyem alias Bella, yang menatapnya dengan tatapan benci.
"Ini belum seberap dengan apa yang telah lo dan sahabat murahan lo itu pada gue." Bentaknya marah. "Mana sahabat lo itu, udah buat hidup gue hancur, sekarang malah menghilang, pengecut banget!."