
“Jangan… Tuan kumohon.” Pintanya lirih dengan menangkup kedua tangannya. “Akan saya lakukan apa saja, tapi tolong lepaskan saya.”
“Ada hak apa kamu bernegosiasi,”cibirnya. “Kenapa saya harus menuruti permohonanamu, karena selama ini, peringatan saya telau kamu hindaukan. Kamu tau siapa saya kan,”
“I…iya,” mengangguk cepat.
“Saya bisa menghabisi siapa saja, yang berani mengusik keluarga saya.” Serunya tajam
“Maaf,” pintanya lagi. “Saya janji akan meninggalkan Demir dan tak berhubungan dengannya lagi.”sambungnya cepat dan penuh keyakinan.
“Benarkah?” tanyanya mengejek. “Itu saja tak cukup.”
“Saya akan pergi jauh dari kota ini, saya janji.” Ujarnya tegas dengan sorot mata memohon percaya atas apa yang telah dikatakannya.
“Wanita penuh tipu daya sepertimu, tak bisa dipercaya.”
“Keluarga saya jadi taruhannya.” Serunya berat dan terpaksa.
“Hmm.” Berjalan mendekati Havva, menatap matanya dan mencari kebohongan di sana. “Bawa dia pulang, pastikan dengan mata kalian sendiri dia pergi dari Negara ini,”menatap salah satu pengawalnya yang dipercaya. “Urus mereka dengan benar, sejam kemudian, saya tahu, mereka sudah pergi.” Perintahnya tegas
“Baik, Tuan.”
“Sampai kapanpun, kalian sekeluarga tak diizinkan kembali. Kalau sampai itu terjadi, bukan hanya dirimu yang saya habisi, seluruh keluarga dan keturuan kalian, akan lenyap.” Ancamnya dingin.
“Baik,” sahut Havv cepat dengna ketakutan.
“Bawa dia!”
Ciara menatapnya prihatin, seharusnya ia berbahagia kalau saingan mendapat cinta suaminya sudah disingkirkan oleh Ayah mertuanya. Tapi entah kenapa, hatinya masih tetap was-was, tak percaya kalau Hevva akan menyerah begitu saja dengan mudah untuk melepaskan suaminya.
Sebelum Hevva dibawa keluar oleh para pengawal, mata mereka saling tatap. Ia melihat sorot mata penuh dendam dan sakit hati padanya. Terus menatapnya sampai, Hevva hilang dari pandangannya, mengambil napas panjang, menenangkan hatinya yang berdebar, seakan mengatakan jika ini belum selesai
*******
Tokk…Tokk… Suara ketukkan mengagetkan Tiara dari lamunan panjangnya. Melihat siapa yang berdiri didepannya, ia terlihat salah tingkah, dijam kerja malah sibuk melamun.
Tasya menyeringai jahil padanya. “Pagi-pagi udah melamun aja, nanti tenggoran, baru tau rasa deh lo,” seru Tasya mengingatkan. “Sedang mikiri apa sih lo, gue udah berdiri, nunggui lo sadar. Udah 10 menit. Hampir lumutan, lo gak balik-balik ke dunia kita.”
“Gak ada,” elaknya.
“Ngeles aja lo,” sindirnya sinis.
“Hehe, bukan gitu. Gue aja bingung dengan apa yang terjadi, jadi belum bisa cerita,”ujarnya meminta maaf.
“It’s ok. Kalau lo udah siap, bisa curhat ama gue,” ucap Tasya sambil menepuk tangan Tiara.
“Nanti kita lunch bareng yah, tunggui gue di lobi.”
“Oke.”
“Gue balik dulu, entar Pak bos, ngomel-ngomel lagi,” candanya sambil berjalan meninggalkan bilik Tiara.
Tiara menghela napas panjang, memikirkan mimpinya semalam. Apa sebenarnya terjadi, kenapa mimpi itu seakan nyata, pernah terjadi. Kenapa pula ia seakan ditarik ke dalam memori wanita pemilik liontin itu. Siapa wanita itu, dia terlihat berbeda dengan Afra. Wanita ini telihat hidup beberapa generasi sebelum Afra, apa hubungan mereka. Kenapa mereka bisa hadir dalam mimpinya. Banyak sekali yang menjadi pertanyaan yang ada dipikirannya tapi tak tahu harus mencari jawaban dimana.
Lebih baik sekarang ia fokus dikerjaannya, dari pada disuruh lembur. Memikirkan yang tak tahu jawabannya, buat pusing kepala saja. Belum lagi, harus memikirkan lamaran dari Wyatt semalam. Bisa-bisa botak rambutnya, pikirnya lebay
******
Tiara dan Tasya berada di lobi. Melihat rekan kerja sedevisi dengannya sedang mengelilinngi zain, yang terlihat sangan bahagia. Ia melihat Tiara, tersenyum dan ngomong sebentar dengan temannya, lalu berjalan mendekati mereka.
“Kalian mau ke mana?” Tanya Zain.
“Mau ke café di ujung jalan,” sahut Tasya. “Mau ikut?” tawarnya.
“Gak, udah ditunggu mereka,” menunjukan rekan-rekan kerjanya yang tersenyum pada mereka. “Tumben, dalam rangka apa,” ujar Tiara ingin tahu. “Kayaknya lo kelihatan happy banget.”
Tiba-tiba datanglah Abas menepuk pundak Zain, lalu berdiri di sebelahnya. “Gimana gak bahagia, biang rusuh hidupnya telah pergi.” Celetuk Abbas.
“Siapa lagi kalau bukan Amoy,” celetuk Made', mendekati mereka.
“Loh, kok gue kagak tau,” ujar Tiara mengeryit keningnya.
“Lo kan sibuk melamun,” sindir Tasya. “Jadi gak tau, orang sekantor udah pada heboh.”
“Kok bisa, emang dia resign yah,” Tiara bersemangat ingin tahu.
“Kepo loh,” celetuk Zain geli.
“*Is*h, haruslah. Berita besar itu.” Sahutnya ikut senang. “Pantas lo happy banget, Zain.” Bertepuk tangan gembira. “Makan besar, makan besar.”
“Oke, tapi kalian harus ikut kami.” Sahut Zain.
“Kalian mau Lunch dimana?”Tanya tasya pada mereka.
“Di sekitar kantor aja, gak perlu jauh. Waktu kita makan juga hanya tersisa 35 menit.” Ujar Abas.
“Kalau mau cepat, dikantin aja. Hemat waktu dan uang.” Jawab Zain menyetujui.
“Pelit lo,” gerutu Made' bercanda. Membuat rekan-rekan yang lain tertawa dan meledek Zain.
“Oke, oke. Gue nurut aja,”serunya mengalah.
“Kalian mau ikut?” tanyanya sambil menunggu jawaban kedua wanita cantik dihadapannya. Yang dibalas dengan anggukan kepala
******
“Boleh kami bergabung dengan kalian,”ujar seorang pria menyela dan bertanya pada mereka, ketika mereka sedang asik membicarakan Amoy dan menunggu pesanan.
“Eh, Pak Bos.” Celetuk Made' terkejut. “Mari gabung, Pak.” Sambungnya ramah, setelah tahu siapa yang menyelah obrolan mereka.
Mereka dari awal memang mengambil meja, yang duduk lesehan. 2 meja digabungkan, sehingga cukup untuk mereka berdelapan. Mereka bergeser, dan mempersilahkan Pak Boss, yang datang bersama dengan dua orang lainya.
“Makasih sudah memperbolehkan kami gabung,” seru Bram. Mengambil duduk didepan Tasya, sedangkan lainnya berhadapan dengan Tiara. “Kalian belum kenal dengan mereka berdua,” sambungnya menunjukan pada dua orang disampingnya.
“Ya,” sahut mereka barengan kecuali Tasya dan
Tiara, bersikap cuek.
“Ok, di samping saya ini, salah satu staf dewan direksi perusahan kita. Lebih tepatnya wakil ketua,” kata Bram seakan menjatuhkan bom pada mereka.
“Apa!”serunya meninggi dan menatap pria didepannya dengan tajam.
“Ra, biasa aja kali, gak usah lebay gitu,” celetuk Zain, melihat Tiara yang menatap Tajam pria itu, seperti mereka salng mengenal.
Tiara melihat rekan-rekannya menatapnya bertanya, ia lalu menetralkan ekspresinya sedater mungkin, agar mereka tak mencuriga sikapnya. “Maaf, cuma kaget,” elaknya datar.
“Ngelesnya bisa aja lo, Ra.” Gurau Bram geli.
“Pria ini, Wyatt Alger Knoxfeld.” Menunjukkan Wyatt yang bersikap datar. “Dan disebelahnya itu, asistennya, Leonard Munoz.” Yang dibalas Leon dengan tersenyum ramah pada mereka.
“Kalian dalam rangka apa, bisa lunch bareng gini,” sambungnya bertanya.
“Ini Pak Bos, si Zain syukuran atas perginya si biang rusuh hidupnya,” jelas Made’ bersikap bersahabat saat diluar jam kantor.
“Siapa?” tanyanya penasaran.
“Amoy, Pak Bos,” ujar Abas.
“Amoy?” tanyanya semakin bingung.
“Amelia, Bang.” Koreksi Tasya geram.