Golden Bride

Golden Bride
Bertemu Kenalan



"Sudah deh, kok lo yang sewot sih, Sya." Ujar Tiara menenangkan. "Mau nonton kagak, kalau gak kita tidur. Besok schedule kita padat."


"Lagaknya lo, Ra," menggeleng kepala geli. "Ya iyalah, baru jam 10, kita nonton 4 episod lagi baru kita bobok cantik." Sambungnya sambil manggut


- manggut bersemangat.


"Alamak..bisa-bisa besok mata gue kayak mata panda." Ujarnya lebay dengan menepuk keningnya seakan lelah.


"Hahaha."


******


"Bunda," panggil Tiara sambil menoleh kanan dan kiri mencari Bundanya  "Bunda di mana?."


"Bunda di dapur, Nak." Sahut Bundanya.


"Bund, kami pegi dulu ya." Ujar Tiara berada di depan Bundanya yang sedang mengulek cabe.


"Kalian makan di rumah?" Tanya Bundanya sambil mengulek cabe.


"Gak Bund, kami makan diluar aja." Jawab Tasya cepat.


"Ayah mana, Bund?" Tiara mencari Ayahnya nggak kelihatan. "Terus yang lain pada kemana, pagi gini pada sepi aja." Sambungnya heran.


"Ayahmu di masjid, sedang gotong royong. Kalau adik-adikmu, pada keluar sama teman-temannya."


"Tumben, masih pagi ini udah kelayapan mereka." Gerutunya heran sambil menatap jam tangannya yang masih jam 8 lewat.


"Gak usah ngomongin adik-adikmu, kamu juga sama aja." Sindir Bunda halus. Yang di sindir hanya cengar cengir. "Pulang jam berapa, Nak?"


Tiara bingung mau menjawabnya. "Belum tahu, Bund." Menatap Tasya meminta bantuan.


"Mungkin jam 2 sudah di rumah, Bund." Sahut Tasya. "Bunda masak apa?" Sambungnya penasaran karena mencium wangi masakan, memeluk Bunda sayang. Bagi Tasya, kedua orang dan adik-adiknya Tiara, yang bisa memberikan kehangatan sebuah keluarga daripada kedua orang tua dan saudara-saudaranya, yang sibuk dengan kerajaan bisnis mereka. Ia tanpa sungkan bermanja-manja dan menunjukkan kasih sayangnya pada kedua orang tua Tiara. Dan menganggap adik-adik sahabatnya itu seperti adiknya sendiri. Dan sudah menganggap kalau rumah Tiara, rumah kedua baginya. Bisa datang dan pergi kapanpun ia mau, tanpa ada yang protes maupun terganggu.


"Bunda mau masak Ikan gurami bakar, sambal bejek, ikan asin, tempe bacem sama sayur asem." tersenyum hangat dan lembut.


"Asik, mantap Bunda," seru Tasya senang, pasalnya makanan itu salah satu makanan favoritenya dan Tiara. "Tapi kami gak bisa mencicipinya karena belum tahu pulang jam berapa." Sambungnya sedih.


"Tenang aja, nanti Bunda sisakan buat kalian." Ujar Bundanya sambil tersenyum.


"Bunda emang the best," seru mereka senang sambil memeluk Bundanya sayang.


"Sudah, sudah. Nanti baju kalian terkena cabe. Hati-hati dijalan, bawa mobil gak boleh ngebut, dan jangan sampai telat makan," ujar Bundanya menasehati.


"Beres Bunda, kami pegi dulu ya, Bund." Sahut mereka serempak dan mencium Pipi Bundanya dengan sayang.


"Kalian ini," seru Bunda geli.


             


******


Tingg... Bunyi suara pesan masuk di ponsel Tiara.


Tiara membuka pesan WA dari Alvin di ponselnya, dan membacanya.


📱 Alvin


Ra, temani gw nonton sore ini


"Siapa, Ra?" Tanya Tasya sambil menyetir.


"Alvin," sahutnya singkat sambil membalas pesan WA nya.


📱 Rara


Sorry, Vin. Gue gk bs


📱 Alvin


Knp?


📱 Rara


Gw seharian ini sibuk


📱 Alvin


Sibuk apaan🤔,hari ini kan weekend😒


📱 Alvin


Jgn bilang kl lo mau jln2 seharian ini😕


📱 Alvin


Sm sapa, cow/cew😡


Tasya melihat Tiara ragu-ragu mau membalasnya atau tidak, merasa geram sendiri melihatnya, lalu mengambil ponselnya, untung saja mereka sedang dilampu merah sekarang. Tiara protes ponselnya diambil tapi mendapat tatapan tajam darinya, lalu hanya bisa mengalah. Kalau sudah Tasya yang membalasnya, alamat tidak baik ini ceritanya.


📱 Rara


cerewet bgt sih, mau cew/cow suka2 gw la😛


📱 Alvin


Kok lo yg sewot, Ra😡


📱 Rara


Gw sibuk, mau jln sm sapa aja tuh urusan gw.


Seharian ini gw gk megang ponsel, jd gk


usah WA. Dah dl yah, bye😎🖐


"Ini." Tasya menyodorkan kembali ponselnya Tiara dan kembali fokus menyetir.


"Gawat, bisa ngomel-ngomel Alvin sama gue kalau lo ngebalas kayak gini, Sya." Ujar Tiara kesal setelah melihat balasan dari Tasya.


"Masa bodoh." Sahutnya cuek


"Tapi Sya.." Bantahnya terputus.


"Cukup, Ra. Ngomong tuh cowok, bikin gue kesal mulu," selanya kesal. "Lo ini kan pintar, tapi masih aja mau dikadali cowok tukang Php kayak sicurut satu itu." Sambungnya marah.


"Lo salah...," belanya lagi tapi terputus.


"Cukup ya, Ra," selanya lagi muak. "Gue gak suka kita jadi berdebat gara-gara si buaya buntung satu itu."


Tiara menghela napas sabar, Tasya memang nggak pernah suka akan kedekatannya dengan Alvin sejak Kuliah. Menurutnya, Alvin hanya memanfaatkan perasaan suka Tiara dengan memberi Php saja tanpa kepastian.


Mungkin mendengar nama Alvin saja membuat Tasya mual, maka nya dia tidak pernah memanggil nama yang sama, selalu berbeda dan seenaknya saja. Pernah mereka bertengkar gara-gara Tasya memanggilnya ******. Wajar kalau Alvin marah, panggilan Tasya itu sama saja menfitnahnya.


Mereka bertiga satu kampus, satu jurusan tapi Alvin beda kelas sama mereka. Awalnya Tasya suka dengan kedekatan mereka tapi ia langsung marah pada Alvin karena sehari ngomong sayang pada Tiara, besoknya malah membawa pacar baru untuk dikenalkan pada mereka. Sejak itu, Tasya selalu antipati pada Alvin, dan berusaha menjauhinya dari Tiara.


Tasya selalu mengejeknya dengan otak bebal dan bodoh, karena selalu di Phpi oleh Alvin. Ia juga tak bisa menjawab karena yang dikatakannya itu memang benar. Tasya tidak tahu saja, usaha dirinya untuk move on. Selama setahun ini, ia memang berusaha menjaga jarak. Walaupun sering melihat Alvin di sekitarnya, karena kantor mereka berdekatan, kadang juga suka ketemu di resto yang berada di sekitar tempat kerja mereka.


"Gak usah dipikirkan lagi tuh cowok." Tegur Tasya mengingatkan tajam. " Gue gak mau apa yang kita rencana kan hari ini gatot gara-gara perasaan melow lo pada ****** satu itu. Gak usah protes." Sambungnya tajam.


"Ok, boss" sindirnya kesal dan mengalah. Kalau sudah begini, Tiara selalu mengalah, ia tidak mau hanya gara-gara cowok persahabat mereka menjadi hancur.


"Bagus, ini baru namanya anak baik." Menepuk-nepuk pundak Tiara, seolah-olah dirinya orang tua.


"Isshh," protes Tiara sebal sambil mengubah suara ponselnya menjadi bergetar.


******


Saat ini Tiara dan Tasya sedang duduk di cafe seberangan dengan apart Roy, mereka sudah 2 jam duduk di sini sambil memperhatikan orang-orang yang keluar masuk..


"Sya, lo yakin Roy masih ada di dalam?" Tanya Tiara ragu.


"Yakin lah." Sahutnya percaya diri.


"Tadi gue sudah telepon Mpok Mina, asisten keluarga Roy tentang keberadaannya, kalau dirinya sedang berada di apartnya."


"Terus mau sampai kapan kita di sini, gue bisa mati kebosanan, Sya," runtuknya bosan.


"Sebentar lagi" pintanya memelas. "Gue juga sedang tunggu orang."


Tiara menatapnya bingung dan penasaran. "Siapa?"


"Nanti lo juga tahu."


"Gue ke toilet dulu kalau gitu." Yang dijawab anggukan kepala oleh Tasya.