
“Dari info-info yang dikirimkan Gilang, di sana dikatakan siapa-siapa saja yang pernah dekat dengannya dan menjadi kekasihnya.”
“Jadi yang lo takutkan itu,” menatap Tiara yang malu, seakan Tasya berhasil mengemukakan apa yang menjadi ketakutkan hatinya. “Sebelum lo melangkah lebih jauh, katakan padanya apa yang menjadi ketakutan lo. Buat dia berjanji untuk menghilangkan kebiasannya itu, dan menjadikan lo satu-satu wanita dalam hidupnya.” Sarannya lembut.
“Dia udah ngomong kalau gue akan menjadi satu-satunya pendamping hidupnya.” Sahutnya malu.
“Nah apalagi yang lo ragukan.” Seru Tasya heran. “Bukan maksud gue membelanya, Ra.” Sambungnya cepat ketika menatap kekesalan Tiara padanya. “Dari cerita lo tadi, gue udah nebak. Percuma aja nolak, karena lo udah ditakdirkan menjadi pasangannya. Bisa kita bilang, kalung itu yang menjadi makcomblang kalian berdua buat bersatu.”
“Tapi bisa aja kan..”bantahnya berkeras terputus.
“Sekarang lo shalat lagi aja terus buat menyakinkan hati, yang gue lihat hati dan ego lo bertentangan.” Sarannya lembut. “Apapun keputusannya, gue akan selalu mendukung, lo gak akan sendiri melaluinya.” Menepuk-nepuk tangan Tiara. “Pinta gue, lo cerita juga sama jasmin dan monic, biar mereka gak marah nantinya. Kita dengarkan juga saran dari mereka yah.”
“Oke,”sahutnya pasrah
“Gak usah bersikap gini deh, Ra. Seakan-akan dijatuhi hukuman mati aja lo,” ledeknya bercanda.
“Ember,” sahutnya asal dan cemberut.
“Haha.”
“Tiara, kamu udah siap-siap belum, Nak Wyatt udah nunggu di depan.” Seru tiba-tiba suara Bundanya dari luar kamarnya mengingatkan.
“Bentar lagi, Bund.” Sahutnya agak berteriak.
“Jangan keasikkan ngobrol, kalian gak punya waktu banyak loh,” ujar Bundanya yang sudah berdiri didepan kamarnya.
“Iya, Bund.” Sahutnya, lalu berdiri menyiapkan pakaian yang akan dibawanya.
“Sya, acaranya mulai jam 8 kan.” Ujar Bundanya menatap Tasya.
“Iya, Bunda.”
“Calon menantu Bunda diundang juga kan,” seru Bunda tersenyum melihat Tiara yang merengut mendengar omongan Bundanya.
“Emang siapa sih calon mantu Bunda itu," ujarnya pura-pura tak tahu.
"Ada noh, lagi ngobrol sama Ayah," sahut Bundanya nyantai.
"Ikh, kapan tunangannya, lamarannya aja belum diterima. Bunda udah ngaku-ngaku dia calon mantu," runtuknya geram dan menatap Bundanya kesal dengan mulut dimoyongkan,
“Ngapain mulutmu dimonyongkan gitu, cepat selesailkan apa-apa aja yang mau dibawa, nanti orang ruan Tasya marah-marah lagi, anaknya belum pulang.” Sambung Bundanya tegas Tanpa menggrubis protesan anaknya, hanya bisa menggelang kepala, melihat Tiara yang menghentak kakiknya kesal.
"Ikan, ikan disini jualan ikan," gerutunya bergurau karena omongannya tak dihidaukan Bundanya. "Iya Bund,” Sambungnya patuh ketika mendapat pelototan tajam.
Tasya tersenyum geli, melihat Tiara yang tak berkutik dengan Bundanya. Mau menolong, entar ia ikutan disemprot juga, maka nya lebih baik menjadi pengamat saja.
“Bagus kalau gitu, soalnya Bunda dan Ayah perginya bareng wyatt.” Seru Bundanya santai
“Apa!” seru Tiara terkejut seperti dijatuhkan bom di depannga. Ia kesal, lamaran Wyatt belum diterimanya, malah sekarang semua keluarganya sudah menganggapnya calon mantu di rumah ini “Bunda…” protesnya terputus.
“Iya, iya,” sahutnya pasrah,
“Bagus, Bunda mau nemani calon mantu dulu di depan.” Serunya santai tanpa menggrubis anaknya yang kesal mendengar omongannya itu, lalu meninggalkan kamar Tiara.
“Lihat kan, apa yang gue bilang. Percuma lo nolak, Bunda dan Ayah aja udah menganggap Wyatt calon menantunya.” Ejeknya tersenyum.
“Ish, diam lo.” Serunya kesal. “Bisa-bisanya dia pergi bareng orrang tua gue, emang lo undang yah, Sya.” Menatap Tasya curiga
“Lo lupa kalau dia termassuk orang penting di perusahaan, otomatis diundang lah.” tasya bersikap cuek dengan omongan Tiara yang mencurigainya.
“Siapa yang ngundang?” Tanya Tiara penasaran dan sebal.
“Siapa lagi, kalau bukan Abang gue tercinta.” Sahutnya pasrah, seingatnya dia tak mengundang Wyatt. Jadi bisa dipastikan kalau Abangnyalah yang mengundangnya, karena melihat kedekatan mereka akhir-akhir ini, sepertinya mereka sudah berteman.
“Ck,” decak kesal. Melampiskan kekesalannya dengan memasukan barang-barang yang akan dibawa ke dalam tasnya dengan kasar.
Tasya hanya menggeleng kepala dan tersenyum melihat kekesalan Tiara, sebenarnya hatinya sedang berdebar-debar menanti apa yang akan terjadi nanti malam. Tapi ia berusaha menguatkan diri dan positif thinking, kalau semuanya berjalan sesuai rencananya.
******
Acara pertunganan Tasya akan diadakan di taman rumah, dengan konsep pesta kebun. Sesuai dengan keinginannya, yang diundang juga hanya keluarga dan orang-orang terdekat dengannya saja. Tidak banyak diundang, kalau Tiara perhatikan yang datang tak sampai 100 orang. Tak ada wartawan sama sekali. Acaranya juga belum dimulai, sehingga ia bisa keliling, menjadi seksi sibuk. Mencari tahu apa-apa saja yang kurang, dan menyiapkan rencana Tasya dengan matang.
“Hallo, Ra.” Panggil seseorang padanya, saat ia sedang merapikan susunan alat makan yang tak sesuai. Ia menoleh dan melihat teman SMA nya, walaupun tak terlalu dekat, tapi mereka sering dipasangkan dalam kerja kelompok, sehingga mereka sering ngobrol.
“Hallo, Key.” Terkejut ketika Keysa memeluknya.
“Apa kabar, Ra. Sekarang lo beda yah,” puji Keysa tulus.
“Alhamdulillah, baik kok. Beda apanya, kalau tambah gemuk iya, kan waktu SMA gue kurus, hahaha.” Jawabnya bercanda dan tertawa. "Kabar lo dan keluarga gimana?"
“Alhamdulillah sehat semua." Jawabnya. "Kebiasaan lo kalau dipuji selalu merendah, lo bukan gemuk tapi montok,” gumamnya geli sambil menggeleng kepala melihat Tiara yang malu dikatakan montok.
"Ish, lo ngehinanya total banget, cari bahasa nya keren dikit kek, geli gue dengarnya," gerutunya pura-pura tersinggung.
“Haha," tertawa bahagia bisa bergurau dengan sesorang yang telah dianggapnya teman. "Lo nambah cantik sekarang, udah punya calon belum, kalau belum entar gue kenalin dengan teman-teman gue, dijamin mereka puas deh.” sambungnya ambigu dan memujinya sambil bergurau.
“Puas apa euy, merinding dengarnya,” sahutnya sewot.
“Puas lo jahilin terus, hahaha” tertawa melihat Tiara merengut. “Lo kan waktu SMA, orangnya sedikit jahil dan cerewet. Masih gak kebiasaan lo itu kalau lagi moody-an.” Menatap Tiara yang malu.
“Ish, gak usah juga dibuka donk aib gue tuh, bikin malu aja,” gerutunya malu dan terkejut ternyata Keysa termasuk orang yang mengenal karakteknya yang suka jahil, kalau lagi moody.
“Tenang aja, gue udah berubah kok gak jahil lagi, tapi kalau cerewet sih masih, nama nya juga wanita, kalau gak cerewet aneh kan namanya, hehehe.”
“Tapi gue lihat lo banyak berubah yah, Ra. Lebih terlihat dewasa dan diam.” Yang dijawabnya dengan senyuman. “Jadi gimana mau gue kenalin gak ama teman-teman cowok gue.” Sambungnya serius, karena ada teman cowoknya yang sedang mencari pendamping, kayak cocok dengan Tiara.