Golden Bride

Golden Bride
Kedatangan Roy



“Lo ngundang orang, Sya?” Tanya Tiara bingung.


“Gak,” menggeleng kepala.


“Terus siapa yang datang?” menatap Tiara. “Apa mungkin Jasmin dan Monic.”


“Gak mungkin lah, mereka kan tau password apart lo, jadi tinggal masuk aja.”


“Terus siapa donk,” ujarnya bingung. “Lo buka deh, kalau Bang Bram, bilangi aja, gue mau sendiri, belum bisa nemui dia dulu.”


"Gak boleh gitu, Ra. Abang pasti khawatir pada lo."


"Gue tau tapi bisa kan Abang gak datang dulu saat gue perlu menenangkan diri." Ujarnya lembut. "Sana, Buka pintunya," usirnya lelah.


"Oke.” Beranjak meninggalkan kamar Tasya.


Ting Tong


“Ya, sabar.” Ujarnya geram, karena bel nya ditekan oleh orang yang tak sabaran. Kekesalannya bertambah ketika melihat orang yang datang. “Ngapain lo kemari,” menatap tak suka dan dingin pada tamu nya.


“Minggir!!” perintah sesosok pria yang menatap dingin pada Tiara


“Lo siapa, berani merintah-merintah gue!” cibirnya sinis, berdiri menghalangi pintu dengan bersidekap.


“Minggir gak lo!” perintahnya lagi dingin.


“Jangan melewati ranah lo, Ra. Lo gak berhak ikut campur dengan permasalahan gue.”


“Kalau gue gak mau minggir, lo mau apa” tantangnya datar. “Mau mukul gue, coba kalau bisa.” Sambungnya dengan mengejeknya.


“Lo!..” tunjuknya geram, seakan ingin meremuk Tiara.


“Dengar yah, bajingan.” Ujar Tiara datar, maju selangkah mendekati tamunya, yang tak lain Roy. “Urusan lo dan Tasya semuanya sudah berakhir, sedetik lo ketahuan selingkuh. Jadi kalau masih ada yang buat lo penasaran, tanyakan ke gue aja. Dengan senang hati menjawab semua rasa penasaran lo.”


“Ini pasti ulah lo kan, ngehasut Tasya buat mempermalukan gue hari ini.” Tuduhnya marah.


“Kalau iya, lo mau apa.” Ejeknya dengan santai.


“Harusnya lo berterima kasih, gak usah bersusah payah lagi buat rencana untuk menceraikan Tasya nantinya.” Tersenyum menghina. “Bukannya lo juga harus bersyukur, bisa bersatu dengan si Iyem.” Tertawa melihat Roy tak nyambung siapa yang dibicarakan.


“Akh, iya ya. Lo gak gak tau Iyem siapa. Iyem tuh panggilan kesayangan satu sekolah buat Bella.” Lalu ia menatap Roy sinis. “Lo tau gak, kenapa dia dipanggil Iyem. Gue rasa lo gak tau, itu karena dia sering merebut pacar cewek lain maupun menjadi selingkuhan. Khususnya Tasya.”


“Minggir lo, gak guna ngomong hal gak bermutu seperti ini.” Hardiknya marah


“Kenapa gak suka, kan gue ngomong faktanya. Lo gak tau kan, dari jaman sekolah dulu, selingkuhan lo itu selalu iri Pada Tasya. Setiap cowok yang PDKT maupun pacarnya, selalu diambilnya. Tanpa terkecuali lo.” Menggeleng kepala tersenyum sinis. “Kasihan deh loh, lo hanya dijadikan alat bagi Bella untuk menyakiti Tasya.” Sambungnya sarkas. “Sayang sekali, dia gak pakai otak. Dipikirnya Tasya akan mati lo tinggal, kagak. Putus dari lo aja, udah banyak yang ngatre buat jadi pacarnya. Cih, lo membuang berlian demi emas imitasi, sungguh mengenaskan hidup lo, Roy.”


“Lo!” Bentak Roy marah, dan mencengkram rahang Tiara, seakan ingin meremukkannya. 


Sedangkan Tiara hanya bersikap santai, tak ada rasa takut. Kalau ia mau sudah melepaskan diri dari cengkraman Roy. Tapi ia sengaja ingin tahu apa yang akakn dilakukan bajingan ini. Tapi ia tak tau, kalau tindakan Rooy itu, membuat seorang pira marah. Cengkraman dirahangnya terlepas dan hanya terdengar erangan sakit.


“Akww.....” erang Roy kesakitan.


Bugh… Bugh…


Tiara melongo ketika Wyatt yang tiba-tiba datang, bak pahlawan, menghajar Roy. Kenapa pula ini orang kemari, sok pahlawan. Bikin kesal aja, gerutunya geram dalam hati


“Kalau sekali lagi saya lihat tanganmu ini berani menyakiti calon istriku, akan kuhancurkan hidupmu, sehingga kamu lebih baik memilih mati dari pada hidup.” Ancam Wyatt dingin, dengan ekspresi yang ditakuti oleh banyak musuhnya. Lalu melepaskan kerah baju Roy, mendorongnya, membuatnya jatuh dengan wajah dan mulut penuh darah. “Pergi gak, sebelum saya habisi sekarang juga!” Perintahnya tajam.


Roy berdiri, menatap takut pada Wyatt dan menatap marah pada Tiara. Ingin tetap di sini tapi resikonya besar kalau melawan Wyatt. 


“Matamu, mau saya congkel. Jangan menatap tunanganku begitu!” hardiknya marah dan mengancam. “Pergi!” sambungya memerintah dengan dingin dan menakutkan. Tanpa mikir dua kali, Roy langsung meninggalkan mereka.


“Ck,” decak Tiara geram, karena tadi sekilas melihat raut khwatir dimata Wyatt padanya. Tapi sekarang wajahnya kembali datar, membuatnya kesal setengah mati. Tanpa menggurbis Wyatt, ia berniat menutup pintu tapi ditahan oleh Wyatt. “Apa lagi.” sambungnya datar.


“Kalau orang bertanya, dijawab donk. Jangan hanya diam, terus ngapain kamu main masuk-masuk aja.” Seru Wyatt tak suka.


“Suka-suka gue donk, lagian bisa gak jangan muncul seenak jidak lo dihadapan gue. Gue butuh privasi, jangan diikuti terus.” Ujarnya marah.


“Gak bisa, Akw…” ujar Wyatt terputus dan kesakitan.


“Ya, udah, bye.” Serunya dengan tersenyum penuh kemenangan dan puas karena telah menendang tulang kering Wyatt, dan menutup pintu tanpa menggrubis kesakitan Wyatt. Ia tersenyum sengang, mendengar Wyatt yang memakinya dari balik pintu, lalu berjalan kembali ke kamar Tasya.


“Siapa, Ra?” Tanya Tasya ingin tahu.


“Orang gila,” sahutnya asal sambil mengedipkan bahunya


“Siapa, yang datang, Ra?” tanyanya lagi curiga 


“Bukan siapa-siapa, lo tenang aja.”


“Ra?”


“Udahlah gak usah dipikiri siapa yang datang, gak penting juga.” Menepuk tangan Tasya.


"Apa Roy yang datang?" tebaknya lirih.


Tiara menghela napas. "Kalau dia yang datang lo mau apa, Sya." Menatap Tasya ingin tahu.


"Gak kenapa-napa juga sih, mau tau aja. Apa maunya dia sampai berani nemui gue lagi." mengangkat bahu pura-pura tak peduli.


"Yang pasti dia gak terima lo permalukan semalam." Seru Tiara geram.


"Bagus kalau dia nemui gue, apalagi bareng selingkuhannya." Ujarnya geram. "Gue belum puas mencaci maki mereka, apalagi Si Bella tak tau diri itu, ingin rasanya ngelihat wajah songongnya saat gue suruh ambil Roy. Pasti seru, deh," sambungnya bersemangat.


"Gak baik menjadi pribadi yang dendam, Sya. Jangan kotori hati lo yah," pintanya dengan tulua dengan menggengam tangan Tasya. “Udah yah, gak usah bahas mereka, bikin kesal aja." sambungnya berdiri.


"Mau ke mana lo?"


"Gue mau telepon Jasmin dan Monic dulu yah,” menunjukkan dan menggoyangkan ponselnya.


Ting


Sebuah pesan masuk ke ponselnya, ia berdecak kesal dengan orang yang mengirimnya pesan, yang tak lain, pria yang yang baru saja membuat nya kesal, Wyatt.


📱Wyatt


    Gadis nakal, jgn senang dulu,urusan kt blm 


    slesai. Hub kl pulang!


“Siapa, Ra?” Tanya Tasya pe nasaran.


“Wyatt,” desisnya geram dan berdiri. “Lo istirahat aja dulu, gue geluar dulu yah, mau trelepon Jasmin dan Monic,” yang dibalas dengan anggukan kepala oleh Tasya.


😇Tmn2, thanks udah masih setia membaca cerita ini🙏🤗


😍Jgn lupa vote, like and comen yah🤗🙏


🤗see u on next episode😘