Golden Bride

Golden Bride
Suami,Siapa?



Mereka hanya saling melirik, mendengar Tiara mengalihkan omongan. Tasya menatapnya tak suka, Monic menggerutu pelan, sedangkan Jasmin hanya menghela napas kesal. Tapi mereka tak  bisa protes,takut membuat kepala sahabatnya itu pusing.


“Setau gue dia yah di penjara,” jawab Jasmin cuek.


“Kok bisa?”


“Iyalah, masa orang seperti itu dibiarkan aja,” gerutu Tasya sengit.


“Berani berbuat, harus berani menanggung resikonya donk,” timpal Monic geram.


“Siapa yang memasukkannya ke sana?”


“Yah, siapa lagi kalau bukan suami lo?” cetus Monic tanpa sadar.


“Apa?!” seru Tiara tercengang, seakan telinganya salah mendengar. “Suami siapa?” sambungnya bertanya, menatap ketiga temannya dengan ingin tahu.


“Bukan gitu maksud Monic, Ra.” Elak Jasmin cepat. “Maksudnya Ayah lo yang memasukkannya ke sana.” Sambungnya menyakinkan.


“Ada yang kalian sembunyikan dari gue kan?” tanya penasaran dan menatap mereka intens.


“Gak ada,” jawab mereka serempak dan menyakinkan. Karena bukan hak mereka untuk mengatakan kebenaran ini pada Tiara.


“Pasti ada yang kalian sembunyikan, nanti gue yang cari tau sendiri.” Ucapnya yakin menatap ketiga sahabatnya curiga. Karena telah mengenal sangat lama, jadi tahu kalau ada yang mereka sembunyikan darinya. Ia tak mau memaksa, akan mencari tahu sendiri.


“Kenapa lo kaget gitu, si medusa dipenjara. Kayak gak suka dia di sana.” Timpal Jasmin mengalihkan omongan.


Tiara hanya menatapnya geram, Jasmin mengalihkan omongan, ia juga tak bisa memaksa mereka untuk bicara jujur. “Dia kan gak salah, itu murni ketidaksengajaan, gak perlu dikasuskan gitu."


“Ketidaksengajaan dari Hongkong, sampai buat lo dioperasi dan harus dirawat selama seminggu ke depan.” Ujar Tasya marah dan tak suka.


“Tapi kan gak di penjarakan juga kali, kasihan lihatnya.” Gumamnya Tiara pelan dengan mimik sedih.


“Gak usah dipikirin nasibnya, Ra. Resiko dia berani mencelakai lo, berarti siap menerima konsekuensinya.” Ujar Tasya tegas.


“Gue tau, tapi hanya berpikir dari sisi yang lain. Mungkin dia tanpa sengaja mendorong gue karena kalut dengan masa depannya yang berantakan, jadi emosinya labil.” Terangnya santai sambil melihat reaksi ketiga sahabatnya yang menggerutu tak suka akan pembelaan dirinya


“Setau gue, dia labil terus. Belum pernah melihatnya waras,” ejek Tasya sengit.


“Jangan terlalu benci, Sya. Gak baik buat hati lo,” gumam Tiara menasehati.


“Bukan benci, Ra. Hanya marah, karena berani mencelakain lo,” bantah Tasya tegas.


“Lagian kenapa juga baik banget, pada orang yang mencelakai lo,” gerutu Monic tak suka.


“Ada yang ngasih tau, kalau kejahatan tak harus selalu dibalas dengaan kejahatan. Tapi dengan berbuat baik, bisa meluluhkan hati orang telah berbuat jahat pada kita.” Ujar Tiara tersenyum dengan penuh teka-teki. "Ada benar juga omongan itu."


“Emang siapa yang lo maksud?” Tanya Jasmin penasaran.


“Ada aja, ” elaknya santai penuh rahasia.


“Apaan sih lo, pakai acara rahasia-rahasiaan segala,” protes Monic tak suka.


“Gak ada yang gue rahasiakan kok, suer deh,” gumamnya tegas dan terlihat polos, yang dibalas dengaan dengusan kesal. “Kalian bisa bantu gue gak?” sambungnya mengalihkan omongan.


“Bantu apa, Ra?” Tanya Jasmin.


“Bantu gue cabut tuntutan terhadap Bella?”


“Apa?!” seru mereka terkejut.


“Lo serius, Ra?” Tanya jasmine ingin tahu.


“Kayaknya tidur terlalu lama, buat lo jadi linglung,” cibir Monic tak suka.


Tiara hanya menanggapi protes mereka dengan tenang. “Seperti yang gue bilang tadi, gak mau ngebalas kejahatan dia dengan kejahatan. Apa salahnya gue balas dengan kebaikan, siapa tau bisa memperlembut hatinya dan tak mencari gara-gara lagi dengan Tasya.” Terangnya hati-hati dengan lembut.


“Tapi gak dengan mencabut tuntutannya juga kali, Ra,” protes Tasyaa marah.


“Biarlah dia di sana, agar otaknya bisa diajak berpikir dulu sebelum berbuat.” Protes Jasmin geram.


“Dengan berada di sana, mungkin akan mengajarkannya, kalau roda kehidupan itu selalu berputar, tak selamanya kita berada diatas. Akan ada saatnya kita juga merasakan di bawah,” protes Monic menasehati.


“Kalian gak suka kan dengan apa yang akan gue lakukan, dan kalian protes karena menyayangi gue,” ujarnya tersenyum dengan tenang. “Tapi tolong bantu gue yah, takutnya dia dibiarkan di sana akan menambah rasa benci dan dendamnya. Malah hidup kita akan merasa tak tenang, jika punya musuh yang akan siap kapan saja menjatuhkan kita.” Jelasnya dengan sabar dan membuka pikiran ketiga temannya.


“Tapi gak gini juga, Ra.” Protes Tasyaa marah.


“Sya, tau lo marah. Tapi yakinlah yang gue katakan tadi udah dipikirkan dengan seksama baik dan buruk dampak ke depannya.” Menggenggam tangan Tasya, menatapnya dengan memohon untuk mengerti keinginannya. “Bisa kan bantu gue?.”


Tasya menimbang, lalu menghela napas kasar. “Gue bisa bantu tapi sayang semua keputusannya bukan ditangan gue.”


“Tapi bisa kan nolong gue?” Tanya lagi memohon.


“Kami bisa bantu ngomong tapi tak berani melawan orang yang memasukkan tuntunan akan kecelakaan itu terhadap Bella.” Ujar Jasmin hati-hati.


“Kenapa?”


“Itu..itu..,” sahut Jasmin terbata, bingung mau ngejawab apa.


“Ayolah, kalau kalian gak mau bantu. Biar gue sendiri datang ke sana buat cabut tuntutan itu.” Ancam Tiara geram.


“Percuma aja, lo ke sana. Suami lo pasti gak akan ngijinin, marah lagi ada dengan ide lo itu,” ceplos Monic lagi.


“Monic!” seru Jasmin dan Tasya memperingatkan ceplosannya.


“Apa?” Tanya Monic kesal masih taak sadar terceplos sesuatu yang harus disembunyikan dulu dari Tiaraa.


“Suami, Siapa?” Tanya heran, menatap mereka menuntut jawaban.


“Gak kok, lo salah dengar,” elak Monic cepat, setelah menyadari kesalahannya.


“Kali ini gue gak salah dengar, pertama tadi, mungkin gue pikir kalian salah ngomong. Tapi kali ini pendengaran gue yakin kalau kalian ngomong suami lo, berarti suami gue, kan” menatap mereka tajam. “Sebaiknya kalian jujur, sebelum gue teriak manggil semua orang diluar buat mencari kebenarannya.” Sambungnya tajam, menatap mereka marah.


“Tenang lah, Ra. Lo salah dengar aja,” elak Tasya menenangkan.


“Gak, mau sampai kalian mau ngebohongi gue. Jujurlah sekarang, sebelum benaran marah pada kalian,” ujarnya marah.


“Bukan gitu, Ra.” Ujar Monic mencoba menenangkan Tiara.


“Siapa suami gue?  Jawab!” serunya setengah berteriak kesal, membuat ketiga sahabatnya kaget.


“Tenang dulu, Ra,” ujar Jasmin cepaat dan menenangkan Tiara.


“Sabar, Ra. Kami gak berani ngomong banyak, maaf,” seru Monic menyesal.


“Tutup mulut lo, Nic.” Seru Tasya geram.


“Jawab aja kenapa susah sih,” bentaknya marah.


Membuat ketiga sahabatnya syok dan sedih melihat Tiara membentak mereka. Tiara merasa bersalah tapi egonya enolak untuk meminta maaf. Tiba-tiba pintu berdebum cepat, melihat siapa yang masuk dengan tergesa-gesa.


“Ada apa, kenapa Tiara berteriak?” seru Ayah Dimas cemas, mendekatinya bersama dengan keluarga Tiaara lainnya, termasuk Wyatt didalamnya.