
Tiara tersenyum miring mendengarnya, walaupun sudah terbiasa tapi hatinya masih tetap merasakan sakit, mengambil napas pelan dan menghembuskannya tanpa ketara. “Ck, lo teman gak tau diri, cewek lo gak ada baru ingat gue,” serunya serius sambil menyindir.
“Bukan gitu, Ra.” Bantahnya bersalah menatap Tiara serius. Mereka berdua saling tatap, menyelami hati mereka masing-masing.
“Kenapa serius banget, gue kan bercanda, hehehe.” Ujarnya cengar-cengir, risih ditatap intens oleh Alvin.
“Maaf, Ra. Kesannya gue ngedatangi lo, saat butuh aja.” Menatap Tiara dengan menyesal.
“Udahlah, gak usah dianggap serius omongan gue.”
“Omongan lo buat gue sadar diri, maaf Ra.” Ujarnya pelan, menatap menyesal pada Tiara.
“Hei, lebaran masih lama. Jadi gak usah minta maaf terus.” Candanya tersenyum. “Tuh minum tea hangat itu dulu, biar hati lo adem.”
“Gak ada hubungannya kale, Ra.” Menyesap tea nya.
“Hehehe.”
“Boleh ya Ra, gue ikut.” Tanya Alvin sambil membujuk Tiara.
“Sorry, Vin. Gue mau hang out dengan Tasya dan Monic, gue tau lo pasti sangat gak nyaman bersama mereka.” Menatap Alvin tenang. “Daripada suasanannya nanti gak kondunsif, kalian menyebarkan hawa bermusuhan, lebih baik lo gak ikut, Vin.” Sambungnya menasehati.
Alvin lama menatap Tiara, berpikir dan menimbang. “Baiklah,” katanya pasrah. "Emang kalian mau ke mana?" sambungnya bertanya penasaran.
"Gak ke mana-mana, hanya di rumah Monic aja." Ujarnya santai. “Kan kita bisa hang out lain hari,” saran Tiara, walaupun itu mustahil selama ceweknya didekatnya. Ia tahu ceweknya itu, selalu cemburu jika ia dekat dengan Alvin, sehingga tak membiarkan dirinya dan Alvin bertemu tanpa dirinya.
“Oke,” jawabnya terlihat menyakinkan, tapi hatinya merasa ragu. Sebenarnya niatnya datang ke tempat Tiara, tak sepenuhnya jujur. Ia sengaja mau mengajak Jalan Tiara sekalian minta tolong pilihkan Tas buat kado ulang tahun kekasihnya. Untung saja, Tiara menolak ajakkannya, bisa dipastikan kalau sampai niatannya tadi berhasil, Tiara akan membencinya. Ia selama ini sadar kalau memanfaatkan hati Tiara itu salah. Ingin menjauh tapi hatinya menolak, hatinya masih bingung dan ragu dalam memutuskan apa yang ia lakukan nanti.
“Nanti, lo WA aja dulu, nanti gue cari waktu kosong buat kita hang out bareng.”
“Ck, lagaknya sibuk sepanjangnya,” cibirnya kesal.
“Yee, gini-gini. Posisi gue penting juga loh, jangan salah.” Candanya sombong.
“Iya, iya. Yang waras ngalah, auww,” sindirnya terkejut, bahunya dipukul Tiara dengan Koran. “Ish, pagi-pagi udah Kdrt aja lo.”
“Habis mulut lo lemes banget,” menatap Alvin kesal. “Buruan tuh dimakan, nanti Bunda tersinggung, udah disajikan gak lo makan.” Perintah tegas.
“Iya, iya. Nyuruh makan tapi maksa, aneh.” Gerutunya sewot sambil memasukkan bakwan ke dalam mulutnya. “Apa, gue gak ngomong loh,” bantahnya cepat dan cengar-cengir, melihat tatap geram Tiara.
Alvin hanya sejam berkunjung ke rumahnya, ia merasa sungkan dengan kedua orang tuanya. Mereka ngobrol tentang kerjaan mereka, tanpa membahas sedikitpun tentang cewek Alvin. Tanpa mereka sadari, ada yang menatap mereka dengan curiga.
******
Mereka sedang masakan untuk makan malam dan beberapa macam makanan yang menemani mereka ngombrol. Mereka telah membagi tugas biar makanannya cepat selesai. Dirinya akan membuat hidangan untuk makan malam, seperti ayam bakar cabe ijo, gurame asam manis, sayur asem, sambel udang pete, makanan kesukaan Monic dan adiknya Feri. Cantik-cantik begitu, Monic doyan pete. Ia dan Tasya sering meledek Monic akan kesukaannya makan pete, yang membuat mereka bergelut seperti anak kecil. Dan tak lupa ia membuat Tempe mendoan, sambel mentah bawang butih, makanan kesukaannya, ditambah lalapan seperti rebusan kacang hijau dan wortel, lalu ada salada, ketimun, terong dan kemangi.
Sedangkan Tasya bertugas membuat Donat dan cookies keju. Lalu Monic membuat keripik kentang pedas. Setelah menghabiskan kurang lebih 3 jam, akhirnya masakan mereka selesai juga. Walaupun sedikit capek, tapi memberikan kepuasan sendiri dihati mereka, menghabiskan ke bersamaan mereka bertiga dengan memasak bukan berbelanja. Disaat mereka sedang merapikan dan membersihkan dapur, Feri mendekat Monic.
"Mba Monic, gue pergi dulu yah," seru Feri pada Monic.
Monin menoleh pada jam dinding, yang sudah menunjukan hampir jam 4. "Udah mau pergi, dek," menatap Feri yang mengangguk. "Keasikan masak, jadi lupa waktu."
"Iya," tasya mengangguk sependapat. "Emang mau ke mana, Fer?" Tasya menatap Feri heran.
"Dia dapat shif malam," jelas Monic.
"Jangan pergi dulu yah Fer, Mba siapkan bekal untuk lo makan malam," ujar Tasya
"Gak usah, Mba." Tolaknya cepat. "Gue makan bareng teman aja, di sekitar hotel."
"Kenapa, malu kalau dilihat teman lo, udah besar masih bawa bekal," ledek Tasya. "Bawa aja, biar hemat. Sekalian lo mau donat, cookies keju atau keripik kentang pedes, buat camilannya," sambungnya sambil menunjukan makanan yang mereka buat yang ada di atas meja.
"Bukan gitu, Mba." Bantahnya bingung, dan menggeleng kepala dengan banyaknya masakan ketiga Mba-nya. Feri telah menganggap Tasya dan Tiara, Mba-nya sendiri, jadi dia tak perlu sungkan kepada mereka berdua.
"Udah deh, lo tunggu aja nanti Mba siapkan bekalnya," ujar Monic menatapnya tegas, tanpa mau ada bantahan.
Feri menghela napas pasrah. "Iya." Melihat Tasya dan Tiara yang hanya bisa terseyum melihatnya tak berkutik dengan omongan Monic.
"Lo mau yang mana, Fer," tanya Tasya sambil menunjukan ketiga camilan pada Fery.
"Dia kurang suka yang manis-manis," jelas Monic sambil membawa bekal untuk diisinya.
"Kalau gitu, keripik kentang pedas aja yah," ujar Tasya, lalu menyiapkannya untuk Feri.
Lagi-lagi Feri menghela napas, melihat antusias mereka membuatnya bekal. Melirik jam tangannya, ia takut telat kalau lama-lama di sini. Ia terkejut, di hadapannya ada segelas minuman, tak memperhatikan kapan Mba Tiara mendekat, karena keasikan melamun.
"Sabar," tersenyum lalu menepuk pundaknya. "Minum dulu, untuk menghangatkan lo, lagipula diluar juga sedang hujan."
"Apa ini mba?" tanyanya heran melihat segelas minuman berwarna coklat pekat, dari bau nya sepertinya ia tahu minuman apa ini.
"Jahe hangat." Jelas Tiara. "Cocok untuk hujan-hujan gini, minumlah, sehat lo minum jahe, kalau mau tambah susu, nanti Mba ambil" sarannya lembut.
"Makasih Mba, gak usah cukup seperti ini aja," ujarnya tulus.
Tiara mengelus kepala Feri dengan lembut, seakan sedang mengelus kepala adiknya sendiri. Lalu meninggalkan Feri yang sedang duduk dikitche table. Ia tadi memang mengiris Jahe, berniat membuat jahe, karena lagi hujan. dipikirnya cocok buat suasan dingin begini. Tapi kelupaan, Tapi Feri datang, spontas saja, ia langsung membuatnya sedikit buat Feri. Lalu ia melanjutkan membuat minuman jahe untuk Mereka nanti, sengaja membuat banyak, untuk ditaruh dikulkas Monic. Kalau mereka ingin minum, tinggal dihangatkan saja.