
"Wow, amazing." Puji Jasmin semangat dan bahagia. "Hebat lo, Sya. Bisa mendapat tiket masuknya, yang gue tahu selain mahal, selalu sold out dalam waktu 2 hari." Sambungnya dengan terkagum-kagum akan sekelilingnya.
"Gak usah katro' deh, Jas. Lo kan sering datang ke acara ginian." Seru Tasya molotot Jasmin kesal.
"Itu kan dulu, jaman-jaman kita kuliah. Sekarang mana sempat, bisa off di weekend udah syukur banget." Jawab jasmin sambil memperhatikan sekitar.
"Lo jarang dapat libur, Jas." Tanya Tiara heran.
"Iya, dalam sebulan hanya 2 kali tapi sepadan lah dengan gaji lembur yang gue dapat." Sahutnya nyantai dan menyengir.
"Kurang lebih 2 tahun kerja, udah bisa beli apart itu emang sepadan banget, Jas." Ledek Tasya tertawa. "Ingat yah, kita ke sini buat memantau, bukan senang-senang." Sambungnya mengingatkan karena teman-temannya sibuk melihat fashion show yang sedang berlangsung.
"Menyelam sambil minum air lah." Sahut Jasmin seenaknya dan terkekeh mendapat plototan Tasya.
"Itu mereka." Tunjuk Tiara ke arah samping yang mendekati pintu keluar.
"Kayaknya mereka bertengkar deh, kita dekati yuk." Ajak Jasmin semangat.
Tapi ketika mereka mendekat, Roy sudah berjalan keluar meninggalkan Bella yang sedang mengutuknya, mengikuti Roy dari belakang.
"Nah loh, baru aja kita datang tapi udah mau pulang." Protes Jasmin kesal. "Kita harus ngikut gitu." Sambungnya dengan padangan agar mereka tetap di sini.
"Ra, lo ikuti mereka dulu." Pinta Tasya.
"Oke." Dan berjalan keluar.
"Jas, kalau lo mau tetap di sini gak pa-pa tapi kami bawa mobil lo yah." pinta Tasya menyarankan.
Jasmin merasa ragu tapi berpikir, kapan lagi bisa menikmati waktu libur dengan menyasikan fashion show saat ini, ia mengangguk. "Baiklah, nanti pulangnya gue bisa minta jemput teman gue " mengambil kunci mobilnya dan memberikan pada Tasya.
"Thanks, Jas."
******
Tiara menoleh kanan kiri mencari keberadaan Roy dan Bella. Ia yakin sudah mengikuti mereka ke arah parkir tapi sekarang malah kehilangan jejak. Disaat ia sibuk mencari, tanpa sengaja menabrak seseorang.
"Akww.." Serunya terkejut dan tanpa disadari clutch-nya mengenai kalung perempuan yang ditabraknya sampai kalau itu terlepas dan barang-barangnya terjatuh.
"Oh my God!!" Seru wanita yang ditabrak Tiara marah.
"Sorry" Ucapnya menyesal. Ia melihat orang yang ditabraknya sepasang pria dan wanita.Yang wanita cantik, sedangkan yang pria, tampan, cocoklah, gumamnya dalam hati. Disaat sibuk berpikir, ponselnya berbunyi, menjawab dengan sedikit menjauh karena tidak nyaman dengan tatapan dingin pria yang didepannya.
📲 Hallo.. Gue diparkiran, gak tahunya hilang jejak...... Apa?... Oke, oke gue ke sana sekarang.
Mengambil barang-barangnya yang tercecer, dengan cepat. Tanpa menyadari telah mengambil barang yang bukan miliknya, yang akan mengubah takdirnya.
"Once again, forgive me please." Membungkuk sebagai permintaan maaf meniru orang jepang, langsung pergi tanpa menoleh 2 kali.
******
"Are you oke?" tanya seorang pria itu cemas.
"Gue gak apa-apa, Kak." Jawab adiknya menenangkan. "Udahlah, Kak, gak usah marah gitu. Mungkin cewek itu lagi buru-buru, jadi gak sengaja menabrakku." Sambungnya hati-hati sambil menepuk pundak Kakaknya pelan.
"Ayo." Ajaknya lembut dan berjalan mendahului adiknya.
"Aaaakh..." Teriak adiknya terkejut sambil memegang lehernya, mencari kalung yang dipakainya tadi.
"Kenapa?" Tanyanya datar sambil menatap adiknya yang mulai menangis.
"Hikss...hikss.."
"Kalung... kalungnya, Kak." Pekiknya ketakutan karena terkejut dengan kalungnya yang hilang dan teringat akan keluarga besarnya yang akan mengamuk padanya, membuat air matanya mengalir dengan deras.
"Gak usah menangis. Kalung?" Pinta Kakaknya dan menatap ke leher adiknya, kalung yang dipakai adiknya hilang. "Sial!!" Umpatnya marah.
"Kak, coba kita cari. Mungkin terjatuh saat tabrakan tadi." Ucapnya menghapus air mata, dan menunduk mulai mencari.
Mendengar ucapan adiknya, langsung membuatnya marah dan ekpresi wajahnya menjadi dingin dan tajam. Dan memerintah sesorang melalui ponselnya.
“Hallo.. Kamu dimana, temuiku di lobbi sekarang!”
"Kamu pulanglah dulu ke apart. Gak usah protes, menemukan kalung itu, lebih penting daripada acara gak bermutu ini." Menarik tangan adik.
"Maafkan aku, kalau aja gak besikeras mencoba memakai kalaung itu, kalungnya gak akan hilang seperti ini." Isaknya sedih dan menyesal.
Kakaknya hanya diam dan bersikap dingin, tidak menggerubisnya karena sibuk dengak pikiran sendiri.
"What's wrong?" Tanya seorang pria mendekati mereka.
"Antar Claudia ke apart, aku ada urusan dengan manager yang bertanggung jawab dengan acara ini, sekaligus direktur dari national galeri." Ucapnya datar dan dingin.
"Untuk apa?"
"Tanya sama Clau." Berlalu meninggal kan mereka.
******
Seorang pria sedang berdiri menatap gemerlapnya malam dari dalam kamar apartemennya, mengingat kejadian tadi membuatnya kesal, dan marah.
Flashback
"Selamat sore Mr. Knoxfeld. Saya, Luan, ada yang bisa saya bantu." ujar Manager gedung national galeri ini dengan sopan dan ramah, karena Direktur nya tidak ada. Siapa yang tidak mengenal keluarga Knoxfeld, orang-orang dunia bisnis pasti mengenal mereka.
"Saya mau melihat CCTV di basement B2." Ucapnya dingin dengan memerintah.
"Maaf Mr, boleh saya tahu kenapa anda ingin melihat CCTV khusus di basement B2." Ujarnya dengan hati-hati, meringis melihat padangan lawan bicaranya yang semakin menajam dan ingin menelannya bulat-bulan.
"Adik saya tadi di tabrak oleh seorang cewek, dan kalungnya hilang. Saya mencari bukti apa benar cewek itu yang mengambilnya." Ujarnya dengan gigi bergemeletuk menahan marah, aura marahnya membuat orang-orang sekitar mereka tidak nyaman dan takut, tanpa menjelaskan kalau kalung itu, bukan kalung biasa.
"Baik, Mr. Mari ikut saya." Ucapnya sopan sambil berjalan ke ruangan monitoring CCTV.
"Itu wanitanya, Mr?" Tanya Luan hati-hati sambil menatap Wyatt yang fokus menatap layar monitor di depannya dengan tajam.
Mereka yang berada dalam satu ruangan, hanya bisa diam, tak berani bicara karena menyadari kalau Wyatt masih tetap suasana marah. Mereka tahu kekuasaan keluarga Knoxfeld, sehingga tidak mau berurusan dengan mereka. Ia merasa kasihan dengan cewek yang dilihatnya dalam CCTV dan berdoa semoga wanita itu selamat.
Sedangkan Wyatt hanya menatap kejadian itu dengan pikiran bercamuk, antara percaya dan tidak. Mau berlari juga tidak bisa, menolak juga percuma. Mengepal tangannya dan hatinya menyalahkan wanita itu, yang harus datang dalam hidupnya sekarang.
"Ehem." Berdeham untuk menarik perhatian mereka. "Saya akan memerintah asisten saya untuk mengambil video ini. Terima kasih atas bantuannya." Sambungnya dingin. Berlalu pergi tanpa menunggu jawaban.
******
Wyatt menatap iPad-nya dan memperhatikan gadis yang ada di dalamnya, kejadian itu terus diputarnya sampai merasa muak dan bosan. Semua keputusan yang diambil nanti, mempunyai resiko masing-masing dan harus bersiap akan resiko yang terburuknya.
Ia tadi sudah meminta asistennya untuk menyelidiki wanita ini, dan sedang menunggu informasi lengkap darinya. Sedangkan Clau, sudah mulai tenang dan tidur, dari tadi tidak berhenti menangis karena ketakutan.