Golden Bride

Golden Bride
Pesan Yang Meragukan



"Kak," ujarnya manja dan mengerjap matanya seperti akan menggoda suaminya malah mendapat sentilan di dahinya. "Aaww!" Serunya kaget dan mengelus keningnya yang mendapat sentilan dari suaminya.


"Maka nya kalau mau tidur itu, baca doa dulu, biar gak mimpi buruk," nasehat suaminya datar, lalu mengusap kening istrinya dan menciumnya lembut, lalu memeluknya.


Tiara terdiam dan mencerna apa yang diucapkan suaminya, ia menela'a apa yang terjadi sebenarnya. Memejam mata dan mengingat apa yang terjadi padanya dan paham kalau ia baru saja mengalami masuk ke kehidupan siapa lagi, yang tak diketahuinya itu.


"Jangan terlalu penasaran dan diikuti alur mimpimu itu, gak baik. Nanti kamu bisa terjebak di sana dan tak bisa kembali," ujar suaminya sambil memeluk istrinya yang terdiam dan tegang, mengelus pundaknya lembut. "Jangan dipikirkan lagi, lupakanlan. Itu hanya mimpi, dan bukan milik kita, untuk apa kita ikut campur dengan sesuatu yang pernah terjadi dan tak ada hubungannya dengan kita."


"Itu.." Menatap suaminya kaget, tak percaya mendengar ucapannya seperti itu, seakan tahu apa yang dialami oleh dirinya. Melihat mata suaminya yang datar dan penuh teka teki, seakan ada sebuah rahasia yang ditutupinya.


"Udah gak usah banyak tanya dan dibahas lagi," ucap Wyatt tegas tak terbata seakan pembahasaan tentang ini ditutup dan datar, melihat istrinya yang merasa penasaran akan dirinya. "Ayo kita keluar, keluarga kita kuatir ketika melihatmu seperti ini." Sambungnya lembut dan mengelus kepala istrinya.


"Maaf," ujarnya menyesal, lalu melirik ke arah jam dinding. "Keluar," ujarnya heran. "Ini kan udah mau jam 11, Kak. Mungkin keluarga kita udah pada tidur semua."


"Jangan diulangi lagi yah, Canim," ujar suaminya lembut dan mencium kening istrinya. "Yang lain mungkin udah pada tidur tapi kedua orang tua kita belum, mereka kuatir dengan kondisimu yang ngigau, teriak-teriak sendiri dalam tidur seperti orang gila." Lanjutnya menyindir dengan jahil.


"Iya," mengangguk patuh, dalam hati merasa ragu, karena mimpi itu tiba-tiba datang tanpa ia inginkan. Tapi demi menenangkan suaminya, ia menganggu patuh saja. "Ish, tega banget ngatai istri yang cantik gini kayak orang gila," gerutunya manyun dan manja.


"Hehe, cantik yah?" guraunya menatap istrinya pura-pura serius dan menilai. "Haha,yah sudah, cuci mukamu sana lalu kita turun, biar yang lain gak kuatir," perintah suaminya lembut dan tertawa melihat istrinya yang kesel dan merajuk manja padanya. "Kamu memang paling cantik di mataku ,Canim," menatap Tiara lembut dan penuh cinta, lalu mencium bibir istrinya cepat dan mengusap kepalanya dengan sayang


"Iya," ujarnya malu dengan hati bahagia dan tak bisa berkata-kata mendengar gombalan suaminya itu, lalu berdiri dan berjalan ke kamar mandi.


Setelah melihat Tiara masuk ke kamar mandi. Wyatt menatap ke depannya, seakan tahu ada seseorang tak kasat mata yang sedang mengawasinya. "Cukup ini yang terakhir, istri saya sampai seperti itu. Kalau tidak, saya hancurkan kalung ini,"  bisiknya tajam dan mengancam.


Wusshh


Lagi-lagi ada desiran halus angin melewatinya dan seakan ada yang berbisik lembut.


"Pasangkan kalung itu lagi, dia akan melindungi istrimu dari orang-orang yang akan mencelakainya."


Wyatt berdiri dan menatap sekelilingnya dengan tajam, seakan yang didengarnya itu hanya ilusi.


Wussh


Suara angin yang melewatinya lagi dan membuat kalungnya terhempas, seakan ada yang menariknya. Bertepatan dengan Tiara yang keluar dari kamar mandi.


Tiara terkejut melihat kalung dari suaminya jatuh tepat di bawah kakinya. "Kenapa kalung ini bisa jatuh di sini, Kak?" Tanyanya heran dan mengambilnya.


"Tadi gak sengaja terlepas," ucapnya santai dan cuek. "Sini Kakak pasangkan," pintanya lembut.


Wyatt menaruh rambut istrinya ke depan lalu memasangkan kalung itu di leher putih dan halus istrinya, lalu diciumnya lembut leher itu. "Cantik," pujinya serak dan lirih dan memeluk istrinya itu dengan sayang dari belakang. "Jangan dilepas yah kalungnya, Canim." Yang dijawab dengan anggukan kepala. Bukannya mau mempercayai apa yang didengar barusan tapi dirinya juga tak mau dipusingkan dengan amarah keluarga besarnya, apabila kalung yang diwariskan secara turun temurun itu ia hancurkan.


"Iya," memeluk suaminya malu dengan hati berdebar-debar.


Wyatt tahu kalau wajah istrinya merah karena ia menciumnya tadi, itu membuat hatinya bahagia melihat tingkah polos istrinya ini, membalik tubuh Tiara sehingga mereka berhadapan lalu mencium kening lagi. "Ayo kita keluar, sebelum keluarga kita menyerbu kamar kita ini," ujarnya datar dan bercanda. Lalu memakaikan jilbab yang langsung jadi pada Tiara dan mereka berjalan keluar 


******


Tiara menatap sekelilingnya yang sudah sepi, dirinya baru tahu jika suaminya memang membeli saham Villa yang berada di sini dan ada beberapa khusus dibelinya selain untuk tempat repsepsi mereka dan mungkin sewaktu-waktu mereka perlu tempat liburan dan refresing menghilang penat sehabis bekerja.


Tiara melihat keluarga ini mereka dan kedua mertuanya sedang duduk diruang keluarga, mereka terlihat cemas. Langsung menoleh ketika melihat dia dan suaminya mendekat.


"Gimana keadaanmu, Nak?" tanya Bundanya mendekati mereka cemas, menggapai bahu anaknya dan membolak-balikkannya tubuhnya seakan takut Tiara kenapa-napa.


"Aku gak pa-pa, Bund." Menghembus napas lelah melihat kekuatiran Bundanya yang berlebihan. "Cuma mimpi buruk."


"Tapi..." Ucapan Bundanya terputus karena celetukkan anaknya.


"Cuma mimpi buruk tapi teriak-teriak kayak orang gila," celetuk adiknya, Alfa bergurau melihat kecemasan Bundanya berlebihan. "Awww, sakit Bund. Akukan cuma bercanda," sambungnya dengan kesakitan karena telinganya dijewer Bundanya karena ngomong sembarangan


"Awas, ngomong kayak tadi lagi, Bunda cabe mulutmu ini," gumam Bundanya mengancam sambil meremas bibir anaknya geram.


"Iya, ya. Peace yah Bund," memeluk Bundanya manja dan membujuknya. "Masa tega sih pada anak Bunda yang ganteng gini, nanti bibir seksiku ini kayak bebek lagi, hilang dah susuknya.." sambungnya terputus karena Bundanya sudah memukul lenganya. "Aww, aww. Sakit banget Bund, mantap." menyengir sambil mengancukan jempol dan mengelus lengannya dipukul tadi, ketika melihat tatapan Bundanya.


"Haha, maka nya mulut tuh direm, jangan asal nyeplos," ujar Liuda tertawa senang melihat kesensaraan adiknya yang suka jahil itu. "Kasih aja Bund, cabe. Pengen lihat gimana bentuk bibir dowernya kalau sudah dikasih cabe, Haha."


"Ck, Mba yang gak keprikasihanan. Masa seneng banget lihat adik yang ganteng gini menderita," gumamnya pura-pura marah dan merajuk, melihat keluarganya tertawa melihat dirinya. Dalam hati senang melihat kecemasan dikedua orang tuanya teralihkan. Melihat tatapan Ayahnya yang menggeleng kepala dan tersenyum, seakan tahu maksud tujuannya bercanda begini.


"Kamu sih, nyeplos sembarangan tanpa lihat sikon," gumam Fezia datar dan geleng-geleng kepala melihat tingkah adiknya itu.


"Biarin, week," rajuknya sambil memeluk Bundanya.


"Udah, lepasih Bundamu itu. Udah gede, masih aja menggelendot diketiak Bundamu," seru Ayahnya pura-pura kesel.


"Ck, Ayah cemburunya juga gak lihat sikon," gerutunya dan menyengir melihat tatapan datar Ayahnya. "Hehe, iya Yah." Melepas pelukkanny dan berjalan duduk ke samping kedua Mbanya