Golden Bride

Golden Bride
Rutinitas



Tiara menatap ponselnya, meletakannya di atas mejanya kembali, lalu memejamkan matanya. Sudah beberapa minggu berlalu sejak, pertemuannya dengan Wyatt , sang pemilik kalung, dan mengalami mimpi buruk malam itu. Ia sudah mencari informasi tentang kalung tersebut dan pemilik kalung itu, tapi tak menemukan satupun. Seandainya tahu, nama kepanjangnan Wyatt, tentunya akan mudah menemukan informasi yang diinginkannnya.


Hatinya berdebar-debar, menanti apa yang akan terjadi. Inginnya semua ini hanya angin lalu, tapi mengingat ucapan Wyatt terkahir kali, seakan apa yang dikatakannya pasti terjadi, ia bisa merasakan keyakinan dan janji dalam ucapannya itu, bukan hanya omong kosong belaka. Memijit kepalanya yang pusing. Ia belum menceritakan pada para sahabatnya akan kedatangan Wyatt ke apart Jasmin, mereka belum tahu kalau kalung itu sudah kembali dikembalikan pada pemiliknya. Ingin bercerita tapi ada saja yang menghalanginya untuk mengatakannya. Entah kenapa hatinya yakin, mimpi yang pernah dialaminya itu, masih berhubungan dengan kalung yang pernah ia temukan.


Memikirkan kalung dan mimpi itu, membuatnya pening dan hati gelisah. Ia mendekap dirinya sendiri, merasakan suasana semakin dingin di luar. Berdiri lalu kembali masuk ke kamarnya, mengunci pintu dan berjalan mendekati kasurnya, dan tiduran sambil menatap langit-langit rumah dengan pikiran semerawut, memejamkan mata, mengambil napas dan menghembuskan berulang-ulang, dengan mengkosongkan pikirannya, akhirnya bisa membuatnya tertidur. 


******


Paginya, Tiara sedang berjalan memasuki kantornya, di parkiran, ia melihat sekilas sesorang yang dirasanya kenal. Tapi logikanya menolak, untuk apa dia ada di sini. Akh, gak mungkin, ia pasti salah lihat. Untuk menyakinkan diri sendiri, ia mencari sosok itu, tapi tak menemukannya. Diyakininya orang lain, ia berjalan memasuki kantornya dan menuju lift.


Sedangkan orang yang dilihatnya tadi, hanya menatap dirinya datar dari jauh, matanya menajam ketika seorang pria mendekati Tiara, dan mengobrol dengannya.


Ia menoleh ke arah asistennya. "Selidiki siapa pria itu, beserta rekan-rekan kerja di devisinya." Perintahnya tegas.


"Baik." Jawab asistennya sembari menatap Tiara dan teman prianya datar.


“Pagi, Ra.” Sapa Zain ramah, teman kerjanya, yang biliknya berada di belakangnya.


“Pagi.” Tersenyum, menyamakan langkah Zain. “Mana bodyguard lo, tumben bisa lepas.” sindirnya heran.


“Udah gue buang ke laut.” Geramnya kesal. “Gak usah ketawa deh, mood gue udah bagus ketemu lo. Malah lo rusak dengan ngomongi Amoy.”


“Haha. Sorry, basi lo Zain.” Gumamnya. Mereka sekarang sedang menunggu lift, kantor masih terlihat sepi, karena masih sejam lagi batas masuk kerja. Ia datang lebih awal karena menyelesaikan laporan yang harus diserahkan hari ini juga. Sudah rahasia umum di kantornya, kalau Zain pasti akan marah, dirinya disangkut pautkan dengan Amoy, singkatan dari Amelia sok sexy, panggilan yang disematkan oleh rekan-rekan kerjanya. Amelia bekerja dibagian marketing, bisa ditebak, harus selalu berpenampilan menarik. Yang selalu mengejar cinta Zain, dan selalu ditolaknya. Siapa saja yang mendekatinya, akan dilimbasnya alias dilabrak. Termasuk dirinya, ia hanya bersikap nyantai, tak takut dengan ancaman Amelia. 


Heran saja, ke manapun Zain pergi selalu diikut, untung saja dia tidak ikut ke toilet juga. Menurutnya Amelia cantik, body termasuk tipe idaman banyak pria. Wajar kalau dirinya merasa pe’de dan banyak juga cowok dari devisi lain di kantornya, menyukai Amelia. Sayangnya, selalu ditolak, karena telah memilih Zain.


Zain juga tak bebas bergerak, selalu dipantau. Seakan ia penjahat saja. Maka-nya mereka bilang bodyguard, selalu menjaganya. Amelia juga Posesif akut, membuat Zain ngeri dan menghindar.


“Yee, dibilangi gak percaya.” Gerutu Zain pura-pura sedih dan cemberut.


“Gak usah ,pasang wajah begitu, gak cocok dengan umur.” Cebik Tiara sambil menyindir.


“Ish, gak usah bawa-bawa umur, tersinggung ni gue, Ra.” Memasang wajah marah.


“Happ, hahah.” Menepuk tangan didepan wajahnya yang membuat wajah Zain semakin cemberut lucu dan tertawa melihatnya. "Maklum yang ngerasa udah tua, mudah tersinggung."


“Aisshh, pagi-pagi udah bikin gue esmosi aja,” gerutu Zain sebal, sambil mengacak rambut Tiara.


“Ck, gak usah merusak tatanan rambut gue deh,” gumamnya kesal dan masuk ke lift berdua. Sebelum lift nya tertutup, matanya bertatapan dengan mata elang yang menatapnya tajam, ia terkejut, lalu mengerjap matanya, untuk menyakinkan dirinya, kalau apa yang dilihatnya itu hanya ilusi.


“Kenapa, Ra.” Tanya Zain heran, menoleh kearah ditatap Tiara.


“Eh,” mengerjap-ngerjap matanya bingung. “Gak pa-pa.” tersenyum santai. Apa mungkin ia salah lihat yah, yakin benar itu memang dia, tapi pas membuka mata malah orang lain. Gawat, ilusinya semakin parah, gerutunya dalam hati.


“Beneran?” Tanya Zain khawatir.


“Ck, mulai kumat sombongnya. Kayak situ cantik aja” Decak Zain kesal.


“Emang.” Sahutnya bangga, tertawa melihat Zain yang semakin berwajah masam.


Tingg… Tiara dan Zain melangkah keluar dari lift, berjalan menuju devisi mereka. Dan disapa oleh office boy,  Jaya.


“Pagi, Nak Tiara,” sapa Pak Jaya padanya.


“Pagi, Nak Zain. Kenapa bodyguardnya gak ikut.” Sapa Pak Jaya, dengan bercanda


“Pagi juga, pak.” Balas Tiara


“Jangan mulai lagi deh, Pak,” gerutuk Zain masam. "Udah gue buang ke laut."


“Hahaha.” Menoleh kearah Tiara. “Nak Tiara, mau dipesankan apa pagi ini.” Dia tahu, biasanya Tiara datang sepagi ini, pasti belum sarapan dari rumah. 


rr


“Beli aja nasi uduk, sama donat yang di Amanda Bakery berada dipersimpangan, Pak” Memberikan selembar seratus ribu pada Pak Jaya. “Lo mau apa, Zain?” 


“Gue seperti biasa aja, hot Americano.” Jawab Zain.


"Donaknya rasa apa, Nak?" tanya Pak Jaya


"2 Green tea, 2 cheese iced glazed, 2 chocolate power, 2 apple cinnamon, 2 strawberry 2 candy, peanut shell,“ tersenyum pada Pak Jaya. "Kalau ada yang Bapak suka, pesan juga sekalian.” Tawar Tiara.


“Gak usah, Nak. Bapak udah sarapan tadi.” Tolaknya halus. Dia merasa sungkan dibelikan terus oleh Tiara. Di kantornya, Tiara terkenal baik dan hangat dikalangan semua orang-orang kantor. Hanya orang gila yang tak suka padanya dan membencinya. Sering memberi dirinya maupun rekan seprofesinya uang, pada saat Tiara gajian. Yang menerima sering menolak, merasa malu. Tapi dengan tulus Tiara mau menyisikan sedikit dari gajinya untuk orang lain. Baik berupa uang, makanan maupun dalam bentuk lainnya.


“Pesan aja Pak, buat persiapan kalau Bapak merasa lapar nanti.” Ujarnya bersikeras.


“Ya udah, Nak.” Jawabnya menyerah. Percuma aja menolak, Tiara pasti bersikeras. "Tapi pesanan nak Tiara nanti WA Bapak lagi ya, banyak gitu jadi Bapak gak ingat." Sambungnya malu.


“Oke, makasih, Pak. “ Ucapnya tulus. “Ayo, Zein.” Ajaknya, berjalan menuju kantornya.


“Makasih, Pak.” Zain tersenyum lalu mengikuti Tiara.


“Iya, Nak.”


Sebelum melangkah, bulu kuduknya merinding, seperti ada yang mengawasinya tajam. Ia menoleh ke sekitarnya, rekan-rekannya banyak pada belum datang. Tapi ia yakin yang menatapnya pasti satu kantor dengannya.


"Lo ngapain di situ," tanya Zain menatapnya bingung, ia pikir Tiara mengikutinya, tak tahu-nya sedang melamun di tempatnya berdiri.


"Gak ada," sahutnya tersenyum.