
“Amelia, Bang.” Terang Tasya
“Amelia mana?” Tanya semakin bingung, seingatnya dikantornya ada 3 nama Amelia.
“Udahlah, dikasih tau juga, Abang gak akan tau, yang mana orangnya.” Cetus Tasya mengejek.
“Jangan salah loh, kalau wanita itu cantik dan seksi, pasti Abangmu ini gak akan lupa orangnya.” Bantahnya tak terima.
“Iye, iae. Yang waras ngalah aja,” cibir Tasya bercanda. Tersenyum melihat Abangnya menatapnya geram. “Abang sudah pesan?” sambungnya bertanya mengalihkan omelan darinya.
“Sudah,” sahutnya santai. “Sebenarnya kami barusan sudah makan, ketika mau keluar melihat kalian. Berhubung waktu break nya masih lumayan lama, melihat kalian terlihat asik sekali ngobrolnya maka Abang putuskan untuk nimbrung.”
“Ini pesannya, Mas, Mba.” Sela beberapa pelayan wanita mengatarkan pesanan mereka satu persatu. “Ada lagi yang mau dipesan?” Tanya pelayan itu dengan sopan dan tersenyum ramah.
“Abang mau pesan?” Tanya Tasya.
Bram menggelang kepala, lalu menatap rekan bisnisnya. “Kalian?” yang dibalas dengan gelengan kepala juga. “Gak ada, Mba.” Sahut Bram. “Apa gak sakit perut kalian taruh banyak cabe disoto daging itu,” Bram menatap ngeri melihat Tasya dan Tiara menaruh 4 sendok teh kental, cabe hijau ke dalam soto mereka.
“Udah biasa, Bang.” Cetus Tasya santai.
“Paling-paling, BAB.” Candanya cuek.
“Gak usah ngomong itu sat makan, Sya. Jijik tau dengernya.” Protes Abas.
“Ck, Cuma denger kan, gak lihat depan mata,” sahutnya cuek.
“Tasya,” protes rekan-rekannya geram.
“Iya, iya.” Sahutnya mengalah.
“Pelayan,” panggil Wyatt mengagetkan mereka.
“Iya,” pelayan wanita mendatangi Wyatt.
“Pesan 2 soto seperti ini lagi,” menunjukan soto yang akan disantap oleh Tasya dan Tiara. Ia berdiri lalu mengambil soto mereka. “Ini bawa ke belakang, belum dimakan sama sekali. Saya pinta 5 menit sotonya sudah ada,” sambungnya dengan arrogan.
“Hei!” protes mereka berdua marah, tak terima.
“Apa hak lo, mengambil dan mengganti pesanan kami!” seru Tasya marah.
“Tasya,” seru Bram mengingatkan sikap tak sopannya.
”Kenapa, emang dia gak tau diri kok, seenaknya ngambil dan ngeganti soto kita,” bantahnya kesal.
“Iya…” Tiara ingin menimpal tapi entah kenapa, melihat tatapan Wyatt yang memperingatkannya untuk tak membatah, membuatnya terdiam. Bukannya ia takut, tapi gak tahu kenapa, otomatis tubuhnya terdiam sendiri ketika melihat tatapan Wyatt. Menghela napas kesal.
“Kenapa, Ra,”Tanya Zain, melihat Tiara menghela napas panjang.
“Gak ada,” elaknya. “Udah, Sya. Gak pa-pa. mungkin bagus juga kita gak makan tuh soto, kan gak lucu pas hari H pertunangan lo nanti, lo terkena diare.” Sambungnya menasehati.
“Kok lo membela Wyatt sih, Ra.” Protes Tasya geram.
“Bukan membela, tapi emang salah kita memasukan cabe 4 sendok, gak memikirkan kondisi perut kita yang masih kosong,” jelasnya, sendari menepuk-nepuk lengah Tasya untuk memintanya tenang.
“Tapi..” Tasya mau membantah.
“Tasya.” Panggil Bram dengan intonasi yang tak bisa ditolak oleh Tasya.
“Iya, iya,”sahutnya mengalah, walaupun masih menatap Wyatt tajam.
“Makasih, Mba,” sahut Tasya ketus.
“Cukuk sesendok saja,” perintah Bram tegas pada mereka berdua.
“Iya,” jawab mereka pasrah.
“Ngomong-ngomong, siapa Amel yang kalian maskud tadi,” tanya Bram melanjutkan obrolan mereka yang teralihkan.
“Itu nah, Amel dari devisi marketing. Yang suka berdandan seperti orang mau ke pesta, terus pakaiannya selalu sempit alias kata cowok-cowok sangat seksi dan sedap dipandang.” Ujar Tasya cuek, sambil menyuapkan makananya.
“Abang gak ingat.”
“Ya udah, kalau gak ingat. Kenapa harus dipaksa,” cetus Tasya cuek. “Aduh, apaan sih Bang, Kdrt ini namanya,” sambungnya geram, karena Bang Bram memukulnya pakai sendok ke tangannya. “Yang gue bingung, kenapa dia sampai dipecat yah, Bang.”
“Apa dipecat!”seru rekan-rekan kerjanya terkejut.
“Benaran, Sya?”Tanya Tiara penasaran.
“Kenapa?”
“Mana gue tau, Tanya aja lanngsung ama yang memecatnya.” Tasya menunjukan Bang Bram.
“Kenapa bisa dipecat, Bang. Setau gue, walaupun gak suka dengan penampilannya yang berlebihan. Dia salah satu staf marketing, yang bisa menarik banyak pembeli, pemasukkan dari penjualan, memenuhi target. Kerjanya professional, tapi yah walaupun orangnya sombongnya minta ampun, pingin gue timpuk pakai seseuatu, setiap melihatnya.” Menatap Abangnya dengan ingin tahu.
“Rahasia,” sahut Bram penuh teka teki. “Dia telah berani mengusik calon istri sesorang, jadi daripada membahayakan. Benalu yang merugikan, harus segera disingkirkan, bukan.”
“Benar tuh Pak Bos, dia berani berbuat begitu,” ujar Abas menimpal. “Nah, Zain. Berarti lo bukan satu-satunya pria yang disukainya donk. Sedih gak lo, Zain,” sambungnya jahil.
“Gak, malah gue harus syukur kecil-kecilan, dan gue untuk gak lihat dia lagi seliwiran dikantor, terkabul.” Sahut Zain serius.
“Jahat lo,Zain.” Canda Made’, yang dibalas dengan mengangkat bahu tak peduli.
“Siapa, Bang.” Tanya Tasya masih penasaran.
“Lo gak perlu tau,” elaknya tegas. “Buruan habisi makanan kalian. 10 menit lagi, waktu kalian kerja lagi. Telat, saya potong gaji kalian.” Sambungnya pura-pura serius, mengalihkan omongan.
“Siap, Boss.” Sahut Zain dan rekannya serempak.
“Ck,” decak Tasya kesal mendapatkan informasi, kalau sudah begini, tutup buku deh.
Tiara hanya menjadi pendengar, tak berani menatap orang yang di depannya. Karena ia sadar, kalau ditatap terus oleh Wyatt. Membuatnya risih, ingin rasanya mengomelinya tapi takut ia menjadi bahan gossip dan ledekkan oleh rekan-rekan kerjanya. Terpaksa ia lebih banyak diam, mungkin Tasya menyadarinya, tapi dia lebih memilih untuk tak bertanya.
*******
“Haha,” Suara anak-anak ketawa menarik Tiara untuk mencari asalnya dari mana. Ia menatap ke sekelilingnya. Ini di mana, rasanya tempat ini terasa familiar, pikirnya heran. Terus berjalan, melewati jalan setapak di depannya, lalu muncullah ia di taman penuh bunga bermekaran dan harum. Di sana melihat seorang anak cowok dan cewek sedang bermain, berkejaran dan tertawa. Bersama seorang pria, yang diyakini sebagai Abinya, karena wajah anak cowok itu seperti replika Abinya.
Ia melihat pria itu telihat sangat sayang, pada anak-anaknga. Merasa bingung sekarang berada di mana, apakah ini mimpi, mencubit lengannya, tak ada rasa sakit, setelah melakukannya. Mendengar suara langkah yang mendekat, menoleh dan terkejut. Melihat seorang wanita yang sedang hamil tua, mendekati mereka. Diamatinya dengan seksama wanita itu, terasa kenal, lalu terteguk. Itu kan, Caira. Jadi ia masuk ke flashback masa lalu Caira lagi, diduganya ini pasti terjadi beberapa tahun setelah, pertengkaran Ayah mertuanya dengan Hevva. Dilihat dari anak cowok yang dikirannya berusia sekitar 7 tahun, mungkin ia masuk ke 7 tahun kemudian.
Diamatinya interaksi keluarga itu, sang Abi yang tertawa bahagia bersama kedua anaknya langsung terdiam begitu melihat istrinya. Wajahnya kembali dingin, dan tak menggrubis istrinya. Wajah sang istri menjadi mendung dan sedih, dengan sikap suaminya. Sang suami mengajak anaknya masuk, meninggalkan istrinya sendirian di taman.
Tiara geram melihatnya, mendekatinya, ia menenangkannya, tapi ketika ingin menyentuhnya, ia malah menyetuh banyangan. Tak lama kemudian Caira mengikuti keluarga ikut masuk ke dalam, ketika ingin mengikuti, dirinya ditarik pusaran cahaya yang menyilaukan matanya.
*************
Hai..hai, sorry baru update🙏😁
Jangan lupa Vote, kritik dan sarannya yah, reader tercinta🤗😍🙏