Golden Bride

Golden Bride
Mimpi Yang Saling terhubung



"Ra, bangun Nak," panggil seseorang padanya, yang tak lain Bundanya sembari menggoyangkan pundaknya.


"Tiara kenapa,Bund?" tanya Ayah Tiara cemas, ditengah malam mendengar sesorang meminta tolong dengan nada yang memilukan dan menyanyat hati bagi yang mendengarnya. Ia berlari mencari asal suara itu bersama istrinya. Ternyata berasal dari kamar putri mereka, istriny mencoba membangunkan tapi anaknya masih tetap terisak meminta tolong. Apa yang sedang dimimpikannya sehingga menangis seperti ini, yang pasti sangat membuatnya sedih.


"Gak tau, Yah," jawabnya sedih dan bingung.


"Coba bangunkan lagi, Bun," pinta Ayahnya yang masih berdiri di samping istrinya.


" Nak, bangun." Bundanya masih menggoyang pundaknya. "Bangunlah, melihatmu begini, buat kami sedih." Menepuk-nepuk pipi Tiara.


"Coba, cubit lengannya, Bund. Kita harus membangunkannya, tak baik dibiarkan begitu terus," pinta suaminya, hatinya tersayat mendengar tangisan anaknya.


Istrinya mencubit lengan anaknya, dengan pelan dan tak menyakitkan. Dilihatnya masih belum bangun juga, sesakali ditepuk pipinya. Karena masih belum bangun, dipencet hidung anaknya dengan keras, sehingga sulit bernapas, yang membuat Tiara akhirnya terbangun.


"Akh...," seruny tersengal, melihat Bundanya yang ada dihadapannya, dengan wajah cemas. "Bunda kenapa ada dikamar Tiara." Sambungnya dengan suara serak, sehabis menangis.


"Kamu mimpi apa, sampai berteriak dan menangis segala," tanya Ayahnya penasaran, sambil duduk di samping istrinya.


"Itu..," jawabnya ragu, mengingat mimpi itu membuatnya ketakutan dan sedih. Menggeleng kepala berharap menghilangkan mimpinya tadi dari ingatannya.


"Bunda gak akan maksamu buat cerita kalau itu membuatmu sedih," mengelus tangan anaknya lembut.


"Tapi..."


"Sudah, sudah," Ayahnya menepuk-nepuk tangannya. "Sekarang cuci muka dulu, jelek banget lihatnya," sambungnya bergurau, mengepit hidung anaknya.


"Ayah.." Serunya manja dan tak terima.


"Berdiri sana, cuci muka. Gak usah dipikirkan lagi, apapun mimpimu itu, lupakanlah, kan hanya bunga tidur." Seru Bunda menasehati.


"Maka nya sebelum tidur, baca doa dulu." Saran Ayahnya, yang membuatny cemberut.


"Hmm.."


"Ya udah, Bunda dan Ayah balik ke kamar lagi, gak usah terlalu dipikirkan mimpimu itu ya," tersenyum lalu mengelus rambut anaknya. Mencium keningnya, dalam hati merasa sedih. sejak anak-anaknya dewasa, kebiasaan mencium kening saat mereka kecil dulu, sudah jarang dilakukan. Matanya berkaca mengingat itu, berusaha menahan air mata yang akan keluar, tak mau membuat anaknya menjadi sedih.


"Bunda kenapa?" tanyanya bersalah, melihat mata Bundanya berkaca, ia berpikir kalau itu salahnya, sehingga membuat Bundanya bersedih. "Maaf, Bund."


"Bunda gak pa-pa, ini bukan salahmu, Nak." jawabnya lembut menenangkan, tersenyum hangat padanya. "Ayo, Yah. Kita balik ke kamar kita, biarkan Tiara tidur lagi." menoleh pada suaminya.


"Ikh, Ayah nie." Gerutunya manja tak terima.


"Kami tak memaksamu buat cerita, kalau sudah merasa siap. kami akan selalu menjadi pendengar setiamu, Nak." Ucap Ayahnya lembut.


"Iya, Yah."


"Ayo, Yah." Ajak Bunda pada Suaminya, mereka mencium kening Tiara lalu meninggalkan kamar anaknya.


Tiara melihat Bunda dan Ayahnya yang mencemaskannya, membuatnya bersalah. Ia berdiri, berjalan menuju kamar mandinya, lalu mencuci muka dan berwudhu. Berharap mimpi itu tak mengganggunya lagi, berjalan kembali ke kasurnya dan memejamkan matanya.


Ia mengambil napas lalu membuangnya beberapa kali tapi matanya tak mengantuk. Apa yang dilihat dimimpinya tadi seakan selalu terbayang dibenaknya. Lalu berdiri, memutuskan untuk shalat tahajut, ia jarang melakukan shalat malam, kalau hatinya merasa tak tenang, baru ia lakukan. Sadar diri kalau dirinya bukan muslimah yang terlalu ta'at ibadah dan belum menutup aurat tapi ia tak pernah meninggalkan shalat lima waktunya. Walaupun Ayahnya selalu menyuruh menutup aurat tapi belum dilakukannya, dengan alasan belum merasa siap. niatnya menutup aurat kalau sudah menikah, semoga niatnya itu cepat terlaksana.


******


Someone POV


Seorang pria tersendak dari tidurnya dengan napas tersengal dan berkeringat. Ia menatap ke sekelilingnya, setelah yakin berada di kamarnya, ia mengambil napas lalu menghembusnya. Berdiri, berjalan mengambil air mineral dalam kulkas yang berada di kamarnya.


Mimpi apa tadi, kenapa ia bisa bermimpi seperti iti, seakan dirinya berada di sana. Baru kali ini ia mengalami mimpi seperti itu, seolah-olah mimpi itu nyata.


Ia berjalan mendekati jendela, menatap kepekatan malam, dengan lampu-lampu berpijar menerangi Ibukota. Menatap ke arah bulan purnama, memejamkan mata, mengingat ulasan mimpinya tadi.


Siapa kedua wanita yang didalam mimpinya itu, ia merasa mengenal wanita satunya, hatinya sakit dan marah mendengar teriakan piluh dan terisak dari wanita itu. Ia berlari ingin menolongnya, memintanya untuk tenang dan diam tapi semakin dirinya berlari, wanita itu semakin menjauh. Dirinya seakan berjalan ditempat, walaupun begitu ia berkeringat dan lelah, seakan benar-benar berlari.


Ingin menjangkau wanita itu, tapi tetap tak bisa. Ia merasa marah karena tak bisa membantunya. Entah kenapa mendengar wanita itu menangis, membuat hatinya sakit. Ini benar-benar sulit diterimanya oleh akal sehatnya.


Menatap kedua tangannya, perasaannya tadi begitu kuat ingin merengkuh wanita itu dalam pelukannya, berkeinginan untuk melindunginya. Walaupun wajah wanita yang menangis tadi tak bisa dilihatnya tapi entah kenapa ia tahu siapa wanita itu. Perasaan apa ini, hatinya seakan mengatakan untuk tak menerima dan tak menolak. Tapi sifat keras kepalanya tetap menyuruhnya menolak dan memintanya berpikir logis, tak perlu menggunakan hati.


Semakin keras, hatinya semakin sakit diingatkan tangisannya. Memejamkan mata, mengambil napas lalu menghembuskannya. Menaruh sebelah tangannya didadanya, merasakan dadanya berdebar-debar, seakan mengatakan kalau apa yang akan terjadi nanti tak akan mudah mereka hadapi.


Ia bukan pria yang percaya akan cinta pada pandangan pertama, bukan pula tak percaya cinta dan hal-hal yang berbau mistis atau tak masuk akal. Tapi ia percaya semua yang terjadi dalam hidupnya memang sudah digariskan sebelum ia dilahirkan. Menghela napas keras, percuma saja menolak, semakin ditolak akan semakin mendekat.


Ia berjanji pada diri sendiri, memang cinta itu belum terlihat, tapi jika memang mereka ditakdirkan bersama, dengan sepenuh hati akan ia jaga. Dirinya bukan pria suci, bukan juga penganut one night stand, bukan juga playboy dan tak pernah benar-benar mencintai pasangannya.


Ia tak pernah menyakiti wanita, karena sebelum menjalin hubungan, dari awal ia telah memberitau kalau hubungan mereka hanya sementara, tak ada kelanjutan ke pernikahan. Banyak wanitanya yang selalu mengharapkan lebih padanya, langsung ia tinggalkan. Ada juga wanita yang berhubungan dengannya, merasa mempunyai hak memilikinya dan mengatur hidupnya, wanita seperti itu langsung ia tinggalkan.


Ada juga wanita yang melakukan banyak cara, untuk menjadi istrinya. Sejak ia kecil, ia sering diceritakan tentang rahasia keluarganya. Jadi percuma saja dirinya mencintai pasangannya saat itu kalau akhirnya mereka tak akan bersatu. Takdir itu membuatnya marah, sehingga membuat hatinya mengeras dan dingin terhadap cinta.