Golden Bride

Golden Bride
Hukuman Hevva dan Demir



"Sekarang saksikan, Hevva," gumam Levent menakutkan. Mengangguk ke arah pengawalnya. 


"Jangan, kumohon!" teriaknya memohon, mencoba melepaskan diri. Tapi ikatan ditangannya, diikat dengan sangat erat. Ia tak menghindaukan tangannya yang memerah, karena usahanya melepaskan diri, yang dipikirkannya hanyalah keselamatan keluarganya. Kedua orang tuanya, kedua adiknya dan anak perempuannya. Hanya mereka yang ia punya, karena keluarga besarnya baik dari sebelah Abi dan Umminya, tak mau berurusan dengan mereka lagi, takut dengan kekuasan mertuanya. " Tidak!" teriaknya histeris, ketika melihat satu persatu keluarganya diberi minuman, yang diketahuinya yang berisi racun mematikan, lalu mereka merenggang nyawa didepannya. "Tidak! Maafkanku, semua ini salahku. Kalian terkena imbas atas dosaku." teriaknya terisak.


Tiara tercengang dengan apa yang dilihat, ia menutup mulutnya. Air matanya menetes, melihat pembunuhan dan kematian dihadapannya.


"Ya Allah, sadis benar mertua Caira ini. Satu keluarga dibunuhnya dengan ekspresi datar dan dingin," gumamnya lirih dan menangis. Lalu ia melihat ketika anak kecil, anaknya Hevva, akan disodorkan air minuman yang telah berisi racun. Untung saja, mata mereka ditutup dan telinga mereka disumpal kain, sehingga tak bisa mendengar teriakan Hevva. Tapi ia yakin kalau mereka tahu apa yang telah terjadi. Ia hanya merasa kasian terhadap anak perempuan itu, dia tak tahu apa-apa atas dosa kedua orang tuanya, harus ikut terbunuh oleh kakeknya sendiri.


"Sekarang giliran anak kalian tercinta, lihat dan rasakan betapa sakitnya melihat keluarga yang dicintai meninggal tepat dihadapan kita." Ucap Levent dingin dan tajam, tanpa rasa kasihan.


"Abi, jangan kumohon," Demir terisak memohin, dengan tangan ditangkupkan. "Kumohon.." sambungnya lirih dan bersujud didepan Abinya, memohon untuk tidak membunuh anaknya, ia rela menggantikan anaknya, daripada harus dua kali melihat darah dagingnya tewas didepan matanya, dikarenakan dirinya sendiri.


"Terlambat," gumamnya datar dan kejam. Tersenyum miring, melihat Hevva meraung-raung dan merontah, melihat anaknya merenggang nyawa.


"Tidak! Zehra!" teriaknya histeris, melihat anaknya terkulai sudah tak bernyawa. "Kejam! Anda begitu kejam," sambungnya berteriak marah, dan merontah ingin mencekik pria kejam didepannya ini.


"Ck, maling teriak maling," decaknya sinis. "Lebih kejam mana, membunuh langsung mati seketika atau membunuh secara perlahan." menatap Hevva dengan pandangan penuh amarah. "Tak usah berlaga suci, Hevva. Dirimu lebih sadis membunuh menantuku, kamu membunuhnya perlahan, menyiksanya dan menikmati dirinya merenggang nyawa dihadapanmu."


"Akan kubalas semua ini," teriaknya marah dan penuh dendam.


"Haha, kamu bisa apa," tertawa mengejek. "Sejam lagi, kamu akan ikut menyusul keluargamu, jadi tenang saja. Kalian pasti bertemu dineraka."


"Lepas!" rontahnya berteriak. "Demir, kenapa kamu diam saja, anak kita dibunuh dihadapan kita. Jangan menjadi pria pengecut dan pencundang!" sambungnya marah pada Demir, yang hanya menatap kosong padanya. "Dasar laki-laki pecundang!" sambungnya memaki marah.


Tiba-tiba seorang datang, dan berbicara kalau Raja Sulaiman akan mengadili mereka sekarang. Tiara melihat mereka berdua dibawa dan ia mengikuti. Ia masuk ke sebuah ruangan, yang telah dipenuhi banyak orang dan duduklah seorang raja disinggasananya yang megah. Postur terlihat seperti raja-raja arab yang pernah dilihatnya di TV, dan terlihat lebih muda, seperti seumuran Ayahnya lah, tapi Ayahnya kan sudah tua, terkikik dengan pikirannya sendiri.


"Ternyata Rajanya cakep sekali," pujinya tertawa. "Dasar bodoh, ini bukan waktunya memuji seseorang." bisiknya geli dengan memukul dahinya pelan. Ia hanya mendengar perdebatan, teriakan dan keputusan yang diambil Raja Sulaiman.


"Hevva, telah melakukan pembunuhan terencana, dan yang dibunuhnya termasuk salah satu anggota kerajaan. Dia akan dihukum gantung, malam ini." Lalu menoleh pada sepupuhnya Demir, menghela napas tak ketara. "Demir, telah membiarkan Istri mudanya membunuh Caira dan kerana ia tak tahu menahu akan rencana Hevva, maka dia akan diasingkan sepanjang hidupnya, tanpa bertemu dengan keluarganya maupun ketiga anaknya." Melihat Demir yang menatapnya hampa, kosong dan pasrah. "Bawa mereka sekarang." Sambungnya memerintah para pengawalnya.


Tiara melihat mereka dibawa ke ruangan berbeda. Ia mendengar ada yang protes Demir mendapat hukuman pengasingan, terjadi perdebatan. Malas mendengarnya, ia mengikuti para pengawalnya yang membawa mereka keluar dari ruangan itu.


Ia menangis ketika melihat Demir terisak menyesal ketika memeluk ketiga anaknya untuk terakhir kali. Dia mencium mereka dengan rakus, karena tahu tidak akan bertemu mereka lagi.


"Maafkan Abimu ini, Nak" Isaknya menyesal sambil memeluk dan mencium mereka. Ia sadar, telah suami yang jahat, tapi ia sangat mencintai ketiga anaknya, walaupun mereka lahir dari wanita yang tak dicintainya.


"Abi jahat," tutur Ottmar, menatap Abinya marah, untuk seusia anak berumur 7 tahun, ia tahu apa yang telah terjadi dengan Ummi dan Abinya. "Kenapa Abi harus membunuh Ummi," isaknya marah, mencoba melepaskan pelukkan Abinya. "Apa salah umi?."


"Maafkan  Abi," memeluk anaknya erat, yang mencoba melepaskan diri. Tak ada yang bisa dikatakan, selain penyesalan.  Sedih ia tak bisa melihat perkembangan dan mendampingi anaknya sampai dewasa. Karena cinta butanya, ia harus kehilangan ketiga permata hatinya. 


"Kenapa Abi membiarkan Ammmay itu menusuk Ummi!" isaknya sendari menatap Abinya marah. "Kasihan Ummi, pasti sangat kesakitan." Menatap Abinya yang diam.


"Maaf, Nak." Gumamnya menyesal. Tak berdaya melihat kebencian di mata anaknya, Ottmar. Untung saja, kedua telinga anaknya yang lain, ditutup telinganya oleh pengawal yang mendampingi mereka. Sehingga ia tak perlu mendapat tatapan kebencian dari anaknya yang lain. Cukup Ottmar, tapi itu sangat menyakitkan, karena Ottmar anak yang paling dekat sama Caira, Umminya.


"Ummi selalu membela Abi ketika Abi jarang pulang." Ujarnya lirih. "Ummi selalu mengatakan hal yang baik-baik tentang Abi tapi Ottmar tau yang sebenarnya." Menangis terseduh. "Walaupun masih kecil, Ottmar tahu Ummi selalu menagis ketika bertemu dengan Amma yang jahat itu." Isaknya sendari menghapus air matanya. "Ottmar benci Abi, karena Abi sudah membuat Ummi kami pergi untuk selamanya." Sambungnya penuh kemarahan.


"Maafkan Abi, Nak." Gumamnya lirih menyesal sendari memeluk Ottmar. "Maaf..." Sambungnya terisak. Kalau waktu bisa diputar kembali, ia ingin kembali ke waktu Istrinya merenggang nyawa, ingin menyelamatkan mereka. Tapi sekarang seumur hidup ia akan dihantui dengan rasa penyesalan, yang menyiksa batinnya. Menatap kedua anaknya dengan sendu, yang menatap dirinya dan kakaknya dengan heran.


Abraham, menghapus air matanya dan berkata. "Jangan menangis ,Abi."


Ucapan Abraham, semakin membuat air matanya mengalir deras, dan memeluk mereka lagi dengan erat. Lalu Tiara melihat Demir ditarik paksa dari pelukan ketiga anaknya. Kedua anaknya berteriak memanggil-manggil Abinya, sedangkan Ottmar, hanya melihat Abinya dengan pandangan kosong. Kakeknya mendekati mereka, memeluk dan menenangkan, dan membawa mereka pulang.  


Tiara menagis melihatnya, mengusap air matanya. Berjalan tanpa arah, sambil menatap kosong ke sekelilingnya. Sehingga sebuah bisikan seperti angin yang tak tahu dari mana, membuatnya merinding ketakutan, ia mengenal pemilik suara itu.


" Aku bersumpah keturunanmu tak akan hidup tenang dan bahagia, pertumpahan darah akan selalu terjadi disetiap generasi. Kalian akan menerima pembalasan, nyawa dibayar dengan nyawa, hahaha."