
Di seberangnya tempat Tiara berkumpul, tanpa diketahui oleh mereka, ada dua orang pria yang mengawasi setiap gerak-gerik mereka dengan tatapan dingin.
“Apa perlu diikuti?” Tanya pria yang menatap Tiara dan kedua temannya, yang berjalan menjauh dengan tujuan berbeda.
“Ikuti.” Perintahnya tegas, menghidupkan iPad yang berisikan penyelidikan tentang Tiara. “Selidiki siapa pria yang bersama mereka tadi,” sambungnya tajam. “Berikan laporan dia pergi ke mana saja dengan lengkap, awasi jika ada gerak gerik mencurigakan, lingdungi dia diam-diam tanpa ketahuan.”
“Baiklah.” Mengangguk kepala dan berdiri, meninggalkannya sendirian.
Ia mengambil ponselnya, menghubungi asistennya.
"Sudah dihubungi pihak mereka… Apakah mereka setuju?… Lakukan dengan cepat… Gak mau tau.. Besok kutau semuanya beres." Berdiri dan membanyar bill minumannya.
Drtt...Drtt, ponselny berdering, melihat siapa yang menghubunginya, menekan tombol on sedari membuka pintu.
"Ya.. Apa!" tersenyum miring, mendengar apa yang anak buahnya katakan. "Awasi saja mereka, jangan bertindak gegabah. Ikuti saja permainan mereka, kita jadi penotong dulu, nanti baru bertindak, tunggu perintah saya selanjutnya." menatap layar ponselnya tajam, seakan itu orang yang membuatnya marah.
"Ck, sudah mulai bergerak ternyata. Baiklah mari kita kuti permainan mereka." Gumamnya sendiri dengan sengit dan sinis. Bersemangat seolah permainan baru saja dimulai, walaupun belum tahu siapa saja musuh-musuhnya. Ia tak pernah takut menghadapi tantangan, jiwanya bergejolak, antusias ingin menghabisi musuh-musuhnya, kalau mereka berani mengusik miliknya.
"Berani mengusik milikku, bersiaplah menerima kematian kalian." janjinya dingin dan menyeringai kejam.
******
Tiara bisa bernapas lega, karena hari pertamanya haid, tak menyakitinya. Hanya mulas-mulas sedikit, sehingga tak membuatnya tersiksa seperti biasa. Karena setelah tiba di apart, ia langsung membuat minuman wedang jahe versinya. Ia tadi sempat membeli beberapa bahan masakan seperti jahe, lemon, gula merah, kayu manis, wortel, kentang, brokoli, udang, telur, kulit pangsit, sosis, kornet, daun bawang dan tempe. Walaupun terlihat banyak yang dibelinya, tapi dengan porsi sedikit, jadi tak terlalu boros.
Setelah sibuk membuat wedang jahe, pastel goreng atau lebih dikenal dengan risol di indonesia, yang berisikan wortel, udang, kacang hijau, kornet, dan daun bawang. Diteruskan menggoreng beberapa pempek lenjer, lalu membuat nasi goreng untuk mereka makan saat akan berangkat nanti, sehingga hanya dipanaskan saja. Lalu terakhir membuat tempe mendoan. Tak lupa untuk celupannya, sambal kecap atau sambal pedas dan membuat jus jambu untuk Jasmin dan Tiara.
Setelah menghabiskan 2 jam dengan memasak, semua hidangannya ditaruhnya di meja dapur. Mengambil beberapa untuk dibawanya ke sofa bed, yang ada di ruang tamu. Ia sedang duduk bersantai, menikmati makanan yang dimasaknya tadi, sambil membalas pesan dari orang-orang terdekatnya. Disaat sedang asik menikmati waktu santainya, ia mendengar bunyi bel berbunyi.
Ting… Tong… Bel terus berbunyi. Ia berkerut heran, siapa orang yang datang, seingatnya dirinya tak mempunyai kenalan yang tinggal di Singapura. Jasmine dan Tasya juga tak mungkin, mereka tahu password, jadi tinggal masuk saja. Berjalan mendekat dan menatap dari lubang pintu, melihat punggung seorang pria.
Ting… Tong… Bel masih berbunyi dengan tak sabaran. Membuatnya menggerutu kesal. “Gak sabaran banget sih ini orang, lagian siapa juga yang datang saat tuan rumahnya gak ada.”
Ceklek.. Tiara membuka pintu dan berbicara sopan kepada sesosok pria yang membelakanginya. “Ada yang bisa dibantu?”
Pria itu membalikkan badan, menghadapinya. “Tiara.” Menatap Tiara dingin dengan tatapan tajam seperti elang, yang seakan menandai mangsanya.
“Do you know me?” Tanya heran dan merasa risih ditatap begitu oleh pria di depannya ini. Ia menilai pria ini berperawakan eropa dan timur tengah. memiliki hidung mancung, mata elang berwarna hazel, rahang tegas dan kokoh, menandakan pria yang keras dan bossy. Tampan dan kaya, tipe idaman banyak wanita dan bisa mendapat wanita manapun ia suka, karena terlihat dari setelah yang dipakainya, terlihat mahal.
“Saya.. Hei!” ucapannya terputus, merasa kesal. Pria ini belum dibolehkan masuk, sudah menyolong saja. “Anda benar-benar gak sopan, asal masuk aja.” Menatap pria itu yang seenaknya duduk sambil menatapnya datar dan cuek. Menutup pintu, duduk berhadapan dengan pria itu. “Anda siapa? Saya gak mengenal anda?”
“Wyatt.” Memperkenalkan diri, mengulurkan tangannya untuk berkenalan seperti kebiasan orang Indonesia.
Dengan malas Tiara menyambut jabatan tangaan Wyatt. “Tiara.” Saat berjabatan, ketika tangan mereka bersentuhan, ia merasa seperti ada sengatan listrik, hangat, tak menyakitkan, lebih kesemutan, yang membuat Tiara maupun Wyaat terkejut. Mereka langsung menarik tangan masing-masing. Menatap rahang Wyatt mengeras marah, aneh pria ini. Hanya berjabat tangan saja, sampai wajahnya mengeras marah begitu.
Hening…
Suasana hening diantara mereka, membuat Tiara tak tenang. Apalagi, Wyatt sibuk menatap sekeliling apart Jasmine dengan tatapan tajam mata elangnya, lalu menatap Tiara dengan intens. “Anda gak sopan menatap saya begitu.” Tegurnya tersinggung.
“Menatap bagaaimana,” cibirnya sinis, dengan raut wajah mengejek.
“Anda..” ucapnya tertahan, menggeram kesal lalu menatap Wyatt tajam. “Apa alasan anda datang menemui saya?” sambungnya dengan datar. “Kalau gak penting, lebih baik anda pergi.”
“Kedatangan saya sangat penting, malah lebih penting dari hidupmu.” Sindirnya dingin. “Saya mau mengambil barang yang ada di anda.’
Tiara tercengang dengan hati berdegup kencang, mempunyai firasat tak baik dengan kedatangan Wyatt menemuinya. Tapi berusaha berpikir positif kalau yang ditakutinya tak kan terjadi. “Barang apa?” Tanya nya dengan tenang dan datar.
“Anda tidak merasa mengambil sesuatu yang bukan milik anda?” Mengitimidasi Tiara dengan tatapan dinginnya, seperti yang sering dilakukkannya saat menghadapi lawan bisnisnya.
“Ma.. Maksudnya?” sahutnya terbata, hatinya mulai tak tenang.
“Tidak perlu dijelaskan, barang apa itu.” Tersenyum sengit dan menghina. “Apa perlu kita bicarakan masalah ini di kantor polisi.” Ancamnya tajam lalu berdiri seolah akan pergi.
“Jangan!” serunya panik, berdiri menghadap Wyatt. Tersenyum miris, ia harus menengok ke atas, membuat lehernya agak sakit. Karena ia hanya sebatas bahunya, Wyatt.
Wyatt sendiri, otomatis menjauh. Karena mencium wangi green tea yang menenangkan dari tubuh Tiara, yang mengacaukan indranya. Mengeraskan rahangnya dengan menatap dingin, memperingatkan Tiara untuk mundur.
“Sorry.” Ucapnya menyesal dengan wajah memerah, lalu berjalan menjauhi Wyatt.
“Apakah anda sudah mengingatnya, Nona?” yang dijawab anggukan kepala pasrah, seakan hidupnya akan berakhir. Lalu ia duduk lagi tanpa izin dulu, tak menggrubis Tiara yang menatapnya geram. “Bisa saya meminta barangnya.”
“Akh, iya. Tunggu sebentar, saya ambil dulu.” Jawabnya cepat dan berjalan mengambil apa yang diminta Wyatt. Ternyata apa yang ditakutkannya memang terjadi, pria itu tak mungkin hanya datang bertamu saja, tanpa maksud tertentu, gerutunya dalam hati.