Golden Bride

Golden Bride
Audrey



Rich terteguk mendengarnya lalu tertawa. "Hahaha," menatap Matt seakan dia tidak waras, berjalan kembali ke kursinya. "Impossible, setauku yang namanya hantu dan sejenisnya itu tidak bisa membunuh, kalaupun ada, kita tidak punya urusan dengannya, ngapain coba dia ngeganggu kita." Lalu menatap mengejek. "Terus kamu takut gitu."


"Ck, tidak percaya kamu dengan omonganku. Waktu tuh cewek ngomong gitu, kumerinding tapi yah mau diajak adu jontos juga, rasanya mustahil," lalu Matt kembali duduk di tempatnya. "Takut tidak, cuma mikir saja gimana cara melawan tuh cewek, secara badan dia tidak punya. Baca-baca mantra, aku bukan dukun."  


"Haha, tempelkan saja dikeningnya, selembar kertas berisikan mantra," ujar Rich asal bunyi.


"Emang dia vampir," gerutu Matt.


"Masa dengan hantu saja takut, besaing donk dengan Jack, haha," ejeknya ketawa.


"Untung saja, perihal kelemahan Jack yang takut dengan hal seperti itu hanya kita berdua yang tau. Kalau sampai anak buahnya tau juga, mau taruh dimana wajahnya. Masa pembunuh bayaran takut sama makhluk halus, kan sulit dipercaya dan tidak mungkin banget, haha," ujarnya masam menertawakan kelemahan Jack.


"Haha," berdiri mendekati sofa yang diduduki Matt. "Wanita itu tidak usah dipikirkan, tak penting. Sekarang yang harus kita rencanakan, gimana  caranya kita berhasil membunuh tunangan Wyatt itu." Menatap Matt tegas. "Akan sangat memalukan kalau kita gagal dengan job ini."


"Oke," mengangkat bahu cuek. "Kamu aturlah rencananya, tugasku hanya membunuhnya saja, aku mau istirahat dulu." Berdiri menatap Rich. "Hubungiku saja kalau rencananya sudah fix." Lalu berjalan meninggalkan ruangan itu dengan lambaian tangan kirinya. "See you tomorrow."


Rich mendengus dengan ucapan Matt, dengan kata lain, dirinya hari ini tidak mau. Kalau bukan temannya, sudah ia bunuh anak buah seperti itu.


Blam… Pintu yang tadi tertutup tiba-tiba terbuka.


Rich menatap tajam dan heran, berdiri mencari tahu siapa yang membukanya, akan dibunuhnya kalau anak buahnya iseng mengerjainya dengan hal childish seperti ini. Ia sudah berada diambang pintu, melirik kanan dan kiri, tidak menemukan siapapun. Ketika ia mau menutup pintu, sekilas ada angin menerpa wajahnya beserta bisikan dingin mengancam.


"Nyawa dibalas dengan nyawa." Bisik suara seorang wanita.


Rich tercengang mendengarnya, merasa dirinya salah mendengar. Tapi langsung menyeringai tajam dan menantang, dia pikir omongan Matt tadi hanya halusinasinya saja, ternyata tamu tidak diundang datang juga, menyadari siapa yang sedang bermain-main dengannya.


"Siapapun kamu aku tidak takut, muncul dihadapanku sekarang," ucapnya datar dan santai. "Kita bisa bicara, kenalan gitu, dari pada datang-datang, langsung mengacau," tersenyum miring mendengar ucapannya sendiri, kalau anak buahnya lihat dirinya ngomong sendiri, bisa-bisa ia dikatai gila. 


Hening, tidak ada sahutan ataupun tanggapan. Hanya bunyi AC yang terdengar. "Ayolah, daripada kamu iseng seperti ini, lebih baik ngomong langsung padaku, maumu itu." Ujarnya datar dan menyeringai, seolah sedang bicara dengan teman sendiri.


"Ck, hantu sialan," makinya datar dan berlalu meninggalkan ruangannya. Ketika sudah berada di luar dan akan menutup pintu. Seketika pintu itu tertutup.


Blam!..


Rich menaikkan alisnyanya dingin. "Sialan ini hantu, bikin kesal saja." Maki nya dalam hati menatap marah pintu di depannya, seakan sedang berhadapan langsung dengannya. Setelah menunggu apa yang akan dilakukan wanita itu, lima menit kemudian berpikir dirinya sangat konyol melakukan ini. Dengan cuek ia berjalan menjauhi ruangannya.


******


Tiara sedang breakfast makanannya, dibawah tatapan suaminya yang tajam. Habis disuruh menghabiskan jatah makan paginya, padahal dirinya sudah kenyang. Dengan wajah ditekuk masam, berharap belas kasihan dari suaminya.


"Habiskan," perintahnya. "Jangan kayak anak kecil, kamu sedang sakit, jadi membutuhkan asumsi gizi yang banyak," mengusap kepala istrinya.


"Tapi aku benaran udah kenyang, Kak." Rengeknya cemberut.


"Dua suap lagi yah," perintahnya dan  melihat istrinya yang menyuap 2 sendok makanannya sambil cemberut. Ia tersenyum lalu mengusap pipi istrinya lembut. "Kamu itu terlalu kurus, jadi harus banyak makan, biar berisi. Gak usah diet segala, Kakak gak suka wanita yang kurus." Mencubit pipinya gemas.


Tiara melongo mendengarnya, menggerutu dalam hati. Segini masih kurus, ya ampun mau digemukin gimana lagi, ini aja udah sedikit gemuk dari berat biasanya. Ia memutar bola mata kesal, tiba-tiba terkejut, ada yang mencium hidung, melihat tatapan datar dan jahil dari suaminya.


"Jangan sekali-kali lagi memutar bola mata seperti itu pada suami, gak sopan," timpalnya menasehati. Mencium hidung istrinya lagi, saat dia mengulangi apa yang dilarangnya. "Sepertinya ada yang sengaja, ingin dicium," menatap jahil. "Kalau mau dicium tuh ngaku aja, dengan senang hati Kakak lakukan." 


Tiara melengos malu, dengan pipi bersemu merah. Mengelus-ngelus pipi istrinya dengan sayang. "Makan yang banyak yah, kamu gemuk pun, Kakak tetap suka kok. Apalagi berisi, empuk kalau dipeluk." tersenyum ketika mendapat pukulan manja dari istrinya. "Nah gitu donk, makannya dihabiskan. Ini baru istri cantikku," pujinya sambil mencium sudut bibir istrinya lembut.


Tiara semakin malu, melihat suaminya sering sekali melakukan skinship tiba-tiba, yang membuatnya tegang, mati gaya, canggung dan malu. 


Ehem.. Suara dehaman memutuskan lamunan Tiara.


"Alamak, pagi-pagi udah disuguhi tontonan 18 tahunan ke atas," celetuk Tasya bergurau, mendekati Tiara, yang terlihat kesal padanya. "Kenapa marah adegan live nya diganggu." Sambungnya jahil semakin membuat sahabatnya itu geram.


"Tumben pagi-pagi udah nongol, gak kerja," tuding Tiara sebal, tidak menggrubis gurauan darinya. "Sama siapa lo?"


"Mana orangnya?" celetuk Wyatt bertanya, yang dari tadi diam memperhatikan mereka.


"Met pagi," sapa seseorang yang baru dibicarakan langsung nongol. Datang dengan membawa 6 paper bag tambahan di kedua tangannya, lalu berjalan mendekati Tasya duduk dan meletakkan bawaanya menjadi satu dengan yang Tasya bawa.


"Panjang umur, baru diomongi, udah ngongol aja," ujar Tasya.


Tiara menatap adik iparnya, Audrey. Ternyata aslinya lebih cantik dari yang dilihatnya secara video call, tinggi juga, dari wajah tak terlalu mirip dengan suaminya tapi matanya sama berwarna hazel, bedanya Audery tatapannya terlihat lembut. 


"Gimana keadaanmu, Ra?" tanya Audrey padanya, langsung memeluknya hangat. Lalu duduk berhadapan dengannya, dan memegang tangan kanannya.


"Alhamdulillah beransur membaik." Sahutnya ramah.


"Syukurlah," ujarnya lega, menepuk tangannya. "Maaf baru bisa kemari, anak-anak ada yang sakit dan sedikit rewel, saat baru tiba di sini, maklum baru pertama kali, jadi baru penyesuaian." sambungnya menyesal dan tersenyum.


Tiara mengangguk kepala. "Lalu gimana keadaan Shane dan Jasmin, udah sehat?" tanyanya cemas.


"Alhamdulillah, gak panas lagi, cuma rewel aja, gak mau ditinggal kedua orang tuanya. Maka nya aku bisa ke sini, saat mereka masih tidur." Tersenyum lembut mengingat ketiga anaknya itu.


"Maaf merepotkan," seru Tiara sungkan.


"Gak usah minta maaf segala, sudah seharusnyalah dia direpotkan," celetuk Wyatt datar dan pedas.


"Ck, udah nikah aja, masih aja wajahmu datar gitu, gak eneg apa istrimu dikasih muka datar mulu," sindir Audrey sewot.


"Gak, dia biasa aja tuh," ujarnya santai. Tak menghindaukan wajah adiknya yang cemberut. "Udah, gak usah kayak anak kecil gitu, gak pantas, udah punya anak 3 juga."


"Ck," cebiknya geram.


Tiara dan Tasya tersenyum melihat kedekatan adik-kakak itu, walaupun terlihat datar, tapi terlihat jelas kalau Wyatt sangat menyayangi adiknya, walaupun mulutnya selalu berkata pedas.


"Mana pesananku semalam," ujar Wyatt mengingatkan.


"Itu," menunjukkan 10 paper bag yang di atas sofa bed.


"Gak ada modelan celana kan," menatap adiknya tajam.


"Tenang aja, beres," sahutnya santai, lalu beralih ke Tiara. "Lihat Ra, baru dua hari jadi suami aja, posesifnya langsung keluar." Menepuk tangannya. "Kamu harus banyak sabar yah, ini baru awal. Kalau sifat posesifnya kelewatan, kepalamu pasti pusing menghadapinya dan setiap hari kujam kamu akan terus memakinya," menyindir sifat kakaknya itu. "Walaupul hanya dalam hati," Sambungnya berbisik, tersenyum manis pada Wyatt, masa bodoh dengan tatapan tajamnya.


👋Hai Readers👋


🤗Kalau suka jangan lupa klik 👉👍👉 rare 👉


Vote😉


👍Mau kasih komen, kritik dan saran, monggo


diaturin yah😉


😇Makasih buat yang masih setia membaca


cerita ini🙇Maaf tidak bisa membalas yang


ngasih komen🙏


🤗See you on next👉chapter👍