
Semua keluarga dan orang-orang yang menyayanganginya masih merasa cemas, menunggu proses berjalannya operasi Tiara. Mereka berdoa semoga operasinya lancar dan berhasil. Akhirnya setelah beberapa jam menunggu dengan hati yang khawatir dan gelisah, operasi Tiara selesai.
Ayahnya sujud syukur mendengar perkataan dokternya yang mengatakan operasinya berhasil, tak ada komplikasi yang akan memperburuk keadaannya dan dokter juga masih melihat perkembangan kondisi Tiara malam ini. Jika besok Tiara sadar berarti dia sudah melewati masa kritisnya.
Tanpa keluarga Tiara tahu kalau Wyatt telah menyiapkan team dokter terbaik pilihan untuk merawat Tiara dan menyembuhkannya. Ia juga sudah mengatakan keinginannya pada kedua calon mertuanya, awalnya mereka menolak tapi setelah dijelaskan semuanya demi keselamatannya. Kedua orang tuanya juga sudah datang dan ikut membujuk kedua calon mertuanya, akhirnya mereka menyetujuinya alasan Wyatt, semuanya demi Tiara.
Tiara juga sudah dipindahkan ke presidential suite room, tempat terbaik yang seperti hotel 5. Dengan berbagai fasilitas lengkap dan mewah, serasa bukan dirumah sakit. Dengan tambahan menyewa 2 suster pribadi yang akan menjaga dan merawatnya bergantian beserta dokter-dokter terbaik pilihan, sehingga ketika masuk ke dalamnya serasa bukan berada dirumah sakit. Ruangannya juga di depannya telah dijaga 4 bodyguard terbaik yang akan bergantian menjaga 24 jam dari musuh-mush Wyatt. Sehingga tak sembarangan orang yang bisa masuk dan menjenguk. Kedua orang tua Tiara awalnya keberatan dengan pilihan Wyatt ini, tapi lagi-lagi dengan bujukan kedua orang tua Wyatt, mereka mengalah dan berterima kasih atas apa yang telah dilakukan calon mantu mereka itu.
******
Tasya sudah berada di rumah sakit tempat Tiara dirawat, ia bersyukur masih bisa mendapat penerbangan terakhir, walaupun harus menunggu sedikit lama. Ia juga sudah menghubungi Monic dan Jasmin saat menuju bandara tadi, dan mereka juga akan menyusul.
"Tasya," panggil seseorang dibelakangnya, saat ia akan masuk ke lobi rumah sakit. Menoleh dan melihat Monic mendekat. "Lo baru datang, kirai udah diatas."
"Gue baru bisa cabut, ada sedikit masalah dihotel yang harus diselesaikan terlebih dahulu." Jelasnya Monic.
Drrt… Drrtt, dering ponsel Tasya dan Monic berbunyi. Ia melihat dari Abang Bram dan mengangkatya. Tasya menatap Monic. “Gue angkat telepon dari Abang dulu, NIc.”
“Gue juga, Sya.” Jawab Monic menunjuk ponselnya.
"Ya, Bang."
"Lo udah di mana, Dek?" tanya Abangnya.
"Baru mau masuk lobi, Abang sendiri di mana?."
"Abang udah diruangan, naik aja ke lantai 32, nanti telepon aja kalau udah di depan ruangan. Nanti Abang langsung keluar,” ujarnya penuh teka-teki.
“Emang kenapa, Bang?”
“Gak ada, nurut aja apa yang Abang bilang tadi.” Perintahya lembut
“Oke,” sahutnya mengalah. Dan memantikan sambungan teleponnya. Dan menunggu Monic yang juga sedang menerima telepon. “Siapa, Nic?” Tanya ingin tahu ketika Monic mematikan teleponnya.
“Jasmin.” Jawabny singkat, llau mengikuti Tasya berjalan menuju Lift.
“Udah dimana dia?” menatap jam dari ponselnya yang menunjukkan sudah hampir tengah malam.
“Sedang di jalan, mungkin 15 menit lagi nyampai.”
“Kita gak nunggu dia dulu?” Tanya Tasya sebelum masuk ke dalam lift.
“Katanya gak usah, nanti dia nyusul aja.”
“Oke kalau gitu,” Tasya menekan tombol lantai tempat Tiara dirawat.
"Lo tahu siapa orang yang dengan kejam mendorong Tiara sampai dia ditabrak mobil, Sya?" tanya Monic ketika mereka berada di dalam lift.
"Gue juga belum tau detail kejadiannya , Nic. Kata Fezia sih perempuan itu kenal dengan Mbanya, dan marah-marah padanya." Papar Tasya.
"Kira-kira nurut lo siapa orangnya" menatap Tasya bingung. "Setau gue dia gak punya musuh, kecuali musuh lo." Menatap Tasya yang cemberut. "Gak usah tersinggung gitu, diantara kalian berdua, yang banyak dimusuhin oleh banyak wanita yah lo, Sya. Tiara hanya sering ukut kena getahnya karena selalu mendampingi lo." Sambungnya menjelaskan.
"Apa nurut lo semua ini ulah si Iyem?"
"Kenapa lo bisa berpikir gitu, Nic?" tanyanya ingin tahu.
"Setau gue, yang sedang bermasalah di sini kan lo, jangan tersinggung dulu," ujarnya cepat ketika melihat wajah Tasya yang marah. "Maksud Gue gini, bisa saja kan Bella sedang mencari lo, tapi malah ketemu Tiara dan melampiaskan semua amarahnya padanya." Sambungnya menebak hati-hati.
"Gak tau, Nic. Gak berani mikir ke sana, takutnya fitnah lagi." Sahutnya menghela napas kasar. " Udah deh gak usah pikir yang belum pasti dulu, nanti kita tanya detailnya apda Wyatt, baru bisa kita bertindak," sambungnya bijaksana. Yang hanya dijawab dengan anggukan kepala Monic. Tanpa mereka tahu kalau yang ditebak Monic itu benar terjadi.
Tak berapa lama, mereka sudah berada dilantai 32, dan menuju ruangan inap sahabatnya itu. Dan terkejut ada 2 orang bodyguard tampan dan bertubuh kekar, yang bersiaga peuh di depan ruangan inapnya. Biasanya kalau bodyguard indentik dengan pakaian formal dan berjas warna hitam. tapi yang mereka lihat sekarang, menggunakan pakaian kemeja biru muda yang dipandukan dengan jaket berwarna biru tua dan jins biru tua juga, sehingga terlihat santai, walaupun mereka sedang bertugas.
“Kita gak salah masuk ruangan kan, Sya,” bisik Monic bingung, sebelum mendekati ruangan Tiara.
“Kayaknya gak, ruangannya juga udah benar. Bentar yah,gue hubungi Abang dulu,” ujar yakin dan mengambil ponselnya dan menghubungi Abangnya.
“Abang, gue udah diluar, tapi kok ada 2 bodyguard di depan ruangan Tiara, apa kami salah ruangan yah," ujar Tasya bingung dan ragu.
"Abang keluar sekarang." Klik sambungan langsung dimatikan tanpa menunggu sahutan dari Tasya.
Tasya menatap ponselnya dengan kesal, beberapa detik kemudian suara Abang Bram memanggilnya.
"Dek," panggil Bang Bram, ia keluar dari ruangan yang dijaga oleh 2 bodyguard tadi. "Ayo sini, ngapai jadi satpam di situ," candanya melihat Tasya dan monic berdiri bengong tak jauh daru ruangan Tiara.
"Ternyata kita gak salah ruangan, Sya. " Ujar Monic lega. Sambil melangkah mendekati Bang Bram.
"Abang udah lama di sini?" tanya Tasya penasaran.
"Gak, baru 10 menitan," sahutnya singkat. Lalu menoleh ke 2 bodyguard di depannya. "Kedua wanita ini sahabatnya Tiara, nanti izinkan mereka masuk." Sambungnya memberitahu mereka.
"Baik," jawab mereka serempak dengan wajah datar.
"Jasmin gak ikut?" menatap Tasya dengan penuh tanya.
"Lagi otw Bang, mungkin 10 menitan lah udah nyampe," jawab Tasya.
Bram mengangguk paham, lalu menatap kembali para bodyguard. " Nanti ada satu lagi sahabat Tiara yang akan berkunjung. Namanya Jasmin, suruh aja dia masuk ke dalam."
"Baik," jawab mereka lagi bersamaan.
"Ayo kita masuk," ajak Bram.
******
Tiara berjalan ke sebuah taman yang sangat indah, yang didepan ada sebuah air terjun yang airnya sangat jernih dengan terdapat banyak ikan di dalamnya .
"Di mana aku berada sekarang?" tanyanya linglung menatap awas sekitarnya. Tanpa menyadari ada yang mendekatinya.
Tukk... Ada sebuah tepukan lembut dipundaknya dan menyapanya.
"Assalamu Alaikum, Tiara." Suara lembut Wanita menyapanya