
"Hmm, itu.." gumamnya akan menolak.
"Beli aja, gak usah pikir dua kali. Kan lo gak rugi juga, Ra." Seru Tasya membujuknya.
"Tapi masih kemahalan, Ra." Bisiknya malu.
"Perhitungan banget sih lo, Ra." Gerutunya menggeleng kepala.
"Bukan gitu, Sya. Cicilan Motor gue belum lunas, apalagi sebagian gaji gue ditabung buat DP rumah," Sambungnya lagi dengan berbisik, malu kalau didengar orang.
"Udah deh, gak usah banyak pikir lagi," bujuknya cepat. "Mba kami ambil ponselnya." Sambungnya tanpa menggrubis penolakan Tiara, lalu mengeluarkan kartu kreditnya.
"Lo mau ngapain?" tanyanya tak suka.
"Mau banyarin ponsel lo ini," sahutnya santai.
"Gak usah, mahal Sya," tolaknya.
"Pilihan lo ada 2, mau beli pakai kartu lo sendiri atau gue yang bayar."
"Gue gak mau terima kalau lo yang beli." Protesnya bersikeras.
"Terserah," mengangkat bahu tak peduli. "Yang penting udah gue beli dan dibayar, lo mau buang atau kasih ke orang lain terserah."
"Sya," serunya geram dan kesal, melihat sikap keras kepala Tasya. Ia mengambil napas kasar lalu menghelanya. "Baiklah," sambungnya pasrah.
"Silakan ikut kami, Mba," ujar SPG itu bersemangan dan senang karena berhasil membujuk konsumennya.
Tiara mengikuti Mba SPG itu dengan hati menggerutu, tanpa memperhatikan Wyatt yang tersenyum singkat melihat Tiara yang merengut kesal.
******
Wyaat POV
"Wyatt," panggil Leon mendekatinya.
"Sudah."
"Iya, kenapa gak lo beli aja dan langsung memberikan padanya." Menatap Wyatt heran.
"Dan langsung ditolaknya," menggeleng kepala.
"Kalau gini, sama aja dia gak tau, ponsel itu ternyata darimu" Seru Leon protes.
"Biarkan aja, lebih baik seperti ini."
"Gak mendekatinya?"
"Nanti, kita temui mereka di parkiran aja."
"Oke."
******
Tiara dan Tasya sedang berjalan menuju prakiran, dikejutkan oleh sebuah mobil mewah bermerek Bentley Bentayga, di depan mereka.
"Kurang ajar, bikin jantungan aja." Gerutu Tasya sewot.
"Siapa, Sya?" tanya Tiara penasaran.
"Entah," mengangkat bahu, Ia melihat mobil mewah dihadapannya ini dengan geram. Lalu keluarlah seorang pria yang tak diharapkan, membuatnya kesal setengah mati.
"Udah mau pulang kan," ucap seorang pria, yang tiba-tiba berhenti di depan mereka, ternyata tak lain, Wyatt. Yang berjalan mendekati mereka dengan angkuh.
"Bisa gak sih, berhentikan mobil jangan kayak gini, gue pikir kita akan ditabrak, emang anda kurang kerjaan." Sindirnya ketus.
"Kamu pulang barengku," perintah Wyatt tanpa menggrubis Tasya.
"Ck, Tiara pergi ama gue, maka pulangnya juga begitu." Seru Tasya bersikeras.
"Harus yah," cibirnya.
"Harusk lah!" tekan Tasya menatap Wyatt tajam.
"Ayo pulang, gak enak dilihat orang," menatap Tiara tajam, seakan mengancamnya untuk menuruti keinginannya itu.
Tiara menatap Wyatt kesal, akan sikap pemaksa nya. Ia harus mengalah kali ini, bisa-bisa mereka ribut tak akan selesai. "Oke," sahutnya singkat dan pasrah.
"Gak bisa gitu donk, Ra." Protes Tasya tak terima.
"Gak pa-pa, Sya." Sahutnya tenang.
Wyatt yang mendengar itu, hanya bisa bersikap tenang dan menatap Tasya datar, seakan dia orang aneh.
"Tapi dia kan udah dua kali nolong gue, jadi percaya kalau dia gak akan berbuat macam-macam." Terangnya sambil menepuk-nepuk tangan Tasya, untuk memintanya tenang.
"Masa lo percaya gitu aja sih," bantahnya lagi.
"Lo tenang aja, gue percaya dia pria yang baik." Ujarnya, tanpa maksud memujinya, tapi hatinya yang mengatakan itu, ia melihat Wyatt yang masih bersikap datar.
"Hufft," menghela napas kesal. "Ya udah, terpaksa gue izinin lo pulang bareng dia, tapi kalau ada apa-apa lo telepon gue yah." Sambungnya tegas.
"Oke, boss," serunya tersenyum.
"Sampai rumah, lo harus ngabari gue," perintahnya tajam.
"Iya, ya." Sahutnya sabar
"Awas loh, berbuat yang enggak-enggak pada Tiara, walaupun anda orang terkaya di dunia, akan gue cari dimanapun anda berada." Ancamnya tajam.
"Ayo," ajakanya tanpa menggrubis ancaman Tasya, yang membuatnya semakin meradang akan sikap Wyatt.
"Lo!" bentaknya tak sopan.
"Udah, udah, Sya. Gak usah diambil hati akan sikapnya itu," ujarnya lembut. "Lo pulanglah, gue pasti baik-baik aja." tersenyum menenangkan.
"Hmm, gak." Bantahnya berubah pikiran. "Gue ikut bareng lo."
"Lah mobil lo gimana?" tanyanya heran. Tadi bilang iya, sekarang lain lagi. Hmm, dasar labil, gumamnya dalam hati.
"Teman anda bisa membawa mobil gue," sarannya.
"Gak bisa," tolaknya datar.
"Ya udah, gak gue izini Tiara pulang bareng anda," ujarnya tajam, lalu menarik tangan Tiara mengajaknya menjauhi Wyatt.
"Ck!" decaknya geram, mengetuk jendela mobil, lalu muncul lah wajah Leon yang menatapnya bertanya. "Kamu bawa mobil nona keras kepala ini," tunjuknya pada Tasya. "Dia akan jadi satpam Tiara," sindirnya datar.
"Bagus," tersenyum penuh kemenangan.
"Oke," Leon keluar dari mobil lalu menjawabnya datar. "Mana mobilnya."
"Itu," Menunjukan mobil honda jazz nya yang berwarna kuning pekat. "Gue minta tolong yah, lo bawa mobil gue, lalu ikuti kami dari belakang."
"Sya, kenapa gak sekalian dibawa ke rumah lo aja," tanya Tiara heran.
"Gue hanya mau mastiin lo pulang dengan selamat, setelah itu gue langsung cabut." terangnya nyantai, tanpa memperdulikan delikkan tajam Wyatt.
"Baiklah," sahutnya setuju, tanpa memperdulikan wajah Wyatt yang mengeras.
"Ini kuncinya," memberikan kunci miliknya pada Leon. "Ayo," sambungnya bersemangat, tanpa tahu kalau Wyatt ingin ********** habis.
Tasya membuka pintu depan, menemani supir. Ia tahu diri, tak mau membangkitkan macam tidur, menilik wajah Wyatt yang mengeras, ia yakin, kalau Wyatt sedang menahan emosinya. Jadi Tiara harus duduk menemani Wyatt di belakang.
Selama perjalanan yang penuh kesunyian, tanpa ada satupun yang mengobrol. Membuat suasana di dalam mobil itu pengap, tak nyaman bagi Tasya dan Tiara.
******
Akhirnya setelah 20 menit perjalanan pulang yang didominasi dengan kesunyian, sampailah ke rumah Tiara. Yang membuatnya heran, kenapa Wyatt tahu alamatnya. Lalu merutuk kebodohannya, tentu saja sangat mudah baginya untuk menemukan rumah Tiara. Yang membuatnya kesal kalau Bunda dan Ayahnya akan kepo tentang siapa yang mengantarnya pulang. Manalagi Tasya sudah pulang tanpa bertemu dengan orang tuanya duluan.
"Ayo pak masuk," ajaknya sopan dan ramah, meringis ketika mendapat tatapan tajam Wyatt, karena memanggilnya Pak . "Anda juga masuk," sambungnya lalu menatap Leon, yang meganggukan kepala.
"Diantar siapa, Nak?" tanya Ayahnya tiba-tiba mengagetkannya dan sudah berada di sampingnya.
"Ikh, Ayah. ngagetin aja." Gerutu terkejut.
"Maaf," seru Ayahnya tersenyum jahil. "Waduh, anak Ayah udah berani bawa pria ke rumahnya," semakin tersenyum melihat anaknya yang geram. "Kamu masuk aja dulu, biar temannya Ayah temani di sini."
"Tapi.." tolaknya ragu.
"Tenang aja, gak diapa-apain kok calon mantu Ayah," seru Ayahnya jahil, membuat Tiara geram .
"Ikh, apa-apaan sih, Yah." Bantahnya manja.
"Buruan masuk sana, bilang Bunda kalau kita kedatangan calon mantu."
"Ayah..." Protesnya malu, apalagi Wyatt menatapnya datar.
"Udah, udah sana. tenang aja, gak diapa-apain oleh Ayah kok." Serunya memerintah.
Ia meghela napas kesal, lalu berjalan pasrah sambil mengentakkan kakinya, meninggalkan Wyatt dan leon bersama Ayahnya.