
Tak terasa jam terus berlalu dan hari telah berganti, seminggu sudah Tiara berada di rumah sakit. Di pagi dan sorenya, baik keluarga dan sahabatnya terus menemaninya agar dirinya tak kebosannan, sedangkan malamnya baru giliran suaminya. Ia diperbolehkan pulang dan sesekali berobat ke rumah sakit sampai sembuh total. Ia tak tahu kalau suaminya sudah membeli rumah yang tak jauh dari orang tuanya, hanya 10 menit berjalan kaki. Rumah yang sudah bertahun- tahun kosong, yang sangat luas. Dan lagi dibangun rumah idamannya. Jadi untuk sementara ia tinggal bersama keluarganya. Awalnya suaminya tak setuju tapi setelah dibujuk mertuanya, dengan terpaksa dia menyetujuinya.
Tok… Tok…
“Mba,” panggil adiknya.
Tiara sedang bersantai di kamarnya saat suara ketukkan itu memanggilnya. “Ya, masuk.”
Ceklek, pintu terbuka dan masuklah adiknya ke dalam, llau berdiri di hadapannya,. “Mba, ada tamu,” seru adiknya Liuda
“Siapa?”
“Bang Bram.”
“Siapa yang menemaninya?”
“Bunda.”
“Ok, bentar lagi Mba keluar,” ucapnya, lalu berdiri mengambil jilbab instannya. Sekarang kalau bukan keluarganya, suaminya mewajibkannya memakai jilbab. Ia geram dengan keposesifan suaminya, katanya dia tak rela kalau rambut indah istrinya, dilihat oleh para pria di luaran sana. Lagipula percuma saja ia tolak, pasti tetap saja kalah suara.
“Iya,” Liuda meninggalkan Mba nya.
Tak lama Tiara keluar menemui Bang Bram yang menunggunya di ruang tamu, mengambil duduk di samping Bundanya.
“Sehat, Ra?” Tanya Bram menatapnya hangat, seperti tatapan seorang kakak pada adiknya.
“Alhamdulillah sehat, Bang,” jawabnya tersenyum. "Tumben baru kemari, kemarin-kemarin gue gak dibesuk sama sekali." gerutunya sebal.
“Tadi sekalian habis ketemu klien, langsung kemari,” jawabnya santai."Maaf, Ra. Abang ada kerjaan di luar negeri, habis dari sana, membereskan urusan Bella, jadi baru bisa hari ini menjengukmu, ini juga harus ijin dulu dengan suamimu." Sambungnya geram.
“Kalian ngobrol lah dulu, Bunda ke dalam yah.” Ujar Bunda menatap mereka berdua.
“Ayah masih belum pulang, Bund?”
“Mungkin bentar lagi.” Jawabnya melihat jam dinding yang menunjukkan jam 2 lewat.
Tiara mengangguk paham, Ayahnya seorang guru PNS, yang mengajar di salah satu sekolah negeri terbaik di kotanya, yang biasa pulang jam 3.
“Dimakan itu brownisnya, Nak Bram.”
“Iya, makasih Bunda,” jawabnya tersenyum.
“Bunda tinggal dulu yah.”
“Iya, Bund,” sahut mereka bersamaan.
“Sendirian aja, kok Tasya gak ikut?”
“Tasya lagi Abang suruh mewakili rapat di kantor, biar mengalihkan pikirannya dari pria brengsek itu.” Sambungnya geram.
“Benar Bang, dia harus dibuat sibuk, biar bisa mengalihkan rasa sakitnya itu.” Ucapnya menyetujui.
“Abang minta maaf yah, kamu begini gara-gara wanita itu,” menatap menyesal pada Tiara.
“Gak apa-apa, Bang. Yang terjadi minggu kemarin, emang udah takdir gue,” tersenyum menenangkan.
“Abang dengar juga, lo yang melepaskan tuntutan wanita itu.”
“Eh, itu,” ucapnya malu, bingung mau menjawab apa.
“Lo baik benar, Ra. Padahal Abang berharap wanita itu membusuk di sana.” Ujarnya dingin.
“Jangan gitu, Bang. Gak baik menyimpan dendam,” ujarnya menasehati.
“Bukan dendam, Ra. Cuma ada baiknya wanita itu di dalam sana selama beberapa bulan, biar ada efek jera buatnya. Agar lain kale, dia gak melakukan itu lagi.” Ucap Bram. “Takutnya dia akan semakin dendam dengan kebebasannya itu, karena merasa di remehkan olehmu, karena mempermainkanya dengan memasukkannya ke penjara lalu membebaskannya.”
“Kalau dia punya otak, gak akan berpikir begitu,” tersenyum santai. “Tapi terserah dia aja mau gimana, asal jangan ngegangu gue dan Tasya lagi.”
“Lo yakin dia gak akan menganggu kalian lagi,” ujar Bram ragu dan sinis. "Wanita kayak dia itu, bisanya meyalahkan orang lain atas nasib buruk hidupnya, percuma saja, gak akan sadar."
“Gak tau, Bang,” mengangkat bahu. “Kita doa kan aja, hati dan pikirannya terketuk, dan membuatnya berubah menjadi pribadi yang lebih baik.”
“Kok abang ragu dengan ucapan lo, Ra,” ucapnya skeptis menyesap es tehnya.
“Berpikir logis aja, Ra.”
"Itu mah nethink, Bang."
“Lo juga baik benar jadi orang,” gerutunya memuji tulus. “Ngomong-ngomong selamat yah atas pernikahan dadakkannya,” sambungnya tersenyum jahil. “Udah jadi wanita sekarang adek gue satu ini, bukan gadis lagi.”
“Cie, cie, yang bukan gadis lagi,” ledeknya jahil.
“Ish dah,” serunya geram dan melempar Koran yang di atas meja ke arah Bang Bram.
“Ck, gak sopan benar jadi adek lo,” gerutunya sewot, saat Koran itu menimpuk kepalanya.
“Sorry Bang, heheh” ucapnya menyesal dan menyengir.
“Dasar, udah nikah aja isengnya masih ada aja,” menggeleng kepala. “Mana body guard lo, tumben dibiarkan sendiri lo ngobrol sama pria lain.” Sambungnya iseng, geli melihat keposesifan teman sekaligus rekan kerjanya itu.
“Kerja lah, Bang. Cari uang buat makan.” Ucapnya, memang keposesifan suaminya itu tak ada aneh lagi melihatnya. Adiknya, Alfa saja di pelototin saat memeluknya dan dilarang untuk berbicara berduaan dengan pria yang bukan keluarganya.
“Ck, gak kerja juga, hartanya gak akan habis 10 turunan,” decaknya. “Ra, benaran lo berhenti kerja?”
Tiara menghela napas. “Iya,” jawabnya. Ia mendengar omongan suaminya yang bilang kalau ia sudah mengundurkan diri dari pekerjaannya. Awalnya ia marah dengan keputusan seenak perut suaminya, yang tak meminta persetujuan dulu padanya, tapi dengan bujukan kedua orang tuanya, ia terpaksa mengalah. Percuma juga bersikeras untuk bekerja, masih tetap dilarang juga.
“Sayang banget, lo salah satu orang kepercayaan Abang di kantor harus berhenti kerja, susah mencari pengganti, Ra.” Ucapnya terdengar sedih.
“Maaf, Bang.” Ujarnya menyesal.
“Ya sudah, walaupun baru mengenal suamimu, sedikit banyak Abang tau sifat Wyatt yang gak mau dibantah dan keras itu.” Menghela napas panjang. “Jadi apa kerjaan lo nanti?”
“Belum tau, Bang.” Ujarnya tersenyum masam.
“Kalau perlu bantuan, bilang aja sama Abang, pasti Abang bantu,” tawarnya hangat.
“Makasih Bang,” sahutnya tulus.
"Jadi kapan rencananya mengadakan resepsi kalian?" tanyanya penasran.
"Kayaknya gak ada resepsi deh, Bang."
"Kok gitu," ujarnya heran.
"Abang tanya aja sama suami gue langsung," ujarnya santai.
"Cie, cie. Lain yah yang udah punya suami," ledeknya lagi.
"Ck," decaknya malu.
******
Sejam kemudian, ia kedatangan tamu yang tak pernah diduganya, Alvin dan kekasihnya, Sarah.
“Lo berjilbab sekarang, Ra.” Ujar Alvin tercengan. “Cantik, jadi Plpangling gue,” pujinya tersenyum.
“Biasa aja tuh,” cibir Sarah sinis.
“Tumben kamari, mana bawa body guard lagi,” sindirnya menatap Sarah datar.
“Gue dengar lo kecelakaan, udah dari beberapa hari lalu ingin membesuk tapi gak diperbolehkan. Gue pikir keadaan lo parah, jadi gak boleh sembarang orang menjenguk.” Ucapnya cemas bercampur lega melihat kondisi Tiara yang sehat.
“Lo baik-baik aja kan, Ra?”
“Ck, kalau dia bisa jalan, bearti sehat,” gerutu Sarah menyindirnya sinis.
“Alhamdulillah baik,” jawabnya santai tanpa menggrubis omongan Sarah. “Tau dari mana gua kecelakaan?” menatap heran.
“Beberapa hari lalu nemani cewek gue menemui Bella yang baru di bebaskan dari penjara, dari sana dengar mereka cerita, jadi tau kalau lo sedang terluka dan di rawat.”
“Oh,” mengangguk kepala. “Mau minum apa nih, mau gue ambil.” Tawarnya ramah
“Gak perlu!” tolak Sarah sengit.
👋Hai.. Hai Readers👋
🤗Senang bisa update lagi sore ini😁
😇Tinggali jejak 👉like👉rare👉vote 👉kritik👉
komen👉saran yah😉
😇Makasih bagi yang maih setia baca cerita ini🙇
🤗See you on next 👉chapter🤗